
Jam menunjukkan pukul sebelas malam, artinya pesawat yang di tumpangi Lisa dan Farhan akan segera berangkat. Dua jam Dari sekarang. Namun, si bodoh Lisa salah menangkap informasi. Ia pikir mereka berangkat jam satu siang, dan gadis itu masih setia tidur. Sebuah kesalahan fatal yang membuat Farhan darah tinggi seketika.
Gubrak! Gubrak!
Suara berisik terdengar jelas di kamar Lisa. Farhan mendesah kasar dan mencoba mengendalikan emosinya. Tak lama kemudian, Lisa keluar dari kamar
sambil menyeret koper besarnya.
“Sudah siap?” Wajah datar itu semakin membuat Lisa ketakutan.
“Sudah Tuan, maafkan saya yang salah informasi.”Menunduk dalam rasa bersalah, tangan Lisa mencengkeram kuat pegangan koper. Tidak berani melihat ekspresi dingin Farhan sama sekali. Ia pernah diberi tahu oleh Rico, Farhan paling tidak suka menunggu. Apa lagi yang ditunggu manusia tak kasat mata seperti Lisa.
Farhan menilai penampilan gadis itu dari ujung kaki ke kepala. Lalu memperhatikan lagi berulang-ulang sambil menggelengkan tidak percaya. “Apa kau ingin ke Amerika menggunakan baju tidur?”
Lisa menyeringai bodoh, lantas ia merapikan sedikit piamanya yang lecek. “Sudah tidak ada waktu lagi, Tuan. Nanti ganti baju di pesawat saja,” ujarnya agar Farhan mau mengerti.
“Baguslah, untung kau cukup tahu diri! Ayo jalan, Rico sudah menunggu di baseman.” Berjalan angkuh ke luar.
Eh ... eh. Gila … gila, aku pikir
dia akan memberiku waktu untuk ganti baju sebentar. Ternyata. Cih! Dasar pria
tidak peka.
Akhirnya Lisa mengikuti Farhan dengan langkah lesu. Tentunya juga ia menahan kantuk yang amat luar biasa. Bahkan ia menguap sambil berjalan.
Sesampainya di baseman, Rico langsung tergelak melihat penampilan Lisa yang acak-acakkan dari jarak sepuluh meter. Jauh sekali dengan Farhan yang rapih dan wangi. Bagai bumi dan langit bahkan. Rico yakin, gadis itu pasti tidak sempat membasuh wajahnya karena terlalu takut. Hahaha.
Saat mereka sudah dekat, Rico langsung diam dan pura-pura tidak melihat apapun. Wajah Farhan mengeluarkan aura dingin, yang artinya emosial pria itu sedang tidak stabil. Memilih jalur aman, Rico langsung sigap membukakan pintu mobil dengan sopan—mempersilahkan Lisa dan Farhan masuk.
“Apa Anda butuh tisu basah Nona?” Rico engulurkan tisu basah sambil menahan tawanya.
"Tidak, terima kasih," ucap Lisa dengan wajah ke samping.
__ADS_1
"Apa kau sudah bicara dengan keluargamu mengenai keberangkatanmu untuk belajar di Amerika?" Suara Farhan terlihat tenang, namun tetap menyeramkan bagi Lisa.
"Ti ... tidak, Tuan."
"Tidak!?" Farhan menoleh geram. "Apa kau mau membuatku di nobatkan sebagai seorang penculik. Bodoh!" bentak Farhan menggema. Membuat Lisa berjengit ketakutan.
"Maaf, Tuan. Sebenarnya orang tua saya sudah meninggal." Untuk hal yang satu ini Farhan sudah tahu.
"Apa kau tidak memiliki orang tua asuh wahai gadis bodoh? Saat aku menyuruhmu mengambil berkas ke rumah, apa mereka tidak bertanya?"
Mendengar pertanyaan Farhan, Lisa meremas tangannya hingga buku-buku jari itu memutih. Lalu menghembuskan nafas pelan dan membuka suaranya.
"Sebenarnya saya sudah lama tidak tinggal di situ, Tuan. Saat saya pergi ke Bandung, saya mencari pekerjaan paruh waktu untuk biaya hidup saya, karena saya sudah tamat SMA, bibi dan paman tidak mau membiayai kuliah dan hidup saya lagi."
Dalam diam Farhan menggemerutukan giginya kuat-kuat. Dadanya terasa sesak mendengar ucapan Lisa barusan. Farhan tahu, kekayaan yang dikuasai paman dan bibi Lisa adalah milik orang tuanya. Namun pewaris aslinya malah diperlakukan tidak wajar.
