
Waktu sudah menunjukkan pukul 19.30 malam. Reyno langsung pulang dengan langkah yang cepat. Ia sudah tidak sabar ingin segera menemui Jennie. Ingin mendengar apa pendapat Jennie jika Reyno menyuruhnya membeli pil kb penunda kehamilan, akankah Jennie tetap menolak? Kalo iya berarti memang Jennie yang tidak mau. Bukan takut hamil.
Dengan gagah berani Reyno memutar handle pintu dan membukanya. Cowok itu masuk ke dalam dan mengedarkan pandangannya ke sana-sini. Ia sengaja tidak memanggil Jennie seperti biasanya. Jangan sampai lupa! status Reyno sekarang masing ngambek. Gengsi dong, kalau manggil-manggil nama Jennie. Walau Reyno sudah tidak marah lagi, setidaknya Jennie harus tetap minta maaf dan merayu-rayu. Barulah Reyno berhenti ngambek. Benar begitu bukan? Angkat tangan kalian jika setuju dengan pendapat Reyno.
"Reyno!" Jennie langsung teriak saat melihat kepulangan Reyno. Gadis itu segera berlari dan melompat ke dalam pelukan Reyno.
"Maafin aku, Reyn. Aku salah ... aku salah." Jennie membenamkan wajahnya di dada Reyno. Air matanya mengalir dengan sendirinya. Itu karena Jennie habis membaca di internet, tentang kewajiban-kewajiban wanita yang sudah bersuami. Disitulah Jennie baru tahu bahwa banyak sekali kewajibannya yang tidak pernah ia jalani. Salah satunya adalah melayani suami dengan kepuasan batin.
Reyno merasakan kaosnya sudah basah oleh air mata istrinya. Untung ia sudah mandi di tempat kerjanya, jadi badannya sudah wangi kalau di peluk. Sekarang di tempat kerja Reyno ada kamar mandinya, jadi sebagian pekerja banyak yang mandi dulu sebelum pulang. Tujuannya biar tidak pulang dalam keadaan bau dan dekil, jadi orang tidak memandang mereka dengan sebelah mata.
"Maafin aku juga ya, karena pulang malam. Tadi aku ngerasa kesal banget sama kamu." Sebelum mendapat wejangan dari Pak Mandor.
"Reyn, aku khawatir banget sama kamu. Tolong jangan pernah lakuin hal ini lagi, kamu ngga tahu kan? betapa was-wasnya aku nungguin kamu. Bahkan tadi aku sampai datang ke tempat kerjaan kamu, tapi satpam bilang semua pekerja sudah pulang, kecuali pekerja malam. Nomor kamu ngga bisa di hubungi, aku ngga tahu kamu ada di mana." Jennie menghela nafas sebentar.
"Kalau memang kamu marah sama aku, kamu boleh maki-maki aku sepuas kamu. Tegur aku kalau kamu kurang suka dengan pendapat aku. Kamu bebas ngapain aja asal masih tetap di samping aku." Jennie menatap Reyno sambil terisak.
"Maafin aku ... Aku bingung harus bagaimana, aku kesal. Rasanya ngga pengin ketemu kamu. Tapi aku benar-benar menyesal dan gak akan ngulangin hal ini lagi." Reyno mengusap air mata Jennie dengan ibu jarinya, lalu menghujani kecupan sampai tangisan gadis itu berhenti.
Seperti yang di ketahui, Jennie itu jarang sekali menangis. Gadis itu selalu dapat menahan air matanya agar tidak jatuh. Tapi kalau sudah menyangkut Reyno, entah kenapa cairan bening itu bisa keluar dengan sendirinya.
Reyno itu suami yang paling sempurna menurut Jennie, ia dapat merasakan bagaimana perasaan Jennie saat ini. Dengan hati-hati Reyno menggendong Jennie ke dalam kamar, membaringkanmya di atas kasur. Lalu ikut berbaring sambil memeluk Jennie erat.
Ini cara efektif yang Reyno gunakan saat istrinya merasa kecewa, ia akan melakukan berbagai cara agar istrinya mau berhenti menangis. Reyno tidak seperti kebanyakan pria lainnya yang meninggalkan istrinya pergi saat menangis, ia akan memeluk Jennie seerat mungkin, dan pelukannyaa tidak akan terlepas sebelum keadaan Jennie tenang kembali tenang.
Inilah istimewanya memiliki Reyno di samping Jennie. Cowok itu memang beda, ia selalu peka terhadap perasaan Jennie, Reyno mengerti apa yang harus ia lakukan saat Jennie menangis. Kebanyakan pria di dunia itu tidak pernah memahami air mata wanita, sebagian ada yang bingung dan pusing sendiri mengatasinya, menganggap remeh dan cengeng, lebih para lagi ada yang malah menjauh pergi saat pasangan mereka menangis. Tahu kan, betapa hancurnya perasaan wanita saat diperlakukan seperti itu? Untungnya Reyno tidak seperti itu. Jennie beruntung.
Tidak perlu sampai sepusing itu seharusnya. Karena wanita hanya butuh satu, dipeluk sampai hatinya tenang kembali.
