Suamiku Anak Mami

Suamiku Anak Mami
Hamil?


__ADS_3

Reyno tak hentinya mondar-mandir seperti orang gila di depan pintu kamar mandi. Sesekali ia menggedor sang istri dengan pikiran berkecamuk. Menunggu dan memanggil nama Jennie berkali-kali seperti orang kesetanan.


"Je, ya Tuhan. Kamu tidur di kamar mandi, ya?" seru Reyno yang mulai frustasi.


"Sabar Reyn, ini yang aku tes dua puluh. Gimana gak lama? Kamu gila beli alatnya gak mikir," gerutu Jennie dari dalam kamar mandi. Reyno mendesah lemah, lalu membentur-benturkan kepala bagian belakangnya ke pintu kamar mandi—frustasi.


Entah sudah berapa kali Reyno memanggil nama Jennie hingga telinga wanita itu berdengung ngilu. Sebal sekaligus gemas pada suaminya.


Sekitar 30 menit kemudian. Jennie keluar dengan ekspresi datar. Membuat Reyno semakin bingung dan ditaburi rasa was-was.


"Gimana hasilnya? Kamu gak hamil kan? Kalo kurang beli lagi aja alatnya, barang kali alatnya rusak, " serbu Reyno ketar-ketir. Di mana sikapnya sudah setara dengan orang gila yang ada di RSJ. Dua puluh saja sudah banyak, ini Reyno mau beli lagi. Dia pikir Jennie mesin uji coba? Dasar suami.


"Reyn, kalo aku hamil kamu gak marah 'kan?" Jennie mulai bertanya dengan hati-hati.


"Jadi hasilnya positif?" Tubuh Reyno terasa limbung. Pria itu melangkah mundur ke belakang, lantas menjatuhkan tubuhnya di pinggiran kasur. Duduk kaku sembari merasakan gemetar di sekujur tubuhnya.


"Reyn, kamu kenapa? Maaf ya," lirih Jennie mendekati. "Segitu tidak inginnya kamu punya anak lagi. Sampai muka kamu langsung pucat begini?"


Dipeluknya tubuh sang suami penuh kasih sayang. Setelah lima menit menjadi patung. Reyno akhirnya buka suara,


"Aku bukannya tidak ingin memiliki anak lagi. Hanya saja aku belum siap jika harus melihat kamu hamil lagi, Sayang. Melihat kamu mengandung sembilan bulan dengan susah payah, lalu melahirkan dengan taruhan nyawa di depan mata. Tahukah? Aku seperti mau mati melewati hari-hari itu. Aku tidak kuat melihatmu menderita, tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa juga," ungkap Reyno panjang lebar.


Mata pria itu berkaca-kaca. Mengandung sejejak rasa takut yang amat luar biasa. Walaupun Reyno masih menolak kehadiran anak ketiga, tapi ada rasa sayang yang bersembunyi di balik penolakannya. Reyno sungguh mengkhawatirkan sang istri. Maka dari itu Reyno masih ingin menunda program hamil kedua Jennie beberapa waktu lagi.


"Lihat nih!" Jennie mengambil dua puluh tespack bertanda negatif dari saku piyamanya. Wajah Reyno berubah sumringah seketika.


"Ya ampun, aku hampir nangis tahu Je! Kamu malah ngeprank aku, dasar istri nyebelin," umpat Reyno sebal.


Jennie merangkun wajah Reyno dengan kedua tangan. Lantas menatap mata itu hingga kedua mata mereka saling bertemu.


"Sampai kapan kamu gagal move on? Aku saja yang merasakan sudah lupa loh, Reyn. Meskipun sakit, tapi aku menyukainya. Aku suka mengandung anak kamu. Aku ihklas dan tidak pernah mengeluh sakit sama sekali." Jennie menjatuhkan tubuhnya di pangkuan Reyno. Lantas bergelayut manja seperti anak monyet yang sudah lama tidak bertemu dengan ibu kandungnya sendiri.

__ADS_1


"Iya, sih. Tapi aku masih takut. Trauma lihat pengorbanan kamu yang sebesar itu."


"Ssttt!" Jennie menempelkan ujung telunjuknya di bibir Reyno. "Cukup balas semua itu dengan kesetiaan dan kasih sayang yang tulus, Reyn. Aku sungguh tidak keberatan mengandung berapapun anak. asal benihnya dari sini," ucap Jennie menggoda naka. Wanita itu mengelus onderdil sang suami yang masih tidur nyenyak. Lalu memberikan sedikit pijatan hingga milik Reyno terjaga sempurna.


"Gimana ya?" Reyno tampak berpikir keras. "Sebenarnya aku juga ingin memiliki satu anak lagi. Tapi aku takut kamu keberatan."


"No! Tidak sama sekali. Sudah kubilang kalau aku siap mengandung anakmu berapapun itu."


