
Menangis terisak-isak sambil memeluk bantal, hanya itu yang dapat Reyno lakukan sekarang. Ternyata menjadi suami dan calon ayah tidak semudah yang ia bayangkan. Sekuat apapun dia mencoba sempurna dan menjadi dewasa, tetap saja akan ada masa datangnya pertengkaran.
Dan hari ini ... masa itu datang kembali. Dengan perkara yang lebih berat tentunya, yang membuat dua belah pihak saling beradu mulut dan berakhir dengan tumpahnya air mata. Ya, air mata Reyno. Karena semua pertengkaran mereka hanya menyudutkan satu orang, yaitu Reyno.
Masih dipelukan sang bunda, Jennie mencoba menenangkan dirinya yang dilanda emosi. Udara kamar terasa begitu panas walau AC sudah dalam kondisi full power. Mata menyala Jennie tak hentinya menatap Reyno yang tepekur di atas ranjang. Dia sendiri sedang duduk di sofa bersama bunda.
"Kalian berdua seperti anak kecil! Kalau begini caranya bagaimana bunda bisa melepas kalian berdua begitu saja. Hanya masalah sepele saja kalian tidak bisa mengatasinya. Malah bertengkar seperti ini. Terutama Jennie, tidak seharusnya kamu bersikap kasar pada Reyno. Dia itu suami kamu, sosok yang harusnya paling kamu hormati," ujar bunda menasehati.
"Tapi Bund, Reyno duluan yang ngeyel. Aku udah bilang gak mau ikut senam hamil bareng ibu-ibu kompleks, aku malu. Tapi Reyno tetap maksa dan ngancam mau pulang ke rumah kalo aku gak nurut. Siapa yang salah, coba? Reyno 'kan, bukan Jennie."
Ada gelengan kepala sebelum bunda melanjutkan bicaranya kembali. "Coba kalian bicarakan baik-baik. Dengan kepala dingin, jangan teriak-teriak seperti tadi. Bunda kasih waktu untuk merenungkan diri sampai pagi, jika masih belum menemukan solusinya, besok kalian temui bunda. Dan untuk Jennie, minta maaflah pada suamimu," perintah bunda dengan nada tegas.
"Tapi Bun—" Bunda menyela cepat. "Minta maaf!" tukas bunda.
"Iya, Jennie akan minta maaf." Gumam-gumam lirih saja yang keluar dari bibir Jennie. Reyno tak mendengarnya.
"Bunda ke kamar dulu, jangan ada yang berani keluar kamar apa lagi tidur di sofa. Mengerti, Jennie, Reyno?"
"Iya, Bun." Menjawab dengan kompak. Lantas bunda pergi dan meninggalkan anaknya-anaknya di kamar. Meski agak khawatir, tapi bunda harus tegas pada mereka, agar keduanya dapat menyelesaikan masalah rumah tangga mereka. Karena tidak menutup kemungkinan di masa yang akan datang, akan ada perkara lebih besar menghantam mereka. Kalau begini saja tidak bisa, bagaimana menjalani rumah tangga selanjutnya. Pikir bunda saat itu.
Setelah agak tenang dan menurunkan hawa panas dalam tubuhnya, perlahan Jennie mendekati Reyno, merangkak naik ke atas ranjang, dan berlabu di samping tubuh anak itu.
"Reyn, aku minta maaf ya...." Hening. Tidak ada jawaban, Reyno masih setia terisak di balik guling yang ia peluk.
Tipe cowok melankolis memang seperti ini. Di saat hatinya terluka, ia lebih memilih menangis dibanding harus membalas perbuatan pasangannya. Walau sering dipandang lembek, namun tipe cowok seperti Reyno tidak akan pernah main tangan. Hatinya lembut, marahnya manis walau beberapa kali terlihat mengerikan di kala ngambek. Percayalah, banyak sisi baik dibalik kelembekan sikap Reyno.
"Reyn. Maafin aku, aku tahu kalo aku salah, udah kasar sama kamu, bentak kamu, dorong kamu sampa jatuh, tapi aku juga gak tau kenapa bisa begini. Aku gak bisa mengendalikan emosi aku," tutur Jennie menjelaskan. Tangannya mengusap lembut tubuh Reyno yang memunggunginya sambil menyembunyikan wajah di balik bantal guling.
"Renren," panggil Jennie dengan nada imut. Anak itu memutar paksa tubuh Reyno, mengambil guling yang dipeluk dan merangkum wajah sembab suaminya dengan kedua tangan. "Aku salah, aku minta maaf."
__ADS_1
Dipeluknya kepala itu ke dalam dekapan Jennie agar lebih tenang. Lantas Jennie mengusap rambut kepala Reyno seperti hendak menidurkan bayi. Itu adalah posisi ternyaman untuk Reyno, berada di dalam dekapan dua benda kenyal milik sang istri.
"Kamu jahat! Mana janji kamu yang katanya mau jagain aku? Semenjak hamil kamu seperti bukan Jennie yang baik sama aku. Gak kayak dulu. Jennie yang sabar, perhatian, suka manjain aku, " protes Reyno yang mulai buka suara. Nada suaranya merajuk, membuat Jennie semakin gemas dengan tingkah manjanya.
"Iya aku jahat. Aku hilang kendali. Kamu sih, maksain aku. Kalau aku bilang gak mau, ya jangan dipaksa."
"Itukan demi kebaikan kamu. Aku mau kamu dan bayi kita sehat. Dan aku juga bersedia nemenin kamu senam."
"Ren, aku malu, bukan takut. Kalau takut, cukup ditemani satu orang akan hilang rasa takutnya. Tapi kalau malu, mau ditemani seribu orang pun akan terus malu. Paham!"
