Suamiku Anak Mami

Suamiku Anak Mami
S2- Bab 51


__ADS_3

Mentari menyapa pagi, membuat kedua satpam itu merasa lega karena penderitaannya sudah berakhir. Karena semalaman penuh Reyno benar-benar menyiksa mereka. Pria itu balas dendam dengan cara menyuruh mereka mengusir nyamuk agar tidak menggigit Reyno. Terpaksa kedua satpam itu harus begadang menjaga tubuh suci berharga si bossnya.


"Ingat! Jika besok pagi ada bekas gigitan nyamuk, aku pastikan kalian kuhukum berat," ancam Reyno yang masih sangat kesal tadi malam.


"Ini adalah harga mati karena kalian berdua telah memindahkan orang yang tidak sadar ke luar rumah. Kalian sama seperti istriku, kejam!" Kedua satpam itu tertunduk dalam rasa yang berkecamuk. Antara emosi, kesal, dan merasa mendapat jebakan betmen. padahal mereka hanya menjalankan tugas dari majikan.


"Hoammmm!" Reyno bangun dan menguap. Lalu memeriksa seluruh tubuhnya dengan teliti. Berlenggak-lenggok di depan kaca yang ada di pos satpam. Bahkan, bagian punggung belakangnya juga ikut diperiksa.


"Bagus, kalian bekerja keras." Tubuh Reyno masih mulus sempurna.  Pria itu melirik pintu rumahnya. Ternyata pintu itu sedikit terbuka, artinya Reyno sudah dipersilahkan masuk. 


Eitss, masih ada satu rintangan yang harus Reyno lewati lagi. Yaitu eksekusi maut dari istrinya. Ini lebih sulit, dan mungkin hukuman kedua akan diberlakukan.


"Terima kasih karena telah menjagaku tadi malam," ucap Reyno pada satpam itu. Dalam hati, ia merasa tidak ikhlas berterima kasih. Secara satpam itu juga ikut bersekongkol dengan Jennie. Yang artinya mereka berdua juga ikut terlibat dalam aksi jahanam sang istri yang sedang murka.


Dengan langkah besar, Reyno kembali masuk ke dalam rumah. Menanggalkan sarung apek itu ke sembarang tempat. Lalu masuk dengan posisi semula. yaitu telanjang dada dengan boxer spongebob yang melekat di pangkal pahanya.


"Jennie!" seru Reyno memanggil sang istri. Ia langsung masuk ke dalam kamar, lalu melihat sang istri yang sepertinya baru saja bangun tidur.


Jennie meletakkan ponselnya begitu melihat Reyno masuk. Lalu menjuntaikan kaki ke bawah seraya melipat kedua tangannya di depan dada. "Ternyata kamu masih mau tinggal di sini ya," ujar Jennie sinis.


Jennie menyilangkan kedua kaki dengan gaya anggun. Lalu memandang pria itu dengan penuh kebencian. "Lihat Tayomu! Masih utuhkan?"


"Iya." Reyno mengangguk dalam rasa bersalah. Ada rasa bersyukur bercampur penyesalan. Tayonya baik-baik saja, seharusnya ia tidak perlu frustasi dan melakukan hal bodoh seperti itu.


Pria itu langsung berlutut di kaki Jennie lalu meminta maaf dan menyandarkan kepalanya di pangkuan sang istri.


"Maafin aku please," pinta Reyno dengan nada pasrah. "Aku salah."


"Sebutin salah kamu di mana!" cecar Jennie dengan suara menggelegar. Membuat nyali Reyno mendadak ciut ketika berhadapan dengannya.


"Aku salah karena sudah pergi ke bar, sama kasih uang lima puluh juta ke cewe pengganggu itu."  


Reyno langsung merengkuh pinggang Jennie untuk berjaga-jaga agar ia tidak ditendang. Kaki Jennie sampai kesulitan bergerak karena ulah suaminya.


"Tapi aku tidak minum, Sayang. Tidak jadi, hanya niat." Akhirnya kalimat pembelaan itu keluar dari bibir bergetar Reyno.

__ADS_1


"Uang yang lima puluh juta juga uang papi, jadi aku hanya perantara."


"Jadi kamu masih berani membela diri?" tanya Jennie dengan nada suara berapi-api.


"Bukan begitu, tapi itu nyata loh Yank." Arghh, Reyno mulai frustasi.


"Sekang sudah berani ke bar, lalu memberi uang pada wanita lain. Besok apa lagi, hah?"


"Maaf ... maaf ... aku salah, salah banget. Tolong hukum aku, tapi jangan marah lagi. Kita baikkan." Reyno memelas dengan sorot mata penuh iba.


