Suamiku Anak Mami

Suamiku Anak Mami
Sulit part 2


__ADS_3

Reyno masih sibuk mencuci beras, menghiraukan Jennie yang terus berbicara di belakangnya.


“Reyn!” Jennie menarik baju Reyno. “ Kamu diemin aku?” Murung langsung wajahnya. Menggigit bibir bawahnya dengan raut menyesal.


Cup! Satu kecupan mendarat di kening Jennie. Gadis itu semakin bingung mendapatkan perlakuan seperti itu. Reyno bergeser ke arah magic com. Menaruh panci beras dan menekan tombol warm cook.


“Kamu beneran marah?” Jennie bertanya lagi. Semakin kesal karena Reyno tak kunjung membalasnya. “Kalo kamu marah aku selingkuh!” ancamnya tidak tahu diri.


Reyno langsung terbelalak, menggendong tubuh kecil itu dan menaruhnya di tempat duduk. “Aku selingkuh, nih!” Ancam Jennie lagi.


Jennie mengalungkan kedua tanganya di bahu Reyno. Cowok itu masih diam menatap lekat pupil hitam yang terlihat Jernih. Istri tomboy—nya semakin menggemaskan bila sedang di cueki.


“Selain minta cerai, kamu juga sudah berniat mau selingkuh?” Menjitak dahi Jennie. “Aku aja yang anak manja masih kuat kok, masa kamu si tomboy mau nyerah.” Mencoba menghibur Jennie, walau sebenarnya Reyno juga merasakan hal yang sama. Merasa tidak mampu menjalani rumah tangga.


“Maaf,” lirihnya sambil menyesal. Kemudian Reyno duduk di samping Jennie. Menyandarkan kepalanya di kursi plastik. Terlihat sekali raut frustasi di wajahnya, ia memejamkan mata sambil memijit pelipisnya. “Reyn, maafin aku.”


Gadis itu bangkit dari duduknya, kursi plastik yang Jennie duduki sampai bergeser ke belakang. Ia berlutut di lantai, memeluk Reyno dan membenamkan wajahnya di perut ketat suaminya. Reyno agak kaget melihat aksi istrinya itu. Segera saja ia menarik badan Jennie, menyuruhnya untuk duduk di pangkuan pahanya.


“Aku ngga marah kok, aku juga ngerasain hal yang sama kayak kamu. Ngerasa ngga mampu menjalani rumah tangga ini. Jujur aku sangat kaget dengan perubahan ini, memiliki istri, kehilangan fasilitas dari orang tua, dan harus mencoba menghidupi kamu dengan keterbatasan ini. Tapi aku ngga pernah berfikir untuk cerai, kalaupun kita cerai. Apa kamu yakin semuanya bisa kembali normal seperti semula?”


Disitulah Jennie mulai terisak, air bening mulai menggenang dari pelupuk matanya. Membanjiri kulit pipi putih bersih yang hampir tidak pernah basah oleh tangisan. Karena Jennie terlahir sebagai gadis kuat sejak dini. Namun kata-kata Reyno terlalu mengiris hatinya. Bagaimana bisa dia egois begini? Hidup ini milik berdua, Reyno juga merasakan kesuliat yang sama.


Cup ... Cup ... Cup. Tiga kecupan dari bibir tipis Reyno menghantam pipi basah itu. Lalu ia mengelap pipi basah Jennie dengan ibu jarinya.


“Jangan nangis, aku gak marah. Wajar kamu ngeluh, aku juga yang salah. Belum bisa memenuhi kebutuhan kamu, bahkan perut istri aku saja sampai kosong begini.” Jari-jarinya mnggelitik perut Jennie, gadis itu langsung tergelak dan menggeliat kesana kemari.


“Maaf,” lirih Jennie sambil memeluk erat Reyno. Masih diatas pangkuan suami kesayanganya.


“Mari kita mencoba melukan semuanya, melupakan segala kehidupan mewah yang selama ini mengelilingi hidup kita. Ayo membuka mata selebar mungkin, di saat seperti ini, kita hanya punya satu sama lain, bisakah kita saling bahagia bersama-sama?”


“Makasih Reyn, Kita pasti bisa bahagia, pasti bisa!”


