
Kedua orangtua Jennie mulai memasuki ruang kantor Farhan. Nona Katy hanya mengantar mereka sampai ke dalam, lalu keluar kembali. Farhan mengibaskan jemarinya, isyarat bahwa pria itu ingin melakukan pembicaraan secara pribadi.
"Lama tidak berjumpa Tuan Farhan." Ayah Jennie menyapa, sementara Farhan masih pura-pura sibuk dengan dokumen yang sedang ia kerjakan.
"Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?" Tentu saja Farhan tidak lupa jika ini pertemuan yang kedua. Pertemuan yang pertama terjadi di pernikahan Reyno dan Jennie. Di mana pria itu masih belum mengetahui bahwa mereka adalah orangtua kandungnya.
Farhan mendongakkan kepalanya. Menatap mereka satu persatu, wajahnya langsung berubah hangat begitu melihat Sang Bunda tersenyum kepadanya. Ada rindu yang tak tersampaikan di dalam benak Farhan. Padahal tadi sebelum mereka masuk, Farhan sudah berniat untuk menunjukan kekuasaanya. Memperlihatkan betapa mengerikanya dia selama ini. Namun semua niat itu hilang entah kemana.
"Maaf Tuan, sepertinya saya terlalu sok akrab begini." Hermawan menundukan kepalanya.
"Panggil saja saya Farhan, tidak usah terlalu formal. Mari duduk ..."
Farhan mengajak kedua orangtuanya untuk duduk di sofa. Mereka mengikutinya dan duduk bersama. Hermawan sedikit bingung melihat sikap Farhan. Ia memang tidak mengenal Farhan sebelumnya, namun bukan tidak tahu kalau Farhan terkenal sebagai orang yang sangat angkuh dan killer. Pria itu bisa menyingkirkan setiap saingan bisnisnya dengan sekali tebas.
"Tuan," panggil Hermawan.
"Panggil saya Farhan!" Nada membentak seperti biasanya. Bunda sedikit tersentak melihat kelakuan Farhan yang seperti itu.
"Iya Farhan, maafkan kami." Bunda yang menjawab dengan suara halusnya.
"Sampaikan niat kalian datang kemari." Farhan memalingkan wajahnya saat mendengar suara Ibundanya. "Kalian adalah besan dari keluarga Haris, tidak perlu memanggil saya terlalu formal," kata Farhan lagi.
"Saya ingin menanyakan kabar anak saya, kalau bisa saya juga ingin bertemu." Bunda sebagai seorang ibu maju duluan. Farhan menatapnya dengan wajah datar.
"Anak anda yang mana?" Farhan mulai memancing.
"Tentu saja anak tunggal saya Jennie, kami hanya punya satu anak." Hermawan yang menjawab. Wajah Farhan berubah pias saat mendengar kalimat itu dilontarkan dengan lantang tanpa keraguan.
Aku masih hidup, Ayah.
__ADS_1
"Benarkah anak anda hanya satu?" Farhan memancing sekali lagi. Wajah keduanya orangtua itu langsung berubah kaget. Mencoba mencerna kalimat yang di ucapkan oleh Farhan.
"Sebenarnya ada dua." Bunda langsung menjawab. Hermawan segera memegang jemari istrinya. "Jangan bahas hal ini, Bunda."
"Sebenarnya kami punya dua anak, namun anak pertama kami sudah lama meninggal." Hermawan yang berbicara, sementara istrinya hanya menunduk sedih.
Meninggal?
Farhan berubah murka kembali. Pria itu beranjak dari sofa. Menuju meja kerjanya lalu duduk di sana. Farhan mengepalkan kedua tangannya penuh emosi. Rasa sakit di hatinya sudah tidak dapat terbendung lagi.
Tega sekali kalian. Anak laki-laki kalian masih hidup. Tepat berada di hadapan kalian.
"Anak kalian baik-baik saja. nona Jennie dan suaminya sedang menjalani misi untuk menjadi keluarga Haris sejati. Untuk sementara memang tidak dapat di hubungi. Mereka harus fokus demi kebaikan semuanya." Farhan menjelaskan dari meja kerjanya. Pandanganya menunduk pura-pura mengerjakan dokumen. Padahal ia sedang menyembunyikan wajah marahnya.
"Benarkah begitu? Kalau begitu saya tidak perlu khawatir lagi. Saya percaya pada kamu, Farhan." Ayah Hermawan menghela nafas lega. Menjadi menantu orang kaya memang sulit. Pikirnya dalam hati.
"Hmmmm ... Silahkan pergi jika tidak ada yang mau ditanyakan lagi." Farhan pura-pura sibuk.
