
Farhan mulai menghubungi mata-mata yang telah diutus untuk mengawasi gerak-gerik Reyno dan Jennie selama di usir kemarin. Bagaimanapun juga ia tidak bisa membiarkan keselamatan Reyno dan adiknya terancam. Dunia luar terlalu bahaya untuk anak seusia mereka. Terlebih mereka di usir karena perbuatannya. Gara-gara ide gila Farhan lebih tepatnya.
Dari kemarin ia tidak bisa berhenti memikirkan gadis itu. Ia teringat saat Jennie meneriaki Farhan untuk yang terakhir kalinya. Tubuh kecil itu di seret oleh Bodyguard, dan Farhan hanya bisa diam dengan sejuta penyesalan.
“Farhan! aku benci kamu.” Kata itu terus menari-nari di pikiran Farhan. Mungkin sekarang gadis itu sudah benar-benar membenci perbuatan Farhan.
“Bagaiamana dengan Tuan Muda dan istrinya? Apa yang mereka lakukan di luar rumah?” Tanya Farhan saat telepon mereka mulai tersambung.
Nona Jennie sempat ingin pulang ke rumahnya, namun tidak jadi karena ada penjaga yang berjaga di sana. Sudah Farhan duga, Tuan Haris bahkan sudah mengantisipasi ini sebelum ia bertindak.
“Lalu kemana mereka sekarang?”
Sekarang mereka sedang berada di daerah Padalarangan, sepertinya Nona Muda dan Tuan Muda hendak pergi menuju kota Bandung.
“Baiklah, terus awasi keberadaan mereka. Jangan sampai alat pelacak yang ada di motor mereka hilang. Pastikan semuanya berjalan dengan lancar.” Tegas.
Baik Tuan, terima kasih.
Telpon di tutup, Farhan menyandarkan bahunya di kursi panas miliknya. Kedua manik matanya memandangi langit-langit di ruangan kerjanya sambil berfikir. Tidak lama datanglah ajudan suruhanya bersama seorang ibu paruh baya, mengetuk pintu dulu sebelum masuk ke dalam ruangan Farhan.
“Selamat pagi Tuan,” sapa bawahan Farhan, sementara ibu paruh baya itu berdiri ketakutan di belakang pria yang membawanya sampai ke hadapan Farhan. “Ini adalah orang yang waktu itu memberi informasi mengenai kehidupan pribadi orangtua Nona Muda.”
“Baiklah, kamu pergi dulu. Saya ingin bebicara berdua dengan dia saja.” Farhan menjentikan jarinya. Pria itu langsung menundukan kepala dan keluar dari ruanganan Farhan.
“Duduklah!” Farhan bangun dari posisi sandaranya. Lalu menaruh kedua tanganya diasta meja.
__ADS_1
Ia terlihat sangat antusias mengorek informasi dari wanita yang tidak ia kenal itu.
“I ... Iya Tuan.”
“Apakah anda mengenal Keluarga Hermawan? Dari mana anda mendapat berita itu?” Farhan menatap tajam seorang ibu yang sedang ketakutan dengan pandangan mengerikan ciri hasnya.
“Be ... Berita apa Tuan?” Gemetar ketakutan.
“Jangan pura-pura. Apa orangku tidak memberitahumu tujuan mendatangkanmu di hadapanku?” Kesal. Farhan tidak terlalu suka dengan orang yang bertele-tele.
“Maaf Tuan, saya mengerti.”
“Cepat katakanlah!” Emosi.
“Baik Tuan, saya akan cerita. Dulu almarhum suami saya bersahabat dengan Hermawan dan Lynda saat SMA, saya juga sedikit dekat denganya. Kalau saya tidak salah mengingat, suami saya berkata bahwa Lynda pernah hamil saat kelas tiga SMA menjelang ujian. Kehamilan Lynda terus ditutupi sampai mereka lulus SMA. Saat sudah lulus SMA, kabarnya Lynda melahirkan seorang anak anak laki-laki. Tapi saya dan suami saya tidak tahu kelanjutan cerita setelah anak itu lahir. Kabar tentang anak laki-laki Lynda hilang bagai di telan bumi. Sekitar enam tahun kemudian barulah Lynda menikah, dan dikaruniai anak perempuan.” Wanita paruh baya itu berbicara takut-takut. Ia menggigit bibir bawahnya sambil menyembunyikan tangan yang gemetar.
