
"Farhan ngomong apa?" Jennie terperanjat ketika Reyno sudah menunggunya di balik bingkai pintu. Gadis itu semakin malas ketika mendapati wajah Reyno yang terlihat begitu penasaran.
"Hei!" Reyno berteriak karena Jennie melewati dirinya, gadis itu membanting tubuhnya kesal di atas ranjang. "Aku lagi nanya, Jennie." Hargailah suamimu sedikit walau itu sangatlah berat. Begitulah kata hati Reyno kira-kira.
"Penting banget emang?" Jennie menoleh ke arah Reyno yang sedang berdiri di samping ranjang.
"Kamu kesal karena di tolak Farhan, kan? Entah kamu wanita keberapa yang di tolak. Farhan ngga se gampang William," kata Reyno lalu ikut membanting tubuhnya di samping Jennie. "Jadi beneran ditolak, makanya kesel? Kamu udah jatuh cinta beneran sama dia?" Kedua mata mereka saling bertatap.
Jatuh cinta, aku cuma penasaran.
Entah mengapa aku pengin tahu lebih banyak tentang pria misterius itu. Ada suatu perasaan aneh yang tidak bisa aku mengerti. Bukan cinta, tapi apa ya?
"Ngga ada orang yang aku cinta, hati aku, hampa." Lebih memilih berbohong dari pada mengikuti kata hatinya. Sebenarnya Jennie sudah mulai memihak pada Reyno, namun ia masih belum dapat menerima sisi negatif cowok itu.
"Jadi Farhan ngomong apa sama kamu?" Reyno mengulangi pertanyaan yang belum terjawab.
"Dia cuma minta maaf soal kejadian waktu itu,"
"Hah? seriusan?" Reyno terperanjat kaget. "Mana mungkin seorang Farhan minta maaf duluan sama cewek. Aku ngga percaya!"
"Kalau ngga percaya ngapain nanya!" Jennie membentak Reyno kesal. Walaupun cowok itu tidak percaya dengan jawaban Jennie, ia mencoba untuk bertanya lagi.
"Lalu apa lagi yang dia ucapkan? Kalau kamu bohong, aku ngga akan mau ngelindungin kamu dari siksaan Mami, nanti." Reyno menjatuhkan ancaman yang paling mematikan pada istrinya.
"Ngga ada, dia cuma nanyain kalung aku beli di mana-" Jennie memegang liontin kaca bulat itu. "Abis itu dia pergi," ucap Jennie mempersingkat kronologis kejadian.
"Apa! mana mungkin Farhan nemuin kamu hanya untuk menanyakan kalung murahan seperti itu, Reyno ngga percaya!" Dobel tidak percaya pastinya, dua jawaban yang Jennie berikan terdengar seperti kalimat halusinasi. Farhan tidak memiliki banyak waktu untuk mengurusi hal semacam itu. Kecuali cowok itu memang sudah jatuh cinta pada Jennie, barulah Reyno percaya.
"Kalo ngga percaya ngga usah nanya, aku udah jujur sama kamu. Nyebelin banget, sih! dasar anak Mami nyebelin!" cetus Jennie geregetan.
"Kalau benar seperti itu, bisa jadi Farhan suka sama kamu. Soalnya pria itu tidak pernah melakukan hal kurang kerjaan seperti itu."
"Dia nolak aku," jawab Jennie secepat kilat.
"Kalaupun dia terima ajakan pacaran Jennie, ngga mungkin juga Reyno akan ngelepas Jennie untuk Farhan. Reyno kan udah mutusin ngga akan cerai sama Jennie, jadi ngga usah cari-cari cowok lain." Nada bicaranya sangat anggun, membut Jennie ter-enyuh mendengarnya.
__ADS_1
"Kamu ngga cinta sama aku, ngapain mau terus begini, Mami kamu pasti akan terus mencari cara agar kita pisah. Ingat itu." Jennie mengingatkan jika Reyno lupa. Mami nya jelas tidak menyukai perbedaan kasta yang membentengi hubungan antara Jennie dan Reyno.
"Reyno udah mulai cinta kok, sama Jennie."
Eh, jujur sekali anak polos itu. Bahkan aku yakin kamu ngga tahu rasanya cinta seperti apa.
"Buktinya apa kalau kamu cinta aku?" Hehehe, kali ini kamu pasti ngga akan bisa jawab. Makanya jangan sok tahu.
"Buktinya Reyno ngga mau ngelepasin kamu."
Kok jawaban dia masuk akal, sih? Walau aku ngga percaya. Jennie mencoba mencari alasan lain untuk menyudahi pembahasan cinta Reyno yang sebenarnya adalah fatamorgana.
"Nikah itu harus ada kepuasan batin, dan Reyno ngga bisa ngelakuin itu."
Ya Tuhan, sudah gila apa aku ngomong seperti itu. Mulutku ini kenapa, sih? Kalo ngomong bisa se asal ini.
