
Farhan menghentikan mobilnya tepat di depan gerbang putih, menatapi rumah yang desainnya hampir semuanya berwarna putih juga. Tiba-tiba ia merindukan seorang wanita, wanita yang pernah membuat hatinya bergetar kala itu. Ialah Bunda, wanita paruh baya yang memiliki tingkah menggemaskan. Farhan rindu akan hal itu. Ingin merasakan moment yang terjadi di kantornya waktu itu.
Tidak lama setelah mobilnya berhenti, seorang satpam datang menghampiri untuk membukakan pintu gerbang. Mobil Farhan mulai memasuki halaman rumah Jennie yang baginya tidak cukup besar. Farhan berjalan pelan menuju pintu masuk begitu ia turun dari mobilnya. Untuk pertama kalinya Farhan merasa tidak percaya diri ketika mengunjungi rumah seseorang. Dengan sedikit gugup Farhan menekan bell rumah, Menunggu pintu terbuka sambil menghentak-hentakan kakinya ke lantai. Tidak lama kemudian pintu terbuka.
"Farhan?" Bunda terkejut saat mengetahui siapa tamu yang datang. Sepasang mata cantik Bunda memandang Farhan dengan penuh kerinduan. Sejenak keduanya saling menatap dengan senyum yang sama-sama lebarnya. Ada kerinduan dari dua insan yang masih sulit untuk untuk dipersatukan. Mungkin masih menunggu pergerakan takdir dari sang Pencipta.
"Bolehkah saya berkunjung?" Farhan masih setia menunjukan senyumnya yang paling cerah seperti pelangi.
"Silahkan, Farhan. Ayo masuk!" Bunda berjalan menuju ruang tamu diikuti oleh Farhan di belakangnya. Keduanya saling duduk berhadapan di ruang tamu.
"Apa kamu sedang memiliki banyak waktu luang, aku sangat terkejut melihat orang sepenting kamu datang ke rumahku, Farhan." Bunda tersenyum sambil menyilangkan kedua kakinya.
"Seperti yang anda harapkan. Saya merindukan cokelat jahe buatan anda Nyonya," kelakar Farhan.
"Hahahaha, kamu sudah ketagihan, ya. Farhan bisa menelponku jika ingin memakan cokelatnya, tidak perlu repot-repot datang ke sini. Aku akan mengirimkan cokelatnya ke kantormu."
"Apa saya tidak boleh berkunjung kerumah anda, Nyonya?" Farhan menyerngitkan dahinya tidak senang. Jika dibandingkan dengan Jennie, Farhan memang sedikit lebih sensitif darinya.
"Buahaha. Kamu sensitif sekali, sih? Aku hanya ingin memudahkanmu, bukan berarti tidak boleh datang kesini." Bunda tergelak riang.
"Hmmmm." Berdeham ngambek.
"Aku memiliki dua kotak stok cokelat, nanti akan ku siapkan untukmu." Mendengar bunda mengatakan hal itu air muka Farhan berubah senang.
Bibi datang membawa minuman segar untuk Farhan dan Bunda. "Silahkan di minum, Tuan." Bibi menyapa, Farhan hanya membalasnya dengan senyum tipis.
"Tolong bungkuskan cokelat yang ada di lemari ya, Bi. Lalu bawa kemari." Bunda berkata.
"Baik Nyonya." Bibi berlalu pergi kembali ke dapur, menyiapkan cokelat untuk Farhan.
"Bagaimana dengan kabar Jennie, apakah dia baik-baik saja?" Jujur saja Bunda sangat rindu pada putrinya. Namun ia tidak berani bertanya macam-macam pada Farhan. Ia tahu bahwa lelaki yang ada di hadapannya sangat sensitif jika di tanyai tentang Jennie.
__ADS_1
"Jangan khawatir, anak anda dalam pengawasan kami. Dia pasti baik-baik saja." Farhan menjawab dengan bahasa lugas dan sopan.
"Saya percaya padamu, Farhan. Orang baik sepertimu pasti akan selalu melindungi putriku dengan baik."
"Hahaha." Farhan tergelak, lalu meminum segelas minuman yang ada di depannya, ia berkata lagi setelah meletakkan gelasnya kembali. "Sepertinya anda terlalu percaya padaku, Nyonya."
"Tentu saja, aku yakin kamu anak yang sangat baik. Tuan Haris dan Nyonya Dina pasti mendidikmu dengan baik sejak kecil," ucap Bunda asal menebak.
