
***
Tidak ada hubungan yang selalu mulus seperti jalan tol. Sekuat apapun mereka menjaga hubungan agar selalu terjalin sempurna, tetap akan ada masa di mana mereka tidak bisa mencegah datang perkara.
Sementara Jennie dan Dafa masih diam dengan pikirannya masing-masing. Mereka sedang memperdalam motif di balik semua yang Reyno lakukan.
Yang Jennie tahu, Reyno bukan pria yang sempit dalam berpikir. Meskipun tindakan Reyno melukai hatinya, Jennie yakin ada alasan yang belum bisa dijelaskan menggunakan lisan.
Sayangnya otak Jennie tidak selancar itu untuk memecahkan hikmah di balik sikap Reyno. Karena Jennie tahu, apapun yang Reyno lakukan saat marah selalu berujung indah jika sudah terpecah.
Jennie sudah menghubungi teman-teman Reyno seperti, Alex, Nasya, dan yang ia kenal lainnya. Bahkan miss Dafina tak luput dari aduannya. Reyno tidak terlalu memiliki banyak teman. jadi tidak mungkin Reyno pergi ke tempat temannya. Toh mereka semua juga mengatakan tidak tahu tentang di mana keberadaan Reyno. Pria itu tidak mengabari siapapun hingga detik ini.
Miss D, dosen yang sekarang sudah dekat dengan Jennie langsung marah-marah ketika mendengar curhatan istri Reyno. Ia sebagai wanita merasa tidak terima dengan sikap Reyno yang kekanak-kanakan. Apa lagi Reyno termasuk mahasiswa berprestasi di bawah bimbingannya. Reyno juga harus konsultasi masalah skripsinya pada Miss D hari ini. Maka dosen yang sudah murka itu langsung membuat pengumuman besar-besaran di grup mahasiswa bimbingannya. Bahkan ia menulis denhan huruf kapital.
Miss Dafina: 1X/XX/20XX
[PENGUMUMAN: UNTUK SEMUA MAHASISWA DAN MAHASISWI DI BAWAH NAUNGAN DAN BIMBINGAN SAYA. DI MOHON UNTUK SERIUS DALAM HAL APAPUN.
TOLONG SERTAKAN NOMOR PONSEL YANG AKTIF, YANG TIDAK HAPUS FOTO PROFIL KALO LAGI NGAMBEK. APALAGI MATIIN DATA SELULER.
OMG! Gak banget, deh.
TOLONG YA...
Kalian bukan anak SMP! Jadi jangan membuat drama ala-ala supaya terkesan bahwa kalian sedang memblokir orang.
Saya sudah benar-benar pusing dengan hasil skripsi kalian yang seperti hasil karya anak SD pergi tamasya, jadi tolong jangan libatkan dunia percintaan kalian dengan urusan kampus.
Sekali lagi, saya butuh nomor aktif agar bisa menghubungi kalian kapan saja di saat ada kepentingan.
MOHON KESADARAN DIRINYA.]
Seketika itu juga, grup whatsa*p menjadi gempar. Semua member grup sudah tahu kalau sindiran jahat miss D ditujukan pada Reyno. Meskipun Reyno anak kesayangan miss D, ia tetap akan mendapat perlakuan tidak enak jika salah. Begitulah Dafina.
Semua wanita mengelus dada saat membaca pengumuman miss D. Mereka yang biasa hapus foto profil jika saat sedang ngambek langsung merasa tersindir. Ada kesal, malu, sekaligus gemas ketika membaca itu.
Sekarang tujuan Jennie hanya rumah utama. Semoga Reyno dan anak-anak ada di sana. Jika mereka tidak ada, entah Jennie harus pergi ke mana untuk mencari jantung hati yang hilang sebelah itu.
__ADS_1
Mobil Dafa berhenti di luar pagar rumah kediaman Haris. "Good luck ya, Je. Aku bantu doa dari sini." Jennie hanya mengangguk sambil melempar senyum terpaksa. Lantas turun dan mulai memasuki gerbang utama.
Gemetar-gemetar takut, Jennie meremas tangannya ketika memasuki rumah utama. Mami Dina sedang duduk di sofa, membaca majalah kegemarannya sambil minum teh.
"Mam!"
Sontak mami Dina menoleh kaget. Ia semakin terkejut kala mendapati Jennie terluka di bagian sana-sini.
"Ya Tuhan, Sayang. Kamu kenapa?"
Mami Dina langsung menghampiri Jennie. Memeluk tubuh gemetar itu dengan penuh kekhawatiran.
"Apa Reyno dan anak-anak ada di sini, Mam?"
"Tidak, apa yang sebenarnya terjadi di antara kalian?" Sekarang mami Dina sudah tahu duduk perkaranya. Jennie menangis karena bertengkar dengan Reyno. "Kenapa kamu begini, apa Reyno melakukan KDRT?"
Melihat keadaan Jennie, hati mami Dina mendadak sakit. Meskipun mereka baru saja akrab, namun mami Dina tahu bahwa Jennie adalah wanita tegar. Pasti masalah mereka sangat berat karena berhasil membuat Jennie menangis tak kuasa.
"Maafin aku, Mam. Aku salah ... aku bodoh!" Hati Jennie menjerit dan meronta, menyadari kebodohannya sebagai mahluk pelupa.
