
Di pagi hari yang tidak cerah ini, Farhan tiba-tiba saja di buat jengkel oleh adik angkatnya William. Bagaimana tidak, mereka akan melakukan kunjungan proyek barunya di Bandung, namun William mendadak telat dan memundurkan jadwal keberangkatannya satu jam kebelakang. Padahal Farhan sudah siap, dan bahkan sudah memanaskan mobilnya. Niatnya bertemu Jennie bisa gagal karena minimnya waktu, apa lagi ia hanya sehari di sana. Besok pagi harus sudah pulang kembali ke Jakarta. Tau begini mending naik pesawat saja.
"Maaf, aku ada urusan mendadak tadi, ada hal penting yang harus aku tangani saat itu juga. Dan aku juga terpaksa harus mengajak Tere." Wiiliam dan Tere yang baru datang langsung masuk ke dalam mobil bagian belakang. Sementara Farhan yang mengemudi di depan.
"Apa urusan anda adalah menangani ondel-ondel yang sedang keracunan wahai Tuan Muda?" Farhan melirik kaca spion, melihat Tere dengan tatapan sinis.
"Kau benar!" William menimpali.
"Hei Supir gila! Tutup mulutmu. Beraninya kau mengataiku ondel-ondel keracunan." Tere menendang jok mobil belakang yang di duduki Farhan. Lalu menatap marah pada William yang membenarkan ucapan Farhan.
"Apa saya ada menyebutkan bahwa anda adalah ondel-ondel beracun yang saya maksud? Bahkah saya tidak mengenal anda Nona." Farhan menyipitkan matanya, lalu mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan normal.
Seperti yang sudah Wiliam duga, Farhan paling tidak suka dengan kehadiran wanita asing, apa lagi kalau membawa wanita saat bekerja. Ia akan semakin sinis dan ingin memakan para mahluk tidak konsisten seperti itu. Tidak profesional baginya.
"Diam kau bujang lapuk!" Tere tidak terima. Ya, ia memang benci sekali pada pria yang sedang mengemudi di depan, gara-gara Farhan rencana untuk menggugurkan bayinya gagal.
Shriit! Farhan langsung menghentikan mobilnya. "Turun kalian dari mobilku!" Wajahnya sudah merah padam.
William langsung menggeram frustas. Ia sudah menebak begini jadinya kalau membawa Tere ikut bersamanya. Tadi pagi, gadis menyebalkan itu mendadak merajuk dan ingin ikut begitu William mengatakan akan pergi ke Bandung. Sengaja ia izin agar Tere tidak menyuruhnya datang secara dadakan, tapi malah akhirnya begini. Dari pada gagal menemui Jennie dan Reyno, terpaksa ia harus membawa gadis beracun itu bersamanya. Dan Farhanlah orang yang paling murka melihat kehadiran gadis itu. Maklum, dia anti wanita. Andai ada seribu wanita cantik telanjang di depan Farhan, ia tidak akan tertarik sedikitpun.
"Emm ... Farhan, jangan hiraukan dia, anggap saja Tere itu mahluk tak kasat mata. Ayo jalan lagi." William mencoba mencairkan perdebatan sinis diantara mereka berdua. Tere memang sudah gila, beraninya ia memancing pria misophobia itu. Padahal sebelum bertemu Farhan sudah di beri wejangan oleh William. Masih saja menantang maut. Dasar wanita.
"Beraninya kau menganggapku mahluk tak kasat mata." Tere memukul dada William keras-keras, lantas menarik tangan pria itu. "Ayo kita turun saja, untuk apa satu mobil dengan bujang lapuk seperti itu." Kesal. William segera menahan Tere agar jangan sampai turun.
Pria itu terhimpit diantara dua manusia menyebalkan. Ingin rasanya William menenggelamkan Farhan dan Tere ke dasar samudra. Sialan! Jangan sampai rencananya menemui Sweetheart gagal. Ia akan murka jika sampai itu terjadi.
__ADS_1
"Tere cantik ... Farhan tampan. Sudah ya, jangan bertengkar, lebih baik cepat jalankan moilnya."
Cih! Dasar kalian seperti anak kecil saja. William.
"Anda tahu kan, saya tidak suka jika ada orang yang membawa wanita disaat bekerja." Farhan memicik tajam dengan tatapan sedingin gunung es di Antartika.
