Suamiku Anak Mami

Suamiku Anak Mami
S2- Bab 47


__ADS_3

Setelah curhat pada Alex, perlahan Reyno mulai lega dan ingin mengurungkan niatnya untuk menyentuh benda haram itu. Namun nasi sudah menjadi bubur, kini mereka sudah memasuki sebuah bar yang sering Alex datangi bersama anak-anak kampus lainnya. Maklum, lelaki selalu beranggapan dirinya tidak keren kalau belum nakal di waktu muda. Fakboy, itulah simbol kebanggaan kaum pejantan.


Reyno mengikuti Alex dengan perasan takut dan gugup. Suasana yang gelap membuat ia merasa tidak nyaman berada di tempat asing itu. " Al, kenapa gelap begini?"


Alex menepis kesal tangan Reyno yang memegangi bagian baju belakangnya. "Namanya juga bar, ya beginilah suasananya.Tenang, gelap, ada musik yang mengalun. Kuy!" ajak Alex masuk.


Mereka berdua sudah duduk di sebuah sofa single. Reyno melirih kanan-kiri, tempat ini begitu sepi, hanya ada bebeapa pengunjung dan wanita penghibur yang duduk di sudut ruangan. Menunggu pembeli sambil merokok. Pokonya Reyno tidak suka dengan pemandangan seperti ini.


"Al pulang aja, yuk!"


"Astaga, Reyn! baru duduk loh, tunggu sebentar napas dulu. Katanya mau nyobain minuman?" goda Alex yang sudah paham gelagat Reyno yang ternyata berujung omong kosong.


"Tidak jadi, curhat denganmu sudah cukup bagiku, Al. Aku mau pulang saja, Jennie bisa marah kalau tahu aku ketempat seperti ini. Aku bisa digiles di mesin cuci olehnya," ujar Reyno merinding ngeri ketika mengingat anak istri.


Sudah Alex tebak akan begini jadinya.Pria takut istri itu mana berani menghianati istri. Anggap yang tadi Reyno sedang kesurupan jin. Makannya berani mengajak minum.


"Hahaha." Alex tertawa geli. "Sebelumnya aku sudah mengingatkan, bukan? Kamu main maksa pergi tanpa tanya-tanya terlebih dahulu."


"Aku kira tempatnya tidak seperti ini. Seru seperti restaurant dan kafe. Ternyata gelap dan seram. Apa gak ada bar yang terang?" Lagi, Reyno mengedarkan pandangannya sambil bergidik ngeri, membuat Alex yang ada di depannya tergelak seolah sedang mengejek.


"Reyno oh Reyno. Gayamu tadi pengin mabok. Jangankan mabok, baru lihat tempatnya saja sudah gelisah. Biasa minum yakult sih," ejek Alex tak tahan.


Tidak lama mereka berbincang-bincang, dua perempuan datang menggoda Reyno. Mereka duduk di sofa yang Reyno tempati. Mengapit Reyno dari kiri dan kanan.


"Hai! Untuk pelanggan baru, kita ada diskon khusus loh, Tampan. Apalagi kamu masih berondong," ujar salah satu gadis itu.


"Lepas!" Reyno menepis empat tangan yang menggerayangi bagian tubuhnya. "Al, tolong aku dong. Usir wanita-wanita ini," sarkas Reyno gelisah.

__ADS_1


"Aku tidak akan pergi. Kecuali kamu ikut denganku, tampan! Kita main threesome, yuk!" ajak teman perempuan yang satunya lagi.


"Lepas! Aku sudah punya anak dan istri," bentak Reyno geram.


"Semua pengunjung di sini rata-rata sudah punya istri kok, justru itulah fungsi kami. Memberikan pelayanan yang oke di saat mereka bosan dengan istrinya yang sudah peot," ujar salah satu wanita itu, mengedipkan mata nakal dan membuat Reyno merinding jijik.


Sial! Menggelikan sekali tempat ini. Tanpa menunggu dua kali, Reyno langsung bangkit, dan melompat dari posisi duduknya.


"Ayo kita pergi, Al. Bisa gila aku berada di tempat seperti ini." Dua perempuan itu masih mencoba meluluhkan Reyno. Meraih jaket yang Reyno kenakan dan merayu-rayu kembali.


Dua wanita itu ikut bangun dan mengapit Reyno di kanan-kiri. "Ayolah Tampan, rasakan dulu dan dikmati, baru kamu boleh protes." Mereka sengaja menggoda Reyno dengan menempelkan bagian dadanya yang ranum.