Ada satu lagi keistimewaan Reyno. Sekarang setiap kali Jennie marah atau ngambek, ia selalu meminta maaf tanpa membantah, Jennie akan mengeluarkan unek-uneknya yang sepanjang kereta api, berceloteh dan mengutaran semuanya amaranya, lalu Reyno akan memasang wajah polos dan membalas amara Jennie dengan ribuan kata maaf. Lambat kian Reyno semakin berubah menjadi suami idaman, sayangnya hanya Jennie yang dapat merasakan perubahan dari suaminya. Mungkin jika wanita lain tahu seperti apa istimewanya memiliki Reyno, mereka akan merebutnya dari tangan Jennie. Tapi siap-siap tumpah darah karena telah menggangu ibu macan.
"Kamu sudah makan?" Reyno membuka omongan. Jennie hanya mengangguk sebagai jawabannya. "Pinter ya, istri aku." Reyno memuji.
"Reyn," panggil Jennie lirih.
"Iya, Jennie. Kenapa?"
__ADS_1
"Lakukanlah sekarang!" Keadaan Jennie sudah lebih tenang. Ia menatap Reyno penuh arti. Tangannya menarik telapak tangan Reyno dan menangkupkannya di gundukan ranum miliknya.
"Apa?" Reyno menarik tangannya sendiri. Bisa hilang kendali kalau terus berada di sana. Hehe.
"Katanya kamu ingin melakukan itu, lakukanlah sekarang, aku ngizinin kamu." Jennie membenamkan wajahnya di leher Reyno. Menyembunyikan wajah malunya di sana.
"Ngga mau!" tolak Reyno cepat. Ia tahu bahwa Jennie membolehkannya karena ia merasa bersalah dan menyesal, bukan karena ingin melakukannya.
"Kamu masih marah sama aku?" Mereka masih saling memeluk, namun tidak saling menatap karena Jennie masih bersembunyi malu-malu.
"Aku ngga marah sama kamu," balas Reyno logis.
"Iya aku tahu kalau tadi pagi aku salah. Sebenernya aku engga bermaksud nolak kamu. tapi aku bingung harus ngomong gimana."
"Bingung kenapa?" Reyno penasaran.
"Ya aku bingung lah. Tiba-tiba kamu ngomong begitu, kan aku nya malu." Sudah tidak tahu merahnya wajah Jennie seperti apa. Untung Reyno tidak melihatnya.
"Terus mau kamu aku ngga usah izin, langsung main paksa begitu?"
"Terus mau kamu aku harus gimana?"
Yang Jennie mau, Reyno harus minta izin terlebih dahulu, tapi jangan sampai membuat Jennie merasa malu. Mungkin izin sambil bertindak. Ya maklum, namanya juga masih anak abege. Tapi susah sekali ya, mulut Jennie mau berkata seperti itu. Malah bawaanya jadi pengin marah tidak jelas.
"Terserah kamu lah, aku males bahasnya." Jutek.
"Kok jadi marah sama aku?" Reyno sudah menyadari kebimbangan hati Jennie.
"Jadi kamu mau ngelakuin itu atau engga? Aku udah izinin kamu, nih!" Jennie kesal sendiri jadinya. Entah berada di level berapa harga dirinya sekarang.
"Emang kamunya mau?" Reyno balas dengan menggodanya sambil meraba wajah Jennie yang tidak kelihatan.
"Ya mau lah!" Nada suara tinggi.
"Tapi aku ngga mau sekarang."
__ADS_1
"Kenapa?" Jennie malu sendiri.
Kamu mau balas dendam ya, karena aku udah nolak kamu tadi pagi?
"Takut hamil ... Kalau kamu belum mau hamil, kita harus beli pil kb penunda kehamilan dulu, baru deh begituan. Hehehe."
"Oh, ya udah sana beli," suruhnya.
"Kamu dong, yang beli. Kan kamu yang makan obatnya."
"Idiih, apaan. Aku ngga mau beli, yang pengin begituan kan kamu." tolak Jennie.
"Aku malu belinya."
"Ya sama, aku juga malu belinya. Aku kan gak pernah beli obat seperti itu. Apa kita pesan di online shop aja?" tanya Jennie memberi solusi.
"Jangan! Kelamaan, akunya udah gak tahan."
"Terus mau gimana?"
"Besok sore kita beli sama-sama di apotik, biar adil. Gimana?"
"Okeh!"
"Tapi kenapa harus pil kb? kan banyak alat penunda kehamilan yang lain."
"Kata pak mandor mendingan itu, kalau k**d** rasanya gak enak."
"Reynooo!" Jennie menjewer telinga Reyno. "Kamu cerita sama orang lain masalah ini?" Jennie kesal.
"Iya abisnya aku butuh solusi."
Jennie marah. Acara berantem biar hanya mereka berdua saja yang tahu. Beginilah lika-liku dan Repotnya rumah tangga pasangan muda yang masih polos. Harap di maklumi.
***
__ADS_1
Ada yang mau bantu Jennie dan Reyno beliin gak? kasian tuh, mereka malu. Hahaha.