Suamiku Anak Mami

Suamiku Anak Mami
Nginep


__ADS_3

"Kamar Jennie ngga banget, sih!"


Satu kalimat menyebalkan mulai muncul dari bibir sialan Reyno begitu Jennie membuka pintu kamarnya. Cowok itu duduk di ranjang Jennie, mengedarkan pandanganya kesana-kemari. Melihat seisi kamar yang tidak ada nuansa wanitanya sama sekali.


"Kamu mau ngomong apa di kamar?" kesal Jennie melipat kedua tanganya di depan dada. Menatap Reyno yang sedang duduk sambil menilai seisi kamarnya.


"Mau minta jatah malam pertama."


"Hah?"


Sontak Jennie mundur satu langkah. Bergidik ngeri mendengar kalimat menakutkan itu.


Apa-apaan bencong ini. Kesurupan, ya.


"Jangan macem-macem, heh. Ini rumahku, bukan di rumah kamu." Jennie membulatkan matanya, menatap Reyno dengan pandangan mengancam.


"Hahaha. Jennie jangan takut. Bukannya kamu sudah tahu, kalau Reyno ngga bisa begitu-begituan. Jennie lupa, ya?" Reyno menyeringai lucu.


Huuuuh. Jennie menghembuskan nafas lega. Reyno itu tidak bisa di tebak, cowok itu bisa mempelajari apapun dalam waktu singkat. Seperti ciuman yang mereka lakukan di pantai, itu merupakan bukti nyata bahwa cara belajar Reyno sangatlah cepat.


"Sebenarnya mau kamu apa, sih? tadi pagi kamu ngediemin aku. Bahkan dari Maldives sampai ke Indonesia, kamu terus ngambek gak jelas. Sekarang kamu datang seolah ngga pernah terjadi apa-apa diantara kita, aku tuh pusing sama kamu, Reyn." Kesal. Deru nafas Jennie naik turun tidak jelas.


"Aku memang begitu, ngga bisa marah-marah terlalu lama. Kalo ngambek, nanti lama-lama bosen sendiri." Reyno merebahkan tubuhnya di kasur Jennie. Sementara Jennie masih setia berdiri melipat tanganya di depan dada.


"Terus hal penting apa yang mau kamu kasih tahu," tanya Jennie jutek.


"William, Mami dan Papi sedang bersiteru di rumah. Mami semakin benci sama kamu gara-gara Kak William membatalkan rencana pertunanganya demi kamu." Reyno menaruh kedua tanganya di belakang kepala sebagai bantalanya. Matanya melihat ke arah langit-langit begitu sayu. "Kaka bilang mau ngajakin kamu kawin lari."


"Gila, ya. Bedebah itu apa tidak berfikir kalau aku sudah menikah." Jennie kesal sendiri.


"Tapi Jennie mau ngga, kalo diajakin pergi sama Kaka?"


"Ngga, lah. Bunda sama Ayah aku bisa marah besar. Aku ngga mau bikin mereka malu."

__ADS_1


"Kamu kuat-kuat aja di rumahku nanti, Mami pasti bakalan sering hukum kamu. Jangan sampai bikin kesalahan," ucap Reyno menasehati.


"Kan kamu sumbernya, hei. Kamu yang apa-apa selalu ngadu ke Mami," gerutu Jennie emosi. Reyno selalu saja tidak tahu malu begini. Jennie di hukum juga gara-gara dia.


"Itu salah Jennie, siapa suruh kamu bikin Reyno kesal."


"Iya-iya, deh. Reyno selalu maha benar. Jennie yang salah. Puas?" gerutunya marah.


"Hahaha, itu kamu tahu. Jennie ngga ada baju tidur, kah? masa Reyno tidur pakai jeans begini, risih." Jennie diam sambil mengerutkan alisnya. Gadis itu menuju lemari lalu mengambil kaos polos dan celana joger miliknya.


"Pakai ini aja, itu belum pernah aku pakai, soalnya gede banget, tapi kaosnya sudah pernah aku pakai." Jennie mengulurkan satu stel baju untuk Reyno. Cowok itu bangun lalu menerimanya tanpa umpatan perotes. Tumben sekali.


"Jennie masuk selimut dulu, aku mau ganti baju."


"Ribet!" bentaknya kesal. Namun ia langsung masuk kedalam selimut.


Ada sekitar 5 menit, tetapi Reyno tidak memberinya aba-aba kalau sudah selesai. "Udah belum?" tanya Jennie kesal.


