
Brumm ... Brumm ...
Sebuah motor sport berhenti tepat di hadapan Jennie. Membuat ia yang sedang menunggu anak-anak dan suaminya sedikit terlonjak kaget.
Pria bertubuh kekar itu membuka penutup kepalanya. Meletakkan helm itu di kaca spion, lantas turun dan menghampiri Jennie yang duduk di bangku sisi jalan.
"Ini Jennie kan?" seru pria itu seraya membungkuk. Mengamati wajah Jennie untuk memastikan ia tak salah mengenali orang.
Jennie ikut mengamati, memutar memori otaknya untuk mengingat-ingat siapa pria yang ada di hadapannya.
"Kak Dafa? Ini beneran Kaka?"
Dafa langsung memeluk Jennie erat, melepaskan rasa rindu yang sudah tak tertahan selama bertahun-tahun.
"Ya Tuhan, gadisku sudah besar ya?! Aku pikir aku salah orang. Si tomboy ini kok berubah feminim sekali. Sempat ragu, tapi nyatanya ini beneran kamu, Je."
Dafa merangkum wajah Jennie penuh sayang, masih belum percaya mereka bisa bertemu tanpa janjian terlebih dahulu.
Dafa adalah tetangga Jennie, umurnya satu tahun lebih tua dari gadis itu. Ia pindah ke Jawa saat masih SMP. Dan tidak pernah kabar-kabaran lagi sampai sekarang bertemu.
"Aku juga kaget. Kirain bukan Kak Dafa? Oh ya, Kakak apa kabar?"
"Baik Sayang. Kamu sendiri apa kabar?"
Mendengar kata sayang yang terucap dari bibir Dafa, Jennie merasa sedikit canggung. Rasanya aneh dipanggil seperti itu oleh orang lain selain suaminya sendiri. Meskipun Dafa dan Jennie sangat dekat dulunya.
"Aku baik, Kak," jawab Jennie seraya melepas tangan Dafa yang masih merangkum wajahnya. "Kakak sekarang tinggal di Jakarta lagi?"
"Lebih tepatnya kerja, jadi anak rantau di sini," balas Dafa seraya mengeluarkan ponsel dari dalam saku celana.
"Oh ya, aku bisa minta nomer kamu tidak? Soalnya aku sedang buru-buru, Je. Biasa lah, mau jemput kesayangan dulu. Cewek 'kan gitu, telah dikit ngambek. Ntar aku gak di kasih jatah cium."
Jennie terkekeh mendengar curhatan simple Dafa. Lantas mengeluarkan ponselnya. Mereka saling bertukar nomor. Mengetahui Dafa sudah punya kekasih membuat Jennie merasa aman dan rela memberikan nomor ponselnya.
"Makasih ya! Kapan-kapan aku hubungi kamu lagi. Barangkali bisa reunian atau double date." Dafa mentowel dagu Jennie iseng. Lantas kembali menunggangi kuda besinya. Dalam sekejap, motor Dafa lenyap. Menyisakan kepulan asap di tengah jalan Raya.
__ADS_1
Jantung Jennie masih berdetak tak wajar. Perlakuan Dafa yang masih sama seperti dulu membuat Jennie takut Reyno datang memergoki mereka. Pasti pria itu marah besar kalau melihat istrinya dipeluk orang. Meski itu adalah sahabat kecilnya sendiri.
Dari kejauhan, Jennie melihat tiga mahluk menggemaskan yang berjalan menuju ke arahnya. Semuanya memegang es krim masing-masing. Dan pandangan Jennie tertuju pada sang suami. Pria itu ya ampun, bagaimana bisa ia makan es krim yang besar dan menarik. Sementara anaknya hanya memegang es krim chillin dengan warna coklat dan putih. Bagai bumi dan langit kalau kata Jennie. Ia tahu kalau Reyno melakukan itu demi kebaikan anak, namun yang membuat Jennie geleng-geleng kepala adalah anak-anak yang sepertinya tidak keberatan. Bahkan mereka terlihat akrab tak berebut.
Entah Reyno yang terlalu pintar, atau anak-anak yang begitu polos sampai mau dirayu-rayu oleh bapaknya.
"Itu kamu gak salah beli es krim?" tanya Jennie yang kesal sendiri.
"Nggak. Aku suka," jawab Reyno seraya memasukkan satu sendok es krim ke mulut Jennie.
"Mama Panda jangan Malah dong, papa kan besal. Es klimnya uga besal," timpal Cilla membela sang Papa. Ia tidak suka melihat mata Jennie melotot. Sementara si kecil Cello hanya diam, asyik menikmati es krimnya.
"Makasih Sayang, kamu yang terbaik. Papa saranghae sama Cilla." Seraya menunjukkan tangannya ala-ala K-Lovers.
Jennie menyipitkan matanya heran. Kamu tuh harusnya iri dan guling-guling, Nak. Bukan membela papamu, dumel Jennie dalam hati. Ia tidak suka melihat anaknya makan es krim banyak-banyak, tapi kalau begini posisinya ia juga ingin menggaruk punggung Reyno. Pria itu selalu hebat dalam menarik perhatian dan simpati semua orang. Bahkan anak kecil sekalipun. Sepertinya Reyno pakai susuk.
