
"Reyn .... Hmmmm ... Hmmmm." Reyno mendaratkan bibir kenyalnya secara mendadak, membuat Jennie terperanjat karena belum siap menerima rangsangan itu.
Apa yang dia lakukan? Apa ini efek kesurupan drama korea.
"Reyno sayang Jennie," ucap cowok itu begitu selesai dengan ciuman amatir mereka. "Jadi milik Reyno seutuhnya ya Je," bisiknya lembut tepat di telinga Jennie.
"Ma ... Ma ... Maksudnya apa?" Jennie sudah ketakutan saat tangan Reyno mulai bergerilya nakal. Menyusuri punggung Jennie yang masih mengenakan kain penghalang. Meski belum sampai menyentuh bagian terlarang, namun itu membuat Jennie canggung seratus persen.
Sumpah! Aku mengutuk drama korea itu.
"Reyno ngga mau Jennie sampai di rebut orang lain. Untuk membuat kamu jadi milik Reyno seutuhnya, kita harus melakukan hubungan suami istri." perbuatan Reyno semakin tidak terkontrol, tangan cowok itu sudah mulai menyelusup masup masuk ke dalam kaos milik Jennie.
"Da ... Da ..Dapat terori itu dari mana? Aku kan udah jadi milik kamu." Jennie semakin gugup, ia mencoba menahan tangan Reyno agar jangan sampai menyentuh bagian yang semesti di sentuh.
"Di drama korea yang aku tonton tadi, katanya cara memiliki wanita seutuhnya harus begitu." Tuh kan, benar. Jennie sudah tahu duduk perkaranya.
Apa judul drama sialan itu? Aku mau protes karena adeganya telah meracuni remaja delapan belas tahun ini. Setan!
"Memangnya kamu sudah siap untuk ini? Bukanya kita udah janji akan ngelakuinya kalau sudah dewasa." Jennie mencengkeram tubuh Reyno dengan kedua tanganya yang gemetar, Kini mata mereka sudah saling menatap, mengunci sebuah pandangan yang sulit untuk di artikan. Tanpa pikir panjang lagi Reyno langsung merubah posisinya, menindih tubuh Jennie dengan kemantapan hatinya. Masih dengan mata yang saling bersitatap, Reyno mencoba meyakinkan keraguan yang ada dalam diri gadis itu.
"Reyno mau batalin janji itu, Jennie itu istri Reyno. Sudah sepatutnya Reyno melayani Jennie dalam hal ini."
Sialan.
Kok aku jadi pengin nampar bocah ini ya? Siapa yang minta dilayanin, heh.
Semuanya sudah terlambat, tangan Reyno sudah mulai menyusup pada bagian yang seharusnya tidak boleh di sentuh. Jennie menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, merasakan sengatan seperti listrik untuk pertama kalinya. Cukup lama ia memainkan dua benda itu dengan gaya amatiranya, sampai akhirnya ia melepas dan menatap Jennie kembali.
"Aku akan segera mencintaimu Jennie," Bibirnya mulai beraktifitas mencium bibir Jennie tanpa rasa ragu. Mengggit-gigit kecil dan menyeruakan lidahnya ke dalam rongga mulut Jennie. Gadis yang tidak tahan itu mulai membalas ciuman Reyno. Saling mencecap dengan kelihaian masing-masing. Keduanya sudah lupa akan aturan yang mereka buat. Hanya ada lenguhan yang membuktikan bahwa keduanya menikmati persenggamaanya.
Deru napas dari keduanya saling memburu, sesekali mereka membuka mata dan terpejam kembali. Menikmati kegitan indah yang akan segera berlangsung, Jennie semakin menggila ketika tangan Reyno mulai bermain pada benda kenyal miliknya. Memutar dan membelit ujung benda itu dengan kedua jarinya. Sesekali ia melepas ciuman dan mengeluarkan lenguhan yang tidak terkontrol.
Reyno melepas ciumanya ketika merasa sudah cukup puas. Menurunkan wajahnya pada ceruk leher Sang Istri, ia mulai bermain-main di sana. Menyapu permukaan itu dengan lidah nakalnya.
"Jennie buka bajunya yah, Reyno mau lihat." Meminta izin sembari menangkupkan tanganya di buah dada Sang Istri.
__ADS_1
"Haaaah, ih-ya." Jennie menjawab dengan nafas memburu, ada sebuah gairah besar yang memberontak dalam dirinya.
Dibukanya baju itu, terpampang sebuah pemandangan yang baru pertama kali Reyno lihat. Langsung saja ia membenamkan wajahnya di sana, memainkan dua benda kenyal nan indah itu dengan gaya amatiranya.
"Hmmmm .... Reyn." Mencengkeram rambut kepala Reyno kuat-kuat. "Geli Reyn ... Hentikan!" Antara menolak dan ingin lanjut bercampur jadi satu.
Sakit Jennie, kamu kenapa sih?
Reyno terus melancarkan kegiatan amatiran itu, meny*su seperti seorang bayi. Melakukanya secara bergantian. Sambil mendengarkan racauan tidak jelas yang keluar dari bibir Jennie. Hanya ada jiwa liar dari gadis itu, Jennie sudah lupa akan umur dan harga diri.
