Suamiku Anak Mami

Suamiku Anak Mami
S2- Bab 71


__ADS_3

***


Reyno mengendarai mobilnya dengan terburu-buru saat Jennie menelepon dirinya sambil nangis-nangis. Wanita itu tidak menjelaskan apapun saat ditanya, hanya sesenggukkan sambil berkata, 'aku butuh kamu'. Detik itu juga, Reyno meninggalkan semua pekerjaanya yang ada di bengkel. Padahal saat itu bengkel dalam keadaan rame parah. Ia tidak peduli dengan apapun—pikirannya hanya tertuju pada satu orang, yaitu Jennie.


Tidak biasanya Jennie menangis hingga histeris seperti itu. Membuat perasaan Reyno semakin berkecamuk saat dalam perjalanan. Beberapa kalia menyalip mobil, memacu adrenalin seperti seorang pembalap.


Dengan langkah cepat seperti orang kesetanan, Reyno masuk ke dalam kamar. Menghampiri Jennie yang saat itu sedang gemetar tanpa sebab.


"Kamu kenapa? Ada masalah apa?" tanya Reyno khawatir.


Raut wajah pria itu penuh dengan kilatan-kilatan amara. Reyno bangun dan duduk di samping Jennie—lantas menarik tubuh ringkih itu ke dalam balutan badan besarnya.


"Hati aku sakit, Reyn," isak Jennie semakin jadi. Ingusnya sampai membasahi kaos putih milik Reyno. Tanpa rasa malu seperti biasanya, Jennie meraung-raung seperti orang gila.


"Siapa yang berani nyakitin istriku?"


"Kak Dafa, Reyn. Aku benci sama dia," adu Jennie menggila.


"Dafa?" Wajah Reyno merah padam. Pria mengepalkan kedua tangannya, emosi. "Katakan padaku, apa yang dilakukan si breng sek itu? Apa dia—?"


"Arghhh!" Reyno teriak keras memikirkan kemungkinan terburuk yang terjadi. "Apa dia menodaimu?" bentak Reyno yang sudah bringsut dengan mengepalkan kedua tangannya kuat.


Pria itu berdiri seraya menatap tajam ke arah Jennie. Pandangan Reyno penuh aura membunuh—membersamai matanya yang berubah merah.


"Tidak ... Reyn ... Tidak!" teriak Jennie ketakutan. "Aku masih milikmu Reyn, tidak ada yang menyentuhku selain kamu," isak Jennie di akhir kalimat.


"Lalu kenapa kamu menangis histeris, hah?  Katakan padaku. Aku pasti akan membuat perhitungan dengan cecunguk itu. Apa dia tidak tahu kalau aku anak sultan?"


Kemurkaan Reyno membawa jati dirinya pada kekuasaan sang ayah. Menyombongkan statusnya sebagai pewaris kedua keluarga Haris.


"Aku jelasin, tapi kamu harus janji untuk tenang. Aku takut kalau kamu marah-marah terus." Jennie kembali meraih tangan Reyno. Masuk ke dalam pelukan suaminya seraya mengelus-elus dada bidang Reyno. "Sabar Reyn, aku juga masih shock."


"Hmmm," balas Reyno berdeham saja.


Jennie mengumpulkan udara sebanyak-banyaknya, mengehempuskan perlahan, lantas mulai menjelaskan duduk perkara sambil memeluk Reyno, erat.


"Tadi aku ketemu Kak, Dafa..."


"Terus?"


"Kak Dafa ngajak ketemu, tapi aku udah bilang kamu lagi ada kelas, jadi nggak bisa izin. Ta ... tapi dia maksa ingin ke ... ketemu," isak Jennie terbata. Bicara gadis itu tertahan-tahan, antara ingin dan tak ingin untuk bercerita.


"Terus?"


"Terus aku ketemu, hiksss." Jennie menangis lagi. "Maaf Reyn, aku pikir kak Dafa ingin menyampaikan hal yang penting.

__ADS_1


Ada emosi yang semakin terpacu, namun Reyno mencoba untuk tenang sebelum Jennie selesai bicara.


"Ketemu di mana?"


Masih bertanya sabar, sebisa mungkin Reyno mengatur emosinya agar jangan sampai meluap. Penjelasan yang Jennie ceritakan masih belum bertemu titik ujung. Reyno harus lebih sabar menghadapi jiwa yang terguncang.


"Di mobil kak Dafa, aku gak kemana-mana. Cuma di depan gerbang dan ngobrol sepuluh menit."


Jennie mendongak, mencari-cari bayangan emosi di wajah suaminya. Nihil, ia hanya bisa melihat muka datar di sana. Di mana Jennie tidak bisa mengartikan semua itu dengan lisannya.


"Kalian berdua ngomong apa?" 


Detik itu juga, Jennie memeluk Reyno erat. Bersiap-siap jika pria itu hendak mengamuk ataupun kabur lagi.


"Maafin aku, Reyn. Aku benar-benar bodoh karena gak percaya sama ucapan kamu kak Dafa bilang, kalau selama ini dia punya perasaan lebih sama aku. Bahkan, Kak Dafa mencintaiku sejak SMP."


"Oh!" jawab Reyno singkat. Satu kata lainnya yang menandakan marah selain terserah.


"Reyn," rengek Jennie mengiba. 


"Aku tahu kesalahan aku belum termaafkan, aku juga ngerasa kecewa dengan pengakuan kak Dafa."


"Kecewa kenapa?" Reyno meninggikan nada suaranya. "Karena kamu sudah menikah? Jadi tidak bisa bersama. Iya?"


