
Pejuang semester akhir. Itulah yang sedang digeluti Reyno dan teman-temannya menjelang menit-menit mendebarkan pengajuan skripsi. Sungguh detik-detik pengajuan skripsi sama halnya mendapat sensasi mati lalu hudup lagi. Tidur tidak tenang, makan gelisah, mandi pun asal basah.
Maka di sinilah Reyno dan sebagian temannya berada. Berkumpul di sebuah kafe, untuk saling berbagi rasa melepas penat. Menghilangkan wajah miss D yang membayangi pikiran lebih tepatnya.
"Sialan! Gara-gara Miss D bawaanya jadi pengen minum rinso!" Teman Reyno yang paling bodoh mulai bicara. "Dosen itu apa tidak bisa diakali ya? Masa sudah mahal-mahal nyewa calo buat bikin skirpsi masih saja ketahuan," umpatnya lagi.
"Miss D, jangan coba-coba!" Teman yang lain ikut bicara.
Sementara Alex masih diam membisu. Skripsi Alex lebih parah, karena miss D menyuruh Alex merevisi total penguajannya. Padahal, Alex merasa sudah bekerja keras membuat itu sampai begadang setiap hari.
"Nasib dapet dospem miss D," keluh yang lain.
"Sepertinya miss D itu titisan tirek. Seram, pedas, panas kalau mengkritik." Lalu semuanya tergelak bersamaan.
Ya, begitulah derita mereka. Memiliki dosen pembimbing yang apa-apanya harus serba sempurna memalang repot. Tidak boleh ada salah, miss D tidak peduli meski mahasiswanya harus revisi seratus kali. Bahkan, Reyno yang menjadi murid kebanggan miss D saja mengeluh. Bukan ia tidak mampu, namun membagi tugas untuk kuliah, kerja, anak dan istri sangatlah melelahkan.
"Makannya belajar kayak Reyno ... iya gak Reyn?" tanya Nasya sambil menaikkan satu alisnya. Reyno yang duduk di depan Nasya hanya mendengkus kesal. Masih malas peruhal Video.
"Nasya gaya, kayak sendirinya belajar aja!" cibir yang lainnya.
"Tentu saja belajar. Karena membuat skripsi tak semudah menggoreng tempe. Butuh waktu lama. Iya kan, Al?" Mata Nasya tertuju pasa Alex. Seolah ia sedang menghina Alex yang skripsinya habis di tolak. Alex yang merasa kesal memalingkan muka betenya ke samping. Enggan menatap Nasya.
"Cie ngambek. Kamu sih, Al. Main asal-asalan nyerahin skripsi. Kamu pikir durasi membuat skripsi setara dengan video viral 19 menit? Hahaha." Nasya tergelak tidak tahu diri.
Sementara Reyno hanya dapat membatin dalam hati melihat tingkah Nasya yang membuat orang geleng-geleng kepala. Seumur hidup Reyno baru melihat ada jomlo yang tingkahnya di ambang batas wajar. Bahkan, Reyno yang sudah menikah pun tidak berani asal bicara sesuatu yang berbau mesum pada sembarangan orang.
"Reyn! Reyn!" Tiba-tiba Nasya berseru heboh. "Itu bukannya—" Bicara gadis itu tercekat.
"Oh my God!" Nasya menutup mulutnya tidak percaya. Semua orang tertuju padanya. Nasya menunjuk pemandangan yang membuat dirinya heboh sendiri.
"Apaan sih, Sya?" Mata Reyno mengikuti arah telunjuk Nasya. Dan saat itu juga, matanya membola sempurna. Menatap tajam pada dua manusia berbeda jenis kelamin yang baru saja masuk, duduk di kursi pojok agak jauh dari meja Reyno dan kawan-kawan.
__ADS_1
Brakkk!
Reyno menggebrak meja dengan kasar. Semua teman wanitanya teriak tak terkecuali Nasya. Gadis itu merasa di ambang rasa galau, entah niatnya memberi tahu atau jatuhnya membuat keributan. Pasalnya ia ngeri sendiri melihat ekspresi wajah Reyno yang luar biasa seramnya. Tubuhnya menggigil menyaksikan pria marah untuk pertama kalinya.
"Apa maksudnya ini?" Reyno yang baru sampai di meja yang ia tuju langsung melempar pertanyaan sebagai pembuka jalan peperangan.
Di meja itu, Dafa dan Jennie baru saja duduk. Jennie yang di telepon Dafa dadakan lupa menghubungi Reyno kalau hendak bertemu teman lamanya. Ia juga lupa perihahal pertemuannya dengan Dafa saat di sekolah anak-anaknya.
Jika duduk perkara sudah dihadirkan dalam sebuah rumah tangga, segala sesuatu yang seharusnya di jalani terasa lupa. Jennie melanggar sebuah kesalahan yang fatal.
