
Hari-hari di lalui selangkah demi selangkah, dari hari yang terberat hingga rintangan yang jauh lebih berat. Reyno adalah ujian tersulit untuk Jennie dan hidupnya. Menghadapi Reyno tidak semudah yang di bayangkan, juga tidak sesulit yang pikirkan.
Cowok itu ...
Akan menjadi sosok yang selalu Jennie utamakan. Seberapa berat ia menyesuaikan diri dengan Reyno, hanya Jennie—lah yang tahu seperti apa rasanya. Namun sebuah fakta yang tidak dapat di pungkiri, sebesar apapun kesalahan Reyno, sesering apapun Reyno merajuk, dan sebenci apapun Jennie pada sifat buruk Reyno, cowok itu akan tetap menjadi bagian terbaik sepanjang masa. Di mana Reyno yang akan mengiringi langkah dan setiap tarikan nafas yang keluar dari paru-paru, dan mendetakan sebuah jantung dari seorang gadis bernama Jennie.
Untuk para wanita di luar sana, sudahkah kalian berterima kasih pada pasanganmu? Sudahkah kalian meratapi sikap buruk kalian. Bukan menuntut mengerti yang harus kalian lakulan, melainkan mengertilah agar dapat terjalin rasa
saling mengerti.
***
Selamat datang di kota Kembang. Motor Jennie sudah memasuki kota Bandung, hendak menuju sebuah kontrakan yang akan mereka tempati nantinya. Kemarin sebelum perjalanan ke kota Bandung, Jennie sempat dm instagram salah satu temanya agar mencarikan kontrakan untuk mereka berdua. Jadi sesampainya di Bandung bisa langsung istirahat, tidak perlu repot dan bingung mencari tempat tinggal lagi.
“Reyn, yang benar baca gps—nya. Jangan sampai salah!” Jennie mengerucutkan bibirnya. Karena Reyno selalu telat memberikan informasi harus belok atau lurus.
“Iya, ini sebentar lagi sampai, Jennie.” Jennie menghentikan laju motornya di pinggir jalan, kali ini ia ingin memastikan sendiri. “Mana coba, aku lihat.” Menunggu uluran ponsel dari tangan Reyno.
“Nih, gak percayaan banget, sih!” Ngambek lagi. Memberikan ponselnya dengan cepat. Jennie tersenyum ketika melihat dari kaca spionya, bibir menggemaskan itu sudah mengkerut-kerut lucu.
“Oh, iya. Ini sudah sampai, kita tinggal masuk ke sebuah gang, sampai deh, di rumah pemilik kontrakan. Pegang lagi hapenya.” Memberikan ponselnya kembali. Jennie menghidupkan motor dan melaju lagi.
Sekitar lima menit kemudian, motor itu berhenti tepat di depan sebuah rumah sederhana, ada seorang bapak yang sedang duduk di teras membaca sebuah koran. Jennie turun dari atas motor yang ia parkirkan di sisi jalan, di ikuti oleh Reyno yang masih menampilkan sudut bibir manyun—nya. Mereka berdua berjalan menghampiri pemilik kos yang masih duduk santai. Kebeteluan gerbang rumahnya di buka lebar, Jadi Jennie langsung masuk ke dalam saja.
“Permisi Pak, nama saya Jennie, kami yang akan menyewa rumah kontrakan di tempat bapak.” Jennie menyikut lengan Reyno agar ikut tersenyum walau tidak menyapa. Cowok itu tersenyum terpaksa pada bapak kontrakan.
“Oh, Kalian temanya Hendra, ya? Kalian benar sudah menikah?” Memperhatikan dua bocap polos itu dengan ragu-ragu.
“Sudah, Pak. Kami pasangan muda baru.” Tersenyum kikuk dan agak malu-malu.
“Gaduh surat nikah, teu?” Sang Bapak masih merasa ragu dan langsung menanyakan surat nikah Jennie dan Reyno.
__ADS_1
“Ya punya lah, kan udah nikah, Pak!” Reyno yang menjawab. Tentu saja dengan gaya sedikit jutek seperti biasanya.
“Ya sudah, kin di foto kopi, nyah. Terus kalian kasih ke Bapak. Foto kopi nikah jeung ktp-na, untuk data warga pendatang.” Meminum kopinya, lalu meletakan koranya di atas meja. “Uang sewanya 500rb, sudah termasuk listrik dan air. Kontrakanya juga sudah Bapak bersihkan, pokona mah kalian tinggal sare aja. Semoga, neng dan ujang betah tinggal di sini. Gagah jeng geulis pisan kalian, dari kota nya?”
“Terima kasih, Pak. Kami dari Jakarta ....” Jennie mengeluarkan uang lima ratus ribu yang sudah di siapkan dari kantung celananya. Matanya melirik sekilas Reyno yang masih diam membisu di belakangnya. “Ini uangnya pak, silahkan di hitung dulu.”
“Hartur nuhun Geulis,” kata sang Bapak sambil menghitung uangnya. Kemudian ia mengeluarkan kunci dari kantunh celananya. “ Ini kuncinya, kontrakan kalian ada di belakang rumah ini, yang ada tulisan nomor tiga ya?”
