
Bukan Reyno kalau tidak berhasil merebut hati istrinya. Meskipun Jennie marah parah, nyatanya Reyno masih tetap bisa tidur satu ranjang dengan kekasih hatinya itu. Hukuman yang Jennie berikan seolah hanya omong kosong belaka. Jennie kembali luluh dan memaafkan suaminya. Keputusan akhir, tadi malam mereka tidur nyenyak dan melupakan segala perdebatan masalah rumah tangganya.
Cekrek!
Kotak makanan itu berhasil di foto. Reyno tersenyum dan mengirim gambar kotak bekalnya yang sudah kosong.
[Sayang, makanannya sudah habis. Enak sekali. Besok bikin yang seperti ini lagi, ya.] Gambar emoticon cium dan lima hati. Pesan terkirim.
Beginilah rutinitas Reyno saat di kampus. Ia sama sekali tidak pernah makan di kantin. Reyno selalu membawa bekal dari rumah. Entah itu buatan istri atau masakan Reyno sendiri.
Selain itu, kuliah juga merupakan suatu kegiatan Reyno yang membuat Jennie takut. Reyno tahu, Jennie selalu was-was jika memikirkan Reyno akan memiliki skandal percintaan di kampusnya. Maka dari itu, Reyno selalu menghubungi istrinya di sela-sela jam istirahat. Baik itu panggilan video atau sekedar mengirim pesan singkat.
Karena tidak ada balasan, Reyno memutuskan untuk menghubungi Jennie via panggilan telepon.
[Calling My Beibi Je ....]
Hallo, Reyn?
"Kamu lagi apa? Kenapa chat aku gak dibalas?" Bibir itu mencebik, lengkap dengan bola mata yang berputar malas karena lima menit menunggu. Bagi Reyno itu lima tahun.
"Eh, maaf, tadi lagi sibuk bantuin bibi masak di dapur. Aku lupa kalo kamu istirahat jam sebelas. Maaf, ya.... hehehe." Jennie menyengir kuda di balik sana.
"Makanannya udah abis, kamu udah lihat fotonya, kan?"
Belum, Reyn. Kan langsung angkat telepon kamu. Jawab Jennie di balik sana.
"Dilihat dong, percuma aku lapor ibu negara kalau gak dilirik sama sekali," gerutu Reyno kesal. Bibirnya sudah semakin manyun tiga centi. Untung dia sedang di pojok kampus yang tidak terlalu ramai orang.
__ADS_1
Ya, ampun. Iya ini baru aja aku lihat fotonya. Ukh, pinternya langsung habis. Kamu suka ya, besok aku masakin lagi ya. Itu resep dapat dari grup memasak, hehehe. Jennie memperlakukan Reyno sama persis dengan anak kembarnya, tapi percayalah, Reyno sangat suka dimanja-manja seperti itu.
"Iya aku suka. Tapi kamu pelit ngasihnya, belum kenyang, nih," rajuknya manja. Andai ada mahkuk hidup yang bernafas di samping Reyno, pasti ia akan merinding geli melihat tingkah kekanak-kanakan Reyno.
Kan baru nyobain, Reyn. Takut gak enak kalau banyak-banyak.
"Hemmm. Ya sudahlah. Aku video call ya? Kangen, nih, mau lihat kamu."
Jangan, Reyn. Aku lagi sambil motong sayur, nih. Nanti kena pisau. Tolak Jennie di balik sana. Kalau kangen pulang sini, aku sudah masak banyak hari ini.
"Kok, tumben? Memangnya mau ada acara apa di rumah?"
Ngga ada acara apa-apa sih, cuma Cilla request minta dibuatkan ayam goreng krispy sama pangsit rebut. Kalau Cello minta steak sapi, sama spagetty katanya.
"Dih! Gitu ya, kamu." Mendengar itu Reyno langsung menyerngitkan dahi tidak suka. Di mana Jennie langsung bisa menebak seperti apa ekspresi Reyno sekarang ini. "Kenapa aku gak ditawarin pengin apa? Aku 'kan juga mau ditawarin. Kamu ngga adil banget, sih!" protesnya tidak terima.
Jennie tergelak di balik sana. Lupa Sayang, ya sudah, sekarang kamu bilanga mau dimasakin apa? Mumpung aku masih di dapur.
