
Seminggu berlalu begitu saja, tidak terasa waktu sudah mendekati rencana mereka untuk bulan madu berdua. Sayangnya, Reyno terpaksa harus menunda acara bulan madunya hingga akhir bulan. Setidaknya sampai semua urusan kampusnya selesai. Maklum, perjuangan mahasiswa semester akhir belum berhasil dilewatinya.
"Reyn, hari ini Kak Dafa sama temen-temen SMPku ngajak reunian. Aku boleh ikut gak?"
"Iya boleh." Nada terpaksa keluar begitu saja dari bibir Reyno. Tanpa Jennie tahu kalau pria itu sedang menahan luka di dada.
Sejak kejadian itu, Jennie memang lebih berhati-hati lagi. Ia selalu izin setiap kali mau pergi ke manapun. Termasuk hendak pergi dengan siapa.
"Tolong jagain anak-anak ya, aku paling sampai jam satu siang."
"Hmmmm." Reyno hanya berdeham malas.
Matanya masih pura-pura menatap drama yang ia tonton di layar ponselnya.
"JanganĀ manyun gitu. Aku cuma pergi sebentar kok, lagian anak-anak anteng tuh, sama bibi asuhnya. Jadi mereka gak akan gangguin acara nonton drama kamu. Aku mandi dulu ya, Papa Teddy."
"Iya bawel!" Reyno kembali menatap layar ponselnya. Ada helaan panjang membentang sesaat setelah istrinya pergi ke kamar mandi.
Sejujurnya, Reyno kesal karena weekend yang hanya satu minggu sekali ini ia habiskan tanpa sang istri di sampingnya. Bahkan, akhir-akhir ini Jennie lebih memilih jalan dengan teman-temannya dibandingkan quality time dengan keluarga.
Reyno mengambil ponsel Jennie di atas, lantas membaca beberapa pesan Dafa yang setiap hari semakin mencurigakan.
Dari hari ke hari, Dafa dan Jennie semakin akrab. Hampir setiap saat mereka saling berkirim pesan seolah tak menganggap kehadiran Reyno sebagai seorang suami.
Jika suaminya protes, Jennie selalu menganggap reaksi ketakutan Reyno terlalu berlebihan. Apalagi Jennie merasa benar karena tidak menutupi apapun dari Reyno.
Reyno tahu Jennie hanya menganggap Dafa sebatas sahabat, tapi belum tentu Dafa akan bersikap sebaliknya pada sang istri. Namun, Jennie sama sekali tidak memiliki kewaspadaan dan berdalil bahwa Dafa sudah memiliki kekasih. Ah, Reyno benar-benar pusing jika memikirkan rumah tangganya. Jennie selalu tidak peka dengan lingkungan sekitar. Meskipun Reyno sudah menegur Jennie berkali-kali, semua itu tidak pernah berhasil karena Jennie selalu membantah ini itu. Di mana semuanya akan berakhir dengan pertengkaran.
Cilla dan Cello bergabung di ruang keluarga, Reyno langsung mematikan acara drama dan meletakkan ponselnya di atas nakas. Tak lama kemudian, Jennie keluar dari kamar dalam keadaan rapi.
"Mama mau kemana?" tanya Cilla mendongak, heran. Tatapannya menjurus dengan raut wajah tidak suka. "Ello mau ikut, Ma," Imbuh Cello.
__ADS_1
"Kalian main sama Papa dulu ya, Mama mau pergi ketemu temen-temen Mama sebentar. Nanti pulang mama bawain oleh-oleh. Cup ... cup ... cup." Satu kecupan mendarat masing-masing di pipi Cilla, Cello, dan Reyno. Jennie mengabaikan raut memohon kedua anaknya.
"Kamu berangkatnya di jemput Dafa?" tanya Reyno yang sudah membaca pesan di ponsel Jennie sebelumnya.
"Iya, Reyn. Lagian kita nggak berdua, kok. Ada beberapa temanku yang lain. Udah dulu ya, mobil kak Dafa sudah di depan katanya." Jennie berlalu dengan langkah cepat. membuat bapak dan anak itu menatapnya dengan sorot mata kecewa.
"Pa, mama Panda kok sering pergi sih? Ello sama Cilla jarang di ajak." Nada protes keluar dari bibir munguk Cello.
"Mama Panda ja'at, Pa. Udah gak cayang kita agi."
Ada binar sedih di mata mereka. Membuat Reyno tak tahu harus menjelaskannya dengan cara apa.
"Mama Panda sedang sibuk, Sayang. Yang penting kan ada papa, kita main yuk!" Nada suara Reyno tertahan. Merasakan sesak saat mendengar ucapan dua bocah polos itu.
