Suamiku Anak Mami

Suamiku Anak Mami
Belajar


__ADS_3

Di bab sebelumnya ada yang protes cuma sedikit katanya. Silahkan baca ulang ya, udah ku panjangin.


***


Rasanya membentur-benturkan kepalanya seratus kali ke tembok jauh lebih mudah daripada mengajari Jennie belajar. Tidak ada satu soal pun yang Reyno tulis bisa di kerjakan oleh Jennie. Entah apa yang gadis itu lakukan di sekolah selama hampir tiga tahun. Yang lebih herannya lagi, bagaimana caranya gadis itu bisa masuk ke sekolah favorit seperti Pelita Dharma. Patut ditanyakan.


"Kamu gimana sih? Masa soal gampang begini gak bisa. Yang kamu tahu apa?" Reyno melipat kedua tangannya di depan dada. Wajahnya sudah bersemu merah karena marah. Ternyata begini ya, rasanya menghadapi orang bodoh. Dan itu istrinya sendiri.


"Ya memang aku ngga bisa, mau gimana lagi?" Pasrah apa adanya.


Aku ingin menjadi kucing peliharaan saja. Yang tidak perlu mengerjakan soal matematika. Hikss ... hikss. Jennie merana dalam hati. Kepalanya di penuh partikel-partikel yang sebentar lagi akan meledak. Meluluh lantahkan jiwanya yang tak berdaya.


"Aku jadi ragu. Sepertinya kamu dan Farhan bukan adik-kakak. Masa perbedaannya seperti bumi dan langit," pikir Reyno sambil keningnya mengkerut.


"Soalnya susah, Reyn. Aku udah lupa juga," keluh Jennie dengan wajah sendu.


"Kerjain lagi!"


"Yeino.... hiks!" berbicara sok imut seperti bayi. "Cucah sih... mau dipeyuk ajah .. hiks ... hikss." Cih! Hancur sudah harga dirinya Jennie sebagai cewek tomboy.


"Baiklah. Sini ... sini ...." Reyno langsung memeluk istrinya. Kasian dua jam menghadap buku hanya kelimpungan tidak jelas.


Yes berhasil.


Jennie tersenyum licik di dalam dekapan suaminya. Akhirnya penderitaannya berakhir juga. Demi apapun, belajar satu jam lebih melelahkan daripada touring Jakarta-Palembang. Menurut Jennie.


"Kepalaku pusing, Reyn. Besok lagi ya, kerjainnya." Jennie membenamkan wajahnya di dada Reyno.


"Istirahat dulu, nanti kerjain lagi kalau sudah fresh."


"Hikss ... hikss ...." Jennie merajuk-rajuk tidak tahu diri. "Besok aja kerjain soalnya, kan masih banyak waktu. Hari ini aku capek banget, Reyn. Semalam kan aku kurang tidur. Apa lagi harus ngasih jatah ke kamu. Aku gak sanggup. Mau meninggal aja," ucap Jennie tak tahu diri.


"Hus! Jangan ngomong yang aneh-aneh."


"Susah, Reyn. Kalau kamu masih paksa aku buat kerjain sekarang, jangan harap aku mau menepati janjiku yang tadi siang," ancam Jennie sambil cekikikan tidak tahu diri. Untung Reyno tidak lihat seperti apa wajah liciknya yang ia sembunyikan di dalam dekapan Reyno.


"Ikhhh. Kok gitu?" Kesal. "Kamu yang bodoh, aku yang harus kena batunya. Curang sekali ya?"


"Aku sudah punya Reyno yang pintar ini. Kan bisa nyontek nanti," gadis itu menelupkan tangannya di balik baju Reyno. Membelai bulu-bulu halus di punggung suaminya.

__ADS_1


"Jangan mimpi. Pelajari semua soal-soalnya besok. Reyno akan tes malam harinya."


Andai Jennie tahu. Kenapa Reyno sampai masuk ke toilet guru dan terjebak bersama Jennie, itu semua karena teman-teman sekelasnya membenci Reyno. Mungkin Reyno bukan satu-satunya anak pintar yang mendapat bullyan semacam ini. Memang beginilah nasib menjadi anak paling pintar di sekolah, harus mau memberi contekan pada yang lainnya. Jika tidak mau, siap-siap untuk di benci satu kelas.


Tapi Reyno cukup bersyukur kok, ada kebaikan di balik semua perkara salah paham ini. Selama kita di jalan yang benar, pasti kebaikan akan senantiasa mengiringi langkah cantik kita.


Semangat!


"Tetep harus belajar yah?" tanya Jennie dengan dahi yang mengkerut-kerut tidak suka. Pelukkanya sudah terlepas. Menyisahkan tatapan putus asa dari seorang anak bodoh di depan Reyno.


