
Sementara di kediaman Haris, suasana rumah menjadi semakin kacau. Mami Dina depresi karena anak bungsu kesayangan—nya tiba-tiba di usir. Oleh ayah kandungnya sendiri pula. Rasanya tidak ingin hidup lagi, Dina sangat merindukan anak kesayanganya. Untung juga William masih diasingkan di luar negri, mungkin akan lebih kacau jika William sudah pulang ke Indonesia.
William sedang mencoba merebut Jennie dari tangan adiknya, sengaja ia diasingkan ke Amerika, pria itu pasti akan mengamuk kalau mengetahui Jennie dan Reyno di usir dari rumah. Alasan utamanya sudah jelas. Cemburu. William tidak rela melihat Reyno dan Jennie berada diluar. Hanya berdua. Yang artinya tanpa pengawasan. Bisa saja keduanya melakukan hal negatif.
“Jangan sentuh aku!” Dina menepis tangan suaminya yang sedang menempel di pundaknya. "Papi keterlaluan! Tidak punya perasaan, tega-teganya kamu menyiksa anakmu sendiri."
“Mih, Reyno pasti baik-baik saja, ada Jennie yang akan menemani Reyno kemana saja.” Haris merangkul istrinya yang terus mendorong tubuhnya agar menjauh. Wanita baruh baya itu semakin memberontak dan tidak mau didekati. Namun daya kekuatan laki-laki selalu diatas perempuan. Dina menangis pasrah di pelukan suaminya.
“Jika kamu tidak segera membawa Reyno pulang kembali ke rumah ini, lebih baik aku mati saja. Membiarkan dua anak delapan belas tahun berjuang sendiri, apa kau gila, hah?” bentak Dina dalam dekapan suaminya.
“Tenang dulu Mi, Reyno dan mantu kita baik-baik saja, papi telah mengutus orang untuk mengawasi dua anak itu. Reyno pasti kembali ke rumah ini, jangan khawatir. Dia akan segera berubah menjadi sosok laki-laki sejati, bukan anak manja yang gemulai seperti itu.” Mengelus pundak Dina agar istrinya sedikit tenang.
“Reyno sudah terlahir menjadi pria lembut, jangan samakan dia dengan William. Anak itu memang berbeda.” Dina memukul dada suaminya kesal. Perbedaan apapun yang ada di dalam diri Reyno, Dina tidak peduli. Anak itu akan terus menjadi si bungsu kesayangan Dina, mau seperti apapun sifatnya ia tidak peduli. Itulah yang Dina pikirkan saat ini.
Namun berbeda dengan Tuan Haris, Reyno dan Willam masih satu darah. Lelaki harus bisa menunjukan kejantananya. Ketika William saja bisa, Reyno juga harus dapat merubah dirinya menjadi lelaki sejati. Mereka berdua berasal dari pabrik yang sama. Semua ini bukan bawaan lahir, tapi didikan salah yang telah di berikan Dina sejak kecil.
“Mih, Reyno seperti itu bukan bawaan dari lahir, tapi kamu yang terlalu terobsesi ingin memiliki anak perempuan. Tanpa kamu sadar, kamu sendiri yang telah membangun jiwa feminim pada diri anakmu sendiri. Reyno adalah anak laki-laki, biarkan dia belajar merasakan seperti apa kerasnya dunia liar. Papi sangat yakin, gadis itu pasti bisa merubah pribadi Reyno jadi lebih baik,” tuturnya panjang lebar. Haris masih terus mendekap Dina agar lebih tenang lagi.
__ADS_1
“Tapi aku rindu anaku.” Mulai melembut. Tidak mau memungkiri, memang Dina sendiri juga merasa bersalah. Wanita itu memang sengaja memperlakukan Reyno seperti seorang gadis.
“Anak kita sedang berjuang untuk menjadi pria sejati, biarkan dia belajar melihat kehidupan di luar sana. Kamu cukup di rumah dan berdoa, percayalah padaku. Aku tidak akan membuat anaku celaka.”