Sedikit senyum ketenangan mengembang di pipi Reyno. Pria itu tersenyum hangat penuh arti.


"Baiklah, mulai hari ini, mari kita lakukan program anak kedua. Berhentilah minum pil KB." Ditariknya tubuh sang istri. Mereka berguling hingga posisi tubuhnya saling berpelukan di tengah-tengah ranjang.


"Kamu serius?" tanya Jennie tidak percaya.


"Jika kamu rela meminjamkan tubuhmu untuk merasakan derita yang kedua kali, aku akan dengan senang hati menabur benih hingga lahanmu ditumbuh bunga," ucap Reyno dengan kode isyarat.


"Kuy!" aja Jennie sumringah.


Keduanya mulai bergelut. Melucuti pakaian masing-masing untuk sebuah pertarungan malam yang akan segera terjadi.


Pagi menjelang, Reyno dibangunkan oleh kecupan sang istri dua kali di pipinya. "Pagi Sayangku," sapa Jennie seraya menarik selimut hingga sebatas leher. Menutupi bagian dadanya yang dingin karena terpaan AC.


"Pagi juga Sayangku, Cintaku, Manisku, bidadari surgaku." Reyno memborong semua panggilan sayangnya seperti ibu-ibu yang gila diskonan di super market.


Jennie terkekeh geli, lantas menjadikan pipi Reyno sebagai saran empuk cubitannya.


"Dasar alay!" cibirnya bersemu malu.


"Mau cium dong, masa ciumnya pas masih tidur. Gak kerasa tau! Dasar culaang," protes Reyno dengan gaya manja ala anaknya Cilla, di mana author merasa iri dan dengki ketika menuliskan ke-uwuan mereka berdua.


Dua kecupan gemas mendarat lagi di pipi Reyno. Pria itu masih protes. "Kurang, mau di sini, di sini, di sini juga." Menunjuk beberapa bagian tubuhnya yang ingin di cium.

__ADS_1


"Yang ini juga dong! Kasihan dianggurin," protes Reyno saat Jennie sudah selesai mencium bagian yang di tunjuk tadi.


Jennie menjentik dahi Reyno keras-keras. Lau menaikan satu alisnya sebal. "Kalau yang itu aku rugi bandar. Nanti kamu gak mau bangun yang ada. Dasar mesum!" kesal Jennie.


Reyno terkekeh. Mengeratkan lagi pelukan sebelum menyapa dinginnya air di kamar mandi. "Aku udah gak sabar, pengin cepet-cepet ke Korea. Dua hari lama banget, sih!"


Ah ya, setelah melalui beberapa perdebatan, akhirnya Reyno memutuskan Korea sebagai tempat untuk mereka mengulang bulan madunya kembali.


"Gak sabar mau seharian di kamar ya?" goda Jennie dengan percaya dirinya.


Namub tebakan tak selamanya benar. Alih-alih bulan madu, otak Reyno sudah memikirkan rencana lain yang jauh lebih indah menurutnya.


"Hahaha. Ya bukanlah, aku mau ke studio YG, mumpung dapat akses masuk istimewa di sana. Siapa tahu bisa ketemu—"


"Ketemu siapa?" Jeweran Jennie mendarat di telinga Reyno kerasa sekali. Pria itu mengaduh sambil mengelus telinganya yang terasa panas.


"Ke-ketemu artis!" jawab Reyno sedikit terbata.


"Siapa nama artisnya? Cantikan mana sama aku?" Aura wanita Jennie keluar.


Ya Tuhan, sejak kapan Jennie jadi posesif begini. Belum juga hamil, sudah keluar saja aura macannya, batin Reyno kesal.


"Jiso, Yank! Menurut aku ya cantikan Jiso daripada kamu," jawab Reyno jujur sekali. Walau dalam hati merasa terancam. Tercekik dan siap dieksekusi.


"Jujur banget! Apa gak bisa nyenengin istri dikit?" Karena ini merupakan pertama kalinya Reyno memuji wanita lain di depan sang istri.


"Ya ampun Yank, kalau aku bilang cantikan kamu namanya aku berdosa banget. Mau di bolak-balik seperti apapun muka kamu tetap gak bisa dibandingin sama girlband Korea." Lebih baik jujur apa adanya, daripada bohong menambah dosa.


"Suami setan kamu, Reyn!" Kalimat kasar akhirnya keluar dari mulut khilaf Jennie.


"Maafkan aku ya, Yank. Untuk ukuran wanita Indonesia kamu memang tercantik di mataku. Tapai kalau dibandingin Jiso, tentunya aku akan bilang jujur kalau Jiso lebih cantik daripada kamu."

__ADS_1


Tidak perlu dijelaskan adegan berikutnya. Ketika seorang suami mengambil konsekuensi cari mati. Itu artinya dia harus siap menerima amukan macan gembong yang siap menelannya dalam keadaan hidup dan mati.


***


__ADS_2