"Sudah, ayo duduk dulu! Kita cerita sambil duduk." Mami Dina menuntun Jennie untuk duduk di sofa. Menantunya terus menangis, membuat mami Dina ikut merasakan apa yang sedang di derita menantunya.
"Tadi aku ketemuan sama sahabat kecilku. Tapi aku lupa memberi tahu Reyno, dan tidak sengaja Reyno memergoki kita saat sedang duduk berdua di kafe. Jennie salah, Mam. Reyno marah dan tidak mau mendengarkan penjelasanku, ia pergi dan mendorong saat Jennie hendak ikut masuk ke dalam mobilnya. Dan setelah Jennie di bawa ke rumah sakit untuk mengobati luka, barulah Jennie pulang untuk melihat apakah Reyno ada di rumah atau tidak. Ternyata Reyno sudah pergi, membawa anak-anak dan beberapa baju mereka." Jennie bercerita sambil menahan isakannya.
"Ya ampun. Reyno benar-benar keterlaluan. Maafkan anak mami ya, dia memang sangat sensitif hatinya. Tapi mami yakin, Reyno memiliki alasan tersendiri ketika melakukan semua itu."
Seperti yang Jennie pikirkan, mami Dina juga memiliki pemikiran yang sama.
"Kamu yang sabar ya, Nak. Mami akan terus mendukungmu. Nanti Mami akan coba hubungi Papi, agar membantu melacak keberadaan Reyno."
Di luar dugaan Jennie, mami Dina bersikap sangat baik kepadanya. Tadinya, Jennie pikir mami Dina akan murka ketika mendengar penjelasan darinya. Syukurlah, masih ada kekuatan dari pihak keluarga Reyno. Mami Dina sudah berubah total.
"Jennie bingung, Mam. Bagaimana jika Reyno dan anak-anak tidak mau kembali. Jennie sayang mereka—Jennie lebih baik mati jika Reyno dan anak-anak tidak di sisiku lagi."
"Sssst!" Mami Dina mendekap Jennie. Menyandarkan kepala gadis itu ke dalam tubuh hangatnya. "Apa Reyno mengatakan ingin pisah?"
"Ti-dak Mam! tapi Jennie takut," ucapnya terisak.
__ADS_1
"Selama Reyno tidak mengatakan kata pisah, ia pasti akan kembali. Kamu tenang saja! Mami tahu benar seperti apa sikap Reyno. Ia tidak akan gegabah dan membahayakan anak-anak. Berikanlah pria itu waktu untuk berpikir, kamu pulang dan istirahat. Kembalilah ke rumah."
Nasihat mami sedikit membuat Jennie tenang, walaupun ia masih merasa takut jika Reyno sampai mengambil keputusan untuk meninggalkannya.
Setelah curhat dan mengadu ini itu, Jennie keluar dari kediaman Haris dengan tangan hampa. Mobil Dafa masih setia menunggu Jennie.
"Bagaimana? Apa ada hasil? tanya Dafa saat Jennie masuk ke dalam mobil.
"Tidak ada, tapi mami mertuaku bilang akan memantuku mencari Reyno dan anak-anak."
"Baguslah, ayo kita pulang! Kamu harus istirahat untuk menyembuhkan lukamu itu." Dafa melirik Jennie, memperhatikan wanita itu dengan hati miris.
"Aku tidak mau pulang, Kak. Aku akan terus mencari Reyno. Aku mau mendatangi tempat-tempat yang sering dikunjungi Reyno."
Dafa menyela. "Tapi Je—"
"Aku tidak bisa tenang, Kak."
Mendesah lemah, Dafa lupa bahwa Jennie adalah wanita yang keras kepala. "Baiklah, jika kamu ingin mencari—izinkan aku mengantarmu kemanapun agar aku bisa tenang."
"Apa pacar kakak tidak marah?"
"Tenang saja, aku sudah membicarakan masalah ini dengannya. Dia pasti akan mengerti." Dafa mulai melajukan mobilnya.
"Makasih Kak, harusnya aku juga melakukan hal yang sama sepertimu. Jadi aku tidak akan bertemu masalah seperti ini," ujar Jennie yang menyesali kelalaiannya.
"Coba hubungi lagi nomor suamimu, Je. Mungkin sudah aktif."
"Tidak bisa, Kak. Sudah kubilang Reyno akan terus menonaktidkan data seluler dan menghapus poto profilnya sampai dia berhenti marah."
"Huhh." Dafa mendesah lemah. Sikap Reyno benar-benar lebih spesial dari martabak yang telurnya ada empat.
Mobil Dafa terus menyusuri jalan raya. Mengelilingi seluruh pelosok ibu kota untuk menuruti permintaan Jennie. Dan tak sadar, ternyata Jennie sudah terlelap dengan wajah sedihnya. Wanita itu sudah tidak menangis, hanya menyisakan lahar panas yang sudah mengering di kedua pipi.
Dafa memberhentikan mobil dan membuka kaca samping untuk sekedar menyapa benda bernikotin yang ia ambil dari saku celananya. Ia menyempatkan diri untuk memperhatikan wajah Jennie sebelum menarik batang roko yang terbungkus rapi di wadahnya.
"Maafkan aku ya, Je." Dafa meraih jemari lentik milik Jennie. Lalu mencuri sebuah kecupan di atas punggung tangan wanita itu.
__ADS_1
***