Suamiku Anak Mami

Suamiku Anak Mami
Ikan Asin


__ADS_3

Waktunya makan. Hanya lauk pauk sederhana yang Reyno beli di warteg, ikut-ikutan para pekerja lainnya yang sering langganan di situ.


Jennie tersenyum melihat Reyno membuka karet pengikat nasi warteg itu, ingatannya kembali pada masa di saat Reyno selalu komplain dengan makanan yang ia makan, rasanya harus enak, higienis, desain harus rapih dan menarik. Itulah standar makanan Reyno yang biasa dimakan sehari-hari, tidak menyangka sama sekali, sekarang Reyno bahkan mau memakan nasi yang di campur dengan lauk dan sayuran. Di bungkus kertas dasi dan di ikat karet gelang. Wow, hati Jennie serasa ingin menjerit melihat perubahan Reyno. Suami hebatku, si manja kesanganku. Pikir Jennie dalam hati.


"Yang ayam buat kamu, Reyno mau makan pakai ikan." Cowok itu menyodorkan piring makanannya pada Jennie. "Selamat makan, Jennie."


"Iya Reyno selamat makan juga." Jennie mulai menyendokkan sesuap nasi ke mulutnya. Sesekali ia melirik Reyno yang sedang memisahkan lauk dan sayur kepinggiran. Lucunya. Batin Jennie dalam hati.


"Eughh...!" Reyno meraih tisu di samping, lalu memuntahkan mananan yang ada di dalam mulutnya ke atas tisu. Buru-buru ia pergi ke kamar mandi untuk kumur-kumur.


Sakit gigi, ya? Makannya jangan kebanyakan makan permen kapas. Batin Jennie dalam hati.


"Kamu kenapa, Reyn? Sakit gigi?" tanya Jennie penasaran.


"Engga, cuma aneh banget makanannya. Ikannya asin parah, aku mau masak mie aja," ucap Reyno sambil menjulurkan lidahnya yang terasa getir.


"Buahahaha. Kamu hoby banget sih, bikin aku ngakak." Jennie sampai memegangi perutnya yang sakit karena terlalu keras tertawa. "Ya jelas itu asin, namanya juga ikan asin. Jangan bilang kamu ngga tahu ikan asin."


"Ya Tahu lah, ikan yang diawetkan dengan garam, di pelajaran SD juga ada. Tapi kan aku gak tahu yang aku beli itu ikan asin, aku cuma lihat bentuknya panjang lucu, menarik."


Reyno merengut masam. Menyingkirkan makanannya ke samping. Lalu menaruh kedua tangannya di bawah dagu. Dia ngambek sendiri, apa lagi istrinya terus menertawainya.


"Makanya, jangan suka lihat makanan dari bentuknya." Jennie masih setia tergelak.


"Au amat, akh!" Ngambek dia.


"Cup ... cup ... cup. Sayang aku ngambek nih." Mengusak rambut kepala Reyno. Cowok itu melengos kesal karena terus diledek. "Kita tukeran makanan ya, kebetulan aku suka makan ikan asin." Jennie mengambil piring Reyno. Lalu menyodorkan piringnya sendiri ke arah Reyno.


"Aku ngga pengin makan ayam, maunya ikan." Terus ngambek.

__ADS_1


"Eh... mamahkan udah bilang, ngga boleh pilih-pilih makanan. Makan yang ada." Jennie pura-pura melotot menjadi ibu galak. Lalu menyantap makanan Reyno yang ada ikan asinnya.


"Huuh. Katanya boleh jadi diri sendiri, tadi kamu yang bilang. Jangan terlalu memaksakan diri untuk menjadi dewasa," ungkit Reyno kemudian. Jennie kalah telak.


"Hehehe. Makan terkecualikan, kamu tahu kan, kayak apa rasanya kelaparan tidak ada makanan sama sekali." Jennie mengingatkan jika Reyno lupa.


"Iya ... iya. Aku makan, nih." Reyno mulai makan.


"Lain kali kalau mau beli makanan ditanya dulu ya, rasanya kayak apa, jangan sampai beli ikan asin lagi."


"Hmmm." Berdeham malas sambil memutar bola matanya.


***


Sesuai dengan janji Jennie, gadis itu memijat seluruh bagian tubuh Reyno pada malam harinya. Kecuali bagian terlarang ya.


