
William sedang merajuk seperti bayi pada kaka angkatnya Farhan. Demi apapun, pria itu benar-benar sangat mengerikan. Ia memiliki banyak nyawa di mana-mana, sampai kehamilan Tere yang hanya di ketahui oleh dirinya dan Tere saja bisa terbongkar dengan mudahnya. Katakan bravo pada pria Gunung Es itu.
"Farhan! Tolong rahasiakan hal ini dari siapapun. Semua itu hanyalah kecelakaan yang tidak sengaja." William memohon penuh penekanan. Ia yakin jika orangtuanya sampai tahu akan hal ini, pasti ia akan segera dinikahkan dengan Tere. Hii, membayangkannya saja sudah membuat bulu kuduknya merinding. Mengerikan.
"Saya masih merahasiakan ini pada Tuan Haris, tapi jika Tuan Muda berani menyakiti bayi yang tidak berdosa itu, saya pastikan bukan hanya Tuan Haris yang tahu, tapi seluruh dunia akan tahu akan hal ini." Farhan menatap kembali layar laptopnya, William hanya melirik Farhan dengan pandangan putus asa.
"Kau tahu kan, Farhan. Bahwa aku dan gadis itu tidak saling mencintai. Bayi itu tidak layak untuk hadir diantara kami. Tolong bantu aku kali ini saja, biarkan aku melenyapkan bayi itu." William mendudukan tubuhnya di atas sofa, pura-pura membuka majalah sambil menyilangkan kakinya.
"Saya tidak suka negosiasi, Tuan Muda. Saya yakin anda mengenal saya lebih dari apapun." Farhan tersenyum melihat tingkah William yang terus-menerus gusar.
"Tapi aku tidak mencintai gadis gila itu! Kau pikir aku hidup di dalam cerita novel, main jodoh-jodohan begitu!" William merebahkan tubuhnya di atas sofa, menyilangkan kakinya yang dinaikan ke atas meja.
"Hmmm. Tidak cinta ya?" Farhan tampak berfikir geli. "Saya benar-benar penasan, kenapa bisa ada bayi dalam keadaan tidak cinta begitu." Farhan tergelak.
"Sialan kau Farhan!" William melempar bantal sofa ke arah Farhan. Pria itu langsung menangkapnya dengan sigap.
"Tuan Muda —"
"Hei! Ya. Berhenti memanggilku dengan sebutan menjijikan seperti itu. Kau bahkan lebih berkuasa dariku. Tidak usah mendrama! Mennggelikan sekali kamu Farhan." William berdecih geli. Farhan semakin tergelak melihat wajah masam pria itu.
Sebeneranya hubungan Willam dan Farhan terbilang cukup baik. Semua yang di lakukan Farhan adalah demi kebaikan mereka bersama. Baik Reyno ataupun William tahu akan hal itu, Farhan sangat menyayangi mereka berdua. Bahkan rela mempertaruhkan hidupnya sendiri untuk kedua adik angkatnya.
"Terimalah perjodohan itu. Lagian orang yang kamu cintai sudah menikah. Mungkin saja mereka berdua sedang—."
"Ya! Stop membayangkan hal mengerikan seperti itu. Lebih baik diam kau, jomlo!" William menggusar rambutnya kebelakang. Entah kenapa ia semakin tidak dapat menahan emosinya ketika Farhan mengatakan hal itu.
Benar juga yang di ucapkan Farhan. Jangan-jangan hubungan Reyno dan Jennie telah sampai pada titik sejauh itu. Arghh! William mau mati saja rasanya. Demi apapun ia tidak rela kalau sampai Jennie jatuh ke tangan adiknya.
"Farhan..."
"Hmmmm."
"Bisakah kau memasang cctv di kamar mereka. Aku ingin memastikan kedua bocah itu tidak melakukan hal yang macam-macam." Kali ini William sangat serius.
__ADS_1
"Aku tidak akan menggunakan koneksiku untuk hal bodoh semacam itu. Tuan Haris pasti akan senang memiliki cucu dari kedua anaknya sekaligus. Hahaha...."
"Mati saja lah kau Farhan! William membalik tubuhnya emosi. "Jomlo akut sepertimu tidak akan tahu seperti apa rasanya cinta mati!"
"Tuan Muda."
"Stop! Berhenti memanggikku dengan sebutan itu. Kau anak yang paling di sayang Papi, di segani Mami dan mendapatkan kekuasaan penuh. Jadi jangan merperilaku seperti pelayan." Tubuh William bergetar jijik.
