
Jennie benar-benar tidak menyangka hubungannya dengan sang mami mertua bisa berubah drastis seperti ini. Entah dapat angin segar dari mana. Bahkan mami memanggil Jennie ke ruang bacanya hanya untuk bicara empat mata dengannya.
Awalnya Jennie kira akan ada adegan baku usir dan drama ala-ala seperti dulu. Namun nyatanya sungguh mencengangkan, mami Dina rela merendahkah harga dirinya untuk meminta maaf duluan. Beliau juga bilang menyesal karena telah melukai hati Jennie.
Nasi sudah menjadi bubur, lebih baik dimakan pakai kecap dan kerupuk. Meskipun tidak ada ayamnya sekalipun. Itulah perumpamaan Jennie di mata mami Dina sekarang. Bubur ayam tanpa ayam juga bisa kita nikmati dengan hikmat jika kita senantiasa bersyukur. Sama halnya dengan Jennie yang beda kasta. Walaupun Jennie tidak sekaya Reyno, namun gadis itu mampu membuat Reyno merasakan sensasi menjadi bucin. Membuat pria itu merasa menjadi prioritas di tahta paling tinggi yaitu, pria istimewa di hati Jennie.
Seperti apapun Jennie di mata mami Dina sebelumnya, ia tetap akan menjadi pemenang di hati Reyno. Hal itu sudah berlaku mutlak dan tidak dapat diganggu gugat.
Sudah saat mereka berdamai dengan keadaan. Saling menerima adalah jalan terbaik. Jika Reyno saja bahagia memiliki Jennie di sampingnya, harusnya mami Dina juga ikut bersyukur dan bahagia juga.
Berbisik-bisik ria, tapi bukan bisik tetangga. Itu adalah suara Reyno yang menusuki gendang telinga Jennie sedari tadi.
"Yank, katanya mau mantap-mantap. Kuy Lah," bisik Reyno tidak ada akhlak. Secara baru jam satu siang. Anak-anaknya saja masih aktif lari-larian. Sama sekali bukan tempat dan waktu yang pas untuk begituan.
"Aku gak ada ngeiyain permintaan kamu ya, Reyn!" balas Jennie sewot.
"Ada kok!" kekeh Reyno tak mau kalah.
"Kapan?" Jennie semakin sewot karena merasa ia tidak pernah mengiyakan permintaan gila seorang Reyno.
"Waktu kamu bilang selalu rutin minum pil KB, saat itulah kamu mengiyakan permintaan aku sebagai seorang suami."
Sialan, mendadak Jennie merasa salah dalam berucap. Seharusnya ia bilang pas malam saja, saat mereka sedang berdua, di dalam kamar dengan suasana nyaman. Bukan lagi di rumah mertua yang notabene ada tiga bocah polos berlarian.
Seketika hening. Reyno tidak protes dan Jennie pura-pura sibuk main game agar ajakan tak berakhlak dari suaminya terlupakan. Setidaknya Reyno mau menunda.
"Pinjam hape kamu dong, hapeku ketinggalan di mobil soalnya."
Lalu, suara Reyno memecah kebisuan di antara mereka. Jennie agak sedikit senang karena pembahasan ranjang itu sedikit teralihkan.
"Mau buat apa?" Game sudah dikeluarkan. Bersiap memberikan ponselnya pada Reyno.
"Mau browsing-browsing di internet."
"Browsing apa?" tanya Jennie yang merasa aneh sendiri.
"Cuma mau baca-baca aja, kira-kira istri yang nolak diajak main kuda-kudaan sama suami dosanya segede apa."
Dueerrrrr...
Double sialan. Kenapa mulut Reyno selalu manis bercampur kebangsatan sih? Pintar sekali membuat orang merasa tertekan dengan rangkaian kata yang benar sekaligus menusuk. Agak sedikit busuk.
"Ya udah ayok! Tapi kamu yang izin sama mami dan anak-anak," ucap Jennie yang mulai putus asa. Dari pada Reyno guling di sini, malu kalau dilihat yang lain 'kan.
"Yes ... Yes!" Reyno bangkit riang gembira. Akhirnya ia memiliki kesempatan untuk menjelajah sungai amazon setelah sekian lama kapalnya hampir kandas. Semoga saja tidak ketemu piranha, alias anak-anak kesayangannya yang suka nyebelin.
__ADS_1
***
"Tadi kamu ngomong apa ke mami?" cecar Jennie yang hatinya sudah ketar-ketir tidak. Jelas.
"Aku bilang ke mami, tolong jagain anak-anak sebentar. Aku sama kamu mau cari yang enak-enak dulu di kamar."
"Serius kamu bilang gitu?" Astaga. Jennie nyaris shock di ambang rasa malu yang menggila hebat. Bagaimana ia keluar nanti? Baru saja Jennie berdamai dengan mami Dina, malah dapat cap jelek lagi gara-gara kelakuan Reyno.
"Iya," jawab Reyno mengkonfirmasi. Wajahnya tampak tenang dan polos seperti bayi baru lahir.
"Ya Tuhan, kenapa kamu jujur banget sih? Bilang kamu sakit, atau apa gitu." Jennie jadi kesal sendiri. "Terus mami kamu bilang apa?"
"Cuma nge'iyain aja. Mami pasti sudah paham lah, kita mau apa."
Pintu kamar sudah dikunci oleh Reyno. Waktunya melepas semua baju dan mengarungi dalamnya sungai amazon.
"Aku gak enak loh, Reyn. Masa bertahun-tahun gak pernah ke sini. Tiba-tiba dateng cuma numpang begituan. Malu tahu!"
