
William sedang disibukan oleh bebera urusan pekerjaan yang sangat padat. Banyak sekali dokumen yang harus di cek ulang dan ditanda tangani olehnya. Tiba-tiba ponselnya berdering, ia melirik sedikit pada layar ponselnya yang ternyata ada nama Tere tertera di sana.
"Hallo Tere. Ada apa?" tanya William. Terdengar suara Gadis itu Menangis di balik sana. Entah apa yang sedang terjadi dengan gadis itu, yang jelas keadaan Tere pasti sedang tidak baik-baik saja.
Rian .... Hikss ... hiksss....
"Kenapa dengan Rian? Kamu diapain sama dia?" William menyingkirkan beberapa dokumen yang ada di hadapannya. Lalu mulai fokus pada panggilan teleponnya.
Rian putusin aku, Will. Aku sudah cerita semuanya. Aku sudah jelasin kalau aku hamil anak kamu. Aku bilang kalau semua itu adalah kesalahpahaman. Tapi Rian lebih milih putusin aku. Dia bilang aku perempuan gak baik, Rian kecewa banget sama aku, Will. Hiksss ... hikss...
Aku mau mati saja kalau begini caranya. untuk apa aku hidup kalau orang yang sangat aku cintai pergi meninggalkan aku.
"Shit! Kamu di mana sekarang?" William menggusar rambutnya ke belakang setengah emosi.
Di apartemenku.
"Aku ke sana sekarang. Jangan melakukan hal-hal bodoh sebelum aku datang." William segera berlari dengan perasaan tidak karuan. Ia tahu bahwa Tere gadis yang pikirannya sempit, gampang strees, dan tidak kuat mendapat tekanan yang menyakitkan. Telat datang sedikit saja gadis itu mungkin akan bunuh diri.
Sekitar tiga puluh menit kemudian, mobil William telah sampai di basement apartemen Tere. Pria itu segera berlari menuju lift terdekat. Ia sudah tidak sabar ingin melihat keadaan Tere. Nyawa William akan ikut terancam kalau sampai terjadi apa-apa dengan gadis itu. William langsung masuk ke dalam apartemen Tere, untung dia tahu kata sandi rumah Tere.
"Tere...!" Pria itu meninggikan nada suaranya untuk memanggil Tere. William mengedarkan pandangannya, mencari-cari sosok Tere yang entah ada di mana.
Tiba-tiba matanya tertuju pada sebuah kamar yang tidak sedikitcl terbuka. Pasti itu kamar Tere. Dengan langkah kaki yang semakin di percepat, William langsung masuk ke kamar Tere tanpa izin terlebih dahulu.
"Hei...," lirih William sambil mendekati Tere. Gadis itu melempai lemas di atas lantai. Keadaannya benar-benar buruk, kamar Tere sudah porak poranda seperti kapal pecah. Bantal dan boneka terlihat berhamburan, buku-buku yang semulanya rapih sudah berserakan di mana-mana. Jangan lupa dengan barang-barang yang terbuat dari kaca, beling-beling pecahannya sudah siap menusuk kaki jika tidak hati-hati.
"Aku mau Rian ... aku mau Rian ... hikss ... hikss ...." Tere menunduk pasrah. Tak di hiraukannya William yang baru saja datang. Tanpa pikir panjang pria itu langsung menggendong Tere keluar dari kamarnya yang sudah tak berbentuk. Ia membawa Tere ke kamar lainnya. Untungnya tidak di kunci, jadi William bisa langsung masuk dan membaringkan tubuh Tere di atas ranjang.
"Aku mau mati ... aku mau mati saja, William."
"Stttt ... jangan menangis lagi ya, nanti kita bicara baik-baik dengan pacarmu itu. Aku akan bantu menjelaskan." William memeluk Tere sambil menepuk-nepuk bahunya.
__ADS_1
"Perut aku sakit," lirih Tere sambil memegangi bagian rahimnya.
Sial! Bagaimana bisa William lupa kalau Tere sedang hamil. Psikologis gadis itu pasti mempengaruhi bayi yang ada di dalam kandungan Tere. William langsung mengirim pesan pada temannya, untung dia memiliki sahabat seorang dokter.
"Tahan dulu ya, aku sudah menghubungi dokternya via pesan. Dia akan segera datang kemari."
