
Jam menunjukkan pukul 08.00 malam. Acara ulang tahun Reyno sudah selesai dari jam empat sore. Rasa bahagia menyelimuti hati Reyno saat ini. Jiwanya terasa damai ketika ada seribu anak-anak panti yang menutup acara ulang tahun Reyno dengan mendoakan kebahagiaan keluarganya dengan tulus.
Ulang tahun Reyno terasa bermakna saat ia mampu berbagi. Ini jauh lebih membanggakan dibandingkan ulang tahun berkedok bisnis yang dulu sering Reyno rayakan bersama keluarga. Setidaknya, uang sponsor dari perusahaan papi yang Reyno gunakan sedikit bermakna. Berkah amal baik tak akan menghianati pemiliknya.
Melihat tawa bahagia anak-anak saat menerima bingkisan hadiah, membuat Reyno tak henti-hentinya bersyukur. Walaupun keluarga terbilang berkecukupan, tapi Reyno juga pernah merasakan hidup susah. Kelaparan, tidak punya uang, kurang makan dan hidup di bawah standar sederhana. Semua itu tidak akan pernah Reyno lupakan. Akan selalu terkenang di dalam hati untuk selamanya.
Seperti kebaikan Reyno saat ini, anak panti juga akan mengenang Reyno dan keluarga sebagai dewa penolong yang dermawan.
Dari semua kejadian yang mengiringi langkah hidupnya, Reyno semakin paham bahwa Tuhan selalu memberikan perkara hidup yang setimpal kepada umatnya. Kaya ataupun miskin, akan tetap diberi ujian dan kebahagiaan masing-masing. Sayangnya, ada banyak manusia yang menganggap dirinya tidak seberuntung orang lain. Padahal, yang dianggap beruntung belum tentu sebahagia yang ia kira.
Bersyukur adalah kunci utama.
***
Bodohnya, Reyno lupa kalau ciuman dapat menimbulkan efek berkelanjutan. Nahas, ia hanya meminta satu jam ciuman tanpa ada embel-embel lainnya. Sehingga terjadilah istilah yang di sebut kepalang tanggung. Membuat kepala menjadi pening sekaligus gantung.
"Ciuman satu jam nonstop sampai gumoh, tapi gak ada lanjutannya sama sekali," protes Reyno kesal.
Pria itu baru saja keluar dari kamar mandi, membersihkan tubuh lelahnya sehabis acara ulang tahun.
"Jreng ... jreng ... jreng ...." Jennie tak hentinya mengejek seraya menahan tawa. "Yang ulang tahun gak boleh ngambek, dong."
Menepuk-nepuk bahu Reyno, sebuah alat pengering rambut sudah terpegang di tangan kanan. Setelah mendudukan suaminya, Jennie mulai mengeringkan rambut Reyno dengan telaten.
"Malam ini anak-anak mau tidur bareng kita, jadi sabar ya. Reynoku 'kan selalu sabar." Masih terus mengeringkah rambut suaminya sambil cekikikan.
"Ngejek ceritanya?" gerutu Reyno tidak suka. "Reyno selalu sabar, tapi enoki yang gak bisa sabar, gimana dong?"
"Toppoki lagi hiatus dulu, Reyn."
Tidak lama kemudian, dua anak pengacau datang. Sudah membawa boneka dan selimut masing-masing. "Hallo Papa, camat ulang tahun." Cilla berlari riang, naik kepangkuan Reyno diikuti oleh Cello. Kedua anak itu mencium papanya bangga.
"Selamat ulang tahun, Papa.
"Terima kasih ya, sayang-sayangnya papa. Makasih hadiahnya juga. Papa bangga lihat kalian berdua nanyi di atas panggung. Suka banget sama kejutan Cilla dan Cello." Reyno balas mencium mereka secara bergantian.
"Makaci uga buat papa, Cilla ceneng banget, Pa. Banyak temen-temen, ada oppa juga."
"Oppa?" Jennie terhenyak dari kegiatan mengeringkan rambut Reyno. "Oppa siapa, sih?" Mata Jennie sudah menembus kaca. Melayangkan pandangan tajam pada sang suami.
__ADS_1
"Oppa salange kecayangan Cilla."
"Papa ...." Nada suara Jennie mengayun tegas. Meminta pertanggung jawaban atas gaya bahasa baru yang Cilla ucapkan.
"Itu lo, Ma. Cilla suka banget sama Alex. Temennya, Papa."
"Tul ... tul," timpal Cilla mengiyakan.
Reyno melirik dua tuyul dipangkuannya. Yang satu masih sumringah, dan satu lagi sudah mulai lelah. Terbukti tangan Cello sudah tidak bisa dikondisikan.
