Suamiku Anak Mami

Suamiku Anak Mami
S2- Bab 59


__ADS_3

Jennie terpuruk dalam rasa yang berkecamuk. Sekuat apapun ia berteriak, Reyno tidak akan mendengar karena mobilnya sudah menghilang di ujung jalan. Semuanya sudah terjadi, hanya ada luka dan ribuan kata penyesalan.


"Je, kamu tidak apa?" Dafa membantu Jennie untuk bangun. Siku lengan wanita itu mengalirkan darah yang cukup banyak akibat dorongan kuat Reyno. Gadis itu terjerambab di atas aspal. Di kedua lututnya juga terdapat beberapa luka lecet.


"Astaga! Tangan kamu berdarah Je, apa suamimu selalu bersikap kasar seperti itu?" tanya Dafa mulai menelisik informasi.


"Engga! Dia nggak pernah begitu," aku Jennie menahan isak. Wanita itu mencengkeram dadanya kuat. Merasakan nyeri yang bertubi-tubi menghantam jiwanya. Meskipun Jennie mensugesti bahwa perlakuan Reyno tidak sengaja, namun jauh direlung hatinya tidak seperti itu. Ia merasa sakit mendapat perlakuan sekasar itu dari Reyno. Suami yang setahu Jennie hatinya lembut seperti sutra telah tega bersikap kasar padanya. Jika bukan Reyno, mungkin hati Jennie tak akan sesakit ini saat mendapat perlakuan kasar yang tidak seberapa.


"Suamiku yang terbaik. Reyno pasti tidak sengaja mendorongku tadi." Begitulah bibir bergetar Jennie pada akhirnya menjawab. Masih tetap membela suaminya apapun yang terjadi.


Hati Dafa mendadak sakit, ia tidak rela melihat sahabat kecilnya diperlakukan seperti itu. Semarah apapun laki-laki, seharusnya Reyno tidak boleh sampai berbuat kasar seperti itu. Dafa juga paham bahwa Jennie pasti sedang merasakan sakit sekarang. Tebukti gadis tomboy yang biasanya pelit air mata itu menangis tanpa rasa malu.


"Ya sudah, ayo kita obati dulu lukamu. Kita ke rumah sakit."


"Tidak mau! Aku harus menyusul suamiku. Aku harus menjelaskan semuanya sebelum masalah ini semakin melebar." Jennie menggeleng tanda menolak. Melepas tangan Dafa untuk pergi mencari taksi.


"Jangan seperti itu. Suamimu marah juga karena aku. Andai aku tidak mengajakmu bertemu, pasti tidak akan seperti ini. Izinkan aku membantumu untuk menjelaskan. Bagaimanapun aku laki-laki, aku lebih tahu isi hati suamimu."


Pada akhrinya Jennie mengangguk setuju. Dafa mengajak Jennie untuk masuk ke dalam mobil. Pria itu bermaksud mengantar Jennie kemanapun ia mau.


"Kita mau ke mana, Tuan Putri? Aku ngeri lihat luka di tanganmu itu, kerumah sakit dulu ya," rayu Dafa sekali lagi. Mobil Dafa sudah melaju, membelah padatnya jalan raya yang membanjiri ibu kota.


"Ke rumahku, Reyno pasti sudah pulang ke rumah."


"Baiklah, ayo kita akhiri kesalahpahaman ini," ujar Dafa tersenyum, pria itu menatap fokus ke jalan setelah memastikan tangis Jennie yang mereda.


"Menaklukkan hati suamiku tidak semudah membalikan telapak tangan. Entah apa yang sedang Reyno rencanakan saat ini, aku benar-benar khawatir pada anak itu."

__ADS_1


"Benarkah? Tenang saja! Selama ada kakakmu, semua akan baik-baik saja." Gurauan Dafa mampu membuat Jennie sedikit lebih tenang. Dalam diam, Jennie menarik sudut bibirnya untuk tersenyum. Meskipun ia melakukannya dengan terpaksa.


"Kak, jika kau menjadi suamiku, Apa kau akan marah juga seperti Reyno.


Dafa tampak berpikir sejenak. Lalu menoleh pada Jennie seraya melempar senyuman. "Tentu saja aku marah! Harusnya kamu bilang kalau sudah menikah, jadi aku tak dianggap sebagai perebut istri orang begini."


"Maaf, Kak! Aku lupa."


