
Epilog.
Reyno dan Jennie saling bergandengan tangan menuju ruang Papi dan Maminya. Mumpung sekalian bertemu, Reyno juga sudah berniat akan memberitahu kedua orang tuanya tentang kehamilan Jennie.
Pintu di buka, Papi langsung tersenyum melihat putra kebanggaanya nampak sehat dan tambah gemuk. Apa lagi ada istri hebat yang sudah ikut andil besar dalam merubah sikap putranya yang dulu kurang wajar. Papi juga tersenyum hangat pada gadis 17 tahun yang lucu dan imut itu. Abaikan Mami Dina yang selalu buang muka. Lanjut.
"Apa kabar kalian, ayo duduklah." Papi langsung mempersilahkan mereka duduk.
"Kabar kami baik, Pi." Jennie yang menjawab. Sementara Reyno hanya diam dalam kepala menunduk. Mereka berdua duduk di sofa, saling berhadapan dengan Papi dan Maminya.
"Ayolah Ren, kamu masih marah sama Papi? Papi sudah mencabut ujianmu sekarang. Kamu berhasil melewatinya, Nak, " rayu Tuan Haris. Namun sepertinya Reyno masih enggan bicara, Bahkan Jennie sampai menyikut lengan suaminya.
"Papi akan mengurus kuliah kalian, juga kepindahan kalian ke Jakarta lagi." Tuan Haris berbicara kembali. Namun Reyno masih diam menunduk. "Benar masih ngambek rupanya ya, padahal Papi hanya mengujimu selama satu bulan lebih, loh. Kamu juga sepertinya lebih bahagia sekarang. Sudah besar ngambek, malu sama istri."
Reyno yang sudah terpancing langsung mendongak dan mulai berbicara, "Pih, Reyno memang sudah bahagia. Tapi Reyno tidak akan melupakan kejahatan Papi bulan lalu. Setelah mengusir kami, dengan sombongnya Papi menarik Reyno kembali ke rumah ini. Cih! Reyno tidak mau."
Mami Dina yang duduk di samping suaminya langsung gusar. "Tuh kan, Mami sudah tahu akhirnya akan seperti ini, Pih. Semua salahmu!" Mami Dina langsung menyalahkan suaminya.
"Apa yang Papi lakukan demi kebaikanmu, Nak. Papi melakukan itu karena sayang padamu. Ingin kamu berubah lebih baik lagi."
"Tapi Papi sudah keterlaluan sama anak sendiri. Papi tidak tahu kan, bagaimana Reyno menjalani hidup selama ini. Kita berdua sampai kelaparan tahu."
"Loh ko begitu?" Papi pura-pura kaget dan menyerngitkan dahinya bingung. "Kamu kan punya atm dan kartu kredit, kenapa tidak dipakai? Untuk apa Papi memberi fasilitas kalau tidak digunakan.
Reyno langsung naik pitam mendengar ucapan Papinya. Sementara Tuan Haris masih tampak tenang menghadapi kemarahan anaknya.
"Papi bagaimana sih! Kartunya pasti sudah diblokir lah, Reyno juga tidak bodoh-bodoh juga kali. Yang namanya mengusir anak, pasti kartunya juga ikut dblokir." Reyno protes.
"Siapa bilang Papi blokir kartu kamu, Papi kan hanya mau kamu hidup mandiri di luar sana. Dalam arti kamu harus hidup Terpisah dengan Mamimu, agar tidak manja lagi."
"Jadi ATM Reyno tidak di blokir selama ini?"
"Tentu saja tidak. Untuk apa Papi memblokir ATM, mu. Memangnya kau pikir Papimu kekurangan uang?" Tuan Haris tergelak kencang melihat ekspresi Reyno yang manyun.
"Ikhh, Papi. Bukan begitu alurnya. Harusnya Papi blokir kartu Reyno, itu yang namanya prosedur mengusir anak. Di drama yang Reyno tonton tidak begitu tahu, semua anak yang di usir pasti fasilitasnya dicabut juga.