"Jadi Jennie mikirnya ke arah situ?" Reyno menatap Jennie yang mendadak merah wajahnya seperti kepiting rebus. "Kita kan masih delapan belas tahun, aku pikir Jennie masih ingin bebas. Ngga nyangka kalau pikiran Jennie bisa sampai sejauh itu."
"Empp." Otak Jennie mendadak buntu untuk berfikir. Gadis itu kehilangan kata-katanya. Bukan seperti itu yang Jennie maksud, hanya sekedar iseng untuk menjatuhkan kelemahan Reyno yang tidak bisa menjadi lelaki sejati, tapi kenapa seolah Jennie yang kesannya jadi mendambakan kegiatan semacam itu.
"Reyno bukan ngga bisa, hanya saja belum siap. Tapi kalau Jennie menginginkanya sekarang, Reyno bisa belajar, itu bukan sesuatu hal yang sulit untuk di pelajari. Hanya saja Reyno memang belum ingin mempelajarinya."
Apa! kamu pikir aku menginginkan hal itu. Kamu pikir aku sudah siap? Ahkh, kenapa jadi seribet ini, sih?
Mencoba berfikir untuk mengalihkan pembicaraan mengerikan seperti itu. Bagi Jennie itu terlalu intim untuk anak seusianya, namun ia duluan yang memancing pembahasan tentang hal-hal dewasa seperti itu.
"Jennie...," lirihnya pelan dengan pandangan mata sayu.
Reyno menerkam halus Jennie yang sedang terlentang di sampingnya. Cowok itu langsung merengkuh tubuh Jennie di bawah kungkuhanya. Reyno mulai mendaratkan sebuah sentuhan lembut benda lunak yang rasanya teramat manis, kelembutan yang belum pernah Jennie rasakan sebelumnya. Jennie terperanjat awalnya, namun naluri hasratnya menuntun untuk mengikuti permaian Reyno, gadis itu mulai membuka rahangnya saat serunai Reyno mencoba menembus pertahananya. Sentuhan yang sangat beda dari sebelumnya, kali ini Reyno melakukanya dengan lebih lemah lembut bagai seorang profesional. Rasanya Jennie ingin terbang ke ujung nirwana karena perlakuan itu. Matanya terpejam menikmati permainan benda basah nan kenyal itu.
Aku ingin mati saja rasanya, mengapa si cupu ini begitu sangat menggoda? Ajak aku terbang menjemput rasa itu, Reyno.
Tiba-tiba Reyno memutus kegiatan indah itu seketika. Jennie mendadak buyar, rasanya bagaikan terjatuh menghantam tanah dari atas langit yang tinggi. Sudut matanya menyiratkan sebuah kekecewaan. Buru-buru ia mengumpulkan tingkat kesadaranya kembali.
"Bagaimana, Reyno bisa kan?" Ternyata cowok itu hanya ingin menunjukan kebolehanya. Sialan. Jennie hampir hilang kendali dibuatnya.
__ADS_1
"Dari mana kamu mempelajari hal semacam itu? Kemarin- kemarin kamu masih jijik melakukanya." Melengos kesamping. Tidak berani melihat wajah Reyno sama sekali.
"The world of the married."
"Apa itu?"
"Drama korea yang lagi viral-viralnya sekarang." Jujur sekali, habis ini Jennie pasti marah.
"Jadi semua itu gara-gara drama lagi?" Mendorong tubuh Reyno sampai jatuh ke samping.
Yang ini tipikal cowok ingin cari mati. "Bukan hanya itu, Reyno juga memikirkan Han So Hee saat melakukanya tadi."
"Ya" Teriakan Jennie menggema nyaring di kamar Reyno.
"Berani sekali kau menjadikan aku alat untuk berhalusinasi, sialan! mati saja kau, Reyno!" Jennie menjambak rambut Reyno emosi.
"Siapa itu Han So Hee?" Apa dia cantik. Heh, aku ingin membunuh wanita itu juga bila perlu.
"Artis kesukaan, Reyno." Kini Jennie sudah duduk di atas perut Reyno, bersiap untuk mecakar wajah jenaka itu dengan sepuluh kukunya.
"Kamu sudah pernah ketemu dia?" cecar Jennie semakin emosi.
"Belum pernah, cuma lihat di tv."
"Sialan, kamu bahkan menggunakan tubuhku untuk menghayal seorang artis yang belum pernah kamu temui, sepertinya kamu memang harus mati di tanganku." Cowok itu segera menyingkirkan tubuh Jennie dari atas perutnya. Lalu beranjak untuk lari kabur.
"Reynoooo!" Teriak.
"Aku pastikan akan merobek semua koleksi foto pelakor itu. Bedebah. Sialan. Ngga ada ahlak kamu, suami setan!" Jennie melemparkan bantal dan guling ke segala arah.
Berani-beraninya kamu memikirkan wanita lain saat sedang menciumku.
Kali ini Reyno yang akan mati. Makanya, jangan mencoba memancing harimau yang sedang tidur.
***
__ADS_1