"Iya Sayangnya Reyno. Jennie harus berusaha. Oke!" Hanya anggukan dan sedikit senyum garing. Sama sekali tidak bersemangat.


"Kalau kamu sudah dapat ijasah, aku bolehin kamu kerja."


"Benarkah?" Jennie mendadak girang. Secara ia sudah bosan sekali bernafas di ruangan kecil dari pagi hingga malam. Tujuh kali dua puluh empat jam.


"Iya. Asal jangan kerja yang terlalu beresiko."


"Kalo kerja di bengkel, boleh?"


"Big no! Nanti kamu di godain cowok-cowok. Reyno ngga rela." Reyno mengambil ponsel Jennie dan mulai membukanya.


"Ini apa?" Ekspresi Reyno mendadak berubah. Sulit sekali untuk di tebak. Sekalipun Jennie mencoba menerka-nerka apa salahnya. Perasaan ia tidak melakukan hal aneh-aneh di sosial media. Tidak melanggar peraturan juga.


"Kamu komen foto cowok?" Bibir itu sudah maju tiga centi meter.


Apa? Perasaan aku tidak pernah komentar foto siapapun.


"Memangnya foto siapa Reyn?" tanya Jennie takut-takut.


"Pembalap kesukaan kamu. Walau dia idola, tetap saja dia laki-laki."


"Kan dia idola aku. Kamu juga mengidolakan Han soo Hee," balas Jennie sambil mencibir.


"Dengar ya, sejak aku bilang cinta ke kamu, aku langsung hapus nama dia dari otak aku, unfollow instagram, dan hapus semua koleksi fotonya. Semua itu aku lakuin demi kamu."


Jennie menganga tidak percaya. Padahal jika Reyno menyukai artis itu, ia sama sekali tidak masalah apa lagi marah. Bukankah tindakkan Reyno terlalu berlebihan ya? Han Soo Hee tidak mungkin datang menggganggu rumah tangga mereka kan. Mengenal Reyno saja tidak.


"Jadi aku harus ikutin kamu? unfollow dan hapus foto-fotonya."

__ADS_1


"Terserah kamu!" Reyno melengos kesal.


"Kalo terserah aku, ya pasti ngga akan aku unfollow. Aku kan ngefans banget sama dia. Lagian cuma—"


"Dasar nggak peka!" sela Reyno cepat. Lantas ia membaringkan tubuhnya menghadap ke kiri, menutupi semua tubuhnya dengan selimut.


"Ampun ... ampun ... aku unfollow ya." Jennie langsung kelimpungan tidak jelas. Bisa-bisa ia tidak mendapatkan sarapan pagi kalau Reyno ngambek. Jangan sampai itu terjadi.


"Sana ahk... malas sama orang gak peka kayak kamu!" Disingkirkannya tangan Jennie yang memeluk tubuhnya.


"Jangan ngomong sama aku!" bentak Reyno kesal.


Ahk, pakai acara ngambek segala sih!


"Beneran kamu ngga mau ngomong sama aku?" Jennie masih memperhatikan Reyno yang sedang ngambe di balik selimut yang menutupi tubuhnya. "Kamu ngga mau minta yang aku janjiin tadi siang?


"Gak butuh!"


Ahk, sakitnya di tolak mentah-mentah.


Begini ya, kalau memiliki suami di atas rata-rata manusia normal. Biarpun Reyno sudah jauh lebih dewasa dari sebelumnya, namun tetap saja saat ngambek langsung berubah wujud menjadi si manja yang sangat menyebalkan.


Jennie terus merayu-rayu Reyno sampai hatinya luluh. Berbagai macam cara ia kerahkan untuk membujuk suaminya, soalnya kalau Reyno lagi ngambek tapi didiamkan. Malah akan semakin jadi nantinya. Mungkin saja besok cowok itu akan kabur diam-diam. Bahaya, kan.


"Belajar peka makanya!" Selimut sudah dibukanya. Itu artinya ia sudah mulai reda ngambeknya.


"Iya Reynonya Jennie. Aku akan belajar peka mulai saat ini." Berharap kata-kata itu akan membuat hati suaminya luluh.


"Kenapa sih? cewek ngga pernah bisa peka! Sekali-kali cewek itu harus bisa mengerti apa yang dimau cowok, bosen tahu, Reyno kasih kode-kode terus tapi Jennienya ngga paham, masa suruh ngomong jujur. Kan Reyno gengsi." Cowok itu terus menggerutu seperti radio rusak.


Aku mau cosplay jadi batu saja. Jennie.


***


Like dan Vote ya...


Salam hangat.


❤❤

__ADS_1


Anarita.


__ADS_2