
Jika Reyno dan Jennie sedang bermanja-manjaan dan memadu kasih di hotel berduan. Beda cerita dengan Alex dan Siska yang direpotkan dengan kehadiran si kembar di apartemen Alex.
Pagi itu, Siska tidak mau bicara dengan Alex sepatah katapun, ia asik bermain dengan si kembar tanpa memperdulikan pacar manjanya yang juga butuh perhatian. Menurut Siska, Alex sangat keterlaluan terhadap anak kecil. Harus diberi pelajaran agar jangan terbawa sampai tua. Bisa-bisa Siska tidak boleh menyusui anaknya, nanti.
Siska dan si kembar sudah menyelesaikan sarapannya. Gadis itu langsung memindahkan Cilla dan Cello ke kamar untuk menonton kartun. Sementara Siska kembali ke ruang makan untuk mencuci semua mangkuk bekas sarapan mereka bertiga.
"Sayang ...." Alex datang menyusul Siska. Pria itu bergelayut manja seraya merangkul Siska dari belakang.
"Maaf, aku bukan orang gila yang cemburu pada anak kecil. Hanya saja, aku tidak rela orang pertama yang menyentuh milikmu bukanlah aku. Kau selalu melarangku untuk melihat apalagi menyentuhnya, tapi kamu berani memberikan itu pada anak kecil. Pahamilah, ini bukan cemburu, tapi ketidakrelaanku sebagai orang yang menyayangimu."
Oh, astaga! Siska menggeram gemas. Di mana letak bedanya? Sungguh Siska tidak dapat menemukan perbedaan di antara dua kalimat yang Alex ucapkan tadi.
"Al!" Siska berbalik setelah mematikan keran air pada wastafel. Lalu menatap Alex dengan raut wajah yang sulit untuk ditebak. Pria itu bergeming, ikut menatap Siska, lekat.
"Apa kau ingin menyentuh ini?" Kalimat Siska membuat Alex menegang seketika. Apalagi ketika Siska menangkupkan kedua tangannya di atas gunung kembar miliknya.
"Apa beneran boleh menyentuhnya?" tanya Alex dengan dahi mengkerut-kerut. Tanpa ia sadar betapa bodohnya pertanyaan yang baru lolos dari bibirnya itu.
Alex lupa ...
Tidak biasanya Siska seloyal itu dalam hal berpacaran. Hubungan mereka masih sebatas pegangan tangan dan sesekali ciuman. Belum pernah naik pada jenjang yang lebih serius dari itu. Karena Siska selalu berhasil menjaga diri. Bahkan ia tidak peduli meskipun Alex marah dan ngambek.
"Boleh, silahkan!" Siska tersenyum tipis. Ada sedikit luka fatamorgana karena Alex tak kunjung paham juga.
Matanya yang cantik menyiratkan sebuah arti yang belum bisa dimengerti oleh Alex. Dengan senyum yang membersamai tatapannya, Siska meraih satu tangan Alex hingga nyaris menyentuh dua mahkota kembarnya.
"Jika kau sudah berhasil menyentuhnya, melihatnya, bahkan memegangnya. Apa kamu yakin hanya ingin melakukan sebatas itu. Tidak ingin yang lebih?"
Pertanyaan Siska sukses membuat Alex menelan saliva.
"Maksudnya bagaimana, Cha?"
"Apa yang aku berikan pada Ello hanya sampai sebatas itu. Anak kecil itu tidak akan meminta lebih seperti pria dewasa pada umumnya. Ia bahkan tidak mengerti. Aku memberikannya karena kasihan. Juga karena dia belum memiliki nalar."
"Jika aku memberikan itu padamu, aku yakin kau akan menginginkan lebih dari yang aku berikan. Jika kamu bukan tipe pria yang seperti itu, bisa saja aku yang akan meminta lebih. Aku yang tidak kuat. Sehingga hubungan kita akan semakin jatuh dalam jurang kesalahan. Apa kamu paham, Al?"
"Maaf." Detik itu juga, Alex meraih tubuh kecil Siska ke dalam dada hangatnya. Menyesali semua kalimat yang Alex ucapkan tadi.
Bodoh .... Bodoh kamu, Al, batin Alex menyesal. Bagaimana mungkin kamu melukai wanita sebaik Siska. Dasar pria breengsek. Kamu bodoh Al.
Alex mengumpati dirinya di dalam hati.
"Maafkan, Cha. Aku tidak pernah berpikir sejauh itu, Cha."
__ADS_1
Siska mengelus punggung Alex, lembut. Pria itu nampak sedih dan merasa bersalah atas apa yang ia inginkan dari Siska.
"Jangan sampai kita melakukan dosa hanya karena alasan cinta."
"Kita sudah sama-sama dewasa, Al. Aku tidak yakin bisa tahan jika kamu sampai berani melakukan itu padaku. Terserah kamu mau berpikir aku wanita macam apa, yang jelas aku sebagai manusia dewasa yang memiliki hastra normal."
"Aku takut jika aku lemah dan memberikan segalanya. Bukan karena aku tidak rela memberi, tapi aku belum siap jika kita berdua harus jatuh dalam jurang dosa. Al, aku mencintaimu. Aku harap kamu bisa mengerti dengan semua yang aku ucapkan."
"Satu hal lagi, berada di dekatmu saja aku hampir gila. Selalu ada hastrat menggebu-gebu yang ingin menuntut lebih. Tidak hanya kamu saja yang tersiksa, aku juga."