"Udah, tapi begini." Reyno berusaha menarik bajunya kebawah, karena sebagian perutnya masih kelihatan.


"Apaan, sih!" Reyno ikut masuk ke dalam selimut. Berbaring di samping Jennie. Ketika gadis itu hendak menaruh skat guling di tengah-tengahnya,Reyno menarik tubuh Jennie kedalam pelukanya.


"Hei!"


Kurangajar sekali cowok ini.


"Sebentar aja, please." Reyno mengeratkan pelukanya.


"Kamu kenapa, sih?" tanya Jennie karena melihat wajah Reyno berubah murung seketika.


"Kamu ngga sedih, kah?" Pertanyaan dibalas dengan pertanyaan, itulah Reyno.


"Kenapa aku harus sedih?" Jennie sudah tidak memberontak. Ia membiarkan cowok setengah jadi itu memeluknya. Ini lebih ke pelukan antara ibu dan anak. Bukan suami dan istri.

__ADS_1


"Hari ini teman-teman kita semuanya mengikuti ujian. Hanya kita berdua yang bernasib sial seperti ini. Reyno sedih kalau mengingat hari ini. Harusnya kita berdua duduk di depan komputer, seperti anak diusia kita yang lainya. Bukan malah menikah seperti ini. Bahkan kita berdua saja ngga tahu caranya menjalani pernikahan," tutur Reyno. Jadi ini alasan dia memeluk Jennie. Cowok itu butuh sandaran. Semenjak menikah, sudah tidak ada sandaran lagi untuk dirinya.


"Iya juga, sih. Aku juga ngga tahu masa depan aku nantinya kayak gimana. Boro-boro kuliah, SMA saja kita ngga tamat. Jaman sekarang, tamatan SMP mau kerja apa?" Eh. Jennie jadi ikut sedih juga. Memikirkan nasibnya yang kurang baik.


"Kamu mending perempuan, kalau Reyno kan laki-laki. Ngga sekolah begini pasti malu."


"Kan kamu mau sekolah di luar negri kata Mami kamu, lagian orang tua kamu-kan kaya, gak perlu kerja juga gak masalah."


"Hus, kamu sembarang, yang kaya itu orang tua Reyno, bukan Reyno. Tetap saja masa depan keluarga Reyno nantinya akan di tentukan oleh Reyno sendiri. Masalah sekolah di luar negri, Reyno kurang minat, Reyno hanya ingin sekolah sewajarnya."


"Tapi sekarang kita harus gimana, anak seumuran kita memang bisanya hanya merepotkan orang tua. Mau kerja juga ngga akan ada yang mau nerima anak kecil seperti kita. Bersykur sajalah, orang tua kita masih mau ngasih kita makan. Eh, memang kenapa kamu kurang minat sekolah di luar negri?" tanya Jennie kemudian.


"Ngga suka aja." Jawaban yang tidak pernah mengahsilkan jawaban.


"Aku tuh heran sama kamu, kenapa ngga homeschooling aja, kan sama aja, bisa sekolah."


"Mami sudah suruh, kok. Cuma Reyno belum mau aja. Masih shock kalo keinget dikeluarin dari sekolah dadakan begitu."


"Memang gak bisa nyogog gitu, biar gak dikeluarin?"


"Mami itu malu sama gosip kita yang beredar, makanya dia ngga bertindak apa-apa. Banyak anak temen sosialita Mami yang sekolah di sekolah kita. Mungkin itu alasan Mami ngga melakukan itu. Tidur, yuk. Reyno udah ngantuk nih," ajak Reyno sembari menguap.


"Tidur sih, tidur. Tapi lepas dulu dong pelukanya. Ini namanya melanggar perjanjian kontak fisik."


"Kali ini aja, Reyno butuh Tayo soalnya."


"Jadi malam ini aku dijadiin boneka kamu?" Kesal. Marah. Tidak jelas.


"Bisa dibilang seperti itu." Reyno mengeratkan pelukanya kembali. Memeluk Jennie jauh lebih nyaman berkali-kali lipat dari Tayo si boneka kesayanganya.


***


Curhat.

__ADS_1


Sebenernya aku itu pengin tahu, pembaca novelku itu umurnya berapa aja, pengin ku sesuain sama selera pembaca, cuman gak sopan ya, kalo nanyain umur. Tapi aku penasaran. Apa masih sekolah, udah kerja, atau ibu rumah tangga. Aku pengin kenal kalian. Abaikan deh, kalo gak penting.


__ADS_2