
"Mancing?"
Jennie menatap sang suami tidak percaya. Ajakan mancing yang baru saja Reyno lontarkan sukses membuat wanita itu merinding dalam sejuta pikiran tidak jelas. Segala sesuatu yang berkecamuk ada di dalam otak Jennie saat ini. Terumata kelangsungan hidupnya yang terancam.
Sepertinya akan terjadi bencana, umpat Jennie dalam hati.
Reyno menjawab dengan antusias. "Iya, mancing! Aku belum pernah melakukan kegiatan itu sebelumnya, sih. Jadi aku ingin mencoba melakukan itu bersamamu. Katanya kamu pengin makan ikan segar kan? Mumpung Cello dan Cilla lagi jalan-jalan sama Grandmanya."
Kalimat lembut nan manja itu terdengar seperti bisikan horor. Menusuk dan membuat bulu-bulu kuduk Jennie merinding seketika.
"Ikan yang dibeli di pasar ikan juga seger-seger, Reyn. Sama aja, kok." Mencoba mencari alasan, Jennie berusaha menolak keinginan suaminya.
"Yups, tapi di dalam daging ikan itu tidak ada cinta. Karena ditangkap oleh orang lain. Jika aku yang memancing ikan untukmu, pasti rasanya lebih enak karena buah tangan dari suami tercinta."
Seketika tenggorokan Jennie tercekat. Bagaikan ada bola bekel yang menyumpal bagian dalam kerongkongannya. Menelan ludah pun susah ketika dalam keadaan seperti ini. Jennie tidak dapat membayangkan apa yang akan terjadi dengan pria itu jika tidak mendapatkan hasil pancingan ikan. Masalahnya, Reyno bukan tipe orang yang suka menunggu ketidakpastian. Pasti ia akan ngamuk jika ikan tak kunjung datang.
Mati aku, tahu seperti ini aku lebih baik tidak makan ikan setahun. Bagaimana ini ya, lord?
Maka yang terjadi segera terjadilah. Jennie tidak bisa menahan keinginan mulia sang suami untuk memancing ikan segar untuknya. Sehingga di sinilah Jennie dan Reyno berada. Menatap pintu masuk area pemancingan umum dengan dada Reyno yang membusung bangga.
"Ah, aku sudah mencium bau ikan segar di sini. Aku yakin, semua ikan-ikan itu pasti akan menghampiriku dengan sendirinya. Secara aku tampan."
Bukan begitu cara mainnya ya, Reyn. Ikan hanya akan datang pada orang-orang yang sabar menunggu. Tentunya semua kalimat itu hanya bisa Jennie ungkapkan di dalam hatinya saja. Sebagai manusia yang waras, ia hanya bisa berdoa semoga badai cepat cepat berlalu. Reyno dapat ikan, maka Jennie bisa pulang dalam keadaan selamat.
"Pak, saya mau alat pancing yang besar itu."
Deg. Jantung Jennie nyaris copot saat Reyno menunjuk alat pancing itu. Ala pancing yang hanya dipakai oleh pemancing profesional. Sementara Reyno masih pemula—bahkan belum pernah mencoba.
"Maaf, Pak. Itu agak jarang digunakan, karena targetnya ikan besar, jadi agak sulit untuk dipakai. Jika boleh saya menyarankan, lebih baik pakai kail dan alat yang standar saja."
Tentunya Reyno langsung menggeleng dengan tawaran si petugas ahli pancing-memancing itu. Ia masih percaya dengan teori yang ada di dalam otaknya.
"Saya mau yang besar saja, semakin besar alat pancing yang kita gunakan, pastinya akan menghasilkan ikan yang lebih besar juga 'kan?"
"Iya sih, Pak." Penjaga loket itu menggaruk kepalanya canggung. Teori Reyno tidak salah, tapi tempat yang ia datangilah yang salah. Harusnya Reyno memancing di laut atau danau besar.
"Semoga Bapak bisa mendapatkan ikan yang besar ya, semangat, Pak!"