“Benar Tuan, suami saya melihat sendiri perut Lynda yang membesar saat ujian. Saya tidak bohong. Saya juga mengenal baik Lynda, ia berpacaran dengan Hermawan sejak kelas dua SMA.” Wanita itu mencoba meyakinkan Farhan.
“Baiklah, ini untukmu.” Farhan menyodorkan sebuah cek dengan nominal yang menggiurkan. Wanita itu bertambar gemetar saat melihat isi nominal yang cukup lumayan.
“I ... Ini apa, Tuan?”
“Itu untukmu. Anggap saja sebagai rasa terima kasihku. Ingat! Jangan pernah membeberkan hal ini pada siapapun. Terimalah dan hidup selayaknya tidak ada sesuatu yang terjadi diantara kita. Anggap anda tidak pernah bertemu denganku.” Lagi- lagi farhan menatap wanita itu dengan tatapan mengerikan.
“Baik Tuan, kalau begitu saya permisi. Terima kasih atas hadiah yang anda berikan.” Meraih cek yang ada dihadapanya. Lalu beranjak keluar sambil menundukan kelapanya.
__ADS_1
Fiuuuuuuh. Farhan menghela berat, meratapi nasibnya yang kurang beruntung. Sebuah fakta bahwa ia hanyalah anak haram yang dibuang. Hatinya sakit jika mengingat hal itu.
Ayah, Ibu, mengapa kalian tega sekali membuangku.
Farhan dibuang saat masih bayi, ditaruh di sebuah panti asuhan yang hampir di tutup karena kekurangan donasi, Di umurnya yang ke sepuluh tahun, Farhan sudah harus bekerja keras untuk menghidupi dirinya dan adik-adik di panti. Umur ibu panti juga sudah tua dan sakit-sakitan. Panti asuhan itu hanyalah panti pribadi milik seorang wanita yang tidak memiliki suami dan anak.
Kehidupan Farhan dulu sangatlah kelam. Hingga menjelang dewasa panti asuhan itu minim sekali donasi, kemudian Farhan bertemu dengan Tuan haris. Orang yang saat itu dianggapnya seperti malaikat. Tuan Haris membangun panti asuhan yang ditempati Farhan, memberikan donasi rutin setiap bulanya. Saat itulah kehidupan Farhan dan adik-adik pantinya berubah.
Tiba-tiba ia teringat kalung yang di berikan Jennie waktu itu. Farhan mengambil kalung itu dari saku celananya.
“Gadis kecil itu, mengapa aku jadi memikirkanya begini?” Farhan mulai menggoyangkan kalung yang ada di tanganya, ia mengingat ucapan Jennie kemarin, goyangkan kalung itu, maka akan terlihat namanya samar-samar.
“Ah, benar. Ada nama gadis bodoh itu di dalamnya. Eh, tunggu—” Tiba-tiba Farhan teringat kalung miliknya sendiri. “Apa di dalam liontinku juga ada namaku?” Farhan langsung membuka laci di bawah meja kerjanya, meraih kotak yang ia sembunyikan di sudut lacinya.
“Sudah lama aku tidak melihat kalung ini. Kalung yang diberikan ibu panti dulu.” Membuka kotak, lalu mengambil isinya. “Benar- benar sama persis dengan milikiu, tidak ku sangka bahwa dunia ini akan sesempit ini. Bertemu dengan keluargaku dengan cara seperti ini. Hahaha....” Tertawa miris.
Farhan menggoyang-goyangkan liontin miliknya. Memperhatikan dengan seksama perubahan pada liontin kalungnya.
“A ... A ... Alan?” Bibirnya mendadak terbata saat menyebut nama yang tertera pada kalungnya sendiri. “ Jadi nama asliku adalah Alan!”
Jujur Farhan sangat terkejut. Kalau tidak diberitahu oleh Jennie, ia tidak akan tahu kalau di dalam liontin itu tertera nama Farhan.
Hmmmmm ... Untuk apa mereka memberiku nama kalau akhirnya aku di buang. Cih! Dasar orangtua tidak tahu diri, bagaimana ya, jika mereka melihat aku sekarang. Apakah mereka akan menyesal telah membuangku?
Apa yang harus aku lakukan untuk membalas perbuatan kejam mereka? Apa aku harus menghancurkan perusahaan kecil itu agar mereka tahu aku lebih berkuasa.
__ADS_1
Gambaran liontin couple Kaka beradik.