"Itu salahmu sendiri kenapa mengikuti cerita di dalam drama. Padahal kamu bisa membeli tiga rumah dengan kartu itu loh," pancing Papi. Reyno semakin marah dan kesal.
Memang salahnya sih, tapi untuk hal ini Jennie juga setuju dengan pendapat Reyno. Dia juga berfikir kartu suaminya sudah di blokir, apa lagi Farhan sempat memberi bekal uang dua juta kan?
"Terus kenapa Papi kasih kita uang dua juta kalau ATM Reyno tidak di blokir?" Reyno yang merasa dipermainkan semakin tidak terima.
"Hanya mau ala-ala drama saja, agar terlihat keren. Hahaha."
__ADS_1
"Papiiiiii .... Tidak lucu, tahu."
"Baiklah-baiklah, Papi minta maaf. Dimaafkan tidak?"
Jangan tanya ekspresi Reyno selanjutnya. Anak itu semakin tidak terima dipermainkan seperti ini oleh papinya. Reyno melipat kedua tangannya di depan dada. Melengos ke samping, tidak mau melihat orang tuanya sedikitpun. Namun bukan orang tua kalau tidak mampu meluluhkan hati seorang anak. Tuan Haris sudah menyiapkan senjata untuk menaklukan anak yang satu ini.
"Liburan ke Korea mau?" tanya papi sambil menyunggingkan senyumnya sedikit.
Anak itu langsung kembali terfokus pada papinya. "Jangan suka bohong, dari dulu Papi ngga pernah bolehin Reyno ke sana."
Tuan Haris mengeluarkan dua tiket dari dalam kantung celana lalu menaruhnya di atas meja. "Sejak kapan Papimu berbohong?"
"Ini beneran?" Diambilnya dua tiket itu. Jennie langsung menyerngitkan dahinya tidak percaya. Reyno oh Reyno.
Cih! Suamiku mudah sekali di sogok. Aku kira akan ada persiteruan apa gitu. Drama-drama keiuarga, kek. Mengingat Reyno tadi terlihat marah sekali.
Padahal selama ini ia sendiri yang sering berkata kalau tidak akan memaafkan Papinya begitu saja. Ternyata ucapan tidak berguna sama sekali. Lupakan, anak itu kan aneh.
"Dua tiket bulan madu ke Korea, setelah ujian kalian selesai bisa langsung berangkat. Semoga bisa ketemu dengan BLACKPINK atau Peti Es itu, yah."
"BTS Pih," ucapnya membenarkan.
"Iyalah, Papi lupa namanya." Jadi teringat saat terakhir kalinya Reyno merengek. Minta ponsel edisi BTS sampai mengganggu rapat Papinya di kantor.
"Silahkan bicara," ucap Papinya sambil menarik Mami Dina ke dalam dekapannya. Nyonya yang satu ini terus cemberut sedari tadi. Ia masih belum bisa menerima kenyataan bahwa anaknya sudah menjadi milik wanita lain.
"Jennie sedang hamil lima minggu, Pi, Mi."
"A ... a ... apa? Kamu tidak bercanda kan, Sayang. Heh, jangan main-main Reyno." Mami Dina yang sedari tadi diam saja langsung mencak-mencak mendengar kabar itu.
"Kok Mami malah marah sih? Harusnya senang mau punya cucu."
"Sayang ... Sayang ... jangan bercanda, kamu masih delapan belas tahun. Istrimu juga belum genap delapan belas tahun, kenapa jadi begini sih, Ya Tuhan." Darah tingginya mendadak naik. Mami Dina tak habis pikir anak kesayangannya berani menghamili seorang gadis.
Anak yang selama ini dididik dan dilarang mendekati ****, pada akhirnya melakukannnya juga. Sudah membuahkan hasil pula. Ah, kepala Mami Dina mau pecah rasanya.