***
Acara makan es krim dilanjutkan di dalam mobil. Seperti yang Reyno kira, anak-anaknya sudah kenyang terlebih dahulu sebelum meminta es krim jatahnya. Alhasil, es krim milik Reyno selamat. Ia bisa menikmati es krim itu sendiri, dan sesekali merecoki Jennie dengan menyuapkan es krimnya.
Mobil melaju dengan kecepatan normal. Reyno melirik Jennie dengan wajah bersungut-sungut sebal.
"Aku gak suka ya, Ello begituan terus sama kamu!" Matanya tertuju pada tangan Cello yang masuk ke dalam baju. Memegang benda favorit kesukaannya.
"Aku udah pinjemin punya aku selama tiga tahun, dan sekarang aku mau ambil lagi dari mereka. Usahakan jangan mau dipegang-pegang gitu, apalagi Ello itu cowok."
Astaga! Jennie ingin mencakar muka Reyno sekarang juga. Awalnya ia kira Reyno hanya bercanda, namun lama-kelamaan Reyno nampak serius saat mengomel dengan bahasa tidak tahu diri itu.
"Cuma pegang Reyn, Ello memang begini kalau lagi ada mamanya." Jennie segera menarik tangan Cello dari dadanya. Anak itu sudah terlelap. "Toh mereka sudah gak minum ASI lagi."
"Tapi kamu melanggar perjanjian, aku gak terima dicurangin begini. Gak adil kamu, Yank ...!" protes Reyno tidak tahu diri. Semakin tidak tahu malu saat yang diprotes adalah darah dagingnya sendiri.
"Ya, maaf. Besok aku latih lagi si Ello biar gak begini," ujar Jennie yang merasa masih waras.
"Memang harusnya begitu. Nanti kalau kebiasaan sampai SD gimana? Kamu sendiri yang malu, Yank." Nasihat bijak itu keluar dari mulut Reyno. Walaupun seratus persen nasihat Reyno ada benarnya, namun 80 puluh persennya adalah faktor cemburu.
__ADS_1
"Kamu juga tuh, udah besar masi suka begitu."
"Ya kalau itu si gak masalah. Ello juga boleh kalau udah besar, sama istrinya tapi. Atau gak sama pacarnya."
"Astaga Reyn!" Jennie langsung mencubit paha Reyno kuat-kuat. Matanya melotot kesal ke arah Reyno
"Bercanda, Sayang. Hehehe."
Reyno kembali ke topik obrolan. "Inget kata aku ya. Cello harus dilatih lepas, meski cuma pegang-pegang tetep bisa kebawa gede," ucap Reyno mengingatkan sekali lagi
"Iya ... iya," decak Jennie dengan nada kesal.
"Kamu gak boleh jahat sama suami, Je. Kamu gak tahu sih, gimana tersiksanya aku selama tiga tahun ini. Cuma bisa iwil-iwil, tanpa boleh ngerasain rasanya kayak gimana. Pas udah dibolehin, isinya udah zonk! Eh, masih harus berbagi pula," gerutunya tidak terima.
"Boleh gak aku tampar kamu, Reyn? Sekali-kali pengin kurangajarin suami," ucap Jennie murka.
"Ya memang itu deritaku, kok. Sudah lepas perjanjian pun masih dicurangin. Aku gak suka ada acara barengan-barengan gitu. Memangnya kamu satu untuk semua. Huuh, udah bersyukur aku mau minjemin ke mereka. Kalau bukan demi kesehatan dan tumbuh kembangnya aku gak akan izinin tau."
"Ya serah kamu aja deh, Reyn. Gimana menurut otak kamu. Aku yang gila ngalah."
Entah bercanda atau tidak. Yang jelas Jennie ingin menusuk Reyno andai ada pisau di mobil. Memang kadang kala Reyno suka begitu kalau nyebelinnya kumat, bawaannya ingin nusuk.
Enggan membalas perihal ASI. Jennie mengalihkan pembicaraanya agar Reyno berhenti memprotes sesuatu yang tidak masuk akal. Karena bisa runyam masalahnya kalau kepanjangan dibahas.
"Oh ya, sebenernya aku minum pil KB terus. Berhubung aku rasa hukuman buat kamu sudah cukup, jadi aku kasih tahu kalau sebernya aku gak mogok minum pil KB." Sengaja Jennie kasih tahu, agar Reyno lupa perihal pelanggaran perjanjian tiga tahun mereka.
Mendengar itu, Reyno langsung menelan ludahnya sendiri. Kesal sekaligus senang bercampur jadi satu. Tapi lebih banyak senangnya.
"Kata mamiku pembantu yang sukanya males-malesan di rumah udah diganti semua. Rumah jadi lebih bersih, Yank."
"Eh. Apa hubungannya sama pil KB?" Jennie yang merasa tidak nyambung bingung sendiri.
"Nyampe rumah mami langsung mantap-mantap, yuk!"
Jennie tepuk jidat sendiri. Apapun yang dibahas ujungnya tetap ke situ.
__ADS_1
***