
"Dari mana saja kau Farhan?" William langsung mengintrogasi begitu Faran masuk ke dalam hotel. Pria itu berdiri diambang pintu, menatap Farhan dengan pandangan kesal sekaligus putus asa. "Aku bosan di kurung di ruang besar ini bersama macan hamil yang galak," keluh William pada kakak angkatnya.
"Aku ada urusan... Kepulangan kita akan diundur satu hari lagi" Farhan mencopot sepatu dan bergegas menuju pintu kamarnya. William segera menahan Farhan agar jangan dulu masuk ke kamar.
"Urusan apa?" tanya William dengan nada suara memaksa. Belum puas kalau hanya mendapat jawaban ambigu seperti itu.
"Menemui Jennie dan Reyno," ucap Farhan tanpa basa-basi. Hidup pria itu memang lempeng seperti sapu lidi. Jarang berbohong dan tidak suka bertele-tele.
"Curang sekali kau Farhan!" William merengut masam. Dahinya mengkerut karena iri. "Katamu tidak boleh membawa urusan pribadi ke dalam pekerjaan, kamu sendiri menemui Reyno. Kepulangan kita diundur pasti karena pekerjaanmu belum beres kan? Cih!" protes William sambil berdecih.
"Membawa urusan pribadi kedalam pekerjaan atau tidak. Yang jelas mantan dan adikmu adalah tanggung jawabku." Farhan tidak jadi masuk ke kamar, ia berjalan menuju sofa dan membanting tubuhnya di sana.
"Aku juga ingin menemui adikku, Farhan!"
"Menemui adik atau mantanmu?" Kesal. Farhan melengos saat Willam ikut duduk di sampingnya. "Berhentilah mengejar istri adikmu, hidup mereka sudah tenang, mungkin saja sebentar lagi akan memiliki bayi." Menoleh dengan tatapan prihatin.
"Jangan gila! Adikku bukan orang yang seperti itu. Dia tidak akan melakukan apa-apa."
Cih. Kau sudah kalah bodoh! Adikmu sudah berubah wujud... Bukan Reyno si cupu lagi.
Tere datang dengan camilan di tangannya. Gadis itu duduk di depan Farhan dan William. Menatap wajah mereka satu-persatu. Farhan terlihat sedang banyak pikiran, sedangkan William seperti orang gila yang kebakaran jenggot.
"Aku ke kamar dulu. Selamat malam." Farhan bangun dan melirik Tere sinis. Gadis itu menyempatkan diri menendang tulang kering Farhan saat melewatinya. Namun Farhan terlihat tak menganggap ataupun marah.
Hari ini pikiran Farhan sedang kacau balau. Ia masih belum yakin, apakah pengakuannya di depan Jennie akan membuahkan hasil yang baik. Sedangkan mau bicara dari hati ke hati saja rasanya susah sekali. Ada cacing besar alaska yang menggelayut di samping adiknya. Ah, Farhan kesal sekali kalau mengingat sikap kekanak-kanakan Reyno. Iya sih, memang Reyno masih anak-anak. Tapi kan tidak begitu juga kali, Farhan itu kakaknya. Memangnya kakak macam apa yang mau jatuh cinta dengan adiknya.
"Hei Farhan! Aku sumpahi kamu jatuh cinta pada gadis yang menyebalkannya seratus kali lipat dariku," teriak Tere naik darah. William mengaktifkan mode menganga pada mulutnya. Seperti apa bentuk wanita menyebalkan yang seratus kali lipat dari Tere? Sedangkan gadis itu saja sudah menjadi gadis paling menyebalkan sedunia.
__ADS_1
"Hei kau!" teriak Tere. William mendongakkan kepalanya. Menetap Tere dengan wajah termalas sepanjang masa.
"Apa?" jawab William sambil menggusar rambutnya beberapa kali. Masih kepikiran dengan ucapan Farhan, tentang Reyno dan Jennie yang katanya akan segera mempunyai bayi. Demi apapun ia tak rela. Jennie kan masih pacar sah William, belum ada kata putus. Kalau tidak ada ondel-ondel keracunan itu, pasti Jennie masih ada di genggaman William.
"Elus-elus perutku! Lalu ajak anakmu ngobrol," suruh Tere pada ayah kandung setengah gila itu. William terperanjat, nyaris lompat dari duduknya.
"Kegiatan menggelikan macam apa itu. Sorry ya, aku tidak akan melakukan hal yang tak berguna seperti itu."
"Lakukan atau aku bunuh diri!" ancam Tere. Gadis itu selalu menggunakan taruhan nyawanya setiap kali menginginkan sesuatu. Apa lagi dalam keadaan nyidam, Tere semakin menggila kalau keinginannya tidak terpenuhi.