Sayang, aku gak bisa angkat. Ini juga sambil di loudspeaker, loh. Nada suara Jennie dibuat selembut mungkin. Namun, tetap saja Reyno kesal dan enggan untuk mengerti.
"Gak peka! Suami lagi kangen malah dicuekin," kesalnya seraya menendak udara dengan kaki kiri.
Pulang, Sayang. Aku tunggu kamu di rumah. Sekarang tutup dulu ya, teleponnya. Aku mau lanjut bikin ayam krispy buat Cilla. Sebentar lagi anak-anak pulang sekolah. Kau tutup ya. Muach ... muach ... muach. Babay.
Panggilan terputus. Reyno semakin kesal karena sikap tidak peduli Jennie. Padahal, saat di kelas tadi Reyno selalu kepikiran Jennie. Ingin bermanja-manja dengan istrinya selama jam istirahat. Wajahnya kembali sewot saat terpaksa harus memasukan ponselnya ke dalam saku.
Woi!
__ADS_1
Sebuah teriakan keras menusuk gendang telinga Reyno tiba-tiba. Ia terperanjat seraya mengelus bahunya yang sedikit sakit karena tepukan orang itu.
"Alex!" Reyno menoleh sini, lalu memutar kepalanya kembali pada posisi semula. "Ngagetin saja!"
Alex menurunkan tas ranselnya dan ikut duduk di samping Reyno. "Hahaha, sorry ... sorry, habisnya kamu sangat lucu. Apa tingkahmu pada istri selalu seperti itu, Reyn? Kalian terlihat seperti ibu dan anak," ejeknya sambil terkekeh.
"Diamlah! Aku sedang marah," ucap Reyno, ia memilih tidak menanggapi ejekkan Alex barusan. Matanya kembali fokus menatap lurus pada taman-taman, lengkap dengan bibir manyun ciri khasnya.
"Biarku tebak. Apa kau marah hanya karena istrimu menutup panggilan telerponmu? Kalau benar ia, izinkan Jonathan Alex Sando yang tampan ini mendaftarkanmu ke rekor muri, sebagai suami terbucin sedunia." Ada gelak tawa di bibir Alex selanjutnya. Rasanya ingin sekali, Reyno menumpal mulut temannya ini dengan kaus kaki busuk yang seminggu tidak di cuci.
"Tidak sopan. Kau menguping pembicaraanku dengan Jennie. Heuh!" decak Reyno sebal.
"Hahaha." Tergelak lebih keras lagi, Alex menepuh bahu Reyno dengan wajah mengejek. "Kau sangat pendiam di kelas, ternyata aslinya raja gombal. Pintar!"
Menyingkirkan tangan Alex dari bahunya, Reyno memicik tajam. "Siapa yang gombal?"
"Gak peka! Suami kangen malah dicuekin." Alex menirukan gaya bicara Reyno tadi sepersis mungkin.
"Dih! Itu bukan gombal, tapi memang seperi itulah realitanya," ujar Reyno, wajahnya terlihat begitu serius saat mengatakannya.
"Hahaha. Tuh kan, benar. Kamu rajanya gombal, Reyn. Mana mungkin kamu bisa kangen sedangkan setiap hari bertemu istri. Kecuali kalau kamu LDR."
"Ya memang seperti itulah perasaanku yang sesunggungnya. Meninggalkan anak dan istri sedetik saja rasanya rindu sekali. Ingin tahu kabar mereka. Sudahlah, jomlo sepertimu mana paham!" telak Reyno kesal.
"Enak saja! Aku sudah punya Siska, Reyn. Gadis tercantik sekampus kita, hehehe...."
"Kalau begitu tingkatan cintamu masih di bawah standarku, Al." Reyno memasukan kotak bekalnya ke dalam ransel. Lalu beranjak hendak masuk kembali ke dalam kelas. "Jika kamu belum tahu tentang artinya merindu. Anggap saja perasaanmu sebatas cinta monyet." Reyno melangkah pergi setelah berhasil membuat Alex mati kutu.
__ADS_1
Heuh. Alex mendesah baper. Memang selama ini ia tidak pernah merasakan rindu pada Siska. Secara mereka sering bertemu. Untuk apa merindukan orang yang sering kita lihat?
***