"Baiklah. Ini adalah peringatan terakhir dariku untukmu. Jangan korbankan bayi yang tidak berdosa itu. Selesaikan urusan kalian berdua dengan baik, tanpa menyakiti siapapun."
Sialan kau Farhan. Aku benar-benar sayang sekaligus benci padamu!
***
Jennie sengaja tidak pulang kerumah terlebih dahulu. Ia tahu kalau suami manjanya itu masih ngambek. Walau tadi Reyno sempat baik, tapi kan tahu sendiri kalau perasaan Reyno suka berubah-ubah seperti bunglon. Ia yakin Reyno akan ngambek lagi kalau diajak pulang ke rumah. Jadi gadis itu sengaja mengajak Reyno mengelilingi kota Bandung terlebih dahulu. Sudah lama juga mereka tidak jalan-jalan seperti ini. Kebetulan hari ini juga malam minggu.
Motor Jennie berhenti di kawasan Sudirman street food. Tempat yang paling asik untuk makan sambil nongkrong, apa lagi ada live music yang menambah indah suasana. Sungguh tempat yang cocok untuk semua kalangan.
"Reyno mau makan apa?" Jennie membuka pengikat helm dan melepas milik Reyno. Wajah masam itu langsung terpampang nyata begitu helmnya di lepas.
"Mau beli permen kapas?" Menawarkan makanan favorit Reyno.
"Gak mau! Nanti sakit gigi." Reyno menjawab dengan ekspresi yang sulit untuk diartikan.
Di saat-saat seperti ini. Jennie harus benar-benar ekstra sabar menghadapi Reyno. Memang cowok itu tidak marah pada Jennie, tapi mood yang tidak baik akan mempengaruhi sikapnya pada orang-orang yang ada di sekitar Reyno.
"Terus Reyno mau apa?"
"Mau pulang aja."
"Kok gitu, sih. Kita jalan-jalan dulu sebentar ya." Jennie menggandeng lengan Reyno. Cowok itu hanya diam menyeimbangkan langkah Jennie. Keduanya berjalan dengan santai menyusuri jalur food market, melihat stand makanan yang ada di sebelah kiri dan kanannya. Sesekali Reyno memandang ke atas, hamparan lampu hias membentang di atas jalan yang panjang itu. Benar-benar malam sederhana yang romantis. Harusnya sih begitu kalau Reyno tidak ngambek.
"Reyn!"
__ADS_1
"Apa?" Cowok itu hanya menoleh.
"Jangan ngambek gitu dong, kan gak enak kalau jalan-jalan tapi kamunya manyun terus." Jennie menggoyang- goyangkan rahang Reyno. Cowok itu hanya diam, tidak menanggapi perlakuan Jennie.
"Aku masih kesal sama obat gak masuk akal itu." Masih membahas pil KB si pembawa masalah.
Kesalnya sama apa, tapi aku yang kena. Dasar Reyno. Jennie menggerutu panas di dalam hatinya.
"Gini loh, Reyn. Gimana kalau kamu lakuin aja tanpa harus menunggu besok. Kan kalau hanya melakukan sekali belum tentu hamil." Hanya pemikiran pribadi dari seorang Jennie.
"Benarkah?" Reyno menoleh dengan perubahan ekspresi yang amat drastis. Wajahnya berbunga-bunga seperti hamparan mawar yang luas.
"Harusnya sih begitu."
Sebenarnya seharian ini Jennie sudah menghitung masa suburnya berkali-kali. Menurut perhitungan yang ia pelajari dari internet, Jennie sedang dalam masa tidak subur.
"Jadi aku boleh itu sekarang, dong?" tanya Reyno bahagia.
"Boleh dong! Tapi di rumah, bukan di sini," kelakar Jennie sambil tertawa.
Percayalah. Saat itu juga Reyno merasa menjadi manusia yang paling bahagia sedunia.
"Ayo kita pulang...."
"Sekarang? Gak mau jajan dulu?"
"Gak usah!" Reyno memutar balik. Mengajak Jennie untuk kembali ke parkiran motor. Gadis itu hanya menurut dengan wajah yang di tekuk lesu.
Yah, padahal aku mau beli seblak.
Hiks ... hiks ... seblakuu sayang.
***
__ADS_1
Se you next time. Jangan lupa like dan tekan tomblol ❤ agar dapat pemberitahuan khusus saat cerita ini update.