
"Mamaaa!"
Reyno terperanjat saat mendengar suara teriakan dari balik pintu kamar. Telinganya mendadak sakit bersamaan tubuh yang panas seketika. Siapa lagi kalau bukan Cello, saingan terberat Reyno dalam mengejar perhatian sang istri. Di mana dia akan menjadi pihak yang selalu kalah sebelum bersaing. Kecuali tadi siang karena sudah terlanjur kepepet.
"Ada Ello, Reyn. Lepas dulu!"
Dengan berat hati, Reyno terpaksa melepas bibirnya dari gunung kembar favoritnya. Reyno ingin menangis, menjerit dan mencakar tembok sekarang juga. Mau mesra-mesraan serba susah karena ada anak piranha datang. Seakan menggerogoti tubuh Reyno yang sebenarnya sedang menahan gejolak.
Jennie turun dari ranjang. Lalu berjalan ke arah pintu untuk melihat keadaan anaknya. Jam menunjukkan pukul sembilan malam. Mungkin Cello terbangun dan tidak bisa tidur lagi.
"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Jennie seraya meraih tangan anaknya. Menutup pintu dan menyuruh Cello naik ke atas ranjang.
Mata Reyno dan anaknya bertemu. Ada tatapan sengit yang hanya bisa dibaca kaum lelaki.
"Ello gak bisa tidur, Ma. Mau bobok bareng Mama Panda ama Papa Teddy," ujar Cello dengan binar mata penuh harap dan nada bicara manja. Mengabaikan sang papa yang menatapnya, bete.
"Bobo sama bibi asuh kan bisa, adik yang kecil saja mau bobo sama bibi." Suami imut-imut laknat Jennie berbicara. Kesal sekaligus merasa kalah sebelum berjuang.
"Gak mau, Pa. Ello mau bobo di sini aja."
"Hmmm. Ya sudah bobo!" Reyno beralih pada boneka Tayo, alternatifnya kalau sedang tidak bisa memeluk sang istri.
Sementara Cello kembali memposisikan dirinya untuk tidur di tengah. Memasukkan kedua tangan ke baju sang mama seperti biasa. Lagi-lagi Reyno ingin menjatuhkan diri ke lantai, menggelrpar-gelepar seperti ikan kalau bisa.Ia jemu melihat adegan yang menusuk mata dan membanjiri hati, iri.
"Kok basah?" tanya anak itu, kesal.
Rasain bekas Papa tuh, batin Reyno seraya menatap Jennie dengan kode lisan. Matanya melotot dengan sorot mengancam. Awas ya, kalau tidak secepatnya dilatih mandiri, Cello akan segera ia asingkan ke asrama berhantu. Begitulah mata tajam Reyno berbicara.
Untungnya hanya pegang-pegang. Reyno masih memaklumi walau sebenarnya hatinya terluka. Sesak di dada ketika melihat anaknya yang serakah, dua tangan itu menggenggam kuat milik mamanya. Seakan takut dicuri oleh Papanya. Padahal tiga tahun anak itu merajalela dan membuat Reyno tidak boleh merasakan gunung kembar istrinya. Namun si anak serakah yang tidak tahu apa-apa kembali merebut jatah Reyno di tahun ini.
Reyno iseng menarik satu tangan Cello, namun anak itu bangun dan balas menendang sosis berharga miliknya. Reyno menggeram seperti macan, mendengkus dan gulang-guling tidak jelas, sampai akhirnya Reyno ikut tertidur. Terbuai dalam balutan mimpi buruk karena tidak jadi menuntaskan sebuah hasrat. Enokinya nganggur, mungkin besok malam baru bisa menjenguk sahabatnya lagi.
Tok .... Tok .... Tok ....
Sebuah ketukan berhasil membangunkan Reyno. Pria itu melirik jam di dinding yang menunjukkan pukul satu malam. Yang artinya ia sudah tidur hampir empat jam lebih.
Tok .... Tok ....Tok ....
__ADS_1
Pintu diketuk semakin keras. Reyno melirik Cello dan Jennie yang tak bergeming sedikitpun. Masih terlelap dalam tidurnya masing-masing. Setelah mencopot kedua tangan Cello yang menyelip di bawah baju Jennie, Reyno pun turun dari ranjangnya.
"Siapa?" tanya Reyno seraya berjalan ke arah pintu.
"Ini bibi, Tuan. Nona kecil tiba-tiba demam."
"Astaga!" Reyno langsung berlari cepat untuk membuka pintu. Ketika pintu terbuka, ia langsung dihadapkan dengan pemandangan miris yang melukai hatinya.
"Ya, ampun. Kamu kenapa Sayang?" Wajah Reyno berubah panik, ia mengambil si Cilla dari tangan bibinya. Tak lupa Reyno juga mengambil kain gendong untuk menggendong anaknya.
Tubuh Cilla lemas, gadis kecil itu terisak-isak dalam gendongan Papanya. "Bibi ambilkan sirup paracetamol sama air putih hangat dua gelas ya! Kompresannya jangan lupa?" Reyno berbalik tanpa menunggu jawaban.
"Je ... bangun, Je." Reyno membangunkan sang istrinya. Panik. Pria itu paling tidak bisa melihat anak-anaknya sakit.
"Eugh." Mengerjap-ngerjap, Jennie membuka matanya perlahan. Ia langsung kaget begitu melihat Cilla terisak-isak dalam gendongan suaminya.