"Farhan mengertilah, Tere sedang hamil, dan aku tidak mungkin meninggalkan Tere dalam keadaan tidak baik.." William melotot pada gadis itu, memberikan kode agar jangan membuat masalah lagi.
Matanya berkata, aku sudah membolehkan kamu ikut, tolong mengertilah. Berhenti mengusik singa yang sedang tidur. Begitulah mata memelas itu berkata.
Akhirnya Farhan melunak, lalu melajukan mobilnya kembali. Sementara Tere memilih untuk memejamkan matanya perlahan. Lebih baik tidur dari pada melihat muka datar Farhan yang tanpa ekspresi.
***
"Jennie! " Reyno pulang ke rumah di jam istrirahat. Ia nampak kegirangan bukan main. Anak itu menjaga jarak agar istrinya tidak ke bauan oleh kringat yang bercucuran.
"Tadi Bu Mira telepon aku."
"Bu Mira?" Jennie memandang Reyno curiga, matanya tampak berputar memikirkan sesuatu. "Wakil kepala sekolah kita dulu kan?" Pikiran Jennie langsung mengarah negatif, jangan-jangan bu Mira ingin merebut suaminya.
"Ya ampun. Kamu kelihatan gak senang begitu. Bu Mira menghubungi aku karena ada hal penting, ini kabar baik untuk kita."
"Apaan?" Wajar kalau aku negatif thinking, Bu Mira kan guru tercantik sesekolahan.
"Katanya pihak kepala sekolah mendaftarkan kita program paket C. Sebagai permintaan maafnya karena sudah mengeluarkan kita." Seutas senyum mengembang di bibir merah Reyno. Namun Jennie nampak tidak suka menanggapi hal ini.
__ADS_1
"Mau ngapain coba, kepala sekolah itu udah jahat dan ngeluarin kita. Aku ngga mau ikut program begituan. Apa lagi kepala sekolah yang nyuruh." Jennie memutar bola matanya malas. Hatinya mendadak sakit mendengar nama Kepala Sekolah di sebut.
"Bu Mira bilang, Kepala Sekolah ingin menemui kita, ia juga mau minta maaf pada kita. Pihak sekolah sebenarnya percaya pada kita, kalau aku dan kamu ngga berbuat mesum di toilet guru waktu itu. Tapi karena para orang tua langsung demo di website sekolah, akhirnya pihak sekolah terpaksa mengeluarkan kita dari sekolah. Kamu tahu sendiri kan, video kita terlihat intim banget."
"Kamu aja deh Reyn, yang ikut program paket C itu. Aku ngga mau." Jennie menolak. Alasannya hanya satu, ia sudah lupa pelajaran dan tidak ingin repot-repot belajar.
"Ngga boleh. Kamu harus ikut. Ingat loh, membantah suami itu apa?" Lagi-lagi Reyno menggunakan kata-kata keramatnya. Jennie langsung merajuk mendengar kalimah jahat Reyno itu.
"Aku tuh bukannya ngga mau ikut, Reyn. Tapi aku malas mikir dan sudah lupa pelajaran pula." Nada suara di buat seimut mungkin.
"Biasanya paket C itu lebih gampang, nanti aku akan membantumu." Sambil mengelus rambut kepala Jennie. Namun masih menjaga jarak, padahal Jennie ingin peluk.
"Kamu mau kasih contekan?"
"Duh. Kamu mikir apa sih? Ya bantu belajar lah. Ujiannya diadakan minggu depan, aku juga sudah izin cuti pada Pak Mandor. Mulai nanti malam kita akan belajar dua jam perharinya."
Bahu Jennie langsung merosot, tubuhnya limbung bersamaan dengan jiwa yang berteriak frustasi.
Kenapa aku harus memiliki suami yang rajin belajar sih?
Apalah daya seorang Jennie, yang selama tiga tahun ini selalu hidup nyontek. PR—nya saja dikerjakan oleh teman cowok sekelasnya.
Belajar? Mau meninggal rasanya.
***
__ADS_1
Buat yang nyuruh crazy up, aku kasih referensi aja ya, coba baca cerita Jennie dan Reyno versi berbeda. Klik 'Tali Perjodohan' di pencarian. Disana Jennie dan Reyno sudah tamat. Udah punya anak juga. Masih tokoh yang sama hanya beda alurnya aja.