Entah terbawa suasana atau apa, tiba-tiba Reyno mendekatkan bibirnya perlahan, menanamkan sentuhan termanis dari bibir indahnya. Jennie menerimanya dengan senang hati, membalas serangan itu secara bertahap. Kelenjar-kelenjar aneh mulai mengalir di seluruh darah mereka. Sensasi aneh yang pernah mereka rasakan sebelumnya muncul kembali, sesuatu yang membuat tubuh Jennie dan Reyno mendadak panas dingin. Mereka tidak dapat mengenali tubuh mereka sendiri, seperti ada sesuatu yang mengendalikan tubuhnya untuk berbuat lebih dari sekedar itu. Ialah hasrat.

__ADS_1


Cetrekk!


Suara rice cooker yang menandakan nasi masak tiba-tiba berbunyi. Jennie tersentak dan reflek bangun, merapihkan bajunya yang tidak acak-acakan.


Sementara Reyno terus menggaruk kepalanya yang tak gatal, masih merasakan sensasi yang belum hilang tadi. Reyno ingin melakukan sesuatu yang lebih, lebih dari yang mereka lakukan tadi. Kini ia benar-benar menginginkan hal itu, tapi bagaimana ya? Sepertinya Reyno harus mengubur dalam-dalam keinginan dari sisi lain dirinya. Keadaanya sedang susah begini. Rasanya tidak pantas jika meminta hal itu sekarang. Apa lagi umur mereka belum pantas untuk melakukanya.


“Beras yang tadi ...” Jennie menghentikan bicaranya ketika melihat sesuatu yang timbul dari balik celana boxer Reyno. Buru-buru ia mengalihkan pandanganya ke arah rice cooker di samping kompor gas, tepatnya di sudut meja memasak. “Apa itu bisa di masak, berasnya hanya sedikit, kan? bahkan hanya beberapa genggam saja.”


“Bisa kok, airnya sudah di sesuaikan dengan banyak berasnya. Pasti berubah menjadi nasi, jangan khawatir.” Reyno berjalan menuju rak piring, mengambil mie yang ada di atasnya. “Tinggal masak mie nya.” Tersenyum sambil memamerkan sebungkus mie yang ada di tangannya.


“Beneran, berasnya bisa di jadikan nasi? Itu sedikit banget loh, Reyn.” Jennie melongok rice cooker yang masih mengeluarkan asap, hendak membuka dan melihat hasilnya.


“Jangan di buka, tunggu beberapa menit lagi.” Reyno menarik Jennie ke sisinya. Jarak anatar kompor gas dan rice cooker—nya tidak terlalu jauh, hanya meja keramik yang panjang tiga meter, berisi kompor di tengah-tengah, rak piring kecil disebelah kanan, dan rice cooker di pojok meja sebelah kiri.


“Kenapa ngga boleh di buka?” Memang Jennie tidak tahu dasar memasak di rice cooker, wajar kalau bertanya seperti itu.


“Kalau baru bunyi cetrek, jangan langsung di buka, tunggu beberapa menit agar agak tanak,” ucap Reyno sambil memasukan mie instan ke dalam air mendidih.


Reyno mulai memasukan bumbu-bumbu ke dalam panci, ia juga menambahkan bumbu-bumbu yang ia racik sendiri. Jennie hanya memeperhatikanya sampai mie itu berpindah ke dalam mangkuk. Lalu di taruh ke meja oleh Reyno.


“Reyn, kok di tambahin bumbu lagi, memangnya kenapa? Terus kuahnya banyak banget, mienya kan cuma satu,” tanya Jennie polos.


“Justru karena cuma satu, makanya aku kasih kuah banyak, biar kamu kenyang. Ya, walau kenyang oleh kuah mie instan. Hahaha ....” Terkekeh dalam kisah sedih yang sedang ia jalani. Untungnya tuhan tidak mengambil tawanya, Reyno masih bisa tertawa walau sambil menahan perut yang lapar.


Jennie sudah duduk di meja, menatap mie yang isinya terlihat banyak. Apa enak ya? Kok miris banget hidup kita sih, Reyn. Makan mie satu bungkus saja harus di kasih kuah sebanyak ini. Dua bungkus mie instan harganya ngga seberapa, tapi kita ngga mampu beli. Pikirnya dalam hati. Sedih menatapi semangkuk mie panas beraroma sedap itu.


