Suamiku Anak Mami

Suamiku Anak Mami
Untitled part 1


__ADS_3

Selama perjalanan menggunakan motor ke Bandung, Reyno terus menggerutu tiada henti. Mengeluh lelah dan minta istirahat. Padahal Jennie yang selalu mengemudi di depan. Jennie hanya menyuruh Reyno cukup duduk diam di belakang. Tapi bukan Reyno namanya kalau tidak bawel. Akhirnya Jennie memutuskan untuk mencari hotel, hari juga sudah malam. Kasian Reyno kalau sampai jatuh sakit. Itulah yang Jennie pikirkan.


"Uang kita tinggal satu juta lima ratus ribu, jangan boros-boros, ya." Jennie duduk di samping Reyno yang sedang asik nonton drama korea di ponselnya, ketawa-ketiwi sendiri tidak jelas.


Memang susah kalau sudah fokus pada yang satu itu, mau ada gempa bumi sekalipun, Reyno tidak akan bergeming, mengedipkan mata saja rasanya tidak.


"Reynnn!" Kesal. Masih tetap di cuekin. Oh, ada adegan seru, Jennie melirik sedikit pada layar ponsel yang di pegang Reyno. Sepertinya mereka hendak berciuman. Jennie menghitung dalam hatinya.


1


2


3


Merebut ponsel itu dari tangan Reyno secepat kilat.


"Jennie!" barulah ia bangun dari alam bawah sadarnya. Matanya melotot tidak senang ke arah Jennie.


"Ini kan hape aku, aku mau ambil hape aku." Jennie duduk di atas ranjang, menaruh guling untuk batas skat mereka. Dengan keji ia menekan tombol keluar aplikasi nonton drakor-nya.


Sebenarnya itu adalah ponsel milik Reyno. Mereka masih dalam posisi bertukar gawai. Namun karena tidak ada aplikasi nonton drama di ponsel Jennie, akhirnya ia mengambil ponsel miliknya. Mumpung Jennie lagi mandi juga.


"Minjem sebentar, itu sedikit lagi mau itu ... " Menggeram kesal. Sesuatu yang nanggung memang tidak enak.


"Mau apa?" Pura-pura tidak tahu.Gadis itu menaruh ponselnya di bawah bantal. Lalu berbaring dan menarik selimut. Reyno yang melihatnya semakin merasa geram. Pikir Jennie sekali-kali harus bikin Reyno kesal. Masa dia terus yang di buat kesal oleh Reyno.


"Tau akh! Jennie nyebelin!" Reyno menghentak-hentakan kakinya di bawah selimut. Bibirnya berkerut-kerut bersamaan dengan lenguhan kesal yang terdengar seperti sebuah umpatan.


"Nih, aku kasih nih, gitu aja ngambek!" Mengambil ponselnya dari balik bantal. Puas juga bikin Reyno ngambek, kalau berlebihan kasihan anak orang.


Reyno langsung membuka aplikasi nonton dramanya, mengulang kembali video yang sempat terjeda tadi. Adegan sebelum ciuman itu di ulang kembali. Senyum-senyum seperti orang gila pastinya. Bahkan Jennie sempat melirik sang suami mengulang beberapa kali adegan romantis itu. Mungkin belum puas jika hanya melihat satu kali. (🤫Ciwi- ciwi pasti kesindir.)


"Eh, kok udahan?" tanya Jennie saat melihat Reyno meletakan ponselnya di atas nakas. Cowok itu ikut berbaring dan menarik selimutnya sampai se—leher.

__ADS_1


"Udah dulu, soalnya masih on going. Tinggal dua bab lagi habis, nanti kalau di tonton semua, Reyno harus tunggu satu minggu lagi baru bisa nonton, jadi harus irit-irit nontonya. Kecuali kalau sudah tamat, baru bisa nonton maraton."


"Oh, gitu ... " Tersenyum kikuk, Jujur Jennie sama sekali tidak paham dengan arah bicara Reyno. Abaikan, lebih baik segera tidur, besok harus melanjutkan perjalanan lagi. Jennie mulai memejamkan matanya.


"Jennie mau ngapain sih, di Bandung. Kenapa harus pergi ke Bandung?" tanya Reyno penasaran. Gadis itu langsung membuka matanya, tidak jadi tidur.


"Mau cari uang, kan aku udah bilang, uang kita tinggal satu juta lima ratus. Nanti kita cari kontrakan sederhana di sana. Reyno jangan protes ya, keadaan kita sudah beda. Reyno bukan orang kaya lagi."


"Memangnya Jennie mau kerja apa di Bandung? Jennie bisa kerja?" Kalau Reyno sih tidak.