Reyno yang merasa tidak sependapat dengan sang istri berubah masam. "Kenapa harus malu? Kita gak berzina. Bukannya itu bagus, artinya kamu selalu nurut dan memenuhi kebutuhan suami. Gak akan ada yang nge'cap kamu jelek," ujar Reyno seolah tahu apa yang sedang Jennie pikirkan.
"Tapi—"
"Mami pasti ngertiin lah, lagian sekarang papi rajin pulang ke rumah. Jadi nggak ada kata iri lagi. Itu menurut yang aku baca di wajah mami tadi."
"Astaga Reyn!" Jennie menepuk bahu Reyno, gemas. "Kamu berdosa banget!"
Ah, Reyno terlalu pintar merangkai kata. Lebih baik Jennie mengalah karena sudah tahu akhirnya akan kalah. Waktunya bersikap pasrah. Terkunci di bawah tubuh sang suami seraya mendesah.
"Jadi mau ngasih jatah gak nih?" sergah Reyno saat melihat raut wajah sang istri yang tidak bisa ditebak.
"Iya udah cepetan!" bentak Jennie kesal.
"Ugh. Marah-marah terus istri aku. Gimana mau enak kalau dijutekin," protes si pemilik bibir laknat itu.
"Jadi mau apa engga!"
"Ah iya ... iya!" Reyno mulai mendekat.
Melakukan ritual permulaan seperti pada umumnya. Sebenarnya Reyno sudah tak tahan dan ingin segera masuk ke dalam lubang surga dunia menggoda milik Jennie, namun harus bisa membuat kesan baik pada Jennie dulu. Daripada istrinya kesakitan dan gagal dapat jatah. Kan jadi rugi.
Bagian penutup atasan Jennie sudah terbuka. Reyno memandang dua benda mencolok itu dengan tatapan ragu. Antara mau nyusu atau langsung pada titik itu.
"Yang biasa dipegang Ello yang mana? Aku gak mau bekas tangan dia." Reyno kembali mendebatkan masalah anak.
"Yang kiri, kamu yang kanan aja," ucap Jennie menjawab seadanya.
__ADS_1
"Tapi yang kanan kecil. Kalau yang kiri gedean dikit."
"Astaga! cuma beda dikit."
"Otak matematika aku gak bisa ditipu, Je. Aku tau perbedaan ukuran meskipun hanya seusap." Tangan Reyno sudah bergerilya, meski mulutnya masih setia bicara.
"Besok-besok kamu pindahin. Yang kanan buat Ello, yang kiri punya aku. Ngerti gak?"
Jennie yang sudah mendapatkan sentuhan-sentuhan hanya dapat mengangguk seraya menggeliat.
"Sekarang aku mau dua-duanya," ucap Reyno dengan tidak tahu dirinya.
"Banyak gaya! Padahal biasanya juga mau dua-duanya," ujar Jennie mengolok sebal.
"Je!"
"Hmmm."
"Mau ngobrol terus apa gimana? Kamu diem dong, ayo pindah ke tempat tidur. Gak enak berdiri di depan pintu. Kita bukan lagi bikin video."
Ingin rasanya Jennie menjerit sekuat tenaga. Padahal yang protes setiap saat adalah Reyno. Mulutnya bercelotek ke mana-mana, tapi ia terus yang selalu disalahkan.
Kembali lagi pada pasal gila yang Reyno buat sesuka hati, apapun yang terjadi, Reyno Giovani tidak pernah salah.
Reyno sudah berhasil menidurkan Jennie di atas kasur. Ah, rasanya sudah lama tidak main di kamarnya sendiri. Bayang-bayang rindu masa kecil terlintas di kepala Reyno. Ia sendiri masih tidak menyangka, si anak kecil yang dulunya culun telah berubah menjadi pria jantan sedunia. Itu menurut Reyno. Karena ia tidak sudi memandang pria lain yang lebih baik darinya.
"Jadi ngga sih?" tegur Jennie geregetan. "Kalau gak pengin gak usah maksa!" ketusnya lagi, merasa diabaikan karena Reyno terus mematung. Padahal pria itu sedang tersihir masa lalu.
"Papa ... Papa ... buka pintu, Ello mau masuk!" Teriak Cello dari balik pintu.
Reyno mendesak kesal, baru juga pegang pembungkusnya. Belum sampai masuk, namun si Piranha sudah mengganggu dengan teriaknya.
"Mau ngapain masuk? Ello main mobil-mobilan aja sama Iban," cegah Reyno yang tidak mau rugi. Pria itu duduk kembali. Menarik selimut untuk menutupi dua gunung kembar sang istri.
"Iban nakal, Pa. Ello gak mau main sama Iban!" adunya teriak. Tentunya sambil menggedor pintu minta dibuka.
"Main sama grandma atau Cilla kan bisa, Papa lagi sibuk sayang."
"Sibuk apa Pa?" tanya Cello penasaran. Harus ada jawaban masuk akal dulu baru anak itu mau pergi.
"Papa lagi bikin eksperimen. Mau bikin Oli motor yang warnanya bening, biar kalo kena pipi kamu gak item. Jadi Ello gak kotor kalau main ke bengkel."
Apapun yang terlintas dipikiran Reyno diucap begitu saja.
"Oke, Pa. Semoga berhasil bikin oli beningnya. Ello mau pergi aja." Ketika ucapan papanya masuk akal, Cello pun pergi meninggalkan pintu kamar Reyno.
__ADS_1
Jangan lupa ada istri yang terlentang kaku, hampir shock mendengar sang suami yang pintar bersilat lidah.
***