Reyno memang tahu, setiap perempuan yang sudah menikah memiliki beberapa masa puber. Dengan cara dan jalur yang berbeda-beda. Setelah sekian lama mendekam di rumah, Jennie mulai tidak betah dan sering keluar dari rumah. Semua itu karena Dafa yang mempertemukan Jennie dengan beberapa teman-teman di masa kecilnya.
Reyno tidak bisa berbuat apa-apa selain sabar dan mengalah. Umurnya sudah semakin dewasa, mungkin sudah saatnya Reyno berhenti cemburu buta demi kebahagiaan istrinya. Ia sudah lelah dijuluki makhluk posesif yang selalu mengekang kebahagiaan istrinya. Mungkin itu juga karena faktor Jennie yang masa remajanya terenggut oleh sebuah pernikahan.
Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam. Sedari tadi, Reyno terus menunggu istrinya pulang di teras rumah. Tak lama kemudian, Jennie pulang di antar sebuah mobil merce berwarna hitam . Yang tak lain adalah mobil Dafa. Setelah ngobrol sekitar tiga menit, akhirnya mobil melaju kembali. Sementara Jennie masuk ke dalam setelah satpam membukakan pintu gerbang.
"Reyn!" Wajah Jennie nampak lelah. Wanita itu bergelayut manja di pundak Reyno. "Maaf ya, tadi temen-temen ngajakin karaoke dulu. Jadi aku pulangnya telat."
"Hmmmm." Reyno berdeham dengan wajah datar. Tidak bisa di tebak apakah marah atau sedang ngambek.
"Reyn!" panggil Jennie sedikit tidak enak.
Reyno melipat kedua tangannya di depan dada. Membuah muka dan enggan menatap Jennie.
"Aku capek ngomongin kamu, terserah kamu aja lah!" Kalimat pasrah itu keluar dari bibir Reyno.
"Jangan begitu dong Reyn, aku 'kan baru banget bisa ketemu lagi sama temen-temen aku. Lagian aku main cuma seminggu 3 kali. Kalau kamu, setiap hari pun bisa ketemu teman-teman kamu di kampus."
__ADS_1
Ada saat di mana Reyno tidak bisa berkutat dan melawan kemauan sang istri. Yaitu saat Jennie membandingkan nasibnya dengan Reyno. Laki-laki masih bisa bergabung dengan dunia luar ketika sudah menikah, namun wanita harus berdiam diri di rumah mengurus anak. Itulah perbedaannya.
"Iya sudah, kalau kamu suka silahkan. Asal bisa jaga diri, dan jangan ingkar janji. Kasihan anak-anak sampai tidak tidur siang gara-gara nungguin kamu. Kalau bisa kabarin aku di manapun kamu berada."
"Iya. Maaf ya, Reyn. Aku terlalu asik ngobrol sampai lupa cek hape. Makasih, ya. Akhirnya kamu semakin bertambah dewasa. Makin pengertian sama aku."
Menghela napas kasar, Reyno menggandeng Jennie menuju kamar. "Tapi kalau bisa jangan terlalu akrab sama Dafa, aku masih tetep kurang srek sama kakak-kakaan kamu itu."
Masih ada sedikit nada mengomel walau Reyno sudah mencoba sabar selebar lapangan.
"Ya ampun Reyn, kita cuma temen. Aku ngga mungkin memiliki perasaan lebih. Dari dulu sikapku ke kak Dafa tetap sama."
Pintu di tutup, Reyno membanting tubuhnya agak kasar di atas ranjang. "Semoga saja kamu bisa jaga hati kamu, Je. Bukan sekedar hati, tapi sikap juga harus di jaga agar tidak menimbulkan harapan untuk orang ketiga yang ingin merusak hubungan kita."
"Gak akan, Sayang."
Jennie meraih pergelangan tangan Reyno. Lantas menciumnya dengan penuh kasih sayang.
"Aku hanya suntuk di rumah terus, juga iri sama kamu yang bisa bebas walau sudah menikah."
"Hmmm. Ya sudah, mandi dulu sana. Aku sudah siapin air hangat buat kamu mandi."
"Makasih, Sayang. Kamu pengertian banget, sih!"
Jennie berlari menuju kamar mandi. Meninggalkan Reyno yang sedang menatap langit-langit kamar sambil melamun.
Reyno terus mencoba menguatkan hatinya. Jika ia terus mengekang Jennie, maka hubungan mereka akan terus dibawa pada sebuah perdebatan tak berujung seperti biasanya. Kata bunda, Jennie sedang masuki fase puber kedua. Di mana hubungan rumah tangga bisa saja kandas jika Reyno tidak mau bersabar menuruti kemauan istrinya untuk sedikit mencari kebebasan.
Mengalah adalah yang terbaik, meski hati sudah merasa lelah menanggapi sebuah konflik.
***
__ADS_1