"Aku mau balap liar, aku ada kenalan banyak teman di sana." Jennie memperhatikan wajah Reyno, mencari-cari ada tidaknya ekspresi marah di wajah itu.


"Itu kan bahaya!" Benar saja, Reyno langsung marah. Cowok itu pasti tidak akan setuju.


Tapi mencari uang itu susah. Hanya balapan motor liar-lah yang akan cepat menghasilkan banyak uang. Reyno mana tahu kalau hidup tidak ada uang bisa membuat orang menderita. Cowok itu hanya tahu kalau semua yang ia inginkan harus ada. Itulah Reyno.


"Aku kan pembalap, sudah sering latihan. Kamu tenang aja, aku sudah biasa." Jennie mencoba menenangkan Reyno yang sepertinya mulai ngambek lagi.


"Nanti Jennie ajak Reyno ke tempat balapan, biar Reyno tahu. Jennie kenalin sama semua teman-teman Jennie di sana. Reyno tolong ngerti ya." mengusap wajah suaminya dengan lembut. Itu semacam cara merayu versi Jennie.


Eh, ternyata bisa punya pemikiran seperti itu, ya dia! hehehe. Memangnya bisa kerja kamu, Reyn?


"Iya, tidur yuk, kamu pasti capek." Mencoba memejamkan matanya kembali.


"Jennie!" Reyno memangil, Mata Jennie terbuka kembali.


"Apa? masih mau ngobrol?"


"Iya."


"Ya sudah, ayo ngobrol."


"Oh ya, Jennie sebenarnya suka cowok yang kayak gimana, sih?" tanya Reyno tanpa menoleh. Tanganya saling bertaut mencengkeram selimut.

__ADS_1


"Eh, maksudnya gimana?" Bingung.


"Jennie suka cowok yang gimana? ganteng, putih, maco, tinggi, apa gemuk. Itu maksud—nya." Langsung kesal karena yang diajak ngobrol tak kunjung paham. Bisa di lihat dari bola matanya yang berputar malas.


"Oh gitu, aku suka cowok yang badanya bagus dan kekar kayak yang suka aku liat di instagram, terus kalo bisa ngga usah pakai baju. Biar puas liatnya. Hahaha ...." kelakar Jenniea sampai terbahak, tapi itu merupakan jawaban jujur. Memang Jennie suka yang seperti itu.


Eh ... Eh ... mau apa dia?


Tanpa pikir panjang Reyno duduk dan langsung membuka bajunya. Melemparkanya ke sembarang tempat, dan terpampanglah dada bidang itu dengan jelas. Jennie langsung menelan salivanya berkali -kali.


"Ngapain di buka?" Gugup dan membuang pandanganya ke segala arah.


Aku ngga tahan kalau kayak gini caranya.


"Mulai sekarang Jennie cuma boleh lihat Reyno, lihat sepuasnya. Reyno ngga akan pakai baju kalau tidur. Lihat sepuasnya nih, pegang juga boleh. Reyno kan milik Jennie."


Meraih tangan Jennie agar menyentuh dadanya, gadis itu langsung menyentak dan menarik tanganya kembali. Sebenarnya pengin megang, tapi terlanjur malu karena modusnya ketahuan oleh Sang Suami.


"Ya ngga gitu juga kali, Reyn." Kesal dan memalingkan wajahnya ke samping.


"Pantas waktu di pantai itu—" Terjeda karena Reyno mencoba berfikir dan memutar memorinya kembali. Kejadian dipantai itu, saat Jennie memfitnah bahwa dada bidang yang ia miliki adalah hasil operasi silikon. "Jadi waktu itu Jennie lagi modus ya? Biar bisa megang Reyno sepuasnya. Hmmmm ...." Menyeringai.


Apa! apa! gara-gara mulut nyelenehku ini, jadi ketahuan, kan?


"Ya udah, pakai bajumu lagi. Nanti masuk angin. Aku udah puas lihatnya." Jennie yakin pipinya sudah merona malu.


"Ngga mau!" Reyno menarik guling yang menjadi satu-satunya skat diantara mereka. Kemudian menarik tubuh kecil itu kedalam pelukanya.


"Reyn, mau ngapain?" Jennie mencoba mencari cela untuk bernafas, Reyno mendekapnya terlalu erat. Bahkan ia bisa merasakan degub jantung Reyno yang berdetak sangat cepat. Cowok itu mendekatkan wajahnya, nafas hangat itu menggelitik daun telinga Jennie.


"Mau jadi milik kamu seutuhnya," bisik Reyno lalu mengecup kening Jennie.


Ya Tuhan, apakah ini sudah saatnya?

__ADS_1


***


__ADS_2