“Makanlah!” Reyno menyodorkan sepiring nasi yang ia ambil semua dari dalam rice cooker. Beruntung masih ada sepiring. Setidaknya malam ini Reyno tidak melihat istrinya merengek kelaparan. “Jangan takut ngga enak, walau kuahnya banyak, aku sudah menambahkan sedikit garam biar asinnya pas.” Reyno tersenyum lagi.


“Tapi—.” Jennie tampak ragu-ragu. “Kok nasinya cuma sepiring?”


“Hehehe, kan berasnya cuma sedikit. Beruntung tekstur nasinya pas. Ngga kelembekan, aku pintar, kan?” Menghibur diri sendiri. “Ayo di makan!”


“Kamu gimana? Masa aku makan sendiri.”

__ADS_1


“Aku kenyang, buat kamu aja. Yang ngeluh lapar dari tadi siapa hayo?” Lagi-lagi Reyno menunjukan senyum jenakanya.


Tentu saja bohong kalau ia bilang tidak lapar. Reyno hanya minum air putih dari pagi sampai jam delapan malam. Berkali-kali ia tertegun menelan salivanya sendiri, melihat makanan hangat yang tersaji di depan istrinya. Perutnya menjerit, meronta dan menangis minta diisi. Namun ia harus mengalah pada perempuan, laki-laki tidak boleh cengeng. Hanya tidak makan sehari. Begitulah ia menyemangati dirinya sendiri.


“Buat kamu aja deh. Aku juga ngga makan kalau kamu ngga makan, aku tahu kamu juga lapar.” Jennie menyodorkan piring dan mangkok itu dengan berat hati.


“Kamu kok gitu, aku engga lapar. Malahan aku ngantuk, pengin cepat-cepat tidur. Siapa yang mau makan kalau bukan kamu?” Reyno pura-pura menguap.


Jennie mendorong kembali makanan yang baru saja disodorkan Reyno. Ia bangun dari posisi duduknya. Lalu hinggap di pangkuan Reyno. “Suapin aku!” pintanya manja.


Reyno menuruti permintaan Jennie, mencubit hidung mungilnya lalu meraih sendok. “Aaaaaaaa ....” Mulutnya ikut menganga. Jennie menyambut suapan pertamnya dengan hati gembira. “Mau kuahnya,” ucap gadis itu sambil membuka mulutnya.


“Reyno juga makan, ya.” Meraih satu sendok lagi di atas meja. Lalu menyodorkan sesendok nasi yang sudah dicampur mie ke bibir Reyno. Cowok itu menggeleng, tidak mau membuka mulutnya.


Sebenarnya ia sangat ingin membuka mulutnya, tapi ia yakin Jennie tidak akan kenyang kalau Reyno ikut makan bersamanya. Setidaknya ada satu orang yang kenyang, tidak apa-apa jika ia kelaparan. Itulah yang ada di pikiran Reyno. Namun berbeda dengan Jennie, seberapa banyak makanan yang ia makan, kalau di makan bersama pasti akan kenyang. Menurut Jennie. Berbagi itu indah. Apa lagi berbagi dengan suami sendiri.


“Pokonya harus makan!” Jennie memaksa. Akhirnya cowok itu melemahkan pertahananya. Membuka mulutnya dan menyambar suapan dari Jennie. “Makasih ya,” ucap Reyno lalu tersenyum setelah menelan makananya.


Mereka saling menyuapi. Sampai tidak terasa semangkuh mie dan sepiring nasi yang mereka makan sudah habis.


“Aku kenyan, Reyn.” Menyandarkan kepalanya di bahu Reyno. “Aku juga!” sambil mengelus rambut panjang Jennie yang terburai kemana-mana.


Ini yang di namakan keajaiban Tuhan. Seberapapun makanan yang kita miliki, akan bermakna jika kita mampu berbagi. Makanan yang hanya mampu di makan oleh satu orang, bisa membuat dua perut kenyang. Ajaib kan?


Sebenarnya bukan makananya membuat mereka kenyang. Tapi kebersamaan dan rasa saling peduli yang menutupi rasa laparnya.


Semoga hari esok bisa dapat pekerjaan, bisa beli dua bungkus mie.


Doa dari dua anak delapan belas tahun itu sebelum tidur.


***


Favoritin dong, ceritaku, bantu promosi kemana gitu, hehahehe.

__ADS_1


__ADS_2