"Apa dia pacarmu, Je?" Dafa bertanya seraya menatap Jennie. Lalu mengulurkan tangan untuk mengajak Reyno bersalaman.
"Jangan salah paham dulu, aku dan Jennie hanya berteman. Kita sudah sangat dekat dari dulu," kata Dafa lagi.
"Dekat?" Reyno meninggikan satu alisnya. Ia sama sekali tidak mengenal siapa pria itu. Jennie bahkan tidak pernah bercerita tentang kedekatannya dengan pria manapun.
"Reyn tenang dulu," tahan Jennie saat melihat Reyno sudah menunjukkan sorot mata membunuh. "Dia sahabat kecilku, namanya Dafa."
"Aku ngga nyangka," ucap Reyno dengan nada lemah, namun sukses membuat tubuh Jennie bergetar kaku. "Ternyata kamu setega ini sama aku."
"Reyn, aku bisa jelasin!" teriak Jennie yang sudut matanya hampir mengenang. Bahkan ia tak punya rasa malu saat semua orang menatap ke arahnya.
"Tenang dulu, Bung. Kita hanya temenan." Dafa mencoba meredamkan hati Reyno, walau sejatinya semakin membuat keadaan Reyno panas membara.
"Apa teman harus bertemu berdua saja? Tanpa izin pada suami pula!"
"Suami?" Kali ini Dafa meninggikan nada bicaranya. "Kamu sudah menikah, Je?
Reyno menyela cepat. "Wanita yang kau ajak bertemu itu adalah istri orang, Bro!" Reyno menepuk bahu Dafa sedikit kasar.
Tak ada raut wajah Reyno yang lembut seperti biasanya. Di saksikan teman-temannya dari kejauhan, Reyno menatap mereka dengan aura dingin yang menusuk.
__ADS_1
"Reyn maaf! Aku lupa nggak kasih tau kamu kalau aku mau ketemu sama temen aku. Maaf ya, lagian kamu juga pergi sama temen-temen kamu gak bilang." Kebodohan Jennie selanjutnya adalah balas menyalahkan Reyno. Membuat pria itu mengepalkan tangannya kesal.
"Oh ya? Sebelum kamu nuduh aku kumpul bareng temen tanpa izin, apa kamu sudah cek hape kamu?"
Jennie merinding seketika. Itu artinya Reyno mengabarinya saat hendak kumpul-kumpul. Hanya saja Jennie yang tidak mengecek ponselnya sedari tadi.
"Reyn, maaf." Jennie mencoba meraih tangan Reyno. Namun pria itu menepisnya dengan gerakkan kasar. "Sumpah aku gak ada hubungan apa-apa sama kak Dafa."
"Kak?" Reyno semakin naik pitam. Emosinya sudah di ubun-ubun saat mengetahui Jennie memanggil pria itu dengan sebutan Kakak. Manis bercampur keparat saat terdengar di telinga Reyno. Sepertinya mereka memiliki kedekatan yang tidak biasa.
"Tolong jangan salah paham dulu, semua ini bisa dibicarakan baik-baik dengan kepala dingin." Dafa menengahi.
"Sudahlah, aku tidak perduli dengan hubungan kalian. Selamat bersenang-senang!" Reyno pergi meninggalkan mereka dengan perasaan berkecamuk.
"Reyno tunggu!" seru Jennie sambil berlari.
Reyno berjalan cepat. Di belakangnya ada Jennie dan Dafa yang ikut menyusulnya. Saat ia hendak membuka pintu mobil. Jennie berhasil mengejar dan menahan pintunya dengan sebelah tangan.
"Aku ikut!" ujar Jennie.
"Gak perlu. Aku mau sendiri!" Reyno sudah duduk di depan kemudi. Namun Jennie masih enggan menyerah. Ia terus menahan pintu mobil dengan sekuat tenaga agar tidak ditutup.
"Awas!" Entah terbawa emosi atau apa, Reyno tak sengaja mendorong Jennie hingga wanita itu jatuh tersungkur. Pria. itu melajukan mobilnya dengan cepat.
Dari balik kaca, Reyno dapat melihat dan mendengar teriakkan Jennie yang menggila. Hatinya begitu sakit. Yang ia mau saat ini adalah tenang tanpa melihat wajah Jennie dan penghianatannya.
Aku benar-benar tidak menyangka kamu tega berbuat seperti itu, Je. Padahal aku selalu terbuka apapun itu. Aku tidak akan sesakit ini jika kamu memberi tahu siapa pria itu dari awal. Nyatanya, kamu membuat mataku melihat sendiri, bahwa kamu sedang bersama pria lain.
Butiran bening itu jatuh dari pelupuk mata Reyno—bersamaan dengan laju mobil yang semakin di percepat. Pikirannya kalut, bayangan wajah pria itu terus berputar-putar di otak Reyno.
Kakak? Ah, lagi-lagi Reyno mendengkus kesal mendengar julukkan akrab yang diberikan Jennie pada pria itu.
__ADS_1
***