
Lagu TWICE, BLACKPINK, BTS, sudah diputar berkali-kali. Dengan hati yang bersungut-sungut, Jennie menatap suaminya seraya menyilangkan tangannya di depan dada. Ini sudah lebih dari dua jam mereka duduk di atas mobil. Tentunya tanpa ada tujuan yang pasti perihal Reyno mau membawa Jennie ke mana.
Kesal itu pasti. Saat melihat suaminya menyibak jalan raya dan berkeliling kota, ingin rasanya Jennie melubangi ban mobil Reyno agar tidak bisa jalan lagi. Daripada tidak jelas arah dan tujuannya begini.
"Sebenarnya mau ke mana?" Pertanyaan Jennie yang entah sudah ke berapa kali.
Tersenyum jenaka tanpa dosa. Reyno menjawab enteng seraya mengedipkan matanya genit. "Tempatnya masih aku cari, tunggu aja dulu. Sabar ya, Sayang."
Melihat tingkah Reyno yang seperti itu, pikiran Jennie mulai melayang-layang tidak jelas. Membayangkan sesuatu yang mungkin akan terjadi selanjutnya.
Hotel. Fantasi liar Jennie langsung menebak ke mana Reyno akan membawanya. Akan tetapi, jika Reyno ingin mengajak Jennie ke sebuah hotel, harusnya mereka sudah berhenti di salah satu hotel sedari tadi. Mungkinkah Reyno sedang mencari hotel terbaik di Jakarta?
Jawabannya adalah, entah. Bicara soal tebak-tebakkan, otak Reyno paling sulit ditebak maunya apa.
Shirrtt! Reyno menghentikan mobilnya dadakkan. Jennie sampai tersentak dan menjatuhkan ponselnya ke kolong mobil—matanya melotot kesal pada Reyno.
"Pelan-pelan, dong," sungutnya seraya meraba-raba gawai yang jatuh ke bawah.
Detik kemudian, pandangan Jennie melebar ke luar jendela mobil. Lantas menoleh kembali pada Reyno, sinis.
"Pasar malam?"
Anggukkan dengan senyum jenaka itu menjawab semuanya. Setelah dua jam lebih menyibak padatnya jalanan di waktu petang, akhirnya Reyno sudah sampai di tempat yang ingin ia tuju.
__ADS_1
"Ngapain ke pasar malam?" Kesal. Entah mengapa ada rasa kecewa saat apa yang otak Jennie tebak ternyata salah besar. Jauh melenceng malah.
"Iya. Aku sengaja mau ngajakkin kamu kencan di pasar malam. Kalau gak salah, kita pernah ke tempat seperti ini dulu 'kan? Waktu di Bandung."
Memutar bola matanya malas, Jennie menjawab pertanyaan Reyno. "Hmmm." beserta anggukkan dan tangan kiri yang membuka pintu mobil.
***
Berjalan pelan saling bergandengan tangan, sesekali Jennie mengumpat dalam hati—lantaran banyak ABG dan para ibu-ibu genit yang memandang suaminya dengan tatapan penuh bunga-bunga. Sepertinya Reyno kurang cocok di majak ke tempat seperti ini. Tampangnya yang mirip bintang K-Pop sangat mencolok di mata umum. Sebagai pemilih asli, wajar jika Jennie merasa geram menghadapi situasi semacam ini.
Seperti tidak pernah melihat lelaki saja. Sungut Jennie dalam hati.
"Ren!" Memanggil dengan wajah kesal, Jennie mencubit suaminya yang sibuk memakan kentang tusuk spiral tanpa memperdulikannya.
"Tumben banget ngajakin ke pasar malam. Kamu lagi kesambet apa?" Jennie balik bertanya. "Secara kamu kan paling anti dengan tempat ramai seperti ini." Nada suaranya terdengar mengejek.
Selain bad mood karena kegenitan mata di sekitarnya, Jennie juga kesal karena tebakknya salah—mengira Reyno akan membawanya ke hotel mewah atau hotel pribadi keluarganya. Heuh. Niatnya mau membully Reyno dengan sebutan suami mesum, malah ia sendiri yang berpikir mesum. Hotel ... ya ampun, Jennie terlalu berfikir jauh.
"Sudah dibilang, aku kangen dengan suasana sederhana seperti ini. Pengin kencan romantis kayak pas baru nikah dulu."
Senyum Reyno secerah bulan purnama. Ia menggenggam tangan Jennie lebih kuat lagi—seperti takut terpisahkan. Sementara Jennie masih merengut masam—kesal pada setiap mata yang menatap suaminya dengan pandangan genit.
Kesederhanaan terasa begitu menyenangkan. Reyno merasa bersyukur karena semua yang ia inginkan tercapai di usianya yang masih terbilang cukup muda. Sepasang anak kembar, istri tercinta pujaan hati, dan tentunya karir yang cukup baik. Setidaknya tidak kekurangan untuk menghidupi keluarga kecilnya.
__ADS_1
Tiba-tiba pandangan Jennie menangkap sesuatu yang menarik. Ia langsung berubah cerita seraya berseru,
"Eh, ada rumah hantu, ke sana yuk!"
"Ru ... rumah hantu?" Bicara terbata, wajah Reyno juga berubah pucat. Keringat dingin mulai menjalar di sekujur tubuhnya.
"Iya. Aku paling suka ke rumah hantu. Kita kesana yuk," ajaknya riang gembira. Namun, melihat Reyno yang terpaku seperti batu, Jennie langsung menyipitkan matanya sinis. Lalu mengejek, " Bapak anak dua! kamu tidak mungkin takut 'kan dengan hantu-hantu bohongan."
Tidak mau diejek, Reyno dengan lantang menjawab. "Siapa yang takut, aku berani kok. Ayok kita masuk."
Setelah membeli tiket yang tarifnya cukup murah meriah. Mereka langsung bergegas menuju pintu masuk, bau harum wewangian kamboja dan bunga melati di depan pintu masuk langsung membelai bulu-bulu hidung. Reyno mengeratkan cekalannya pada lengan Jennie. Merinding takut dengan keringat yang bercucuran hebat.
Jangankan gelap, mati lampu saja ia tidak suka. Katakan Reyno adalah lelaki, namun tidak semua lekaki terlahir pemberani. Sialnya, Reyno termasuk dalam kategori penakut.
"Yakin kamu mau masuk, Reyn? Kayaknya kamu ketakutan tuh," ejek Jennie lagi. Reyno yang tidak mau harga dirinya diinjak, langsung mengajak Jennie berjalan cepat memasuki pintu masuk utama.
"Cepat masuk!" ajak Reyno dalam rasa yang berkecamuk. Rasanya ingn terpejam dan langsung menyelesaikan permainan rumah hantu ini. Menyesal, hanya itu yang ia pikirkan ketika mengajak Jennie pergi ke pasar malang.
Reyno hanya ingin menikmati keseruan dan pertunjukkan di pasar malam. Bukan ikut uji nyali seperti ini. Nasib memiliki istri tomboy yang tidak ada takut-takutnya.
***
Likenya dong, biar aku semangat nulisnya, hehehe...
__ADS_1