Mengangguk dalam diam, Reyno hanya dapat mengeratkan pelukannya pada tubuh Jennie. Masih sedikit shock, dan mengingat sisa-sisa pertengkaran mereka tadi. Ya, walaupun sudah dikasih tahu kalau ibu hamil itu sensitif, tetap saja Reyno sakit hati mendapat perlakukan kasar dari sang istri.
"Aku bisa senam sendiri di rumah, pakai tutorial seadanya. Tidak perlu ikut kelas ibu hamil, kamu tahu kan, kalau aku cewek tomboy dulunya? Makannya aku malu bergaul dengan ibu-ibu di sini. Tapi kamu gak mau ngertiin perasaan aku, malah melakukan hal yang paling aku benci. Ngancam pulang ke rumah. Aku paling gak suka diginiin, Reyn. Apa lagi seminggu lagi kita pindah rumah. Gimana kalau kamu tinggalin aku pas kita sudah punya rumah sendiri, kan sakit?"
"Asal kamu tahu, aku hanya menggertak kamu saja, agar nurut sama kata-kata aku. Sama sekali engga ada niat ninggalin kamu," tutur Reyno jujur. Bicaranya sudah mulai lancar. Isak tangisnya juga sudah berhenti. Artinya Reyno sudah mulai tenang kembali.
Peluk sederhana dari pasangan kita memanglah obat mujarab yang tiada duanya. Sering-seringlah memeluk pasangan kita saat sedang marah. Tidak hanya perempuan, laki-laki juga butuh pelukan.
"Iya, maafin aku. Aku juga salah sudah maksain kehendak kamu." Cup. Satu kecupan mendarat di bibir Jennie, pertanda bahwa kemarahan Reyno sudah pergi dan menghilang total. Lalu kembali membenamkan kelapanya pada benda kenyak favorit milik sang istri.
"Iya. Aku maafin, sekarang kita udah baikan lagi ya, gak boleh dendam apa lagi marahan sampai besok. Nanti bunda marah." Reyno mengangguk seraya memeluk tubuh Jennie lebih erat lagi.
"Sebenarnya juga ada hal lain yang aku khawatirin." Reyno menyerngitkan dahi kala mendengar Jennie mengucapkan kalimat terakhirnya.
"Apaan?"
"Udah sebulan lebih kamu gak nyentuh aku sama sekali. Setiap malam kamu selalu tidur duluan. Gak pernah ada omongan kayak biasanya, jadi aku khawatir kamu bosan sama aku. Apa lagi badan aku mulai gemuk. Perut aku juga udah agak buncit. Kamu udah gak sayang aku lagi 'kah?"
Deer! Pertanyaan Jennie bagaikan petir yang menyambar Reyno saat itu juga. Dalam diam ia meratapi kesalahpahaman yang terjadi pada hubungannya selama satu bulan ini.
__ADS_1
Tau tidak? Gara-gara pernah ditolak Jennie dan marah-marah saat diajakin begituan, Reyno jadi tidak berani menyentuh Jennie sama sekali. Reyno pikir Jennie tidak menginginkannya lagi.
Ah, intinya mati-matian Reyno menahan hasrat hingga menuntaskan birahinya dengan cara solo. Malah dikira bosan. Rasanya ingin mati tenggelam saja. Beginilah kalau mis komunikasi antar hubungan intim. Segalanya tidak berjalan lancar.
"Aku malah berpikir sebaliknya, gara-gara kamu nolak dan marah-marah waktu itu, aku kira kamu yang gak mau sama aku karena faktor hamil atau bosan. Jadi aku gak berani nyentuh kamu. Sering-sering aja lama-lama di kamar mandi."
Apa? Jennie ingin tergelak kencang mendengar penuturan Reyno. "Jadi selama ini kita saling ngira kalau kita udah bosan. Hmmm. Aku memang suka marah-marah kalau lagi ngantuk di ganggu. Kamu sih, ngajakkinnya gak tepat.
"Jadi aku, boleh?" tanya Reyno dengan sejuta harapan dan pikiran mesumnya.
"Boleh, justru aku yang pengin. tapi gak berani bilang. Ini niatnya mau ngajakin kamu. Hehehe."
"Ikh, dasar istri nyebelin!" decak Reyno yang merasa kesal sekaligus bahagia mendengar penuturan Jennie.
Pada intinya, hubungan intim tidak harus diawali oleh pihak laki-laki. Jika seorang wanita berani memulainya duluan, itu akan menjadi hadiah terindah bagi seorang suami. Dan ia akan merasa menjadi suami paling beruntung sedunia.
"Makasih ya, kamu udah jujur sama aku," ucap Reyno dengan bangga.
"Iya." Senyum datar dan tatapan hangat Jennie milik Reyno sekarang.
"Mulai sekarang jangan sungkan-sungkan lagi ya, aku, hatiku, tubuhku. Semuanya adalah milikmu. Kamu boleh memintanya kapanpun, agar tidak ada kesalahpahaman lagi diantara kita.
"Iya, Sayang. Kamu juga, kalau aku marah pas diajakin, itu artinya kamu harus berusaha keras untuk ngerayu aku. Bukan menyerah."
"Oke, siap laksanakan, Bumil."
Malam Jum'at, tepat pukul sembilan malam. Lampu kamar Jennie sudah terpadam. Selanjutnya adalah kegiatan yang tidak perlu di jelaskan lagi secara rinci. Intinya, kegiatan ranjang yang hanya boleh dilakukan pasustri.
***
__ADS_1
Uwuwwwuwu... Like dong, yang banyak... mana suaranya...?
Aku update gak tentu, jadi guys, kalo cerita udah tamat gak akan dapat pemberitahuan kecuali di favoritin, jangan lupa paporit ya, biar gak ketinggalan cerita.