"Astaga, Reyn! Bukan itu maksud aku. Mana mungkin aku berani mencintai pria lain selain kamu."


"Terus kamu kecewa kenapa?"


"Karena aku nggak mau percaya sama nasihat kamu. Karena aku pikir kak Dafa merupakan orang yang bisa aku percaya. Tapi ternyata ia sangat mengecewakan, Reyn."


Isak Jennie semakin pecah. Baju Reyno di bagian depan nyaris basah sempurna. .


"Cup ... cup ..." Di luar dugaan Jennie. Reyno sama sekali tidak marah mendengar penjelasannya itu. "Tidak ada yang salah dengan perasaan, Dafa berhak mencintai siapapun termasuk kamu."


"Tapi aku udah percaya banget sama dia, Reyn. Andai aku sadar lebih awal," ujar Jennie. "Bodohnya aku nggak percayaan sama kamu. Kenapa kamu bisa sepeka itu sih, Reyn? Aku yang sudah berteman sejak kecil saja tidak pernah berpikir kak Dafa menyimpan rasa padaku."


"Karena aku laki-laki, Je. Kami bisa membedakan mana lawan, mana kawan. Dari awal bertemu, aku sudah menebak kalau Dafa menyukaimu."


"Coba lihat ini!"


Reyno mengambil ponsel di kantong celananya. Memperlihatkan beberapa foto Dafa yang sedang mencium tangan Jennie di saat tertidur.


"I ... ini?" tanya Jennie terbata. "Ya Tuhan, Reyn. Aku berdosa sama kamu ... aku pantas mendapat hukuman berat. Hukum aku, Reyn. Hukum istrimu yang bodoh ini.


Jennie kembali meraung-raung seperti orang gila. Hatinya sendiri saja begitu sakit saat melihat foto itu, apa lagi Reyno. Pantas pria itu lebih banyak diam akhir-akhir ini.

__ADS_1


"Aku sudah memaafkanmu. Sudah, yang penting jangan diulangi lagi. Bertemanlah dengan sewajarnya. Aku tidak akan melarang yang berlebihan mulai sekarang.


Nasi sudah menjadi bubur, tak perlu ada yang disesali. Toh, ini baru permulaan. Jika Jennie sudah sadar, Reyno tidak perlu susah-susah menjelaskan—pasti akan langsung memaafkan.


"Makasih, Reyn. Kamu memang suami terbaik tiada duanya," puji Jennie dalam pelukan Reyno.


Jennie menempelkan pendengarannya di dada Reyno. Detak jantungnya sudah lebih tenang, sepertinya ia sudah tidak marah lagi sekarang.


"Tapi Reyn—" Jennie kembali mendongak dengan mata polos. "Kenapa kamu gak mau kasih tahu tentang foto itu dari awal? Kalau aku tahu, aku akan menjauhi Dafa dari awal.


Sedikit keunikan dari Jennie, wanita itu tidak suka jika ada orang yang menyukainya, kecuali pria yang Jennie sukai.


"Karena aku tahu kamu bukan tipe wanita yang mudah tergoda. Aku ingin kamu sadar dengan sendirinya. " Reyno menghela napas dalam-dalam. "Dan juga ..."


"Juga apa?" tanya Jennie antusias.


"Juga kata mami, aku nggak boleh terlalu posesif sama kamu. Mami bilang, kamu sedang mengalami puber kedua tahap awal."


"Maksudnya apa Reyn?" Jennie sama sekali tidak pahan dengan apa yang dikatakan Reyno.


"Kamu sering pergi ke luar rumah. Tadi malam saja pulang telat. Kata mami aku harus ngertin kamu, biar kamu gak jenuh dan menganggap pernikahan kita membosankan."


"Astaga, Reyn!" Jennie terkesima sekaligus kaget dengan penuturan suaminya. "Pemikiran dari mana? Aku memang menikmati pertemuanku dengan teman-temanku. Tapi ada misi khusus yang sedang aku jalani."


"Misi apa? Kamu tidak boleh menyembunyikan apapun dari suamimu kan, Je."


Wajah Reyno berubah seketika. Matanya melotot bersamaan dengan bibir yang maju tiga centi.


"Iya aku jujur nih. Sebenarnya aku sengaja melakukan itu, biar kamu kesel sama aku. Aku ada niat mau kasih surprise buat ulang tahun kamu besok. Eh, malah gagal total."


"Jadi kamu gak lagi ngalamin tahap-tatap puber itu?"


Ah, Reyno ingin menggigit tembok dan teriak di atas genting. Susah payah ia menahan rasa, ternyata semua yang Jennie lakukan hanyalah, prank.


"Reyn, aku nggak paham kamu ngomong apa." Jennie mengernyitkan dahi, bingung.


"Ya Tuhan! Kamu tau nggak aku hampir gila mikirin perubahan sikap kamu. Setiap hari rasanya pengin marah, tapi selalu ditahan karena kata mami kamu sedang puber kedua."


"Surprise aku gagal tahu, seharusnya gak gini cara mainnya. Harusnya kamu ngambek, dan aku kasih kejutan besok. Au akh!"


Reyno tersenyum geli melihat tingkah istrinya.


"Aku gak butuh kado, aku gak butuh surprise. Aku sudah merasa senang dan beruntung kamu gak jadi masuk ke tahap puber-puberan gila itu. Akhirnya aku terlepas dalam jerat rasa yang tidak karuan."


Sejujurnya, Jennie tidak pernah paham dengan apa yang dikatakan Reyno.

__ADS_1


Apa itu puber kedua?


***


__ADS_2