Suamiku Anak Mami

Suamiku Anak Mami
S2- Bab 24


__ADS_3

"Jangan sentuh aku!"


Reyno membentak dengan bibir yang mengerucut manyun. Ia masih memikirkan kejadian di pasar malam tadi. Saat istrinya dengan tidak tahu dirinya berseru bahwa Reyno ngompol di celana. Orang yang semula tidak tahu, langsung memusatkan pandangannya ke arah celana jeans milik Reyno. Rasa malu Reyno sudah tidak terbendung lagi saat itu.


Dari ibu-ibu, anak kecil, ABG, bahkan cabe-cabean pun terbahak melihatnya. Saat itu juga, Reyno langsung tertunduk pucat dan pergi dari kerumunan warga yang penasaran karena mendengar keterkejutan Jennie. Acara kencan ala rakyat biasa gagal total. Reyno ngambek, Jennie di tinggal, dan harus lari-lari setengah mati mengejar suaminya.


Reyno langsung membuka pintu mobil dan duduk di kursi belakang. Artinya, pria itu sedang ngambek parah—terbukti Reyno membuat Jennie jadi supir dadakan.


Hotel. Adalah tempat terdekat yang Jennie tuju saat itu. Entah demi mewujudkan tebakkannya yang salah, atau karena keadaan Reyno yang tidak memungkinkan untuk pulang ke rumah. Yang jelas, Jennie memutuskan untuk menginap di hotel. Sementara Reyno hanya mengikuti kemauan sang istri tanpa bicara sepatah katapun. Auto ngambek total.


"Renren...," Mengayunkan nada bicaranya manja, Jennie menggoda suaminga yang sedang mengeringkan rambut di depan meja rias. Sepertinya akan ada perdebatan panjang malam ini. Untung mereka di hotel, jadi tidak dilihat oleh anak-anak.


"Heuhhh!" Reyno melengos sinis saat Jennie mendekatinya.

__ADS_1


Jennie meningkatkan level merayu lebih tinggi lagi. "Maaf ya, aku engga maksud bikin kamu jadi tontonan warga. Tadi aku cuma kaget pas liat celanan kamu. Jadi spontan teriak."


Hening. Reyno masih diam tanpa kata. Pria itu menaruh hair drayer yang baru selesai di pakai ke atas meja. Lalu berjalan mendekati pembaringan dan membanting tubuhnya begitu saja.


Antara gemas dan geli, Jennie mencoba bersabar ketika melihat tingkah suaminya. Pria itu merentangkan kaki dan tangannya ke seluruh penjuru ranjang. Seolah tempat tidur itu miliknya dan Jennie tidak boleh ikut tidur. Persis seperti Cilla dan Cello kalau sedang rebutan tempat.


Mendekat ke arah ranjang, Jennie sudah membuka dua kancing piamanya sebagai senjata maut untuk mengambil hati Reyno. Gadis itu merambat seperti cicak. Lalu menempel di atas tubuh Reyno yang sedang terlentang kaku.


"Sayang maafin aku ya, aku benar-benar gak sengaja, loh!"


"Kamu boleh kasih aku hukuman apa aja. Aku janji tidak akan protes. Aku tahu aku salah, tapi aku engga suka di diemin sama kamu. Ibarat rumah, kamu adalah hatinya jantungnya rumah—kalau kamu diam, aku bisa gila."


Ah, Jennie sadar betul dengan quotes seperti itu. Terdengar kebalik meman, namun itu adalah yang Jennie rasakan. Ia mendadak kebingungan dan hampir setengah gila setiap kali mendapati Reyno ngambek dengan cara diam tanpa kata. Memiliki pasangan yang marahnya selalu diam, itu lebih menyeramkan dari apapun.

__ADS_1


Usaha lagi dan lagi, Jennie sudah mulai bosan dan memainkan jari-jarinya di dada milik Reyno. "Ngomong dong, Reyn. Kasihanilah istrimu yang polos ini. Marahin aku, pukul aku juga boleh. Kamu ngambeknya serem," ujarnya terus terang.


Plak! Plak!


Tiba-tiba Jennie mengambil tangan Reyno dan menamparkannya ke mulut sendiri dua kali. Reyno langsung terlonjak kaget, menatap Jennie dengan alis yang menukik tajam.


"Jadi begini cara kamu minta maaf? Bikin suami kamu melakukan KDRT?"


Kekekasalan Reyno semakin memuncak. Terlihat dari wajahnya yang berubah merah ketika melihat Jennie menggunakan tangan Reyno untuk menampar mulutnya sendiri.


Wajah giok Jennie berubah sendu sekaligus takut. "Maaf, Reyn. Aku bingung harus minta maaf dengan cara apa lagi. Biar kamu bisa memafkan kebodohan aku."


Apa aku harus nangis-nangis drama dulu biar kamu maafin aku, Reyn?

__ADS_1


Ketika persetubuhan tidak bisa lagi mendamaikan perkara. Jujur, Jennie sudah tidak memiliki cara lain untuk merebut hati suaminya.


***


__ADS_2