
Ah, mengapa sulit bagi aku untuk menolak pesonanya?
Beberapa kali Alex melempar pandangannya pada Dafina. Wanita itu nampak keren saat sedang menyetir. Matanya yang fokus tertuju pada jalanan terlihat cantik, setiap kali kelopaknya berkedih selalu menampilkan bulu lentik yang indah. Hidungnya mancung, cocok sekali dengan wajahnya yang mulus. Apa lagi bibirnya, lembut, basah, dan Alex ingin merasai bibir itu sekali lagi.
Astaga! Apa sih yang Alex pikirkan? Semula hatinya biasa saja, namun perasaan Alex mendadak berubah sesaat setelah melakukan ciuman pertamanya dengan Dafina. Seperti ada magis yang menarik perhatiannya di dalam diri Dafina. Tapi apa?
Ya, Alex tahu apa itu. Pasti tubuh Dafina yang indah. Pikirannya selalu berpusat pada bayangan-bayangan erotis tentang Dafina. Alex mendadak gila karena ini.
"Alex!" panggil Dafina. Namun pria itu masih diam tanpa sautan. Entah apa yang sedang ia lakukan, Dafina tidak tahu. "Alex!" panggilnya sekali lagi, dengan nada setengah teriak.
"Ya." Alex tergugup kala Dafina memergoki dirinya sedang melamun.
Mobil Dafina sudah berhenti tepat di depan apartemen Alex, pria itu terdiam sejenak seperti hendak mengatakan sesuatu. Dafina yang sudah membaca gelagat aneh dalam diri Alex hanya tersenyum lembut seraya berkata,
"Sudah sampai, apa kau masih kangen? Belum rela pisah denganku?" tanya Dafina.
"Tidak. Hanya bingung saja kenapa Miss bisa tahu tempat tinggalku," elaknya beserta alasan.
"Tentu saja aku tahu. Ada alamatmu di daftar mahasiswa." Dafina mengedipkan mata bangga.
__ADS_1
"Huh. Dasar licik!"
Alex dapat memahami untuk Dafina yang mengetahu alamat rumahnya tanpa arahan Alex. Namun untuk dalaman spidermen, ia masih memikirkan dari mana Dafina mengetahuinya. Sementara Alex merasa tidak pernah membeberkan hal ini pada siapapun. Baik teman pria Alex bahkan Siska sekalipun.
Masih dengan ekspresi yang dibuat sedatar mungkin. Alex melepas seat beltnya dan memutar posisi tuhuhnya menghadap ke arah Dafina.
"Mengenai perjanjian pacaran, Miss tidak akan membohongiku 'kan? Akan menjaga rahasia ini dari Siska, dan berhenti menggangguku kehidupanku setelah aku menyelesaikan chalenge gila ini." Seolah tidak percaya, Alex mengulang kembali keraguan hatinya. Bohong. Semua itu hanya akal-akalan Alex agar dapat lebih lama bersama dengan Dafina.
"Tenang saja, aku bukan tipe orang yang tidak menepati janji."
"Bagus!" Alex mengepalkan tangannya kuat-kuat. "Untuk tiga puluh kali ciuman, bisakah dijadikan dua kali sehari?"
"Uhukk." Dafina yang sedang memeriksa ponselnya mendadak terbatuk. "Kenapa? Apa satu kali sehari kurang?"
Sebenarnya untuk tiga puluh ciuman itu Dafina tidak benar-benar serius memintanya. Hanya sekedar iseng. Siapa sangka Alex akan setuju dengan candaan Dafina yang satu ini.
"Baiklah, kalau begitu cium aku sekarang. Artinya kau masih berhutang satu kali ciuman padaku." Sekalian mengetes sejauh mana keagresifan Alex, Dafina langsung memejamkan matanya tiba-tiba. Memutar posisi tubuhnya menghadap Alex dengan ekspresi yang begitu tenang.
Deg!
__ADS_1
Cium? Sekarang? Cepat sekali dia meminta, bahkan tanpa basa-basi terlebih dahulu.
Jantung Alex mendadak berhenti sejenak. Ia menelan saliva saat matanya menangkap bibir sexy milik Dafina. Indah di pandang, dan manis untuk dinikmati. Perlahan Alex mencondongkan kepalanya. Dengan sedikit ragu, ia menjatuhkan bibirnya di atas benda kenyal nan menggiurkan itu.
Tidak. Satu kakinya sudah melangkah di depan kursi Dafina. Siap menerkam wanita itu kapan saja. Setan di dalam hati Alex terus mendorong agar ia melakukan hal yang lebih dari sekedar ciuman.
Kali ini Dafina diam, ia tidak merangsang Alex seperti tadi. Malah sebaliknya, Alex yang merengkuh tubuh kecil itu, hingga kursi Dafina sudah berubah posisinya ke belakang. Dan tubuh Alex tepat mendindih Dafina.
Bangun Alex. Jangan bodoh! Dia adalah dosenmu, bukan sembarang wanita yang pantas kau kurangajari.
Seolah mendengar bisikan malaikan. Alex melepas ciumannya yang baru sebentar itu. Kembali duduk pada kursinya secepat mungkin. Selamat! Ia berhasil mengendalikan dirinya agar tidak berbuat senonoh pada Dafina.
"Terima kasih," ucap Dafina seraya merapikan bajunya. "Ciumanmu tidak enak. Payah!" ejek Dafina, sengaja ia melakukan itu untuk menutupi kecanggungan diantar mereka, tapi lain halnya Alex yang mendadak salah paham dengan ucapan Dafina.
Apa? Kenapa aku merasa diinjak begini harga dirinya? Apakah aku benar-benar payah? Seburuk itukah kemampuanku? Huh. Kalau kau bukan dosenku, mungkin aku akan berbuat lebih bebas lagi. Ini bukan salahku, tapi salahmu kenapa harus menjadi orang yang harus aku hormati. Alex menggerutu dalam hati.
"Terima kasih untuk makanannya." Alex buru-buru keluar dari mobil Dafina sebelum kekesalannya makin memuncak.
Pria itu menendang kaleng yang ada di depannya setelah mobil Dafina melaju. Satu hal yang membuat Alex heran, tak ada keuntungan apapun ketika ia memiliki kedekatan dengan Dafina. Skripsi Alex tetap di tolak. Dinyatakan tidak sempurna dan hampir semua harus direvisi ulang.
__ADS_1
Ah, sejenak ia ingin menjadi Reyno yang paling pintar di kelas.
***