Suamiku Anak Mami

Suamiku Anak Mami
Terlambat


__ADS_3

Bugh!


Satu pukulan buku besar mendarat keras di kepala Reyno. Jennie mencebik dengan tatapan bencinya pada Reyno. Amarah gadis itu membuncang dan siap meledak kapan saja.


Gara-gara kegiatan sialan yang mereka lakukan semalam. Jennie dan Reyno jadi terlambat bangun, alarm yang mereka pasang pukul setengah enam pagi lewat begitu saja. Alhasil, keduanya terlambat mengikuti ujian di jam pertama, dengan mata pelajaran matematika pula. Waktu 120 menit ujian MTK berkurang karena mereka terlambat 45 menit. Murka sudah gadis itu pada suaminya.


Otak Jennie kan tidak selancar Reyno. Dengan sisa waktu sedikit ia harus ekstra kebut membaca soal. Jennie sampai harus menghitung kancing baju untuk menjawab beberapa soal-soal yang rumit menurutnya.


"Jangan sentuh aku!" Ditepisnya tangan Reyno yang mencoba meraih tas Jennie. Dia berjalan cepat menuju gerbang keluar. Berlari ke arah mobil yang sudah siap menjemput Tuan Muda dan Nonanya.


"Maaf." Satu kalimat sederhana keluar dari bibir Reyno. Namun sama sekali tidak ada raut penyesalan di wajah itu. Membuat Jennie semakin emosi saja kalau melihat wajah polos Reyno.


Bugh!


Di bantingnya pintu mobil saat gadis itu masuk ke dalam. Reyno hanya menggeleng samar dengan sikap Jennie yang seperti itu. Jennie memang berbeda dengan Reyno, gadis itu biasa membanting barang-barang seenaknya di kala marah. Kalau Reyno kan hanya sebatas ngambek-ngambek manja. Versi Jennie seperti macan yang siap menerkam semua orang. Galak.


Keduanya sudah berada di dalam mobil. Hari ini niatnya Jennie akan pulang ke rumah bunda, sekalian ketemuan dengan Lisa di rumahnya. Mobil mereka melaju dengan kecepatan normal menuju rumah Jennie.

__ADS_1


"Maaf ... maaf ... maaf ..." Berkali-kali kata itu terucap. Namun ekspresi wajah Jennie begitu datar dan dingin. Menatap keluar Jendela dengan acuhnya.


Cih! Kali ini aku gak akan mau diluluhkan ya, Reyn. Dasar anak manja mesum. Jennie mengutuki Reyno di dalam hatinya.


Dalam hal marah, Jennie sedikit terlihat mirip dengan Farhan. Diam tanpa kata, tidak mengangap ada mahluk yang bernapas di sekitarnya. Begitulah Farhan kalau sedang marah, ternyata Jennie juga sama seperti itu. Sayangnya belum ada yang bisa menaklukkan Farhan. Yang artinya Jennie juga sama, sulit untuk ditaklukkan apa bila sedang marah.


"Stop ... stop!" Jennie menggubrak jok yang di duduki pak supir. Seketika mobil berhenti, gadis itu langsung keluar dan memegangi perutnya yang terasa mual.


"Huekkk ... huekk ... huekkk." Seluruh makanan di perutnya keluar begitu Jennie membuka pintu mobil. Kepalanya mendadak berputar-putar tidak jelas. Gadis itu mencengkeram pintu mobil untuk menahan tubuhnya yang mulai limbung.


Reyno yang paling panik diantara semuanya. Ia keluar dan segera memijit ceruk leher istrinya.


Setelah muntahnya sedikit reda, Reyno langsung mennggendong Jennie ke dalam mobil kembali. Menyandarkan tubuh lemas istrinya ke dalam pelukkannya sendiri.


"Kita ke rumah sakit ya," lirih Reyno. Gadis itu menggeleng samar. Masih merasakan mual dan pusing yang datang secara tiba-tiba.


"Muka kamu pucat sekali, loh."

__ADS_1


Otak Reyno mulai berpikir ke mana-mana. Menyimpulkan sesuatu yang sulit untuk di tebak.


Pak supir menjalankan mobilnya pelan. Sedikit bingung mau ke rumah sakit atau ke tempat tujuan utama. "Jadi mau ke rumah sakit atau ke rumah Nona, Tuan." Bertanya sambil melirik kaca spion.


"Ke rumah bunda, aku ngga mau ke rumah sakit. Lagian hanya mual sedikit saja, entar juga reda. Aku kalau sakit jarang berobat, cukup diobati sama bunda."


Mengingat harus berhemat, Jennie tidak mau menghamburkan uang jirih payah suaminya hanya karena hal sepele. Apa lagi persediaan uang mereka terbatas, masih harus tinggal di Jakarta satu minggu lebih. Ya, walau biaya selama mereka selama di Jakarta di ltanggung orang tua Reyno, namun mereka berdua tidak diberi jatah uang pegangan sama sekali oleh Tuan Haris. Reyno juga tidak mau katanya.


"Ya, sudah. Kamu tidur aja, nanti aku bangunin kalau sudah sampai."


Jennie terpejam di pelukan Reyno. Gadis yang tadinya marah mendadak luluh karena sakit.


"Pak, nanti mampir ke apotik sebentar ya. Ada barang yang harus Reyno beli."


"Baik Tuan Muda.


***

__ADS_1


Sedikit. Semoga dapat mengobati rindu kalian. Nanti aku tambahin lagi...


__ADS_2