“Iya pak, kalau gitu saya permisi mau langsung menempati kontrakanya. Terima kasih sebelumnya.” Jennie mengangguk sopan.
“Sami-sami, Neng.”
Jennie segera menarik Reyno untuk segera keluar dari rumah bapak kontrakan tadi. Cowok itu masih manyun membisu, membuat Jennie tidak enak pada pemilik kontrakan. Setelah melajukan motornya sedikit, keduanya sudah sampai di depan halaman kontrakan. Ada sekitar lima kontarakan yang berjejer, Jennie dan Reyno mendapatkan kontrakan nomor tiga. Halaman kontrakan itu jadi satu dengan kontrakan lainya, Motor Jennie diparkirkan tepat di kontrakan miliknya sendiri.
“Ayo!” Jennie menarik tangan Reyno mendekati pintu kontrakan mereka, menusukan ujung kunci lalu memutar handle pintu.
Reyno langsung terkejut ketika melihat isi ruangan yang tidak layak di matanya, sebuah kontrakan dua petak, sudah termasuk kamar mandi, dapur kecil, ruang tamu dan satu kamar tidur.
“Aku udah bilang ya, Reyn. Kamu ngga boleh protes.” Melirik Reyno yang masih manyun. Jennie menarik Reyno masuk, menutup pintu lalu mengambil ransel yang masih menggantung di pundak Reyno.
“Harganya kan hanya lima ratus ribu, kalau mau sebagus kamar Reyno, harus puluhan juta, kalau kita punya uang lebih nanti tinggal di dekorasi ulang kamarnya. Sesuai dengan dekorasi yang Reyno suka, tempelin stiker Elsa frozen, terus beli boneka teddy yang banyak.” Menarik lengan Reyno masuk ke dalam kamar.
“Bener ya, awas kalo bohong!” Mengikuti Jennie masuk, matanya tidak pernah berhenti mengedarkan pandangan pada ruang kecil nan sederhana yang baru ia lihat untuk pertama kalinya.
“Iya, Sayang. Kamu istirahat dulu, gih!” Menutup pintu kamarnya. “Kamu dari tadi udah ngeluh capek kan? Nanti sore aku bangunin kalau mau mandi.”
“Kasurnya kecil banget, keras begini,” protes Reyno saat ia mendudukan tubuhnya. Jennie juga merasakan hal yang sama. “Terus ngga ada ac, nanti kalau panas gimana?” Masih tetap saja protes.
“Kita ini di Bandung, Reyno ngga mungkin kepanasan. Lihat saja nanti malam, pasti Reyno nyariin selimut.” Jennie mencoba menenangkan Reyno yang masih shock dengan kontrakan barunya.
“Nanti malam kita jalan-jalan ya, main ke alun-alun kota Bandung. Mau?” Membujuk sekali lagi.
__ADS_1
“Mau!” jawabnya antusias.
“Makanya, tidur dulu Reyno-nya.” Jennie bangun dan hendak merapikan baju yang ia taruh di kursi depan ke dalam lemari di kamarnya. Namun dengan cepat Reyno langsung menarik tubuh itu kedalam pelukanya, ikut berbaring di atas ranjang berukuran 120 x 200 centi meter.
“Temani Reyno bobo, Jennie mau kemana?” Enggan melepaskan pelukan itu.
“Mau rapihin baju, mau aku masukin ke dalam,” ucap Jennie sedikit mendongakan kepalanya.
“Ngga boleh, kalau Reyno bobo, Jennie juga harus ikut. Nanti bangun juga harus sama-sama.”
Menggemaskan sekali, sih! Suami manjaku ini.
“Eh, peraturan dari mana?” Pura-pura tidak terima.
“Itu peraturan baru yang Reyno buat, Jennie harus patuh. Kamu juga boleh bikin peraturan yang harus di patuhi Reyno.”
“Beneran?” Berfikir dan mencari peraturan yang pas untuk si Anak Manja itu.
“Iya beneran, tapi mikirnya nanti aja dulu!” Menurunkan kepalanya, membenamkan dan mengusakan wajahnya di permukaan dada indah milik Sang Istri.
“Aaaaa ... Geli! Reyno ngapain, sih?” Menangkap kepala Reyno dengan kedua tanganya. “Stop ngga!” pungkasnya kesal.
“Gak mau, Reyno suka! Mau kayak gini terus setiap bobo, biar kayak dede bayi.” Si cowo lugu menjawab.
“Tapi jangan di buka bajunya ya, Awas kalo di buka, aku ngga akan bolehin kamu kayak gini.”
“Huuuuh, iya pelit! Emangnya kenapa coba kalau di buka?”
“Pokoknya gak boleh, jangan protes!”
“Iya! Ngga akan di buka.” membenamkan kepalanya dengan nyaman pada permukaan kenyal itu.
__ADS_1
Kalau di buka nanti aku yang gak bisa tidur jadinya.
***