Sekitar satu jam kemudian. Dokter ugal-ugalan yang tidak lain adalah temannya sendiri datang ke apartemen Tere.
"Whats up, Bro! Mana ... mana ...? Mana yang sekarat?" Dokter gila itu berceloteh tidak jelas begitu pintu apartemen Tere di buka oleh William.
"Brisik! Cepat periksa pasiennya. Ingat! tutup mulutmu setelah keluar dari sini." William menarik temannya Franky menuju kamar Tere.
Pria itu benar-benar dokter setengah gila. Dari penampilannya saja tidak mencerminkan seorang dokter. Entah dari mana ia mendapatkan gelar sehebat itu. Dokter bertema metal. Itulah Franky.
"Wow ... wanita!" Franky langsung teriak begitu melihat Tere sedang duduk bersandar di atas ranjang. "Hai manis."
"Cepat periksa bodoh!" Bentak William kesal. Tere langsung ketakutan begitu melihat dokter berpakaian serba metalika itu.
"Jangan takut, aku kenal dia. Abaikan penampilannya yang seperti gembel. Dia dokter sungguhan meski tampilannya tidak layak."
"Hati-hati kau setan! Dia sedang hamil," bentak William hamil.
"Hamil? Wah ... wah ... wah. Ternyata kau lebih gila dari dokter metal yang kece badai ini, ya. Apa kau lupa kalau aku ini dokter spesialis jantung? Kau fikir aku bu bidan, heh. Merendahkan harga diriku saja."
"Cepat periksa bededah! Jangan banyak omong." William menendang kaki kiri Franky. Tere tergelek melihat kelakuan dua bocah itu.
Akhirnya kamu bisa tertawa. Batin William senang.
"Tunggu ... tunggu ... apa jangan-jangan anak yang ada di kandungan gadis ini adalah anakmu? Makannya kamu tidak berani memanggil dokter lain selain aku."
Tiba-tiba terjadi keheningan setelah Franky mengucapkan kalimat itu. Tandanya yang ia pikirkan adalah benar. Gadis itu mengandung anak William. Oh, betapa senangnya Franky.
__ADS_1
"Ahahaha... Akhirnya pen*smu yang kecil itu mampu memproduksi manusia juga, ya."
"Berani sekali kau setan!" William sudah hendak melayangkan bogem mentahnya. Buru-buru Franky menempelkan stetoskop dan memeriksa Tere.
Sekitar lima menit pemeriksaan itu berlangsung. Biarpun Franky adalah dokter spesialis jantung, ia bisa memeriksa Tere kalau hanya bagian luarnya saja.
"Bagaiman keadaanya? Apa dia sehat."
"Tentu saja tidak! kalau dia sehat aku tidak akan diundang berkunjung ke sini." Franky menyeringai jenaka. Tampangnya yang urakan semakin membuat William ingin menginjaknya dengan sepatu. Andai saja ia semut. Sudah diinjak sedari tadi.
"Cepat katakan bagaimana keadaanya," bentak William mau mati rasanya. Frustasinya bertambah parah mendengar celotehan Franky yang tidak jelas.
"Dia mengalami kram pada bagian perutnya. Tapi tenang, bayi monster yang ada di dalam kandungannya sehat."
"Kau mau mati ya!"
Franky langsung mengalihkan pandangannya ke arah Tere takut-takut. Abaikan William yang hampir mati menahan emosi.
"Nona manis, saya akan memberikan obat perede nyeri dan beberapa vitamin. Ingat! Jangan terlalu memikirkan William, jaga otakmu agar tetap bersih. Karena stress pada ibu hamil sangat mempengaruhi kondisi bayi di dalam kandunganmu. Oke!" Franky tersenyum.
"Sudah ... sudah ... pergi kau dari sini!"
"Hei aku sudah memeriksa, berikan bayaranku!" Franky menggerutu kesal saat William menarik paksa kerah bajunya.
"Aku akan mengirimmu ke Afrika. Menetaplah dengan tenang di sana."
Brakk!
Pintu apartemen ditutup. Franky jatuh tersungkur sambil meringis kesakitan.
Sialan anak itu, tidak pernah berubah sejak dulu. Untungnya otakmu sudah normal, tidak kegilaan terhadap bocah kelas tiga SMA itu lagi.
__ADS_1
Franky meninggalkan pintu apartemen Tere.
****