"Jangan pake bahasa aneh-aneh ya, Nak. Panggil om aja."
"Appa! Omma!" Cilla mulai memancing dengan merubah panggilannya.
"Eh! Bandel nih ya, nanti Cilla gak boleh tidur bareng papa dan mama kalau nakal."
Melirik Cello, Jennie mengambil si jagoan yang tangannya sudah tidak bisa dikondisikan. Menggendongnya lalu meletakan Cello di atas kasur dengan hati-hati.
"Mama mau bobo sama kakak Ello. Gak mau sama orang Korea." Kalimat Jennie tertuju pada sang papa dan anak bungsung perempuannya yang masih duduk bergeming.
"Gak mau! Maapin Cilla, Ma." Gadis kecil itu berlari ketakutan. Ikut menubruk sang mama yang sudah berbaring di atas ranjang bersama Cello.
"Gak boleh di ulangi ya, jangan ikut-ukutan virusnya Papa!" Jennie melirik Reyno dengan mata sinis. "Kamu sih, ngajakinnya nonton kartun Korea."
Ingin mengiyakan, namun si kecil Cilla lebih memilih diam. Bersembunyi di balik punggung sang mama untuk menghindari perdebatan.
"Gitu ya Cilla, gak salange sama Papa. Katanya mau ketemu Ji Chang Wook?"
Ada bantal melayang ke permukaan wajah Reyno. Pria itu tergelak kencang sampai perutnya nyaris kram.
"Sudah keluar sana, Pa. Biarin anak-anak tidur dulu."
"Iya, mama Panda yang bawel." Reyno melangkah keluar menuju ruang kerjanya. Meninggalkan Jennie yang sedang menidurkan kedua anak-anaknya.
Hingga waktu menunjukkan pukul dua belas malam, Reyno belum juga kembali ke dalam kamar. Membuat Jennie merasa kehilangan.
Mengendap-endap keluar menuju ruang kerja sang suami, Jennie melongok tanpa sepengetahuan suaminya. Dilihatnya Reyno sedang pusing memanajemeni laporan keuangan bengkel.
"Reyn!" Jennie memberanikan diri masuk. Melangkah anggun untuk melihat suaminya sedang apa.
__ADS_1
Pria itu mendongak, meletakan pensil stylusnya di atas meja. "Iya, ada apa?"
Tanpa pikir panjang, Jennie menarik kursi duduk Reyno. Menjatuhkan tubuhnya di atas pangkuan sang suami.
"Kamu masih marah ya, sama aku? Kamu kesal sama perlakukan aku yang sering pergi bareng temen-temen."
Nada bicara Jennie terdengar serius. Wanita itu menaruh dagunya di bahu Reyno.
"Marah? Bahkan hari ini aku lagi bahagia banget. Kenapa aku harus marah? Toh itu hanya kesalahpahaman."
"Tapi aku ngerasa kamu aneh! Kamu beda, Reyn." Jennie mendongak dengan mata yang berkaca-kaca.
Ada sesuatu yang mengganjal di di hatinya, namun wanita itu tidak paham di mana letak perbedaan pada suaminya.
"Memangnya apa yang beda dari aku?"
"Entahlah, aku tidak tahu. Hanya ngerasa kalau kamu beda aja."
Lalu, Reyno mengelus rambut panjang Jennie. Melayangkan sebuah kecupan sayang di kening calon bidadari surganya.
"Apa aku cuek sama kamu?" tanya Reyno lembut.
"Tidak!"
"Menurut kamu aku masih perhatian dan sayang, kan? Hubungan ranjang kita juga tidak ada masalah."
"Iya, masih. Memang tidak ada masalah apapun."
"Galak?"
"Tidak sama sekali. Kamu masih sama seperti biasanya. Perhatian, sayang, suka khawatir berlebihan, sayang pada anak-anak. Hanya saja ...." Jennie sengaja menjeda ucapannya.
Setelah menahan agar tidak terlihat cengeng, akhirnya bulir bening itu jatuh. Semakin deras sampai Reyno harus mengusapnya berkali-kali.
"Hanya saja apa? ... hubungan kita sama sekali tidak terganggu. Masih harmonis seperti biasanya, kan?"
"Aku tahu. Hanya saja, aku merasa ada yang hilang."
"Entah itu apa," isak Jennie semakin jadi.
__ADS_1
Reyno tersenyum manis. Ada kilatan bahagia yang tidak bisa diukur menggunakan kata-kata. Mungkin, sudah saat Jennie mengetahui sebuah rahasia yang Reyno simpan selama ini. Nyatanya, Jennie merasa kehilangan saat yang itu tak lagi ada.
***