"Ya Tuhan, Cilla kenapa Reyn?"
"Dia demam. Cepat kamu periksa Ello juga, ganti bajunya dengan yang lebih tipis. Kompres badannya dengan air hangat."
Jennie langsung mengecek suhu tubuh Cello yang masih tidur pulas. Benar saja dugaan Reyno, badan anak itu juga panas walau masih terlelap.
Bibi datang membawa pengompres dan obat yang Reyno minta. Lalu menaruhnya di atas nakas.
"Bibi tidur saja di kamar, biar kami berdua yang jagain mereka." Reyno berkata.
Bibi yang merasa tidak enak menyela. "Tapi Tuan—"
"Sudah tidak usah sungkan, besok bibi harus bantuin Jennie jaga mereka. Kalau sakit semua bahaya."
"Baik Tuan," ucap bibi menuruti perintah Reyno. Kemudian pergi meninggalkan keluarga manis itu di kamar.
Reyno dan Jennie mulai sigap mengompres anak-anaknya. Lalu memberikan sirup paracetamol untuk Cilla dan Cello.
Jam menunjukkan pukul tiga pagi, Cello sudah kembali tenang dalam rangkulan Jennie. Ia tidak seperti Cilla yang manja saat sedang sakit. Cello selalu tidur dan tidak begitu menyusahkan. Sementara Cilla, gadis kecil itu harus digendong sepanjang malam jika sedang demam.
"Cilla Sayang, gantian yuk sama mama, kasian Papa Teddynya kelelahan," ucap Jennie merayu-rayu.
__ADS_1
"Gak mau!" Cilla langsung menyembunyikan wajahnya di dada sang Papa. Menangis terisak-isak dari jam satu pagi.
"Kamu istirahat aja, biar aku yang jagain mereka. Toh Ello gak rewel. Cilla gak akan mau lepas dari aku sebelum sembuh, lebih baik kamu istirahatin diri."
"Iya, Reyn."Jennie mulai berbaring di samping Cello. Memeluk anak itu dengan hati terluka. Kasihan melihat wajah lelah Reyno.
Ia tidak tega melihat Reyno yang mondar-mandir menggendong Cilla. Anak itu paling tidak bisa pisah dari papanya jika sedang sakit. Jika belum sembuh, Cilla harus selalu menempel pada gendongan papanya. Untungnya Cello masih bisa dibawa berbaring. Paling hanya sekedar gelisah di atas kasur.
Begitulah perjuangan menjadi orang tua. Adapun Reyno suka bersikap kekanak-kanakan, ia selalu mengambil langkah dewasa setiap kali menemui situasi macam ini. Ia sayang pada kedua anaknya. Sembari menggendong Cilla, Reyno juga mengganti baju Cello yang basah lagi karena keringat. Tidak mau membangungkan Jennie hanya karena masalah baju. Pikirnya, sekalian menjaga Cello agar Jennie bisa tidur tenang.
Pagi menjelang, untungnya suhu badan kedua buah hati mereka sudah turun. Reyno menghela napas lega karena bisa berangkat ke kampus dengan tenang. Cello dan Cilla masih tertidur di atas kasur. Si kecil Cilla baru mau lepas gendongan saat jam menunjukkan pukul enam pagi. Yang artinya Reyno ekstra bergadang untuk merawat kedua anak-anaknya.
"Kamu beneran gak bisa ijin dulu Reyn? Aku gak tega kalau kamu tetap ke kampus. Apalagi habis bergadang semalaman. Di rumah aja ya," bujuk Jennie merasa kasian.
Reyno mengecup kening Jennie. "Gak papa, aku harus tetap ngampus hari ini. Reyno sudah mandi dan rapih, siap-siap ke kampus.
"Nanti kalau sudah selesai langsung kelas langsung pulang ya, biar kamu gak ikutan sakit."
"Tapi tidurin sama kamu ya," goda Reyno nakal.
"Dasar nyebelin!" Jennie memasukkan bekal makakan untuk Reyno ke dalam ranselnya. Lalu mengalungkannya di pundak Reyno.
"Papa!" Si Kecil Cello bangun.
"Eh, anak papa sudah sembuh ya? Sini cium papa dulu, Nak." Reyno yang hatinya sedang waras mengepangkan kedua tangan seraya berlutut, di mana Cello langsung menghambur ke pelukkan sang Papa.
"Boy jangan nakal ya, jagain adik sama mama Panda di rumah." Satu kecupan melayang di pipi gembul Cello, lalu anak itu balas mencium pipi papanya juga. "Papa berangkat dulu ya!"
Cello yang sedang kolokan mendadak masam. Wajahnya berubah kesal mendengar Reyno mau pergi.
"Papa gak boleh kerja!" teriak Cello kesal.
"Eh jangan gitu, nanti gak bisa beli robot," ucap Reyno menasehati.
"Uang papa kan banyak. Ello liat di dompet. Ada segini?" Sambil menunjukkan sepulu jarinya. Terlihat menggemaskan saat melihat ekspresi polos anak itu.
"Banyak, tapi Papa harus rajin kerja, biar kamu bisa cepet-cepet ngalahin Rafathar."
__ADS_1
Reyno berbalik dan menghilang di ambang pintu. Sementara Cello masih larut dalam pikirannya. Siapakah Rafathar? ia tidak mengenal anak kecil yang Reyno maksud. Tidak ada juga teman sekolahnya yang bernama Rafathar.
***