
Kepanikan Reyno masih belum cukup sampai di situ. Setelah berhasil membuat Jennie hampir jantungan karena ngebut demi memotong waktu, kini Jennie harus di kejutkan dengan tingkah Reyno yang cukup memalukan. Ia marah-marah di depan lobi rumah sakit karena brankar yang akan dipakai membawa Jennie rodanya macet.
“Bodoh kalian! Istriku sedang memperjuangkan nyawanya, apa
kalian tahu?” bentak Reyno yang mulai menggila. “Siapa atasanmu, barang rusak
dipakai, apa kau tidak tahu ini bahaya!"
“Reyn, udah, stop. Malu dilihat orang, aku masih baik-baik saja.” Perdebatan itu sudah berlangsung satu menit.
“Maaf, Pak! Biar saya gendong istri anda ke ruang persalinan, agar tidak memakan waktu terlalu lama.”
“Beraninya kau menyentuh istriku!” gertak Reyno saat tangan perawat itu hendak menyentuh brankar untuk menggendong Jennie. "Mau mati, ya!"
"Maaf, Pak. Sumpah saya tidak bermaksud seperi itu." Perawal laki-laki itu menyatukan tangannya di depan dada, memohon ampun seolah ia hendak dieksekusi mati.
Yakinlah, tidak ada satupun mata yang tidak melihat kejadian memalukan ini.
"Aku masih mampu menggendong istriku, kau berani sekali merendahkanku."
Ya Tuhan, saat itu juga Jennie ingin ditenggelamkan saja di kerak bumi. Semua mata menatap kebehohan Reyno. Yang menyempatkan diri untuk beradu mulut hanya karena masalah sepele. Untuk pertama kalinya, Jennie melihat kegarangan Reyno yang sebenarnya. Matanya yang merah, wajah putus asa, kalut, bingung, dan mungkin setengah gila.
“Tenang, Reyn, aku masih sehat, bahkan masih bisa jalan.”
"Tahan ya, Sayang. Pasti sakit, ya. Aku gendong kamu."
__ADS_1
Kamu yang harusnya tahan, mata aku sampe sakit melihat kelakuanmu, Reyn. Gerutu Jennie di dalam hati.
“Baik, pak. Mari.” Perawat itu mengambil langkah besar, perdebatan selama dua menit itu akhirnya berhenti.
Sesampainya di ruang persalinan, para perawat wanita langsung menyambut Reyno dengan senyum ramah. Para perawat itu menyuruh Reyno membaringkan Jennie di atas bed patrus, lalu mulai mengatur posisi nyaman untuk Jennie berbaring.
“Suster, saya boleh menunggu di sini kan ‘kan? Istri saya akan panik jika saya tidak menemaninya. Jika kalian berani mempersulit saya, akan ku suruh papi meruntuhkan rumah sakit ini," ancamnya tidak tahu malu.
Jennie menepuk jidatnya. Ya ampun, suamiku, tahu begitu kamu gak usah ikut saja, Reyn.
"Bapak, tenang, Pak. Anda boleh menemani istri anda di sini, tapi tolong kerja samanya, jangan panik dan membuat keributan."
Mengangguk patuh, Reyno mendekati istrinya. Ia mencium lembut kening Jennie, lalu menggenggamnya tangannya erat sekali.
"Tenang saja, Sayang. Aku akan selalu ada di sampingmu, menemani kamu berjuang sampai akhir."
"Arghhhhh!" Jennie menjerit.
"Suster, cepat tolong istri saya." Sang suster mendekat, memakaikan sebuah baju persalinan dan mulai mencopot celana dalam milik Jennie.
"Arghhhh," pekik Jennie lagi. Reyno hampir mati gila mendapat situasi semacam ini. Ia dapat merasakan istrinya begitu tersiksa, namun sialnya Reyno tidak mampu berbuat apa-apa. Frustasi mulai melanda bocah itu. Andai saja rasa sakit Jennie bisa di pindahkan, ia sangat-sangat rela bertukar penderitaan dengan istrinya.
"Mana sih, dokker persalinannya, Sus? Istri saya sudah kesakitan begini. Apa rumah sakit ini mau saya bakar dulu baru ada tindakan?" Kepanikan sukses membuat Reyno menjadi orang gila.
Karena tahu perusahaan ayah Reyno yang mensponsori rumah sakit ini, tidak ada orang yang berani melawan. Semuanya menunduk takut melihat Reyno menggila.
__ADS_1
"Ini baru pembukaan dua, Pak. Istri anda masih lama melahirkannya. Mungkin bisa empat atau lima jam lagi."
"Hei, apa kau gila, Suster! Aku mana tahan melihat istriku menderita selama itu. Sebenarnya kalian bisa kerja tidak sih!"
"Ya ampun, Reyn, tenang-tenang." Jennie mengelus lengan Reyno. "Aku masih kuat, Reyn. Persalinan normal memang seperti ini."
"Arghhh!" Kontraksi itu datang lagi. Membuat wajah Reyno berubah panik kembali. Andai ia mampu, Jennie pasti sudah menahan mulutnya agar tidak menjerit dan membuat Reyno menjadi gila dadakan. Tapi rasanya memang sakit sekali, seperti ada sesuatu yang sedang mencoba mematahkan tulang-tulangnya.
"Reyn, kalau kamu gak bisa diem. Lebih baik kamu keluar aja. Kasian perawatnya pada ketakutan liat kamu ngamuk-ngamuk gitu."
"Gimana aku bisa tenang? Aku ngga kuat liat kamu menderita begini."
"Berdoa, Reyn. Doain aku dan anak kita," ucapnya lembut. "Aku kuat, kok. Aku yakin bisa melalui semua ini." Jennie mencoba meyakinkan Reyno sebisa mungkin.
"Ughhhh!" tahan Jennie saat kontraksinya datang lagi. Ia sudah menahan suaranya sebisa mungkin agar Reyno tenang, namun suara tersiksanya tetap saja keluar.
"Gigit aku Sayang, gigit tangan aku setiap sakit kamu datang lagi. Aku pasti doain kamu, kok." Matanya beralih pada suster yang mulai mempersiapkan alat persalinan.
"Mana dokter yang akan membantu istri saya melahirkan, Sus? Kenapa belum datang? Ya Tuhan, apa pewnanganan rumah sakit ini selelet ini?"
"Sedang di ruang sebelah, sebentar lagi akan ke sini, Tuan. Selama belum ada tanda bayinya segera lahir, kami masih bisa membantu pasien. Tenang saja, Tuan." Meski di dalam hati gondok, suster itu tetap tersenyum hangat pada Reyno.
"Kerja yang benar!"
Kerja kami sudah benar, Tuan. Anda yang seharusnya jangan bertingkah seperti orang gila lepas, istri anda saja selow, kok. Dumel suster itu di dalam hatinya. Ia merasa kesal kena semprot mulut Reyno yang tajam.
__ADS_1
***
1000 like dulu baru lanjut. Wkkkkw