Ada sekitar setengah jam Reyno melakukan itu. Bermain-main seperti bayi yang baru pertama kali menemukanya. Punggung Reyno sudah banyak sekali mendapat bekas cakaran. Jennie juga sempat menggigit bahu Reyno beberapa kali. Sampai akhirnya Reyno bosan dan mendongakan kepalanya.
"Abis ini harus ngapain ya?" tanya Reyno membuyarkan lamunan Jennie.
Apa maksud dari semua ini?
Posisi tubuh Reyno sudah diatas Jennie, namun ia tidak tahu harus melakukan apa lagi. Cowok itu menatap mata sayu Jennie yang terlihat menahan sesuatu.
"Reyno ngga ngerti caranya, Jennie." Menatap binar Jennie dengan perasaan bersalah. Tanganya masih menangkup pada gundukan indah milik Jennie.
Sebenarnya Reyno bukan tidak mengerti, hanya saja ia ragu untuk melakukanya. Dalam arti Reyno belum siap untuk hal ini. Ada seribu rasa takut dalam dirinya, takut salah, takut menyakiti Jennie, dan juga ia masih merasa belum pantas untuk memulai jenjang yang serius seperti ini.
"Maaf ... Maafin Reyno. Seharusnya Reyno ngga terbawa suasana begini. Maafin kebodohan yang Reyno lakukan." Memeluk Jennie dan membenamkan wajahnya di punggung Jennie.Cowok itu menangis. Reyno memang tipe melankolis yang gampang menangis.
"Maafin Reyno yang gak bisa jadi lelaki seutuhnya." Masih memeluk Jennie dengan perasaan bersalah. Air matanya sampai membasahi punggung Jennie yang yang masih polos tanpa baju.
Melihat rengekan itu membuat Jennie merasa bersalah sendiri. Bagaimanapun juga Reyno masih polos, walau yang ia lakukan jujur sangat keterlaluan.
"Jangan di ulangi lagi ya," ucap Jennie tanpa menoleh. Tanganya ke belakang mengelus rambut kepala Reyno.
"Jennie marah ya?" Mengusak-usak rambut kepalanya di punggu Jennie seperti kucing.
"Iyalah, marah. Reyno keterlaluan!" Yang dimaksud keterlaluan adalah merangsang sesuatu tanpa bertanggung jawab. "Aku malu tahu, kamu sudah terlanjur lihat semua kan?" Tapi tidak melakukan hal itu, membuat Jennie semakin malu saja.
Aku kok jadi kayak cewek yang haus akan belaian ya? Bodo amat, Reyno yang salah.
__ADS_1
"Ini bukan pertama kali kok, dulu juga sudah pernah lihat." Membeberkan fakta.
"Bodo amat!"
"Maafin Reyno yah," Cowok itu masih menangis walau sudah terasa mereda.
"Pokoknya kalau belum siap jangan coba-coba,lagian emang Reyno mau punya dede bayi sekarang?" Nada suara Jennie meninggi, membuat isak tangis Reyno kembali pecah.
"Engga mau, Reyno ngga bisa ngerawatnya. Tapi tadi memang Reyno pingin banget, kaya ada sesuatu yang mendorong Reyno untuk melakukan hal itu. Maaf." Maksudnya dorongan nafsu birahi.
Jennie juga tahu untuk hal itu. Gadis itu bisa merasakan benda keras di bawah sana yang tidak sengaja bergesekan dengan pangkal pahanya, Tapi masalahnya Reyno tidak mengerti akan kelanjutan dan cara mengatasinya.
"Ya sudah jangan di bahas. Sekarang kamu tidur." Mengelus rambut kepala Reyno sekali lagi, rasanya sangat sulit untuk marah berkelanjutan pada cowok polos itu. Apapun kesalahan yang Reyno lakukan, Jennie tidak sanggup marah berlebihan.
Lama kelamaan akhirnya mereka berdua mulai terlelap, dalam keadaan setengah badan yang tanpa pakaian. Karena bagian bawah masih aman.
***
"Reynoooooooooooo ...!"
Jeritan Jennie dipagi hari membuat Reyno tersentak kaget. Gadis itu langsung mengguncang badan Reyno secara membabi buta.
"Kamu ngompol ya?" Teriak.
"Engga sumpah ... Sumpa aku gak ngompol, ampun!" Melindungi kepalanya dari amukan Jennie.
"Ini basah!"
"Bukan ... Bukan ... itu aku habis mimpi aneh." Reyno menarik selimut dan menyembunyikan tubuhnya dibalik benda tebal itu.
"Mau Mati kamu ya!" Tidak terima penjelasan.
"Jennie ampun! Reyno ngga ngompol."🤣
Akhirnya berantem sampai siang.
__ADS_1
***
Sabar dulu ya, nanti ada saatnya adegan itu terjadi. Aku akan coba buat alur yang menarik ketika mereka melakukan itu. Hehehe. Pokonya harus beda... hehehe.