Setelah dipijat Jennie tubuh Reyno jauh lebih baik dari sebelumnya, bahkan kuat angkat semen dua karung sekaligus. Pikir Reyno. Hanya saja Jennie langsung ketiduran setelah lelah memijat Reyno, padahal Reyno masih ingin ngobrol banyak. Kangen-kangenan begitu.


"Apa yang kamu lakukan seharian ini?" tanya Reyno.


"Aku tidur-tiduran, main hape, udah itu aja."


"Kenapa ngga tidur beneran?"


"Ngga bisa tidur, biasanya selalu ada Reyno di samping aku. Karena Reyno sekarang sudah kerja, aku kesepian jadinya. Lihat jendela berkali-kali, nungguin kamu pulang. Pas tahu kamu pulang, rasanya seneng banget tahu." Jennie tersenyum.


Hanya percakapan sederhana memang, tapi bikin terbayang terus di kepala Reyno. Malah ia sendiri yang jadi tidak bisa tidur. Segitu berlebihannya ya kalau orang sedang jatuh cinta, rasanya ingin bersama terus.


"I love you, Jennie. Good night." Reyno mengecup kening Jennie. Lalu menarik tubuh pulas itu ke dalam pelukannya. Ia membelai wajah Jennie perlahan, mengelus bagian bibir Jennie dengan ibu jarinya. Bibir tipis itu terlihat sangat menggoda, warnanya merah, sedikit basah dan lembut saat disentuh. Ingin rasanya Reyno menciumnya, sayang nya Jennie sudah tidur.

__ADS_1


Aku kenapa, sih? Kok jadi gelisah begini setiap tidur di samping Jennie. Rasanya ngga enak. Batin Reyno dalam hati.


Sejak tumbuhnya rasa cinta yang amat besar dalam diri Reyno. Ia mulai merasakan keanehan yang mulai tumbuh dalam naluri kemanusiaannya. Reyno ingin melakukan banyak hal, terutama memiliki Jennie seutuhnya. Kalau awalnya Reyno hanya ingin melakukannya karena meniru drama yang ia tonton, sekarang rasanya berbeda, ia ingin melakukan hal itu setiap ada di dekat Jennie.


Naluri itu tumbuh setiap saat, menggetarkan jiwa yang mulai bangun sepertinya. Hanya saja Reyno masih bingung untuk memulainya dari mana. Bagaimana cara ngajakin begituan, takut di tolak juga. Reyno kan gampang sakit hati, bisa-bisa ia kabur dari rumah kalau Jennie sampai menolak. Itu artinya Jennie belum cinta pada Reyno, makanya di tolak. Intinya sekarang banyak sekarang banyak sekali pikiran-pikiran tidak jelas yang berkeliaran dalam otak Reyno.


"Jennie, aku gak bisa tidur, nih!" Reyno berbisik agak keras di telinga Jennie.


Jennie sedikit tersadar, lalu menarik kepala Reyno dan membenamkannya di dada.


Ikhhh, kalo begini malah aku yang gak bisa tidur. Sekarang aku udah beda tahu. Yang dimaksud Reyno ia tidak lagi menyukai posisi seperti ini. Karena membuat dirinya semakin tidak nyaman. Tidak seperti dulu ketika masih menganggap Jennie seperti ibunya sendiri.


Jennie nyebelin banget, sih. Kalau udah tidur susah banget di bangunin. Nanti kalau tangan aku nakal dia marah. Malesin banget.


"Jennie..." Reyno memanggil lagi.


"Hmmm...."


"Kamu masih haid?"


"Iya...," jawab gadis itu setengah sadar.


"Berapa lama selesainya?"


"Dua hari lagi."


Masih lama banget. Batin Reyno kesal. Kakinya meninju udara saking kesalnya. Kenapa Reyno berani bertanya saat Jennie sedang tidur. Karena spesies yang satu ini sedikit berbeda, Jennie akan selalu menjawab ketika ditanya dalam keadaan tidur, tapi lucunya gadis itu tidak dapat mengingat apa yang ia ucapkan setelat ia bangun esok harinya. Semacam mengigau mungkin.


***

__ADS_1


Kakak-kakak semuanya, minta bantuan. Reyno dan Jennie kalau punya anak, enaknya di panggil apa ya? ayah-ibu, mamah-papah, atau apa ya? otw hamil, nih.


Bantu jawab ya.


__ADS_2