
Perjuangan Jennie belum berakhir. Masih ada satu nyawa lagi yang harus ia perjuangkan di dalam perutnya. Kalau boleh bicara, tenaga Jennie sudah hampir habis terkuras. Namun ia harus memanfaatkan Jeda sebentar ini untuk mengumpulkan tenaga baru.
“Haus, Reyn….” Dengan sigap Reyno langsung mengambilkan satu botol air mineral untuk Jennie, membantu wanita itu untuk menenggak 600 mili air sampai botolnya tandas, menyisakan plastik kosong tanpa isi.
“Semangat, Sayang,” lirih Reyno. “Mau lagi minumnya?” Jennie menggeleng samar. Gadis itu menarik napas dalam-dalam. Mencoba mengumpulkan tenaga untuk perjuangan keduanya.
“Sus, sepertinya dia akan segera ke …Arghhhh!” Bicaranya terputus kala nyeri yang amat luar biasa itu datang menghantam tulang panggulnya.
“Semangat, Sayang … semangat,” sorak Reyno dengan gayacheerleaders, pria itu memamerkan wajah imutnya setelah berhasil memberikan kecupan singkat di dahi sang istri. Dukungan demi dukungan untuk Jennie tak hentinya berhenti. Semua yang ada di situ ikut menyemangati wanita kecil berumur 18 tahun itu.
“Seperti tadi, ya, Sayang. Fokus menatapku dan dengarkan intruksi dokter.”
Reyno merangkum wajah Jennie dengan kedua tanggannya. Sementara Jennie memegang erat kedua lengan Reyno. Mereka berdua saling memberikan kekuatan dalam posisi manis ini.
“Arghhhh … Arghhhh ….” Dorongan kuat bayi keduanya berhasil membuat Jennie menjerit, tidak hanya memenuhi ruangan, tapi juga terdengan sampai ke luar ruang persalinan. Di mana ada mami dan papi Reyno yang menunggu di luar sana.
“Terus cantik … dorong terus, sudah mulai terlihat kepalanya.” Sang dokter ikut mengejan karena terlalu geretnya.
“Huhhh … Huhhh.” Nafas Jennie terputus-putus. Semangatnya
mulai pudar tidak seperti tadi. Dinding pembuka jalannya mulai tertutup dan
kepala bayi yang tadinya hendak ke luar masuk ke dalam lagi.
“Ibu, ambil napas dalam-dalam, kumpulkan tenaga Ibu sebanyak-banyaknya, ya. Sedikit lagi si kecil akan segera keluar. Hanya butuh
__ADS_1
satu kali perjuangan Ibu. Mulai semangat lagi ya, Bu. Ayah juga bantu, ya, semangati Ibunya.” Kalimat terakhir dokter tujukan pada Reyno
Sesuai intruksi dokter, Jennie mulai mengatur napasnya kembali. Ia tidak boleh berhenti berjuang sebelum mencapai puncak akhir. Ada banyak orang yang sedang menunggu kabar gembira, jangan sampai ia mengecewakan semua orang yang mencemaskan keadaanya.
“Terus berjuang, Sayang. Sedikit lagi kita bisa berkumpul bersama kedua anak kita. Ingat segala sesuatu yang baik-baik agar tenaga kamu kembali pulih. Pikirkan bahwa kamu akan segera menjadi ibu untuk anak kita. Semangat, Je. Aku di sini untukum.” Sorakan Reyno yang cukup antusias berhasil membangkitkan semangat yang menggelora, dada Jennie bergemuruh, seakan ada ribuan energi yang
memasoki anggota tubuhnya.
Dengan penuh keyakinan, Jennie melepas cengkraman kuat pada lengan suaminya. Ia mengalungkan kedua tangannya di leher milik Reyno, lalu menarik kepala pria itu sampai bibir Reyno menyentuh bagian pipinya.
“Semangat Sayang,” lirih Reyno. Ia juga merengkuh bahu istrinya. Posisi mereka membuat hati siapa saja yang melihatnya menjadi hangat. Intim, akan tetapi manis untuk dipandang.
“Arghhhhhh!” Lengkingan panjang itu berhasil membuka dinding jalan untuk si kecil melebar kembali. Gendang telinga Reyno yang berada tepat di samping pipisang istrinyacmenjadi saksi betapa tersiksanya wanita itu saat ini. Sesuatu yang hitam mulai keluar. Dengan sigap dokter menarik kepala bayi itu agar jangan sampai masuk kembali.
Karena keadaan Jennie dan Reyno tidak memungkinkan, suster langsug membawa bayi keduanya ke ruang lain, sama seperti bayi pertama. Mereka tidak melakukan skin to skin karena tubuh Jennie sudah sangat lemas.
“Terima kasih , Sayang. Kau sudah menjadi wanita seutuhnya sekarang. Calon bibadari surgaku kelak,” lirih Reyno bangga. Sejenak mereka saling berpelukkan, merasakan sisa-sisa perjuangan yang baru saja berakhir.
Cairan yang bedesakan di pelupuk mata Reyno sedari tadi akhirnya keluar. Bertabrakan dengan perasaan haru bahagia di hati pria itu.
Terima kasih banyak istriku. Kau adalah wanita terhebat setelah Mami.
***
Side Story:
__ADS_1
Reyno keluar dari ruang persalinan dengan tubuh gemetar. Wajah pria itu sembab dengan derai air mata yang masih keluar terus-menerus. Saat ia lihat sang mami sedang duduk di ruang tunggu, ia langsung menyeret tubuh lemasnya.
Bruggg!
Anak itu terpuruk di kaki sang mami. Melihat betapa mengerikannya perjuangan sang istri, membuat Reyno teringat akan banyak dosanya pada sang ibu. Mami yang telah melahirkannya ke dunia.
"Maafkan, Reyno, Mam. Maaf ... maaf, Reyno tidak bisa menjadi anak yang berbakti untuk Mami." Anak itu menangis terisak dipangkuan sang Mami.
Entah apa yang Reyno pikirka selama di ruang persalinan tadi, yang jelas Mami Dina juga ikut menangis melihat putra bungsunya seperti itu.
"Bangun, Sayang. Malu," lirih Mami Dina, menepuk-nepuk bahu Reyno dengan lembut.
"Maafkan Reyno dulu, Mam."
"Iya ... iya ... Mami selalu memaafkan kamu apapun salahmu."
"Hikss ... Hikss ...." Reyno bangun dan menghamburkan tubuhnya ke pelukan sang Mami. " Reyno ngga nyangka semengerikan itu ibu melahirankan, Mam. Pasti dulu Mami sangat tersiksa saat melahirkan, Reyno."
"Tentu saja tersiksa, mami kamu merasakan kontraksi tiga hari dua malam, dan kamu tidak kunjung keluar, Reyn," timpal papi yang duduk di samping Maminya. Mendengar itu Reyno langsung teriak.
"Huaaaaa ... Maaaamiii..." tangisnya kembali pecah histeris. Mami Dina mencubit lengan suaminya yang masih sempat menggoda Reyno di saat seperti ini. Aiskk!
***
Mulai otw ke konplik ya, geys. Nanti juga akan ada pelakor-pelakor, tapi tenang aja, kalian pasti heppy bacanya, karena pelakor di cerita ini beda dengan yang lain. Wkwkkw.
__ADS_1