Hati wanita itu melebur kembali, setitik kepercayaan mulai bermunculan. Baiklah. Dina akan membuka egonya sedikit. Semoga bencana ini cepat berlalu, kalau bisa Reyno sudah ada di rumah saat Dina terbangun dari tidurnya besok.
***
Kembali lagi ke kota Bandung. Setelah selesai mandi, Reyno dan Jennie pergi jalan-jalan mengelilingi kota Bandung. Keduanya terlihat romantis seperti Milea dan Dilan, cuma yang ini versi dunia terbalik.
Tentu saja acara mereka tidak pernah berjalan dengan lancar, selalu ada batu kerikil yang menghambat perjalalan romantis mereka. Reyno sempat ngambek dan marah-marah saat motor mereka berhenti di jalan Soekarno-Hatta, jalan itu terkenal dengan lampu merahnya yang sangat lama. Saking lama waktunya, kata netizen bisa nyeduh mie instan sebentar. Ck.
Kembali pada rencana utama, maka di sanalah mereka sekarang, alun-alun kota Bandung. Duduk manis dan bergabung bersama pasangan muda-mudi lainya, ada juga para orang tua yang membawa anak-anaknya bermain di tempat itu. Nuansa indah nan romantis, lampu kelap-kelip dengan iringan musik di pojok sebelah utara menambah indah suasana.
“Bagi dong!” Jennie merajuk seperti anak kecil.
“Gak boleh!” Menjauhkan harta berharga yang ada di tanganya.
__ADS_1
Reyno asik mengunyah sebuah permen kapas yang ia beli di jalan tadi. Memang di alun-alun ini banyak sekali pedagang permen kapas, ini juga yang membuat Reyno anteng berada di sini. Satu lagi, cowok itu sangat senang melihat anak-anak bermain, memainkan benda berbentuk seperti kitiran, yang bila mana diterbangkan akan berputar dan menyala di udara. Perkenalan kota Bandung sudah cukup sepertinya, Reyno mulai menyukai kota asing itu. Jennie kira Reyno akan sudah beradaptasi di lingkungan baru. Ternyata tidak terlalu sulit. Baguslah.
“Dasar pelit!” Mencibir. Mengusak wajah Reyno yang sangat lucu di matanya. Sejak kapan sih, kamu jadi gemesin begini. Entahlah, di mata Jennie Reyno semakin hari semakin bertambah menggemaskan.
“Aaaaaaa ....” Reyno menyuapi sejumput permen kapas, Jennie langsung membuka mulutnya dengan bahagia. “Kamu makan, itu artinya harus beliin dua lagi buat aku.” Trik ala Reyno ketika permen kapas itu berhasil meleleh di mulut Jennie.
“Idiiihhhh, apaan! Aku cuma makan sedikit, itu juga kamu yang suapin, yeeee..” cibir Jennie membela diri.
“Kalo ngga mau beliin aku cium kamu di depan umum,” ancam Reyno tidak tahu diri.
Sejak kapan dia jadi fakboy begitu, huuh. Apa aku jadi pengaruh buruknya, ya?
“Oke ... Oke ... Aku beliin, tapi jangan dua, satu aja.” Menjumput permen kapas Reyno saat cowok itu lengah.
“Jenniiiie!” merengut masam. “ Pokonya ganti! Beliin tiga,” gerutunya ngambek.
“Aku beliin tiga, tapi aku cicil seminggu sekali. Hahahaha ...”
__ADS_1
Begitulah mereka, kadang bertengkar, kadang akur. Tapi malam ini mereka berdua benar-benar menikmati acara jalan-jalan ala rakyat biasa. Bahkan Reyno lupa kalau ia sedang menjalani kehidupanya menjadi rakyat jelata. Ternyata menjadi orang biasa tidak sesedih yang ia bayangkan. Ada kalanya hal-hal sederhana membuat kita bahagia. Itulah yang sedang di rasakan dua pasangan remaja itu sekarang.
***