
Tiada ku sangka, sejak detik itu. Kau membuka pintu dalam dihatiku, cinta yang ter' agung suatu tika dulu, bersinar kembali. Akan kupertahankan cinta ini demi untuk bidadari. Stop! Serius amat dah, ceritanya belum mulai guys, aku mau numpang nyanyi dulu biar viral.
***
Satu setengah bulan berlalu, usia kandungan Jennie memasuki bulan ke tiga, di mana masa nyidam masih berjalan dengan semestinya. Lupakan dulu liburan ke Korea, itu sudah fiks dibatalkan. Kondisi Jennie sama sekali tidak memungkinkan untuk bersenang-senang di saat seperti ini. Lagi pula papi Haris memberinya tiket bulan madu di saat ia belum mengetahui perihal kehamilan Jennie. Jadi tidak salah kalau ia memberi tiket itu untuk mereka.
Hari berganti setiap dua puluh empat jamnya. Jujur, Reyno semakin tidak nyaman tinggal di rumah bunda. Dia tidak kerja, tidak memberikan uang sepeserpun pada istrinya. Itulah yang menjadi beban beratnya sampai detik ini.
Beberapa kali Reyno mengajak Jennie pulang ke rumahnya saja, namun ditolak dengan alasan kehamilannya. Sebenarnya Orang tua Reyno juga memberi uang untuk menggantikan anaknya menafkahi Jennie, namun Jennie menolak hal itu secara terang-terangan. Alasannya ingin berjuang bersama Reyno. Pada kenyataanya, bundalah yang membiayi hidup mereka selama hampir dua bulan.
"Ada yang mau aku omongin sama kamu," ucap Reyno dengan pandangan mata serius. "Aku tahu bunda tidak keberatan dengan kehadiran aku di sini, tapi aku sebagai laki-laki merasa tidak enak dengan keadaan seperti ini. Hidup numpang pada pihak perempuan. Kapan kita bisa mulai berbisnis yang kamu janjikan? Setidaknya aku tidak jadi pengangguran begini."
Deg. Jantung Jennie merasa sesak dadakan. Ia sama sekali tidak berpikir kalau posisi Reyno selama ini tertekan. Ya, benar yang Reyno katakan. Bagaimanapun juga ia pihak laki-laki, pasti Reyno selalu menahan rasa selama ini.
"Maaf ya, Reyn. Aku terlalu asik dengan keadaan kita sekarang, rasanya nyaman bisa dekat bunda lagi. Sampai gak mikirin perasaan kamu.Motor sudah aku jual dan lakunya lumayan. Sebenarnya lokasi dan tempat usahanya juga sudah ada, tinggal kita jalanin aja, tapi aku takut kamu belum siap. Karena aku butuh kerja keras kamu, otak kamu, dan perjuangan kamu."
"Kenapa ngga pernah cerita selama ini? Apa gunanya ada aku disamping kamu kalau kamu tidak terbuka dengan suami kamu sendiri. Apa aku udah gak dianggap lagi sebagai suami kamu? Atau jangan-jangan karena aku tidak becus jadi suami, kamu menyepelekan aku!?"
Astaga. Jennie menutup mulutnya tidak percaya, ada gelengan samar yang menunjukan pikirannya tidak pernah menuju ke arah sana. Dengan tatapan hangat, Jennie mencoba menggenggam tangan Reyno lembut. Menenangkan pria yang matanya sudah hampir memerah karena menahan sakit hati.
__ADS_1
"Ya Tuhan, Reyn. Aku sama sekali tidak berpikir seperti itu. Sumpah. Aku gak ada nganggep kamu tidak berguna, apapun keadaan kamu sekarang, aku selalu memahami, karena sejatinya juga kita masih belum cukup umur. Bunda juga satu pemikiran sama aku. Biarpun Reyno belum maksimal menjadi seorang suami, kita selalu sayang kamu, Reyn. Tidak ada yang menyepelekan kamu apa lagi sampai menganggap kamu tidak berguna," tutur Jennie panjang lebar.
Reyno masih diam mencerna omongan Jennie. Segala kebaikan Jennie dan keluarganya memang patut diberi acungan jempol, namun tetap saja Reyno tidak suka dengan keadaannya yang begini. Ia ingin menjadi lelaki yang berguna, selayaknya suami-suami orang di luar sana. Meskipun Reyno belum cukup umur, apa salahnya mencoba.
