
"Papa!" Cello berteriak ketika melihat Reyno keluar dari kamar. Sementara Jennie masih sibuk membersihkan diri di kamar mandi.
"Iya, Sayang. Ada apa? Tumben sekali anak papa nyariin pagi-pagi begini," tanya Reyno dengan nada lembut. Selembut sutra kalau kata Jennie.
"Papa pembohong!" Cello mengerucutkan bibirnya sebal. Matanya menatap papanya kesal, persis seperti Reyno besar kalau sedang marah. "Kata tante Caca, papa sering ngompol waktu kecil. Tapi papa marahin Ello kalau ngompol di kasur. Papa curang! Kata tante Sasha juga, papa suka pipisin mama setiap malam. Kan kasian mama Pandanya, anti mayam Papa jangan tidur sama mama Panda! Gak boleh sama Ello!" Setelah membentak, Cello berlari takut menuju ruang bermain.
Detik itu juga, Reyno langsung terperanjat dengan gigi yang mengetat emosi. Namun masih tetap memasang wajah tenang demi imagenya di depan anak.
Sialan kamu, Sha. Berani memprovokasi anak-anakku begini. Pria itu mebuntuti anaknya yang berlari menuju ruang bermain. Melihat dari ekspresi wajah anaknya, sepertinya Cello sangat marah pada Papanya. Entah kekacauan apa yang sedang diperbuat gadis gila itu.
Dibuat terkejut untuk kedua kalinya, Reyno mendapati Cilla sedang makan ice cream. Di mana jam masih belum genap berada diangka enam.
"Sasha!" bentak Reyno geram.
Sasha menoleh dengan seringai. Sungguh Reyno merasa menyesal telah berpesan pada ART untuk melepaskan gadis setan itu pagi hari. Sekarang ia malah menyerang anak-anaknya dengan kekacauan yang ia buat.
"Pagi Papa." Cilla langsung berlari ke pelukkan Reyno, meninggalkan Sasha yang sedang memegang cup es krim dan sedoknya. "Papa, Cilla mau ke Amelika ama tante Caca. Katanya di sana tempatnya seru. Banyak mainan dan makanan enak." Berbica cedal dengan ciri khasnya, wajah anak itu terlihat mengiba penuh harapan.
Reyno menggendong putrinya, lantas menatap Sasha dengan pandangan bengis."Kamu apakan anak-anakku, Sha? Belum cukup dengan ulahmu semalam?"
"Jangan galakin tante Caca, Pa. Ello sayang tante," ucap si boy kecil yang berdiri di belakang Sasha. "Cilla uga cayang tante Caca!" Tak mau kalah, si manis Cilla juga ikut membela junjungannya.
"Lihat kan, Reyn. Kedua maha karya ciptaanmu sangat menyukai tantenya. Itu artinya, aku adalah tante yang baik untuk keponakannya." Sasha tersenyum bangga. Membuat Reyno menahan emosi besar di dalam diri.
"Baik dari mananya, Sha. Pagi-pagi begini kamu sudah kasih anak-anakku makan es krim." Sebisa mungkin, Reyno memasang wajah tenang agar kedua anaknya tidak takut. Karena ekspresi Reyno yang aneh-aneh hanya khusus diketahui oleh Jennie seorang. Anak-anaknya tidak pernah tahu Reyno aslinya seperti apa jika sedang berduaan dengan Jennie.
"Sekali-kali Reyn, di Amerika makan es krim jam berapapun bebas. Harusnya kamu senang, aku membantumu mengurus anak."
__ADS_1
"Membantu apaan? Yang ada malah mengacaukan seluruh isi rumahnya iya."
Memilih tidak peduli. Sasha mulai merayu Cilla yang masih berada di dalam gendongan Reyno. "Sini Cilla sayang, sama Tante Caca aja, nanti siang kita ke mall makan pizza ya." Cilla langsung memberontak turun dan lepas dari dekapan Papanya. Berlari riang menghampiri Sasha dan Cello.
Astaga! Lagi-lagi Reyno dibuat geram oleh sepupunya yang menyebalkan.
"Ya Tuhan Sha! Maumu apa sih? Memangnya aku salah apa sama kamu. Sampai kamu sedendam ini menggangguku dari kecil hingga besar."