"Dasar bandel!" Dafa mengelus rambut kepala Jennie gemas. "Sudah tahu suamimu seperti itu, tapi kamu masih saja tidak bisa menghilangkan kebiasaan lupamu. Aku deh, yang kena," gerutu Dafa manyun.


"Maaf Kak, aku benar-benar lupa mengabari suamiku. Mungkin ini sudah menjadi jalan perjalanan cinta kami, karena jujur Reyno dan aku jarang bertengkar besar seperti ini. Apa lagi sampai tidak bisa mengontrol diri."


"Ya sudahlah, mau apa lagi. Tapi ingat, setelah kalian baikkan, aku akan memarahi suamimu. Bagaimanapun juga ia salah karena sudah membuat kamu luka-luka dan menangis." Ada sedikit emosi yang bersarang di dada, namun Dafa terus mengatur ekspresi wajahnya senormal mungkin.


Mobil Dafa mulai memasuki pelataran rumah Jennie. Lalu berhenti sekitar tiga meter dari pintu rumah. Tanpa memperdulikan Dafa, Jennie langsung turun dan berlalir menyusul suaminya.


"Tuam muda baru sja pergi, Nona. Si kembar di bawa pergi oleh tuan muda!""


Deg!


Jennie nyaris terjatuh andai saja Dafa tidak menopang tubuhnya dari belakang. Lahar panas itu meleleh lagi dari pelupuk mata Jennie. Tubuh ringkihnya bergetar hebat seiring dengan hati yang dilanda ketakutan.


"Sejak kapan pria itu pergi?" tanya Dafa karena melihat bibir sahabat kelu. Tidak ada yang bisa Jennie lakukan kecuali menangis.


"Sekitar setengah jam yang lalu, tuam muda pergi membawa anak-anak dan beberapa perlengkapannya."


"Sial!" umpat Dafa emosi.

__ADS_1


Baru pertama kali ia menemukan kasus rumah tangga yang rumit seperti ini. Biasanya pria akan pergi ke bar atau tempat bersenang-senang lainnya untuk menenangkan pikiran, bukan malah mengajak anak-anaknya kabur bersama.


"Kamu jahat, Kak! Andai saja kamu tidak memaksaku untuk ke rumah sakit dulu, mungkin aku masih bisa mencegah suamiku agar tidak kabur. Sekarang aku harus bagaimana? Harta yang paling penting di dalam hidupku pergi tanpa kabar."


Belati tajam tak kasat mata itu kembali mengiris hati Jennie. Menggores luka yang membuatnya serasa hidup di ambang mati.


"Tenangkan dirimu dulu, Je." Dafa mengelus rambut wanita yang tengah histeris itu. "Suamimu pasti akan membawa anak-anakmu pulang. Aku yakin ia tidak akan kuat mendengar tangisan mereka."


"Tidak mungkin Kak, aku dan Reyno memiliki kedudukan yang sama. Bisa jadi malah Reyno yang akan lebih di pilih anak-anaknya. Jika mereka sampai meninggalkanku, lebih baik aku mati saja, Kak." Isaknya kembali pecah, membuat bibi asuh yang melihat Jennie merasa bingung.


"Apa Reyno tidak memberi tahu ke mana ia membawa anak-anak pergi, Bi? Atau ada pesan lain mungkin?" tanya Dafa yang mulai frustasi.


"Tidak ada. Saya hanya melihat anak-anak di bawa tuam muda, dan raut wajah marah tuan yang menyeramkan.


Detik itu juga Jennie menjatuhkan tubuhnya di atas lantai. Meraung seraya memukul dadanya yang terhimpit rasa sesak. "Aku bodoh ... aku bodoh ..." teriaknya semakin kuat.


Seandainya Jennie menceritakan tentang Dafa dari dulu, mungkin Reyno tidak akan semarah ini. Pria itu pasti berfikir bahwa Jennie memiliki hubungan khusus dengan Dafa.


"Berhenti menyalahkan diri sendiri, Je. Lebih baik kita cari tempat-tempat yang biasa di kunjungi suamimu. cari kemana perginya suamimu. Coba kau hubungi suamimu lewat panggilan."


"Tidak bisa, Kak. Reyno kalau marah pasti selalu menonaktifkan ponsel dan menghapus foto profilnya."


Astaga! Dafa menelan saliva gemas.


Ini kenapa kelakuannya jadi seperti pacarku kalau lupa bawain seblak?


***

__ADS_1


__ADS_2