"Asal kamu tahu, Reyn. Bunda sangat kagum sama kamu, bunda bilang ayah saja tidak sesabar kamu dalam menghadapi istrinya. Walaupun kamu masih suka ngambek, tapi kamu selalu berusaha untuk membuat suasana hati aku tenang. Mengerti keadaan aku yang sensitif karena faktor hamil. Perjuangan kamu luar biasa, Reyn. Itu kata Bunda."
Tertegun sekaligus terharu, ingin rasanya Reyno berlutut dan mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya pada bunda, karena mau menerima Reyno beserta kekurangannya dengan tangan terbuka.
"Tapi kamu tahu kan, apa yang aku mau? Aku ingin menjadi berguna, yaitu menjalankan tugas aku sebagai suami."
"Maaf ya, Reyn. Aku dan bunda terlalu tidak tega melihat kamu harus menjadi dewasa sebelum waktunya. Apa lagi kalau ingat kamu pernah bekerja sebagai kuli bagunan, bunda bilang hatinya serasa teriris."
"Apapun akan aku coba, tolong jangan menganggap aku seperti anak kecil lagi. Biarkan aku berjuang dan menjalankan kewajiban aku sebagai seorang suami."
"kamu serius? Udah rela pisah dari bunda?"
"Ya tidak. Nanti bunda akan main ke rumah kita untuk nengokin keadaan aku. Kalau bisa, rumah kita harus di tengah-tengah. Antara rumah aku sama rumah orang tua kamu, biar adil."
"Makasih ya, Je." Ada kecupan manis yang mendarata di bibir Jennie singkat. "Aku akan menggunakan uang modal dari istri aku sebisa mungkin. Dan menjadikannya berkali-kali lipat."
__ADS_1
"Amin!" seru Jennie seraya bersyukur. "Tapi kamu bisa, kuliah sambil buka usaha? Nantinya aku kan harus ngurus anak, gak bisa bantu banyak."
"Aku bisa, dan kuliah aku juga gak akan mengganggu keungan kita. Karena pihak sekolah sudah mengembalikan beasiwa kuliah aku yang sempat ditarik."
"Benarkah? Aku senang dengarnya, Reyn. Suami aku hebat banget! Cup ... cup ... cup." Jennie menghujani sejuta kecupan di wajah Reyno, membuat bibir itu mengukir senyum dengan sempurna. Indah dipandang.
"Ada satu lagi, dana beasiswa aku pas SMA juga sebentar lagi akan cair, kalau dihitung-hitung totalnya mencapai hampir sepuluh juta. Bisa untuk tambahan keperluan baby kita," ucap Reyno dengan garis bibir tertarik setengah lingkaran. Menambah kean manis saat di pandang.
"Oh ya, makasih ya, Reyn. Ternyata selalu ada jalan untuk kita. Tuhan baik banget ya, Reyn. Meski kita pernah susah, tapi semua itu dapat terlewati dengan baik."
"Iya. Baik, banget. Aku jadi tidak menyesal menikah muda, banyak hadiah yang aku dapat. Terutama kamu, dan calon keluarga kecil kita nanti."
Semua masalah terpecahkan. Pada intinya, setiap insan yang memutuskan untuk naik ke jenjang pernikahan memang harus hidup mandiri. Meskipun harus hidup ngontrak sekalipun.
Tinggal di tempat salah satu orang tua memang tidak salah. Namun hal itu dapat memacu kecanggungan dan membuat pernikahan kita tidak seimbang. Jalan satu-satunya adalah pisah dan hidup mandiri. Itulah pelajaran yang harus kita ambil.
Pisah dengan orang tua memang berat, namun perasaan hati pasangan kita adalah hal yang harus diutamakan.
***
__ADS_1
Udah akh, sedih aku ngetiknya tau. Mereka manis banget gak sih?
Buat yang mau konflik request pernikahannya di buat cerita seperti di atas, DM aku ya @anarita_be, kalo cocok aku jadiin cerita + pemecahan solusi pastinya. Semoga bermanfaat buat yang punya masalah seperti di atas.