Ugh, Reyno yang sudah merasa putus asa langsung pergi meninggalkan ruang bermain. Mencebik-cebik kesal, ia mengadu pada sang istri yang baru saja selesai mandi.
"Yank," lirih Reyno seraya bergelayut manja. Ia memeluk istrinya yang sedang mengeringkan rambut di depan meja rias.
"Aku kesal sama Sasha. Dia nyebelin banget," adunya seraya mencebik.
Jennie menepuk-nepuk halus pipi Reyno. Lalu mendaratkan sebuah kecupan gemas di pipi pria yang sedang memeluknya dari belakang.
Merasa tidak mendapat pembelaan, Reyno semakin mencebik dalam balutan wajah kesalnya. "Dia memprofokasi anak-anak supaya benci sama Papanya. Ngasih tahu keburukan-keburukan aku pas masih kecil. Aku kan jadi malu sama Cilla dan Cello."
"Buahaha!" Jennie tak kuasa menahan tawanya. Demi neptunus, tingkah Reyno yang mencebik seperti ini membuat ia gemas.
"Ketawa!" Reyno langsung kesal tingkat dewa. "Kamu tuh istri aku aku, harusnya belain suaminya—bukan malah ikut senang lihat suaminya ditindas sama cewek setan itu. Aku gak terima ya, diketawain sama istri sendiri," gerutu Reyno lucu.
Jennie mematikan hair drayer di tangannya. Menaruhnya ke atas nakas lalu berbalik menatap sang suami yang wajahnya sudah merah padam.
"Sayangku. Maaf ya, habis kamu lucu banget sih."
"Suami marah dibilang lucu?" potong Reyno cepat.
__ADS_1
Buru-buru Jennie mendaratkan sebuah kecupan sebelum bibir Reyno semakin maju lebih parah.
"Iya lucu. Kalian berdua sudah dewasa, umurnya sudah di atas dua puluh tahun tapi kelakuannya masih kayak anak TK. Kamu juga, Reyn. Cara kamu ngadu ke aku mirip banget sama Cilla dan Cello. Gimana aku gak ketawa coba?" Kali ini Jennie mencoba menahan tawanya, meski ekspresi wajah menggemaskan Reyno sulit untuk dihindari.
"Kenapa aku mirip kayak Cilla dan Cello? Jawabannya sudah jelas karena aku papahnya. Aku yang membuat mereka hadir ke dunia. Jelas saja kalau kita memiliki sifat yang sangat mirip."
Oh, dapat pemikiran dari mana sih, mahluk menggemasakan ini. Bukan, Reyn. Bukan itu yang Jennie maksud. Kelakuan kamulah yang mirip sekali anak TK jika sedang ngambek. Bukan hanya Cilla dan Cello. Tapi kamu mirip dengan seluruh anak kecil di dunia ini.
Tentu saja Jennie hanya menyimpan pikirannya di dalam otak. Tidak berani terucap karena ia sudah paham bagaimana sikap Reyno kalau sedang kesal.
"Iya, Sayang. Cilla dan Cello anak kamu, darah daging kamu," ucap Jennie yang sudah mulai lelah menanggapi.
"Menurut aku, lebih baik kamu ngalah sama Sasha. Kamu kan tahu kalau dia kurang mendapat perhatian dari kedua orang tuanya. Mungkin yang Sasha lakukan adalah bentuk salahnya dalam mencari perhatian dari orang-orang di sekitarnya."
"Terus aku harus gimana? Aku gak kuat terus-terusan di tindas sama anak setan itu."
Jennie kembali mengelus-elus dada Reyno yang naik turun menahan emosi. "Kamu sarapan dan berangkat kerja. Biar masalah Sasha aku yang atasi?"
"Beneran?" Mencebik lagi seolah tidak yakin.
"Iya Sayangnya aku. Suamiku yang paling manja sejagat raya. Biarkan ini jadi urusan istrimu."
Wajah kesal Reyno mulai hilang perlahan. Pagi itu, Jennie kembali berhasil membuat Reyno tenang dalam kedamaian. Mungkin hanya Jennie istri yang bisa seperti itu.
***
Like dan votenya dong, biar aku, semangat upnya... hehe
__ADS_1