"Oke ... oke.." William menghampiri Tere. Lalu bersimpuh di pangkuan gadis itu. "Hallo bayi," sapa William kikuk. Rasanya aneh mengajak ngobrol sesuatu yang tak terlihat begini. Ia malah salah fokus pada perut Tere yang terlihat datar. Dengan hati-hati William membuka piama itu. Mengusap-usap perut Tere senyaman mungkin.
Heran, kenapa ia jadi gugup begini. Harum tubuh Tere membelai lembut bulu-bulu hidungnya. Aroma parfum gadis itu terasa nyaman untuk dihirup, rasanya William baru pertama kali mencium aroma memabukkan jiwa seperti ini.
"Apa yang kamu lakukan?" Tere mendorong kepala William saat pria itu mencium perutnya. Gadis itu gugup, Willam juga merasakan hal yang sama. "Aku tidak menyuruhmu mencium perutku."
Haish! Bodohnya aku. William menggemerutukan giginya sambil meninju udara.
***
Reyno sudah terlelap di pelukan istrinya. Anak itu masuk ke dalam dekapan tangan mungil Jennie. Lalu terlelap dengan wajah bahagia yang terbenam di singgasananya. Namun tidak dengan gadis itu. Jennie tidak bisa tidur sama sekali, bahkan hingga matahari mulai terbit lagi. Gadis itu masih setia senyum-senyum menatap layar ponselnya.
Jennie sibuk mengganggu Farhan sampai lupa waktu. Saling bercerita dan mengungkapkan isi hatinya masing-masing. Farhan bahagia memiliki keluarga baru, dan Jennie bahagia karena keinginannya memiliki kakak akhirnya terwujud juga. Sayangnya Farhan masih meminta Jennie untuk merahasiakan hal ini pada bundanya untuk sementara waktu. Jadi kebahagiaan ini masih kurang lengkap baginya.
"Apa yang kamu lakukan?" Reyno tak sengaja bangun, jam menunjukan pukul lima pagi. Dan Jennie masih cekikikan menatap layar ponsel.
"Eh, sayang aku udah bangun?" Jennie langsung meletakkan ponselnya. Memeluk Reyno yang masih menggeliat-geliat menyadarkan dirinya.
__ADS_1
"Jennie kenapa tidak tidur?"Reyno mengalungkan tangannya dengan manja. Memeluk Jennie dan menarik selimut sampai sebatas leher.
"Aku ngga bisa tidur, Reyn. Masih kepikiran tentang Farhan."
Untuk yang satu ini Reyno sangat paham, pasti Jennie masih shock dan belum bisa menerima kenyataan yang ada. Reyno juga antara percaya dan tidak, kalau ternyata Farhan adalah kakak kandung Jennie. Kalau tidak ada masalah ini. Reyno pasti sudah marah-marah karena istrinya bergadang sampai pagi.
"Terus kenapa tadi ketawa-tawa?" tanya Reyno. Matanya masih mengerjap-ngerjap belum ingin bangun.
"Farhan tadi kirimin foto kamu waktu masih kecil. Kamu lucu banget, Reyn." Dalam hati Jennie, suaminya ternyata sudah ganteng dan menggemaskan sejak lahir.
"Huh. Kalian berdua ya, selingkuh di belakang aku. Sampai kirim-kiriman foto di belakang aku."
"Kata Kak Farhan itu balasan buat kamu. Karena sudah membeberkan rahasianya." Jennie tergelak.
"Aku juga punya foto kamu di dompet, bunda yang kasih waktu itu." Reyno tidak mau kalah.
"Foto apaan?" Jennie langsung penasaran. Jangan sampai bunda kirim foto aneh-aneh. Misal foto mandi hujan saat kecil dan tidak memakai baju. Ah, Jennie malu.
"Foto kamu pakai seragam sma, yang rambutnya kucel dan bau. Kata bunda kamu gak pernah keramas, terus kalau ke sekolah ngga mandi."
Ahh... tuhkan, bunda tega banget sih, beberin rahasia anaknya.
"Sudah jangan malu. Yang penting sekarang kamu mandi terus." Reyno menarik kepala Jennie, membenamkan wajah itu di dadanya. "Sekarang tidur ya, aku mau masak kalau kamunya udah tidur," ucap Reyno sambil mengelus-elus rambut istrinya, Jennie mulai terlelap di pekukan suaminya.
***
Yang mau liat fotonya di ig @anarita_be, ya... Soalnya kalo up di sini jadi lama lolos reviuwnya. Di unggahah terakhir aku.
__ADS_1