
Kekhawatiran William akhirnya sudah dapat terobati. Setelah memerintahkan bala pasukan sebanyak-banyaknya, akhirnya William dapat menangkap gadis pengacau yang meracuni Farhan waktu itu. Syukurlah, William dapat bernafas dengan lega sekarang.
Farhan juga sudah keluar dari rumah sakit. Segala deadline di perusahaan selama ia sakit sudah dibereskan olehnya. Saatnya bernafas dan bermain-main dengan game barunya.
"Apa kau puas sekarang?" William menyipitkan matanya, ia memandang sinis Farhan yang senyam-senyum melihat cctv apartemen rumahnya melalu gawai.
"Aku tidak akan berterima kasih. Itu semua kesalahanmu." Pandangan Farhan terjutu pada layar yang menampilkan sosok gadis yang terkurung di apartemen besarnya.
Ya, dia Lisa. Setelah berhasil di tangkap, gadis yang tidak tahu asal-usulnya dari mana itu, sedang di kurung di apartemen Farhan sendirian. Gadis itu telah resmi menjadi pembantu di apartemen Farhan, demi menebus kesalahannya karena telah meracuni Farhan. Tentu saja itu kesepatan yang disetujui oleh Lisa sendiri.
"Cih! Menggelikan." William menendang kaki Farhan yang sedang duduk bersebelahan dengannya. "Apa menyenangkan? mengurung gadis kecil di apartemen kosong sendirian."
Farhan tidak peduli. Masih menatap layar dengan wajah datar. Memperhatikan setiap tingkah yang di lakukan gadis itu di dalam apartemennya. Farhan memang tidak pernah menemui gadis itu. Namun ia selalu memantau segala kegiatan gadis itu melalu cctv.
"Ya! Berani sekali dia!" Farhan mendadak murka. William melirik sedikit layar gawai yang dipegang Farhan, ternyata gadis kecil itu sedang berbaring di ranjang Farhan. Mungkin kelelahan karena bersih-bersih seharian.
__ADS_1
"Untuk apa kau teriak-teriak begitu Farhan. Dia tidak akan mendengarkanmu." William tergelak melihat ekspresi Farhan yang merah padam.
"Coba kau perhatikan wajah ini." Farhan menunjukkan gambar Lisa yang sudah di perbesar dan lebih jelas.
Dia mirip siapa ya? Sepertinya aku merasa tidak asing melihat wajah itu. Batin Farhan sambil berfikir. Ah, dia mirip sekali dengan spongebob bodoh itu.
"Iya ... kenapa? Apa kau menyukai gadis kecil itu?" William tersenyum penuh arti. "Kalian akan terlihat seperti ayah dan anak saat berkancan nanti." William tergelak. Baru membayangkannya saja sudah segila itu, apa lagi kalau mereka benar-benar berpacaran. Pasti akan seru sekali.
"Jangan berhayal!" Meraup wajah William cukup keras. Lantas memperhatikan gerak-gerik gadis itu kembali.
Lisa memang tidak benar-benar dikurung di apartemen Farhan, ia juga diperbolehkan keluar dan menjalani kegiatan sehari-harinya. Hanya mulai saat ini, ia resmi menjadi penunggu apartemen mewah yang tak berpenghuni itu.
Jangan mimpi bertemu dengan Farhan, sejak ia tertangkap dan mulai menandatangani kontrak kerjanya, Lisa sama sekali belum pernah bertemu dengan pria itu lagi. Hanya orang suruhannya yang saat itu menandatangani Lisa saat ia hendak tanda tangan kontrak kerjanya.
"Aku ingin menelepon Jennie, tapi setiap kali ditelepon, selalu saja suaminya yang mengangkat." Lisa menatap langit-langit kamar bernuansa kalem itu. Mungkin sedang meratapi nasibnya sialnya karena bertemu Farhan.
__ADS_1
"Apa kah itu si gila pemilik apartemen ini?" Tiba-tiba pandangan Lisa tertuju pada sebuah figura yang menempel di dinding sebelah kiri. Gadis itu bangun dari posisi terlentang, menjulangkan kakinya ke lantai dan melangkah mendekati Figura besar itu. "Bagus sekali lukisan ini, sayang yang dilukis bukan manusia."
Lisa mendongakkan kepalanya setengah tak percaya. Walaupun mulutnya berkata begitu, tapi matanya tak mau berhenti mengagumi ketampanan Farhan. Ya, pria itu memiliki kharisma yang sangat kuat dibalik wujud aslinya yang seperti monster.
Kembali lagi pada Farhan dan William. Dua manusia yang sepertinya tidak ada kerjaan di jam kerjanya. Mereka masih sibuk melihat Lisa yang sedang berada di ruang kamar Farhan.
"Wah. Lihatlah! Gadis itu sepertinya sedang mengagumi ketampananmu, Farhan." William menunjuk layar, di mana Lisa sedang memperhatikan lukisan Farhan yang ada di kamarnya.
"Pergilah! Apa kau tidak ada kerjaan? Mana file yang aku suruh kerjakan?" Farhan mendengkus kesal melihat William ikut heboh. Padahal itu tontonan pribadi milik Farhan. Hanya Farhan yang boleh melihat cctv rumahnya.
"Lihat ... lihat!" William teriak heboh. Lisa terlihat membuka kaos miliknya dan membanting tubuhnya di atas ranjang Farhan. Dengan gerakan cepat, Farhan langsung mendorong wajah William hingga ia tersungkur ke samping. Farhan langsung menutup kamera dan menaruh gawainya di meja.
"Apa-apaan, sih?" gerutu William lalu membenarkan posisi duduknya kembali. Dan tiba-tiba wajahnya dikejutkan oleh ekspresi Farhan yang terlihat merona malu. "Hei! Ada apa dengan wajahmu Farhan? Mukamu merah sekali. Jangan-jangan kau malu ya, melihat gadis itu membuka bajunya?" William tergelak dengan wajah sok jenaka.
"Keluar!" bentak Farhan sambil memalingkan wajahnya.
__ADS_1
"Ternyata kau punya urat malu juga ya Farhan, pasti ini pertama kali bagimu melihat seperti itu." William bangkit dari duduknya hendak pergi dari ruang kantor Farhan.