Suamiku Anak Mami

Suamiku Anak Mami
S2- Bab 9


__ADS_3

Enam jam berlalu, keributan Reyno tadi sudah mereda saat pihak rumah sakit memutuskan untuk menghadirkan dokter wanita yang profesional dari luar rumah sakitnya.


Namun, di luar dugaan Reyno, waktu persalinan Jennie molor dari perkiraan. Membuat pria itu menggila hebat menyaksikan istrinya bagaikan hendak menjemput maut. Wajah Jennie sudah pucat menahan kontraksi, keringat terus keluar membanjiri sekujur tubuhnya. Rasa Reyno tidak kuat bernafas lagi melihat keadaan istrinya sekarang.


Pada awalnya, Jennie mendapat kontraksi yang sering sekitar 10 menit sekali. Lalu berubah menjadi dua menit sekali. Namun di jam ke tiga, kontraksi berhenti satu jam tanpa perlawanan. Barulah di jam ke empat intervasi kontraksi bertahap ke jenjang yang semakin sering. Di mana setiap menit rasa sakit yang Jennie alami terasa semakin menuntut kuat.


Dengan tangan gemetar, Reyno mencoba menggenggam kuat istrinya. Ia menutupi wajah khawatirnya sebisa mungkin. Di saat seperti ini, kemampuan nonton dramanya sangat berarti. Waktunya Reyno bersandiwara menjadi pria kuat sedunia.


"Tenang ya, Sayang." Jennie nampak mengatur nafasnya sebisa mungkin, mengikuti intruksi dokter yang membimbingnya di bawah sana.


Sebenarnya Reyno sempat beradu mulut dengan dokter, ia meminta dokter menyuntikan bius anestesi secara diam-diam pada istrinya, namun dokter tidak menyarankan. Walaupun sakitnya akan hilang, namun suntik injeksi epidural dapat menimbulkan efek samping pada tubuh Jennie nantinya. Pada akhirnya semua berjalan dengan normal, Reyno tetap menyaksikan detik demi detik proses persalinan istrinya yang mengerikan baginya.


Pyasss!


Jennie tersentak kaget saat mendengar suara seperti balon air yang pecah di bawah sana. Tiba-tiba rasa sakit di pinggulnya sedikit berkurang, ada perasaan lega. Reyno yang melirik sedikit langsung memalingkan wajahnya kembali.


"Ibu, air ketubannya sudah pecah. Tarik nafas dalam-dalam dan hembuskan secara perlahan ya, Bu. Bayinya sudah hampir keluar."

__ADS_1


"Arghhhhh!" Jennie menjerit sekuat-kuatnya saat merasakan desakan kuat di perutnya."


"Ikuti, intruksi saya Ibu, kalau saya bilang dorong ibu mengejan, dan kalau saya bilang tarik nafas ibu tarik nafas dalam-dalam ya, Bu, lalu hembuskan lewat mulut secara perlahan." Jennie mengangguk penuh keyakinan. Dokter di bawah sana sudah bersiap-siap menyambut kehadiran bayi pertama Jennie dan Reyno.


"Tarik nafas, Bu. Sampai perut anda terasa mengembung." Jennie mengikuti intruksi dokter. "Dorong, Bu. Sekarang! Dorong kuat-kuat," teriak sang dokter heboh.


"Eugghhhh ... huuh." Jennie nampak mengambil sedikit nafas di sela-sela mengejannya. "Arghhh!" Ia mengejan sekuat-kuatnya."


"Bagus ibu, kepalanya sudah hampir keluar. Usahakan mengejannya jangan sampai terputus-putus ya, Bu!" seru dokter di bawah kakinya.


"Huuuh ... huuhh." Jennie mengatur nafasnya yang tersengal. "Bunda mana, Reyn?" tanya Jennie penasaran. Ia hanya melihat bunda sekilas tadi, menyemangati sebentar dan pergi lagi.


Sebenarnya Reyno berbohong, bunda pergi tidak kuat melihat penderitaan anaknya. Tubuhnya gemetar dan lemas saat menyaksikan anak semata wayangnya menderita. Padahal, saat ia melahirkan dulu begitu tegar, namun melihat Jennie kesakitan membuat bunda tak mampu menghirup udara di tempat itu. Saat bunda memutuskan keluar untuk menenangkan diri, tubuh lemasnya terjatuh di depan pintu—tepat pintu itu tertutup.


Reyno tahu bunda pingsan di luar, namun ia tidak mau membuat Jennie khawatir. Sekarang tinggal ia satu-satunya penyemangat Jennie, sebisa mungkin Reyno harus tegar demi istrinya.


"Dorong terus, Bu ... dorong ... dorong ... sedikit lagi, dorong, Bu, Ayo Bu, semangat!"

__ADS_1


"Arghhhhhhh!" Jennie mengejan sekuat-kuatnya. Ia meremas pergelangan tangan Reyno hingga kukunya menancap kuat di kulit Reyno.


"Tatap aku, Je. Terus dorong dan lihat aku saja." Jennie juga mendengar intruksi Reyno. Pria itu merangkum wajah basah istrinya tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun. Saling memandang satu sama lain dengan harapan besar yang bersarang di dada.


"Terus, Bu. Terus ...." Semuanya berseru kala melihat rambut hitam legam mulai keluar dari persembunyiannya.


"Arghhhhhh!" teriakkan Jennie sekencang-kencangnya.


"Eak ... eak .... eak ..." Anak pertama mereka yang keluar berjenis laki-laki. Reyno melirik sedikit ke bawah. Ia hampir mati lemas melihat darah banyak yang keluar dari r*him istrinya.


Melihat anaknya sekilas, Reyno langsung mengalihkan pandangan Jennie agar jangan melihat bayi yang masih nampak menyeramkan itu. Tubuhnya penuh darah. Hal yang pertama Reyno rasakan saat melihat bayinya adalah takut. Takut melihat darah yang memenuhi sekujur tubuh anakknya.


"Berjuang sekali lagi, Sayang. Kesayangan kita masih ada satu lagi." Reyno mengunci pandangan Jennie agar terus menatapnya.


"Iya, Reyn. Aku masih kuat, kok." Ada jeda sebentar untuk mengambil nafas. Sepertinya anak itu tahu kalau ibunya sudah sangat kelelahan.


***

__ADS_1


Cape, besok lagi ya, satu part lagi mungkin selesai flashbacknya. salah siapa kalian maksa minta cerita melahirkan, aku sengaja gak tulis karena prosesnya emang panjang.


__ADS_2