Setelah mengatakan itu, Siska pergi untuk melihat keadaan si kembar di dalam kamar Alex. Meninggalkan Alex yang sedang menganga tidak percaya. Pria itu menyandarkan dirinya pada dinding kulkas. Masih terpaku sambil mencerna semua yang Siska katakan.
***
Hari ini Jennie begitu manja, ia sama sekali tidak mau berpisah dari Reyno. Bahkan, Jennie meminta mandi bersama saking takutnya ditinggal lagi.
Setelah mendapat kabar bahwa Alex dan Siska membawa anak-anaknya pergi ke kampus, mereka berdua langsung menyusul, takut anak-anaknya berbuat ulah di area kampus.
"Mama!" Cilla dan Cello berteriak bahagia ketika melihat sosok mamanya dari jauh sedang berjalan ke arahnya. Di belakang si kecil, ada Siska, dan juga Alex yang menatap Reyno murka tentunya.
"Cilla kangen, Ma!"
Gadis kecil itu merengek ingin di gendong. Sementara Cello sudah minta di gendong duluan pada papanya.
"Engga kok, mereka lucu-lucu." Jawaban Siska membuat Alex semakin murka. Namun ia masih bertahan tanpa melawan, takut pada ibu singa yang ada di samping Reyno.
"Kakak nakal, Ma. Dia minta nyenye teyus ama ante Cha. Teyus Oppa Al mayah, Ma. Gak cuka katana."
Sontak tubuh Reyno menegang takut. Pantas saja Alex terlihat marah sekali. Sebagai laki-laki, ia paham dengan apa yang dirasakan Alex saat ini.
"Ya ampun, maaf banget ya, Sis. Anak aku ngerepotin kamu banget. Aku jadi gak enak. Cello memang masih belum bisa lepas dari hal itu."
"Gak papa, Je. Biar sekalian aku belajar jadi ibu," cengir Siska jenaka.
Detik itu juga, Reyno langsung bersembunyi di belakang punggung Jennie. Ia merinding ngeri melihat tatapan Alex yang semakin murka. Bisa di bayangkan. Betapa emosinya Alex saat itu.
Dengan bodohnya, Reyno berlari menghindari Alex yang matanya hampir copot karena tak berhenti menatapnya. Sementara Siska dan Jennie hanya pandang-pandangan dengan raut muka bingung.
"Je, mending kita ke kantin kampus yuk! Ada bakso rusuk yang enak banget. Kuylah," ajak Siska.
"Tapi mereka tidak akan saling membunuh 'kan?" tanya Jennie khawatir.
Siska tergelak. "Hahaha, ya tidak lah. Mereka berdua adalah sahabat yang konyol. Paling babak belur sedikit." Siska mengedipkan matanya.
__ADS_1
Tak mau melihat urusan laki-laki, Siska menarik tangan Jennie, mengajak ibu dua anak itu menuju kantin di gedung belakang.
"Atu juga mau baco Ante!"
"Cello juga mau, Ante!"
Tak lupa ada dua bocah kembar yang tak kalah hebohnya. Jennie menggendong Cilla, sedangkan Siska membantunya menggendong Cello.
Sementara Reyno terus berlari kesetanan. Menghindari satu manusia gila yang murka karena perbuatan Cello. Alex tidak mungkin berbuat macam-macam pada anak kecil, maka ayahnya adalah sasaran utama Alex.
"Al, ampun. Itu bukan salahku, nasibmu saja yang sial." Nahasnya, Reyno salah mengambil jalur, sehingga ia terjebak di lorong buntu tanpa ada cela untuk kabur.
"Anggap saja ujian, Al. Atau karma untukmu juga boleh.
Alex bertambah murka mendengar Reyno itu.
"Apa kau tahu anak-anakmu sangat merepotkan? Lihat ini!" Alex menyingkap kemejanya. Menampakkan bagian dada yang di balut dengan kain kasa.
Astaga! Reyno tidak menyangka kalau Cello akan sebuas itu. "Apa kau menyusui anakku? Bahkan, aku yang ayahnya saja belum pernah," tanya Reyno tidak tahu diri.
"Aku harus membunuhmu, keparat!" Alex sudah mencengkeram kuat leher Reyno. "Kau tidak bilang bahwa anakmu seperti itu. Sialan!"
"Tunggu, Al. Tunggu..." Reyno menahan, tidak mau melanjutkan pertengkaran.
"Bagaimana kalau aku membayar semua kerugianmu?"
Alex mencengkeram kerah baju Reyno. Satu kancing terlepas karena Alex terlalu kuat. "Mentalku rusak. Mau di ganti apa, hah?"'
"Eum. Aku akan meminta ayahku memasukkanmu di perusahaannya. Bagaimana?"
"Kurang, aku minta lebih."
Sialan, Alex lebih matre dari emak jaman now yang mata duitan. Reyno terpaksa menambahkan kompensasi untuk Alex.
"Aku akan membayar lunas cicilan apartemenmu. Gimana?"
Wajah Alex berubah dari murka menjadi datar.
Perlahan, Alex melepaskan cengkeraman kuat di kerah baju Reyno. "Baiklah, aku tidak jadi membunuhmu. Jangan lupa dengan janjimu!"
"Fiuh!" Reyno menghela napas lega. Ia tahu Alex tidak mungkin segila itu membunuh manusia. "Aku pasti tepat janji."
Mengingat kerugian Alex yang cukup banyak, Reyno juga tidak masalah dengan kompensasi besar yang ia berikan pada anak itu. Jika Reyno menjadi Alex, mungkin ia akan lebih murka dari pria itu.
__ADS_1
***