"Rasakan dengkulmu! Jauhkan benda silikon kalian dari tanganku, atau aku mutilasi susu palsu kalian berdua!" ancam Reyno yang sudah menggila hebat. Efek geli melihat wanita-wanita setan yang lebih parah dari sepupunya, Sasha.


Alex ikut berdiri dan merapikan bajunya. "Tenang Reyn, jangan marah-marah."


"Ayo cepat pergi!"


Reyno yang sudah tidak tahan dengan tempat itu langsung mencegah salah satu pelayan yang membawa segelas minuman. "Tunggu dulu, apa minuman itu beralkohol?"


"Tidak. Tapi—" Belum sempat pelayan itu melanjutkan ucapannya. Reyno langsung menyambar minuman itu. "Aku beli," ujarnya buru-buru.


Minuman ocean squash itu langsung tandas seketika. Reyno mengeluarkan lebaran uang dua ratus ribu dari dalam kantongnya. Karena ia sudah melihat bill yang tertera seharga 178.000 ribu.


Setelah meminum itu. Reyno mengambil pulpen dan menulis sebuah nominal angka di atas kertas cek. "Ini untuk modal usaha kalian, hentikan pekerjaan gila seperti ini." Reyno melirik ke arah pelayan. " Pastikan dua wanita berkelakuan menjijikan itu dipecat.


Setelah itu, Reyno langsung bergegas pergi meninggalkan tempat jahanam itu. Alex yang masih di sana melihat berapa nominal cek yang Reyno tuliskan.

__ADS_1


Lima puluh juta? Ia hampir shock melihat nominal itu. Iri, rasanya Alex ingin bertukar nyawa dengan dua wanita beruntung itu. Alex melirik Reyno yang berjalan gagah nampak seperti anak sultan. Ya, memang anak sultan sih! Tapi biasanya tidak sesultan ini.


Jangan tanyakan bagaimana ekspresi kedua wanita itu sekarang. Mereka masih terbang ke awang-awang. Antara nyata dan tidak nyata melihat nominal uang yang ada di dalam cek itu.


"Apakah ini bisa jadi uang?" tanya wanita yang tidak bisa pernah melihat cek sebelumnya.


"Tentu saja bisa, bertobatlah kalian!" Alex yang merasa iri segera pergi menyusul Reyno. Sebelum ia semakin panas melihat keberuntungan dua wanita itu.


"Reyn, tunggu!" seru Alex saat pria itu sudah menghilang dari balik pintu keluar.


Brugh! Alex membanting pintu mobil cukup keras. "Gila! Kau datang ke bar hanya untuk pencitraan," gerutu Alex kesal. "Aku yang sahabatmu saja tidak kau bantu. Malah membantu mereka yang membuatmu merinding jijik."


"Aku memang jijik dengan kelakuan para wanita itu. Makannya aku kasih dia uang agar berhenti mencari uang dengan cara menggenaskan seperti itu. Kalau kau dikasih uang, yang ada malah untuk kejahatan," sarkas Reyno.


"Memangnya tidak sayang uang?" Alex tahu keuntungan dari hasil bengkel Reyno tidak seberapa jika dibandingkan perusahan-perusahaan besar. Uang sebanyak itu sangat berharga bagi pengusaha biasa seperti Reyno.


"Cek itu milik perusahaan papiku. Sesekali aku mengambil uang jajanku untuk membantu mereka, tidak masalah 'kan. Lagian, mana mungkin aku berani mengeluarkan uang sebanyak itu dari hasil kerja kerasku," ujarnya dengan gaya enteng kesultanan. Seolah uang lima puluh juta itu dianggap lima ribu perak.


Sialan! Uang sebanyak itu dianggap uang jajan. Apakah Alex boleh menangis melihat gaya sultan seorang Reyno?


"Kalau itu uang pribadiku, Jennie pasti akan menggantungku hidup-hidup, Al."


"Oh ya, ya, anak sultan bebas," ujar Alex yang geram sekaligus iri.


"Hehe, biar uang itu menjadi amal Papiku, Al. Toh Papi tidak akan bangkrut kehilangan uang yang tak seberapa."


Ah, Alex semakin setres mendengar gaya sombong sahabatnya.

__ADS_1


Stop Reyn, aku muak melihat gayamu saat berubah wujud menjadi anak sultan. Di saat begini aku benar-benar lupa kalau kita sering makan semur jengkol bersama di warteg bu Ella. Gerutu Alex dalam hati.


***


__ADS_2