Entah mendapatkan keyakinan itu dari mana, yang jelas Bunda merasa Farhan adalah anak yang baik. Hanya tingkahnya saja yang agak mengerikan.
"Sepertinya anda salah, Nyonya. Saya bukan anak kandung Tuan Haris dan Nyonya Dina, saya hanyalah anak angkat mereka."
"Kalau begitu pasti ibu kandungmu yang merawatmu dengan baik selama ini." Lagi dan lagi Bunda asal bicara.
"Saya tidak memiliki ibu, saya hanyalah anak diluar nikah yang di buang ke jalanan. Beruntung ada orang baik yang membawa saya ke sebuah pasti asuhan." Farhan berbicara dengan sangat tenang sambil memperhatikan perubahan ekspresi Bunda. Tubuh wanita itu tampak bergetar mendengar pernyataan Farhan.
Apa anda merasa tersindir Nyonya, anakmu yang kau buang dapat bernafas dengan baik sekarang.
"Hahaha sepertinya ibuku dapat hidup bahagia setelah membuangku. Lupakan, saya tidak ingin membahas masalah pribadi."
"Baiklah, tapi kamu boleh menganggapku seperti ibu kandungmu jika kau mau. Panggil saja aku Bunda." Wanita paruh baya itu berkata dengan mimik wajah serius.
"Hahaha. Dengan senang hati, Bunda." Farhan tertawa miris.
Aku harus segera mengungkapkan misteri ini. Mungkin Jennie bisa membantuku.
"Baiklah anakku." Bunda ikut tertawa.
"Ini untuk anda, Nyonya." Sepertinya Farhan masih canggung memanggil dengan sebutan bunda. Pria itu menyodorkan sebuah kotak kecil. Bunda lalu membukanya.
"Apa ini, Farhan?" Bunda terkejut saat melihat kalung dengan liontin berlian yang sangat indah. Mata wanita pasti akan terkagum-kagum melihat benda seperti itu.
__ADS_1
"Itu untuk anda, Nyonya. Anggap saja sebagai rasa terima kasihku karena anda telah memberikan coklat yang sangat berharga buatanmu."
"Rasanya aku tidak pantas menerima barang semewah ini, Farhan." Bahkan suaminya sendiri belum pernah memberikan barang semahal itu.
"Saya akan sangat kecewa jika anda tidak mau menerimanya, Bunda." Farhan memperjelas kata Bunda saat mengatakannya. "Saya akan senang jika anda mau memakai kalung pemberian saya."
"Terima kasih, Farhan." Bunda sedikit terharu menerimanya.
"Putri anda juga memberikan sebuah kalung yang katanya sangat berharga padaku. Apa anda mengenal kalung ini?" Mengeluarkan kalung dari kantong celananya. Lalu menunjukkannya pada Bunda.
"Kalung itu?" Kaget bukan main. "Ini adalah kalung tanda kelahiran anakku. Aku mendesain dua kalung ini untuk putra dan putriku saat masih duduk di bangku SMA."
"Sepertinya anda mempunyai bakat mendesain yang sangat baik, Nyonya." Farhan tersenyum penuh arti.
"Tapi mengapa Jennie bisa memberikan kalungnya padamu?"
"Apa anda merasa keberatan? Anda tidak rela?" Si Pria Gunung Es terlihat marah.
"Tidak ... tidak. Hanya saja aku merasa bingung kenapa Jennie bisa memberikan miliknya yang paling berharga padamu." Dahi bunda tampak berkerut-kerut seperti memikirkan sesuatu.
"Karena dia telah menganggapku seperti kakak kandungnya sendirinya."
Bunda terperanjat. Ada air mata yang sedang ia tahan sedari tadi. Jennie pasti ingin sekali memiliki seorang kaka, andai putraku masih hidup, pasti sudah sebesar kamu, Farhan.
"Saya akan mengembalikannya jika anda tidak rela."
"Tidak ... tidak. Kalung itu milik putriku, dia berhak memberikannya pada siapapun."
"Terima kasih, saya suka desain kalung ini." Tersenyum kecut.
***
__ADS_1
Jangan protes ya, aku udah bilang kalo cerita novel gak bisa hanya menuliskan tokoh utama saja. Jangan lupa tekan tanda ❤, biar aku senang. ahehee.