Petugas loket itu melirik Jennie yang menepuk jidatnya panik.
Tak mau ikut kena masalah, petugas loket itu lebih memilih untuk memberikan semua perlengkapan memancing untuk Reyno. Sambil berdoa semoga pria optimis itu menemukan ikan yang paling besar. Pasalnya, kolam ikan itu hampir tidak pernah dikuras. Ada atau tidaknya ikan besar ia sendiri tak tahu. Apalagi yakin.
Reyno dan Jennie mulai masuk ke dalam area pemancingan ikan. Begitu mengedarkan pandanganya, Reyno langsung menoleh ke arah Jennie dengan tatapan tidak suka.
"Kok cowok semua? Mana istrinya?"
__ADS_1
Sialan! Pertanyaan aneh macam apalagi ini? gerutu Jennie tidak suka.
"Cewek tidak suka memancing, Reyn. Aku saja hanya menemanimu kan, tidak ikut memancing?"
Reyno kembali menatapi wajah para bapak-bapak bengong itu dengan tatapan sinis.
"Aku juga tidak mengharapkan ada cewek memancing. Hanya saja aku heran, kenapa mereka tidak mengajak istrinya? Apakah mereka ingin bersenang-senang dancmenghabiskan waktu libur mereka sendiri saja? Tidak mungkin 'kan, semua yang ada di sini jomlo!"
Sontak beberapa yang mendengar bicara keras Reyno langsung menoleh. Antara tidak suka dan tertusuk lidah tajam seorang Reyno.
Reyno tidak tahu, bahwa para bapak-bapak yang datang ke tempat ini sengaja menghilangkan stress akibat persoalan rumah tangga. Karena tidak semua laki-laki bisa bernasib mujur seperti Reyno. Ada kala pria merasa tertekan saat sedang libur kerja. Maka dari itu tempat mancing adalah hiburan terbaik untuk menghindari omelan para istrinya.
"Quality time bersama keluarga itu penting. Ya sudahlah, semoga saja istri mereka tidak selingkuh karena sering ditinggal mancing."
Pisau tak kasat mata menghujam dada para pemancing yang mendengar ucapan nyinyir Reyno.
Dengan angkuhnya, Reyno melewati para bapak-bapak yang sedang duduk menunggu datangnya ikan. Pria itu mencari tempat yang paling dingin dan sepi, lantas mulai menaruh umpan dan merentangkan kailnya ke arah kolam.
Alat pancing itu terpasang sempurna. Senyum Reyno mengembang dengan harapan ikan akan segera memakan umpannya dengan cepat.
Satu menit, dua menit; tiga menit, empat menit, dan berakhir setengah jam kemudian.
Gaya duduk Reyno mulai gelisah, membuat Jennie yang sedang menunggunya di belakang mulai ketar-ketir. "Je, coba pencet tombol untuk memanggil petugas ke sini. Apa mereka yakin kolam ikan ini ada isinya? Kenapa tidak ada ikan yang mau memakan umpanku? Mungkin saja mereka melakukan pembodohan publik."
Nah kan, sudah Jennie tebak. Pria yang tidak suka menunggu tanpa kepastian itu mulai memikirkan ide gila yang entah datang dari mana.
Pada akhirnya Reyno mau menurut. Tanpa terasa waktu semakin berjalan hingga satu setengah jam lamanya.
"Je, apa ikan-ikan di sini tidak tahu diri? Aku sudah lelah menunggu mereka memakan umpanku!" protes Reyno putus asa. Pada akhirnya ia tidak dapat membendung kekesalannya lagi.
Pria itu meninggalkan area pemancingan. Menghampiri Jennie yang duduk empat meter di belakangnya.
"Ikan-ikannya jahat, Yank," rengek Reyno putus asa.
Oh, sungguh menggemaskan sekaligus menyebalkan. Antara ingin menyayang dan menampar beda tipis.
Reyno bersimpuh di pangkuan sang istri seraya menaruh kepalanya—manja.
