Suamiku Anak Mami

Suamiku Anak Mami
Ke Jakarta


__ADS_3

Menurut Jennie, Reyno adalah malapeta yang berujung bahagia. Jika ia mendapat pilihan untuk menukarkan Reyno dengan apapun yang paling berharga di muka bumu ini, ia tak akan mau melakukannya. Reyno adalah hal berharga yang tak akan pernah Jennie tukarkan dengan apapun di dunia ini.


Reyno dan Jennie sedang dalam perjalanan menuju kota Jakarta. Mereka berdua di jemput oleh Farhan, pria itu langsung turun tangan menjemput mereka berdua ke Bandung.


"Kira-kira besok aku bisa ngerjainnya ngga yah?" Jennie ketar-ketir sendiri. Hampir semua materi yang Reyno berikan, hanya nyangkut setengahnya di otak Jennie. Ia sudah berusaha sebisa mungkin, namun otak kecilnya tidak bisa menampung materi sebanyak itu.


"Ujian paket C ngga sesusah ujian biasa, kalau kamu masih merasa susah, lebih baik ngulang lagi aja di SMP, Je." Reyno menghela berat. Ternyata mengajari Jennie belajar tidak sesuai ekspektasinya. Dia pikir akan ada hal-hal romantis seperti di drama gitu. Ah, kalau diingat-ingat bikin sebal pokonya. Asli. Jennie bodohnya diatas batas kesabaran manusia.


"Mudah menurut kamu, belum tentu mudah menurut aku," balas Jennie sewot.


"Sudah, jangan ribut! Cepat kalian turun, tidak sadar kalau sudah sampai?" Farhan menoleh ke belakang. Empat jam bersama dua adik-adiknya itu serasa mau mati. Dari berangkat hingga sampai, Jennie dan Reyno selalu ribut tiada henti. Entahlah, Farhan tidak bisa membayangkan keseharian mereka selama ini.


"Ayo turun, Bunda sudah menunggu di depan pintu, tuh!" Jennie membuka pintu mobilnya. Gadis itu segera berlari kepelukan sang bunda.


"Sayang, kamu apa kabar?" Diciuminya wajah Jennie sambil memeluknya erat sekali.


"Jennie baik bunda, ayah mana?" Menoleh ke kiri dan kekanan. "Ayah kamu masih di kantor, Sayang." Bunda melepas pelukkanya. Lalu berganti memeluk Reyno.


"Hallo Bunda!" Seperti biasa, Reyno selalu menampilkan senyum cerah bak pelangi dianatara hujan dan matahari. "Bunda apa kabar?"


"Baik Sayang," balas bunda sambil menarik bibirnya membentuk segitiga. Lalu ia menoleh pada Farhan yang berdiri di belakang agak jauh.


"Terima kasih Farhan," ucap bunda. Farhan hanya mengangguk dengan senyum simpul.


Jennie agak sedikit miris melihatnya, ada tiga orang yang datang kerumah, namun hanya Farhan yang tidak di peluk oleh bunda. Padahal dia juga anak kandung bunda, ingin rasanya Jennie memberi tahu hal itu pada bundanya. Namun ia sudah terlanjur janji kepada Farhan. Ya sudah, mau diapakan lagi.

__ADS_1


"Kalian masuk ke kamar dulu sana, nanti biar dianterin makanan dan minuman sama bibi. Bunda mau bicara dengan Farhan sebentar."


"Baik Bunda." Reyno dan Jennie segera masuk ke dalam. Naik kelantai dua menuju kamar Jennie.


Gadis itu langsung membanting tubuhnya di atas ranjang. Memejamkan matanya sebentar untuk mengobati rasa penat. Reyno juga ikut berbaring di sampingnya.


Akhirnya bisa tidur di kasur empuk lagi. Rasanya kangen banget sama kamar ini.


"Pijitin aku dong, Reyn. Nanti gantian." Jennie menoleh ke samping. Menatap Reyno yang sedang terlentang memeluk guling.


"Boleh! tapi pijat plus-plus ya?" tawar Reyno sambil menaikkan satu alisnya. Ada senyum penuh arti setelah kalimat itu terlontar.


"Jangan macam-macam ya, Reyn. Semalam kan udah, berarti tunggu minggu depan." Sekedar info, Reyno dan Jennie memang selalu berhungan badan seminggu sekali. Kecuali kalau ada bonus tak terduga.


"Gak mau! Aku maunya sekarang." Disentuhlah bagian tubuh Jennie yang paling favorit menurutnya. "Jadi istri harus patuh sama suami," bisikan wejangan itu membuat Jennie kalah telak. Ia sudah tidak mampu berbuat apa-apa lagi kalau Reyno sudah ingin begitu.


"Capeknya sekalian aja, nanti malam tinggal bobo." Dilanjutkannya kegiatan itu dengan semaunya.


Ah, aku benar-benar ingin membunuh akang gendang yang meracuni otak suamiku yang polos ini.


Kegiatan panas itu di mulai, Jennie menjadi si pasrah, bagai kapal yang hendak di bawa kemanamun oleh Sang Nahkodanya.


"Jangan lama-lama Reyn," keluh Jennie ditengah-tengah kegiatannya. Secara ini kan masih siang bolong, bagaimana kalau bunda membuka pintu secara tiba-tiba, bisa mati Jennie.


"Semakin kamu larang, akan semakin lama," ujar Reyno tidak tahu diri. Pria itu fokus kembali pada kegiatan favoritnya. Meneguk manisnya madu di siang hari.

__ADS_1


Tok .... Tokk ...


Terdengar suara pintu terketuk ditengah kegiatan candu mereka berdua. Reyno tidak peduli, mencoba menuntaskan sesuati yang mendesak di dalam jiwa raganya.


"Non Jennie, bibi mau nganterin minuman sama makanan." Bibir berkata dari balik pintu yang tak kunjung dibuka.


"Reyn ...," lirih Jennie. "Berhenti dulu ya, aku mau buka pintu."


"Mana bisa!" Reyno terus memacu tanpa peduli. Sesekali ia menggigit telinga Jennie dengan gemasnya.


"Bi ... bi ..." Nafasnya tersengal. Tolong taruh di luar dulu, nanti Jennie minum."


"Tapi, Non. Nanti minumannya keburu dingin," ujar bibi, masih enggan pergi dari depan pintu kamar Jennie.


"Bibi!" Reyno memanggil dengan nada suara cukup keras. Kegiatan asiknya sampai berhenti gara-gara ia gagal fokus.


"Iya Den Reyno," saut bibi dari luar.


"Tolong berhenti mengganggu, ikh. Kami lagi buat bayi, minumnya taruh saja di luar," tukas Reyno jutek.


Aaaaa. Jennie ingin teriak saat itu juga. Mau di taruh ke mana wajah Jennie saat keluar kamar nanti.


Bibi segera pergi dari depan pintu kamar Jennie tanpa menjawab sama sekali. Kegiatan yang sempat tertunda mulai dilanjutkan kembali oleh Reyno.


***

__ADS_1


Sampe sini dulu ya, besok ku panjangin. Mati ide .. gak usah di baca, besok pagi aja bacanya.


__ADS_2