"Tuan, apakah saya salah jika tidak minta izin? Mereka bahkan tidak peduli denganku. Meskipun saya kabur dari rumah, itu sama sekali bukan masalah yang penting bagi mereka." Diam. Farhan larut dalam lamunannnya. Hingga ia tersentak saat Lisa memanggil namanya sekali lagi.
"Ehemm." Farhan berdeham saat Lisa memergokinya melamun. "Maaf tadi sedang memikirkan pekerjaan," kilahnya sedikit gugup.
"Oh begitu. Tapi Tuan tidak marah 'kan? Jika saya tidak memberitahu perihal keberangkatan kita ke Amerika?"
"Tidak usah di bahas. Sudah tidak penting lagi."
"Baik, Tuan. Kalau boleh saya tahu, kenapa Tuan mau berbaik hati membiayai kuliah saya. Kitakan tidak kenal sebelumnya," tanya Lisa dengan wajah penasaran. Yang sebenarnya ia sendiri juga takut berbicara seperti itu.
"Memang kau pikir untuk apa? Untuk menjadi istriku?" ejekknya sinis. "Aku tidak memberikan pendidikan ini secara gratis. Kedepannya, kau harus berjuang lebih keras dan mendapatkan nilai bagus. Setelah lulus, kau harus mengabdi di perusahaanku."
"Ah, begitu." Lisa melengos ke arah jendela."
Sudah kuduga. Pria sialan itu mana mungkin berbuat baik tanpa imbalan. Cih! Anda aku punya tujuan hidup, aku tidak sudi bernafas di bawah kakimu. Batin Lisa dalam diamnya.
"Belajarlah dengan sungguh-sungguh. Agar semua orang yang menindasmu bisa kau taklukan nantimu.
__ADS_1
Apa aku bisa menaklukanmu, Tuan Farhan? Bisakah anda berlutut di kakiku.Heuh. Jangan sok bijak. Gerutunya dalam hati. Lisa masih kesal dengan kalimat ejekkan yang dilontarkan Farhan Tadi.
***
Suasana kembali hening. Lisa mulai menguap dan memejamkan matanya perlahan, bersandar di kaca jendela dengan wajah damai khas anak kecil jika sedang tertidur.
"Rico!"
"Iya Tuan," jawab pria yang sedang menyetir di depan sana. Rico melirik kaca spion dan melihat bossnya sebentar.
"Pastikan Jennie dan Reyno baik-baik saja. Jaga semua keluargaku," ucap Farhan dengan nada menyedihkan. Sepertinya ia tidak rela pergi di saat baru mendapatkan kehangatan. Namun ini demi tugasnya, Farhan tidak mau mengecewakan orang yang telah membesarkannya sampai seperti ini.
"Baik, Tuan. Saya pastikan orang-orang yang Tuan sayangi aman." Rico fokus mengemudi kembali.
Melihat kepala Lisa yang terhuyung ke sana-ke mari, Farhan memberanikan diri meraih tubuh Lisa dan menaruh kepala gadis itu di panggkuannya. Lalu, ia mencopot jass hitam kebanggaanya untuk menutupi tubuh gadis itu. Tak lupa ia mengurangi suhu AC agar Lisa tidak kedingan.
Ya Tuhan ... Apakah ini Tuan Farhan. Kenapa sikap anda bisa semanis ini, Tuan. Indah sekali. Rasanya Rico seperti sedang bermimpi melihat keajaiban dunia. Sepertinya ia tambah yakin kalau Farhan tertarik pada gadis kecil malang itu.
"Jangan berfikir macam-macam, Rico. Aku hanya kasihan pada gadis ini." Buru-buru Farhan mengklarifikasi sebelum Rico salah paham. Ia tahu mata anak itu hampir copot melihat perlakuannya yang manis pada Lisa.
"Eh, iya, Tuan. Saya mana berani berfikir seperti itu." Duh, ketahuan kan Rico.
"Matamu menjawab semuanya, Rico. Aku sudah mengenalmu cukup lama. Farhan melenges ke arah Jendela setelah bicara itu.
"Maafkan saya, Tuan." Memiliih jalur terbaik yaitu minta maaf.
Tidak menjawab, Farhan mulai menahan sesak di dadanya. Ia masih tidak rela berpisah dengan bundanya. Apa lagi ia menolak bunda mengantarnya tadi. Semua itu karena Farhan tidak mau bunda sampai melihat Lisa. Bahaya. Pikir Farhan. Maka dari itu ia sengaja memilih penerbangan dini hari.
Selamat tinggal Indonesia. Farhan.
***
Holla, sudah sampai di penghujung acara ya ... untuk season dua, akan di buka nanti malam jam 23.00.
__ADS_1