"Apa ikan-ikan itu gak tau kalo aku anak sultan? Kita bom nuklir yuk, biar mereka mati semua," seloroh Reyno jenaka.
"Jangan gitu, Sayang. Kamu harus semangat, optimis dapat ikan."
Tet ... Tet ... Telole ... lolet ... tet ... tet
Reyno menekan tombol untuk memanggil petugas yang menempel di tiang dekat kursi tunggu.
__ADS_1
"Mau ngapain, Reyn?"
"Kita lihat saja nanti."
Tidak lama kemudian, datang seorang petugas menghampiri Reyno. "Ada yang bisa saya bantu, Tuan?"
"Kuras kolam ikannya! Mulai hari ini kolam ikan ini adalah milikku. Aku sudah menyuruh manager dari Revical Grup untuk mengakuisisi usaha pemancingan di sini " Suara Reyno sedikit teriak. Di mana beberapa orang yang mendengar suara Reyno langsung menoleh, heran.
"Reyn, jangan gila deh. Kita ke sini mau mancing, bukan beli tempat ini." Jennie tidak menyangka bahawa Reyno akan menggunakan kekuasaan ayahnya hanya untuk sebuah ikan.
"Aku sudah bilang ke papi kalau aku mau nambah usaha kolam ikan. Jadi papi beliin kolam ini untuk kita."
"Wooooh!" Beberapa orang yang mendengar suara Reyno berseru ria. Memuji manusia langka yang sedang duduk di kursi tunggu.
Mulai weekend depan, siapapun yang mancing di sini membawa anak atau istrinya, akan mendapat diskon 40%.
Untuk ide yang satu ini, agak terdengar mulia walau sebenarnya Jennie masih shock dengan sikap Reyno.
"Cepat kuras kolamnya, aku ingin melihat ikan-ikan di sini. Kenapa yang lain dapat ikan, aku tidak."
"Setiap minggu kami selalu menambah tiga ton lele dan dua ton ikan emas di kolam ini. Tidak mungkin tidak ada ikannya, Tuan."
Petugas itu ketakutan, akan sangat repot jika kolam sebesar itu di kuras. Dan memakan waktu lama tentunya.
"Maaf Tuan! Jika kolam ini dikuras, kasihan para pemancing lainnya." Petugas itu berusaha merayu sekali.
"Ah, biarkan saja. Mereka juga tidak kasihan meninggalkan anak dan istrinya seharian. Andai anakku sudah besar, aku pasti akan membawa mereka ke sini."
Kalimat Reyno menusuk para bapak-bapak galau yang ada di area pemancingan. Mendadak mereka kangen istri yang setia mengurus anak di rumah.
"Reyn, liat kail kamu gerak-gerak!" seru Jennie heboh.
Pria itu langsung meraih gagang pancing yang hampir jatuh ke kolam. "Bagaimana ini ... bagaimana cara menariknya?"
Reyno panik bukan main, takut ikan yang sudah bersusah payah memakan umpanya tiba-tiba lepas.
Dengan bantuan petugas, Reyno menggulung tali itu dengan hati-hati. Seorang bapak yang melihat kehebohan Reyno langsung membantu menyerok ikan yang menggelar di pinggiran kolam.
Ikan itu melompat-lompat dalam alat penjaringan. Tak mau ikannya lepas, Reyno langsung meraih ikan itu dan menggendongnya seperti bayi.
"Huah ... ikanku, ikanku ... Lihatlah, semuanya. Aku dapat ratu ikan yang sangat besar."
Kebehohan Reyno semakin menggila, pria itu menciumi bibir ikan. itu berkali-kali. Lupa sudah kalau bibir Jennie lebih enak daripada ikan. (yang mau lihat versi video cek ig: @anarita_be)
Jennie yang melihatnya merinding jijik. Segitu bahagianya Reyno seperti ABG yang berhasil menyatakan cinta.
__ADS_1
Kegilaan macam apa lagi ini, Reyn? Istrimu masih ada di sini, loh.