
Malam ini akan menjadi malam penghujung acara sekaligus hari terakhir Farhan di Indonesia. Karena jam satu pagi nanti, Farhan akan segera berangkat ke Amerika untuk menggantikan tugas William mengurus bisnisnya di sana. Melenceng dari rencana awal, sebab William sebentar lagi akan menjadi seorang ayah dan wajib mengurus anak istrinya. Farhan adalah kandidat tercocok karena statusnya yang belum menikah.
Acara makan malam di rumah bunda berjalan lancar, meski tanpa kehadiran ayah di rumah itu. Toh selama ini ayah memang jarang pulang. Jadi bunda tidak terlalu merasa kehilangan. Gugatan cerai bunda juga sudah di urus oleh ahlinya. Hati bunda terlihat membaik sepertinya. Terbukti, wanita paruh baya itu bias tertawa lepas saat mendengar candaan menantunya, Reyno.
Sekarang mereka sedang berkumpul di ruang keluarga, ada bunda, Farhan dan pasangan muda fenomenal Reyno-Jennie.
“Kak, berapa lama kaka akan tinggal di Amerika?” Jennie menghidangkan empat piring potongan buah di atas nakas. Lalu duduk di samping Reyno dan bergabung untuk ngobrol-ngobrol.
“Sekitar empat tahun mungkin,” ujar Farhan mengira- ngira.
“Empat? Lama sekali, Kak. Aku pasti bakalan kangen sama kakak.”
“Hei … hei!” timpal Reyno,pria itu menjewer telinga Jennie dengan nada ancaman. “Siapa yang ngizinin istri aku kangen sama cowok lain?”
“Apaan sih … itu ‘kan kakak aku sendiri.”
“Tetep gak boleh. Kamu Cuma boleh kangen sama aku,” sanggah Reyno dengan bibir mengerucut.
“Dih, gitu!” Jennie memicik sinis. Ada dua potong buah yang masuk ke mulut Reyno agar pria itu diam.
“Sudah … sudah, jangan ribut,” ujar bunda melerai. “Masa cemburu sama kakak ipar sendiri. Reyno lucu sekali.” Bunda tergelak sedikit melihat tingkah menantunya yang satu ini.
__ADS_1
"Memang gila dia, Bun," balas Jennie geram.
Reyno memang benar cemburu, bukan sedang bercanda. Kewarasan pria kecil yang satu ini memang di atas rata-rata pria normal. Jangankan Farhan, melihat istrinya mencuci motor saja ia tidak terima. Katanya cemburu liat motornya di elus-elus.
Farhan menusuk sepotong buah dan hendak mengunyahnya. Berhenti sejenak lalu berbicara pada Jennie dan Reyno, “Ngomong-ngomong, aku titip bunda pada kalian selama aku tidak ada, dan ingat! Hiduplah dengan baik selama aku di Amerika, mata-mataku akan terus mengawasi kalian meski aku jauh.” Lalu memasukkan sepotong buah itu setelah selesai memberikan amanahnya.
“Siap kakak!” ucap Jennie dan Reyno kompak.
“Bunda bisa menjaga diri dengan baik Farhan, justru kamu yang harusnya bunda khawatirkan. Usiamu sudah tidak muda lagi. Kapan kamu menikah? Bunda ingin melihatmu ada yang menjaga.”
Pertanyaan horor. Farhan langsung berhenti mengunyah dan menelan paksa buah yang ada di dalam mulutnya. Sejujurnya ia rishi setiap kali mendengar pertanyaan semacam ini dari tuan Haris ataupun mami Dina. Dan
“Farhan tidak akan menikah jika belum di jodohkan, Bun. Lebih baik jodohkan saja ia dengan gadis desa yang penurut.” Reyno menimpali dengan senyum jemawa.
“Sepertinya Anda sudah lelah bernapas ya, wahai Tuan Muda!” gertak Farhan dengan nada ancaman.
“Memang benar kok, Bunda. Kakakku yang satu ini jangankan menikah. Menyentuh tangan wanita saja belum pernah. Bahkan, ia punya pasukan khusus di kantor untuk mengusir fangirlnya.” Reyno membeberkan semua tentang farhan tanpa rasa takut.
Detik berikutnya, ada tangan kekar yang terulur hendak memukul Reyno. Anak itu langsung berlari ketika Farhan siap melayangkan bogem mentahnya pada dirinya. Lalu bersembunyi di balik punggung bunda.
“Kemari kau bocah nakal!” bentak Farhan geram. Beraninya anak ayam yang satu ini mecari masalah dengan Farhan.
__ADS_1
“Bunda, lihatlah, Farhan nakal sama Reyno,” adunya dengan nada manja.
Jangan Tanya bagaiman reaksi Jennie. Bumil yang satu ini lebih melilih menghabiskan sepotong buahnya ketimbang mengurusi dua manusiayang sama gilanya.
Terkejar, Farhan berhasil mendapatkan bocah nala itu. Ada dua jeweran mendarat di telinga Reyno. Lalu satu pukulan di bagian bok*ngnya. Reyno mengaduh, berteriak minta tolong pada bunda dan Jennie.
“Ampun. Aku tidak akan menggodamu lagi, Kakak ipar.” Farhan melepas pelukkanya, lantas berlari ke dalam pelukan sang istri seperti anak kecil. “Dasar jomlo berdarah dingin!” eejek Reyno setelah berhasil kabur.
“Ya ampun kalian ini, ya. Tidak ingat umur kalau sudah bertengkar.” Bunda menggeleng dengan wajah tidak percaya. Namun hatinya sedikit menghangat, bersyukur bias mendapatkan moment seperti ini. Rasanya seperti melihat Farhan kembali menjadi anak kecil.
“Dia yang duluan bunda … bocah kurangajar itu memang harus dihajar biar tidak ngelunjak,” adu Farhan dengan wajah merah padam.
“Sayang sakit …. Males deh, kalau punya kakak ipar psikopat. Dikit-didik main kekerasan.” Reyno juga ikut mengadu pada istrinya. Merangkul pinggang Jennie sambil membenamkan wajahnya di pangkuan gadis itu. Tempat ternyaman kedua untuk Reyno kalau sedang ingin manja-manjaan.
Baik bunda ataupun Jennie memilih diam, tidak mau membela siapapun. Lantas saat semuanya sudah kembali normal, bunda melayangkan pernyataan mematikan pada anak pertamanya itu.
“Sebelum kembali ke Indonesia nanti,bunda harap kamu sudah menikah, paling tidak memiliki calon istri. Jika tidak ada, terpaksa bunda akan mengikuti saran Reyno untuk menjodohkanmu.”
Seketika Farhan berhenti menghirup udara. Dijodohkan? Sebuah kalimat ejekkan yang ia sering lontarkan pada William selama ini. Tunggu. Apakah ini adalah karma untuk seorang Farhan?
***
__ADS_1