"Mam, Reyno akan berusaha menjadi ayah yang baik, Kok. Papi dan Mami tidak usah khawatir. Reyno dan Jennie sudah dewasa.
"Entahlah ... entahlah ...." Mami langsung bangkit dari duduknya. "Bicarakan lagi besok, Mami mau istirahat."
Mami Dina berjalan menuju ruang peristirahatan, meninggalkan anak dan suaminya di sana. Ia benar-benar sudah pusing mengurusi kelakuan anaknya, pertama William yang menghamili anak orang, sekarang Reyno juga memberi kabar kehamilan istrinya. Huh, rasanya ingin mati saja.
"Papi percaya denganmu, Reyno. Dan untuk Jennie, selamat atas kehamilanmu, Papi sudah tidak sabar ingin menggendong cucu," ucap Papi.
__ADS_1
"Terima kasih, Pi."
"Oh ya, sepertinya Reyno juga tidak bisa bergabung dengan perusahaan Papi. Untuk sementara ini Reyno masih belum kepikiran ke arah sana."
"Kenapa begitu? Apa kamu masih marah dengan Papimu, Nak? Papi ingin kamu menjadi orang yang sukses, terkenal dalam dunia bisnis seperti Farhan.
"Tidak Pih, Reyno dan Jennie memang berniat untuk merintis usaha kecil-kecilan saja, memulai lembaran baru yang sederhan dan menjadi orang biasa. Reyno ingin menikmati segala proses dari titik 0 dengan Jennie dan anak kami nanti. Dan yang pasti, Reyno tidak mau menjadi pebisnis yang sibuk seperti Papi ataupun Farhan. Walaupun Reyno bukan seorang direktur, yang terpenting Reyno bisa menjadi kepala rumah tangga yang baik. Meluangkan waktu untuk anak dan istri juga merupakan hal yang menyenangkan, Pi. Hidup tidak selamanya tentang kesuksesan, tapi perjuangan agar keluarga kecil kita bahagai dan sejahtera.
Papi langsung tertegun mendengar bicara Reyno yang mengesankan. Anak itu benar-benar sudah besar sekarang. Bahkan sudah memiliki pemikiran dan tujuan hidupnya sendiri. Ia jadi merasa malu pada anaknya, ternyata kesuksesan yang dicapainya selama ini tidak membuat keluarganya bahagia. Istri yang kurang perhatian, bahkan sampai anaknya sendiri tidak ingin mengikuti jejak Papi.
"Sepertinya Papi harus banyak belajar dari kamu, Nak," ucap papi sedikit sedih.
"Pi, jangan sedih begitu. Selama Papi masih hidup, Papi masih bisa memperbaiki hubungan baik dengan Mami. Pulanglah setiap hari, jangan terlalu sibuk dan mengabaikan Mami. Walaupun Mami tidak pernah protes, tapi Reyno tahu kalau Mami sangat kesepian."
Ya Tuhan. Aku benar-benar telah berdosa selama ini. Terima Tuhan, Kau telah menyadarkanku lewat anakku yang manis ini dari kegelapan.
**TAMAT**
***
HAI, sampai di ujung acara.... Makasih ya, untuk kalian yang masih mau lanjut baca sampai ke titik ini.
Sementara tamat dulu ya, nanti akan ku buka lagi season dua, bisa semingu lagi, dua minggu ataupun satu bulan. Jangan lupa di favoritin agar tau updateku selanjutnya. Ada yang mau bonus chapter Malam pertama William dan Tere gak?hehehe.
BTW jangan kangen dulu ya, kan ada Ren yang satunya lagi. Sifatnya gak beda jauh, karena masih satu karakter yang sama. Hehehe.
Suamiku Seorang Pangeran.
Kita ketemuan di sana, ya... Aku tunggu nih.
Ketinggalan, untuk prolog season 2 udah ku rilis di insragram @anarita_nvltoon
Jangan lupa baca...
Terima kasih.
❤❤
Anarita
__ADS_1