Andaikan saja meluluhkan hati Jennie bisa semudah membalikkan telapak tangan. Reyno tidak akan berlutut sambil bertelanjang dada seraya menahan kebas pada kakinya. Sayangnya, Jennie begitu sulit untuk dirayu. Tidak seperti Reyno yang cukup disodori tubuh mulus sang istri jika sedang ngambek.


"Kalo aku gak maafin gimana?"


Dahi Reyno berkerut-kerut. Membuat Jennie jadi kesal, namun ia sudah memiliki jurus ampuh untuk membunuh seorang Reyno. Bahkan, pisau akan kalah tajamnya dengan senjata yang Jennie miliki.


Melepas pelukkan Reyno, Jennie bangkit dan berjalan ke arah laci. Lantas berdiri dan terlihat menarik laci kecil yang ada di samping tempat tidurnya.


"Karena Alex sudah cerita semuanya, aku akan memaafkanmu untuk kali ini saja." Senyum manis bercampur sinis tersungging di bibir Jennie. Wanita itu menatap Reyno penuh arti.


Ekor mata Reyno melirik Jennie yang sedang mengambil sebuah benda di dalam laci.


"Astaga Yank!" Reyno berseru frustasi saat melihat Jennie membuang pik kb yang ada du tangannya ke tempat sampah.


"Mulai semalam sampai bulan depan aku mogok minum pil KB."


Prangggg!


Begitulah kira-kira suara piring fatamorgana yang dibanting ke lantai. Hanya Reyno yang dapat mendengarnya, dan nyaris shock mendengar hukuman gila yang Jennie berikan.


"Yank, please jangan kayak gini." Pria itu langsung berdiri dan mondar mandir dengab wajah frustasi.


Sungguh, Jennie adalah wanita yang sangat licik. Ia tidak melarang Reyno untuk menyentuhnya, namun malah membuang pil KB supaya Reyno tersiksa secara halus. Good Job.


"Kamu bisa pakai alat kontrasepsi lain," ucap Jennie seraya tertawa bangga; membanggakan kecerdasannya dalam menghukum sang suami.

__ADS_1


"Sebulan loh, Yang," ulang Reyno sekali lagi.


"Bodo amat!" jawab Jennie enteng dan wajah ketusnya. Membuat si pria frustasi itu semakin kalut dalam rasa yang berkecamuk.


Jennie tahu Reyno tidak suka menggubakan balon pelindung pada miliknya. Tapi kalau terpaksa, Reyno tetap akan memakai benda rekomendasi terakhir itu.


Kalau bisa, habis ini Reyno ingin mendatangi kantor papinya. Lalu menyuruh sang papi untuk memusnahkan seluruh pabrik balon setan yang ada di dunia. Namun Reyno tahu, kekuasaan sang papi tidak akan mampu melenyapkan seluruh pabrik pembuat benda durjana itu.


Kenapa benda sialan itu harus hadir ke dunia sih, umpat Reyno dalam hati.


"Yank!" seru Reyno, wajahnya seperti kucing lapar yang minta dikasihani.


"Beneran gak ada toleransi?"


"Toleransi apanya? Aku sudah tidak meminum obat itu dari kemarin. Jadi sudah telat, lebih baik di terusin sampai sebulan."


Astaga. Reyno menghela nafas pasrah. "Tega banget kamu, Yank. Pake benda itu kan gak enak, lo."


"Kalo gak enak ya, gak usah dipakai," ketus Jennie seraya menyunggingkan senyum penuh arti. Yang artinya mereka harus siap melakukan program hamil kedua.


"Nanti hamil gimana?" Karena Reyno masih trauma dengan kehamilan istrinya yang pertama.


"Kalau begitu ikuti cara pertama. Pakai pengaman."


"Gak enak, aku gak suka!" Reyno mencebik kesal.


"Kalau gak suka, kamu boleh main pedang-pedangan sama Alex temenmu itu. Toh, kalian sudah pernah ciuman 'kan?"


"Ciuman?" Reflek Reyno memegangi bibirnya jijik. "Apa waktu kemarin aku mencium mulut Anakonda itu?" tanya Reyno sambil berpikir keras untuk mengggali ingatannya.


"Hmmm. Kata Alex kalian kamu menciumnya duluan."


"Huekk! Kesialan macam apa lagi ini?" Seketika Reyno mendadak mual. Pria itu bergegas ke kamar mandi. Mungkin hendak mensterilkan tubuhnya yang selalu dianggap suci.


Jennie terpingkal-pingkal melihat tingkah Reyno yang panik sendiri. Memegangi perutnya, ia membuka laci satunya lagi. Lalu mengambil simpanan pil KB dan meminumnya tanpa sepengetahuan Reyno.

__ADS_1


***


__ADS_2