
Di sebuah taman yang indah. Cilla dan Cello sedang bermain gembira mengejar kupu-kupu. Keduanya terkesiap saat cahaya perak datang menerpa penglihatan mereka. Perlahan tapi pasti, dua tubuh yang dirindukannya datang menghampiri.
"Papa Mama!" Kedua mata mereka berdua membola seketika. Dilihatnya Reyno dan Jennie sedang berjalan menuju ke arah mereka dengan senyum yang tak pernah terputus sedikit pun. Jennie dan Reyno tampak cantik dan ganteng bak bidadari dan pangeran surga. Suami istri itu kompak memakai baju putih senada. Memancarkan kilauan yang membuat hati kedua anaknya menghangat seketika.
Mereka berdua berlutut untuk mensejajarkan tingginya dengan si kembar.
"Cilla tangen banet ama Mama dan Papa," Seru gadis kecil itu. Keduanya langsung menghambur bahagia ke pelukan Reyno dan Jennie.
"Papa juga kangen banget sama kalian, Nak!" Reyno mengelus pucuk kepala kedua anak-anaknya. Lantas mencium satu-persatu pipi kedua bocah kembar itu penuh kasih sayang.
"Papa dan mama udah cembuh? Gak cakit lagi kan? Ayo puyang Pa, Ma, jangan naik pecawat lagi biyal ndak jatuh." Cilla berceloteh. Menimbulkan senyum menawan di pipi Reyno dan Jennie.
"Jatuh dari pesawat sakit gak, Ma?"
Selayaknya bocah berumur tiga tahun, Cilla dan Cello tak hentinya membombardir orang tuanya dengan berbagai pertanyaan. Mungkin semua itu merupakan bentuk rasa rindu mereka berdua.
"Jatuh dari pesawat sangat sakit, maka dari itu, Tuhan membalas semua rasa sakit kami dengan kebahagiaan yang tiada tara," terang Reyno menjelaskan.
"Dengarkan mama ya, Sayang. Mulai saat ini, hiduplah dengan bahagia bersama ayah Farhan dan lainnya. Mama dan papa memang tidak dapat menemani Cilla dan Cello, tapi kami akan selalu ada di sini!" menunjuk dada Kiri kedua anak-anaknya sebagai tempat di mana simbol hati itu bersarang.
__ADS_1
"Papa dan mama akan selalu ada di hati kalian. Doa mama dan papa akan selalu hadir untuk kalian di manapun kalian berada, Sayang," imbuh Reyno menjelaskan.
"Mama!" Cilla menyerngit tidak suka. "Apa Mama dan Papa sudah tidak sayang lagi dengan kita?" lanjut Cello melempar pertanyaan dengan gaya polos.
"Cilla mau sama Mama dan Papa, pokona Mama ama Papa halus pulang." Gadis kecil itu menangis terisak-isak dalam pelukan kedua orang tuanya.
"Anak baik tidak boleh nangis." Reyno menghapus jejak air yang mengaliri wajah anak gadisnya.
"Mama tahu bahwa kalian sayang orang tua. Kalian anak kesayangan mama dan Papa yang baik juga pintar. Tapi kalian harus tahu, bahwa semua yang hidup adalah milik Tuhan. Kapanpun Tuhan mau, Tuhan dapat mengambil apa yang diinginkan-Nya."
"Sayangnya mama dan Papa diambil Tuhan sebelum melihat kalian menikah dan bahagia. Meskipun begitu, kalian anak kesayangan kami harus tetap kuat. Lanjutkan hidup kalian sampai bertemu dengan tambatan hati kalian saat dewasa nanti." Jennie menitikan air mata saat mengucapkan semua itu. Sungguh sulit menjelaskan pada anak kecil bahwa sekarang ada perbedaan alam yang membatasi buhungan mereka.
"Kami sayang kalian, sama seperti kalian yang menyayangi kami, Nak. Jadi Papa dan Mama mohon, lanjutkan hidup berharga kalian meski tanpa kami berdua."
"Tidak! Cilla mau cama mama dan papa. Mau ikut kalian," teriak si kecil tak kuasa.
Reyno dan Jennie kembali memeluk kedua anak-anaknya.
"Dengarkan baik-baik. Suatu saat, kita pasti akan berkumpul bersama. Hanya butuh waktu, di mana Tuhan memanggil kami terlebih dahulu sebelum kalian. Jika kalian nurut dengan semua yang mama dan Papa katakan, kita pasti bisa berkumpul bersama. Mengerti?"
__ADS_1
Kedua bocah itu mengangguk paham dalam balutan tubuh papa dan mamanya.
Mati memang sangat menyakitkan. Banyak juga orang yang lebih memilih mati dibandingkan harus ditinggal mati oleh orang tercinta.
Mau tidak mau, terima tidak terima, semua yang terlahir akan menjumpai kematian. Mereka semua hanya butuh waktu, antara aku atau kamu yang dijemput duluan.
Mengerikan? Tentu saja....
Namun kembali lagi, kita yang berani hidup harus rela mati. Mengikuti garis takdir yang sudah ditentukan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa.
Mati adalah sesuatu yang dekat; sedekat urat nadi, yang tak mampu untuk dipungkiri.
Maka dari itu, Reyno selalu mengajarkan pentingnya momen kebersamaan pada siapapun orang terdekatnya. Selagi mereka masih dapat melihat satu sama lain, wajib bagi Reyno untuk menikmati kebersamaan sebelum malaikat maut datang menjemput.
Reyno dan Jennie adalah bukti nyata manisnya sebuah rumah tangga; sebuah contoh yang membuat semesta iri dengan takdir indah yang menyelimuti mereka berdua.
Apa yang mereka cita-citakan tentang menjemput maut bersama telah terwujud. Semua keluarga hanya bisa tersenyum bangga walau melepas kepergian mereka terasa berat. Bagaimanapun juga, Tuhan jauh lebih sayang pada kedua pasangan polos dan konyol itu.
__ADS_1