Bunda langsung melepas genggaman erat dari suaminya. Wanita itu mendekati Farhan yang sedang duduk di ruang kerjanya. Bagaimanapun seorang wanita itu peka, Bunda dapat merasakan perubahan Farhan yang sangat drastis. Dari hangat menjadi dingin.
"Farhan ..." Memanggil dengan suara merdunya. Sontak Farhan langsung mendongakkan kepalanya. Keberanian wanita itu membuat Farhan terkejut, biasanya orang yang sudah diusir Farhan langsung pergi dengan takut.
Huhhh ... Wanita tua ini benar-benar mirip seperti anaknya ... Terlalu berani.
Bunda berbicara lagi, "apakah kamu sakit? Farhan terlihat sangat pucat." Airmuka khawatir tercetak jelas di wajah Lynda. Farhan tambah terkejut melihat wanita yang berdiri di depannya nampak khawatir.
Apa yang sedang dilakukan Lynda. Apa dia mau cari mati. Hermawan.
"Tidak ... Saya baik-baik saja." Tanpa sadar seutas senyum mengembang di bibir Farhan. Menjawab ke khawatiran sang Bunda yang tidak tahu bahwa ia adalah anak kandungnya.
__ADS_1
Bunda mengeluarkan sebuah kotak dari dalam tote bag—nya. Farhan dan Hermawan hanya memperhatikan kelakuan wanita paruh baya itu.
"Ini adalah cokelat jahe, makanan kesukaan anak saya Jennie." Bunda menyodorkan sekotak coklat itu ke meja kerja Farhan. Pria itu hanya menyerngitkan dahinya.
"Apakah anda ingin meminta saya memberikan cokelat ini pada anak anda?" Berani sekali dia memerintahku. Menatap sekotak coklat itu dengan sinis. Seperti seorang anak kecil yang cemburu karena bundanya lebih menyayangi Sang Adik.
"Tidak, Farhan. Cokelat ini untukmu. Jennie sudah sering memakannya. Rasa manis dari coklat ini dapat menghilangkan stress, sementara kandungan jahe yang ada di dalamnya dapat membuat tubuhmu lebih hangat. Jangan khawatir, ini adalah buatanku sendiri. Cokelat ini sangat higienis." Bunda tersenyum, berharap Farhan akan menerimanya.
Lynda ... Oh ... Lynda ... *Kau benar-benar sedang mencari mati. Mengapa kau mengganggu orang seperti Farhan? Apa lagi memperlakukan pria itu seperti sedang berbicara pada Jenni*emu. Hermawan bergumam dengan perasaan ketar-ketir. Usaha kecilku bisa terancam, Lyn.
"Terima kasih. Tapi rasanya saya tidak berhak menerima coklat ini, anda membuatkannya khusus untuk anak anda bukan?" Demi apapun, Farhan tidak dapat menutupi mimik cemburunya.
"Saya sudah bilang, Jennie sudah sering memakannya. Ini untukmu, tidak baik menolak pemberian seseorang. Cicipilah coklat ini. Aku bisa mengutukmu supaya ketagihan seperti Jennie karena sudah menolak pemberianku." Jiwa emak-emak Lynda sudah keluar. Membuat Farhan sedikit tergelak dengan sikap perempuan itu.
Lynda ... Kau mau membunuhku, ya. Hermawan.
Hermawan mengepalkan kedua tanganya geram. Tak habis pikir dengan sikap istrinya yang terlalu berani. Lynda memang tidak tahu seperti apa Farhan aslinya.
"Baiklah ...." Farhan tersenyum. " Karena anda sudah mengutuk saya, kalau begitu saya akan merepotkan anda untuk kedepannya, membuatkan saya coklat kapanpun saya mau." Farhan menarik kotak coklatnya dengan senyuman.
"Aku akan membuka toko, kau bisa membelinya setiap hari." Lynda ngelawak. Hermawan segera menarik istrinya sebelum sikapnya mulai menjadi-jadi.
"Kami permisi dulu, Farhan." Berjalan cepat menuju pintu keluar, sementara Lynda mengerucutkan bibirnya karena masih ingin mengobrol dengan Farhan.
Hahaha ... Dua wanita itu benar-benar menggemaskan.
Farhan tergelak senang saat pintu itu di tutup. Coklat ini menyelamatkan hidup Hermawan. Farhan hampir saja berniat melenyapkan usaha kecil Hermawan kalau tidak ada kejadian ini.
***
__ADS_1
Jennie up entar malam ya, makanya tekan tombol love biar selalu tau aku update. Hehe. Satu lagi, aku gak bisa selalu menceritakan tokoh utama di setiap babnya, yang namnya novel memang begini. Jangan di protes ya.