Suamiku Anak Mami

Suamiku Anak Mami
S2- Bab 45


__ADS_3

Pagi-pagi buta Reyno dibuat naik pitam saat melihat kelaukan nakal anak-anaknya . Pria itu bergegas pergi ke dapur, mencari sang istri yang sepertinya sedang membuat sarapan pagi bersama ART.


"Yank, kamu gimana sih jagain anak-anak. Masa tayo aku dimandiin!"


"Uhukk." Jennie langsung keselek kuah sup saat mendengar benda berharga suaminya dianiaya oleh Cilla dan Cello. Beraninya mereka menyentuh jimat keramat milik papanya. Matilah Jennie!


"Hah! Masa?" tanya Jennie pura-pura terkejut. Ketika Jennie berbalik untuk menatap Reyno yang berdiri di belakangnya, pria itu sudah menunjukkan aura membunuh.


Reyno melipat kedua tangannya di depan dada, menatap Jennie dengan wajah sebal. "Kamu liat sendiri di kamar mandi sana!"


Tanpa menunggu lama, Jennie langsung melangkahkan kakinya menuju kamar. Lalu bergegas melihat kamar mandi yang sudah banjir air karena ulah Cello dan Cilla. Bahkan, si Tayo malang itu sudah terendam di dalam bathup. Penuh sabun dan tereksekusi dengan ganasnya.


"Ya ampun Cilla, Cello! Apa yang kalian lakukan?" Jennie menatap intens kedua anaknya secara bergantian. Mereka berdua sedang mandi berdua, bertiga dengan boneka Reyno yang sudah mengambang di dalam air.


Matilah aku! batin Jennie syok. Pasti ia akan jadi sasaran empuk kemarahan suaminya. Boneka beruang besar itu, seumur-umur selalu dijaga dengan baik. Tidak pernah kena air dan selalu dirawat.


"Mama! Cilla pinter 'kan? Boneka papa Cilla mandiin bial belcih."


"Iya. Pinter banget seperti Mamamu!" Seru Reyno dari balik punggung Jennie. Wanita itu sudah tidak berani lagi melihat ekspresi suaminya. Dari nada suaranya saja mirip pisau yang sedang diasah.


"Ya ampun Sayang, boneka itu gak boleh kena air. Nanti malah tambah rusak!" Jennie pura-pura menasehati Cilla dan Cello, tujuannya agar ia lolos dari amukkan suami Hello Kittynya. Meskipun pemikiran seperti itu terasa mustahil.


"Gak lucak! Tayo pati ceneng dimandiin ama Cilla. Tadi dia bilang cendili mau mandi baleng," kilahnya beralasan. Imajinasi anak kecil memang luar biasa. Apa lagi seorang Cilla.

__ADS_1


"Nanti kita dibeliin es krim sama papa, kan abis berbuat baik." Cello menimpali seraya melompat-lompat girang.


Sumpah demi apapun, Jennie hampir mati lemas melihat tingkah polos anak-anaknya yang merasa bangga sehabis berbuat salah. Ibarat benda pusaka, itulah Tayo di mata Reyno. Siapapun yang menyentuhnya akan kena masalah. Dan Jennielah tersangka utama yang harus bertanggung jawab penuh.


Mau bagamanapun juga mereka masih anak kecil. Sekalipun Jennie marah, nasi sudah terlanjur menjadi bubur. Maka yang Jennie lakukan pertama kali adalah mengurus anak-anakknya terlebih dahulu. Membawa Cilla dan Cello ke kamarnya sebelum mereka masuk angin. Barulah ia mengurus bayi besar yang mungkin sedang menahan emosi sedari tadi.


Setelah memberi hukuman pada Cilla dan Cello untuk belajar di kamarnya, Jennie kembali lagi menemui Reyno di kamar utama. Pria itu sudah mandi dan rapi, hendak berangkat ke kampus tentunya.


"Reyn," panggil Jennie dengan suara yang dibuat manja. Pria itu langsung melengos ke samping. Enggan bersitatap dengan istrinya. Padahal biasanya Reyno paling suka jika Jennie bersikap manja.


"Maafin anak-anak ya," ucap Jennie mengiba.


"Anak-anak gak salah, tapi ibunya yang perlu ditanya. Sudah tahu aku masih tidur, tapi kamu malah ninggalin anak-anak di kamar tanpa pengawasan." Ah, Reyno hampir gila memikirkan Tayo kesayangannya yang bernasib tragis di kamar mandi.


"Kamu tahu gak? Semenjak aku kecil, Tayo belum pernah kena air sedikitpun. Aku selalu laundry dia di tempat khusus yang gak nyakitin dia. Makannya tetap bersih meski sudah puluhan tahun." Jennie sangat paham betapa mulianya benda itu. Tidak perlu dijelaskan lagi.


"Bangunin aku kan bisa?" protes Reyno kesal. "Seenggaknya kalau kamu merasa gak sanggup jagain mereka, bisa minta tolong aku. Jangan dibiarjan main sendiri."


Setelah mengancingi kemeja, Reyno menyisir rambutnya sedikit. Lalu meraih tas ransel dan hendak melangkah ke luar.


"Maafin aku," cegat Jennie saat Reyno hendak kabur sebelum berdamai.


"Aku masih kesal sama kamu, hal ini bahas nanti saja sebelum pulang kerja."

__ADS_1


"Gak mau ... gak mau!" Jennie merajuk-rajuk tidak tahu diri. Menempel kuat seperti lintah.


"Kamu tahu gak? Seberapa pentingnya Tayo buat aku?"


"Tau ..." Sepenting nyawamu sendiri, itu yang kamu ucapin dulu saat aku menghina benda kesukaanmu, ucap Jennie dalam hati. Yang tentunya ia tidak akan berani mengatakannya.


"Ya sudah, kalau begitu aku mau lanjut marah. Mungkin kalau bukan Tayo, aku akan maafin kamu dengan mudah. Khusus Tayo kasusnya akan berbeda."


Jennie menghela napas berat setelahnya. Ia masih berusaha untuk meminta maaf pada suaminya. Jennie tahu seberapa penting boneka itu bagi Reyno. "Maaf!" ucap Jennie mengiba untuk terakhir kalinya.


"Aku sudah telat!"


Walaupun Reyno menggemari semua boneka, hanya tayo satu-satunya boneka yang masih tersisah. Benda pembawa maut itu bukan hanya berharga bagi Reyno. Ia mebdapatkan Tayo saat umurnya masih delapan tahun. Saat menjelang ulang tahunnya, sang nenek tercinta Reyno meninggal dunia. Di saat nenek belum sempat memberikan kado yang dibelinya untuk sang cucu. Setragis itu memang kisah di balik Tayo yang sangat Reyno jaga.


"Beneran gak mau baikkan sama aku dulu?" tanya Jennie dengan berat hati. Reyno yang sudah berhasil memutar handle pintu, berbalik melihat istrinya yang berdiri kaku di belakangnya.


"Setelah aku pulang kerja nanti, jangan lupa dandan yang cantik. Jangan sampai aku lihat muka berminyak kamu yabg seperti lahan pertamina."


Deg. Mendadak Jennie merasakan dejavu yang sesungguhnya. Sepertinya ia pernah mendengar kalimat ini. Tapi kapan ya?


Ketika ia hendak menjawab, Reyno sudah menghilang di balik pintu.


Pagi ini, masalah mereka di awali dengan perihal boneka.

__ADS_1


***


Pertamina itu ucapan pertama Reyno buat Jennie pas mereka baru nikah. Wkkwkw


__ADS_2