
Setelah mandi dan sarapan, Reyno dan Jennie dijemput supir untuk segera pulang ke kediaman Haris. Awalnya Jennie menolak, namun setelah Reyno berkata akan melindunginya, Jennie luluh dan mau mengikuti Reyno pulang ke rumahnya.
Bunda dan Ayah juga sudah mengizinkan Jennie kembali ke rumah Reyno. Cowok itu begitu lembut dan baik hati. Maka dari itu Bunda mengizinkan Jennie bersamanya, Bunda sangat yakin, Reyno pasti dapat merubah kepribadian Jennie agar lebih baik lagi. Menurut Bunda Reyno tidak seburuk yang Jennie katakan, Anak itu penuh dengan pengaruh positif. Jennie pasti akan menjadi wanita seutuhnya jika bersama Reyno.
"Hebat, kamu ya. Masih berani datang ke sini. Tidak tahu malu. Ternyata kamu tidak hanya menggoda anak kedua ku, kamu juga menggoda William. Cih. Gadis kecil yang licik." Mami Dina berdecak jijik ketika melihat Jennie pulang bersama Reyno.
"Mam, tolong jangan membuat Jennie tertekan lagi. Papi yang menyuruh Jennie kembali ke sini. Kalau memang Mami tidak suka, proteslah sama Papi. Mulai sekarang Reyno ngga akan izinin Mami hukum Jennie," ucapnya penuh keyakinan. Reyno menggenggam erat tangan Jennie. Memberinya kekuatan agar Jennie merasa tenang.
"Bagus ... bagus ...." Mami Dina menepuk kedua tanganya. "Sekarang kamu sudah membuat anaku yang paling nurut menjadi pembantah seperti ini. Gadis kecil, kamu memang hebat. Dua anaku kamu taklukan sekaligus." Wajah Mami Dina di warnai aura cemburu dan berapi-api.
"Nyonya, tolong kerja samanya. Anda duluan yang melamar saya di depan kedua orang tua saja. Saya tidak mungkin bisa berada di sini tanpa undangan dari anda." Jennie mengatakan kalimat itu dengan sangat yakin. menatap Mami Dina dengan wajah tenang.
"Hebat sekali, ya. Kamu pintar sekali membalas omongan orang lain. Cih. Jangan harap saya akan mengakuimu sebagai menantuku." Kesal.
"Saya juga tidak minta dianggap sebagai menantu anda." Tersenyum licik.
Aku tidak akan semudah itu untuk di tindas wahai ratu medusa.
"Hei ... hei ... lihatlah, anak rakyat jelata memang tidak memiliki sopan santun sama sekali. Bagaimana bisa kamu mengatakan hal seperti itu pada mertuamu sendiri." Kesal. Emosi. Wajahnya memanas seketika. Jennie tidak mudah di tindas seperti yang ia bayangkan.
"Maaf, saya bukan menantu anda."
"Ya ... berani sekali kamu menantang saya," bentak Mami Dina emosi.
"Maaf, bukanya anda sendiri yang tidak menganggap saya sebagai menantu." Jennie menyeringai puas.
"Reyno, sekarang kamu pilih Mami atau anak tidak tahu diri itu?" memberikan dua pilihan yang sulit.
"Dua- duanya, Mam," jawab Reyno logis.
Jujur Reyno tidak suka situasi rumit saat ini. mengapa harus menikahkan mereka kalau ujung-ujungnya tidak suka. Ah, Reyno hampir lupa kalau semua itu adalah keputusan Papi-nya.
"Jawaban apa itu, apa kamu sudah tidak menyayangi Mami lagi?" tanya Dina sembari memijit pelipisnya yang terasa pusing.
"Mam, Reyno masih tetap menjadi anak Mami. Reyno akan selalu menyayangi Mami. Tapi sekarang status Reyno sudah menikah. Sudah sewajarnya Reyno melindungi istri Reyno sendiri." Reyno menggandeng tangan Jennie menuju kamarnya. Mami Dina menatap pasrah Reyno yang sedang menaiki anak tangga sambil bergandengan tangan.
__ADS_1
Mama Dina sedang dirundung pilu saat ini. Disisi lain ia ingin segera menceraikan Jennie dan Reyno. Namun anak pertamanya akan maju jika itu terjadi. William akan menikahi Jennie jika ia sudah bercerai dengan Reyno.
Sebuah pilihan yang sulit. Satu gadis kecil yang Dina anggap tidak ada menarik-menariknya telah berhasil menaklukan dua jago kesayanganya. Bahkan suaminya juga mendukung Jennie untuk tinggal di rumahnya. Hanya Dina seorang diri yang tidak menginginkan kehadiran Jennie di rumahnya.
***
Reyno menghempaskan tubuhnya di atas ranjang begitu ia masuk ke dalam kamar. Sementara Jennie hendak mandi karena tidak sempat mandi tadi pagi. Lebih tepatnya ia malas mandi pagi, soalnya Reyno saja menyempatkan diri untuk mandi di rumah Jennie. Malas. Satu kata minus untuk Jennie. Gadis itu kemudian berjalan ke kamar mandi. Sementara Reyno terlihat mulai memejamkan mata di atas ranjangnya.
# Dua puluh menit kemudian.
Jennie telah selesai mandi. Ia menuju ruang baju untuk mencari pakaianya.
Dimana baju-bajuku, sih?
Kenapa berubah jadi baju-baju seperti ini?
Jennie terus mencari baju-bajunya. Ia ingat sekali di mana letak bajunya terakhir kali. Namun tidak ada satupun baju yang ia kenal di dalamnya. memang ada banyak baju wanita, namun entah itu baju siapa. Jennie keluar dengan handuk yang melilit di tubuhnya.
"Reyno!" Bentak Jennie sembari menarik kaki Reyno yang sebelah. Cowok itu tersentak karena perlakuan Jennie.
"Di mana semua baju-bajuku? kenapa tidak ada bajuku sama sekali di ruang ganti?" Jennie Kesal. Ia menatap Reyno marah sambil memegangi handuk di bagian dadanya agar jangan sampai terlepas.
"Semua baju wanita yang ada di lemari pakaian itu punya Jennie." Reyno bangun lalu meraih segelas air putih di atas nakas. "Jennie ngagetin Reyno, tau." gerutunya.
"Terus baju yang aku bawa dari rumah mana?" Jennie bertolak panggang kesal.
"Reyno buang."
"Di buang?" Wah. Emosi Jennie membumbung tinggi sampai luar angkasa.
"Iya, dibuang. Bajunya ngga banget."
"Ya"
Mulut sialan itu enteng sekali kalau bicara.
__ADS_1
Jennie mengambil ancang ancang, hendak menendang anak sialan itu hingga menangis bila perlu. Dengan satu gerakan mantap, ia hendak melabukan sebuah telepak kaki di kepala Reyno. Namun naas, Gadis itu terpeleset dan menubruk tubuh Reyno hingga jatuh ke tempat tidur.
Brughhhh...
"Emppp ..." Wajah Reyno terindih dua benda kenyal yang setengahnya sudah tidak tertutup handuk. Dengan sigap Jennie langsung bangun dan menarik handuknya kembali.
Sialan. Aku yang jadi ketiban sial begini.
"Apaan itu tadi yang nabrak wajah Reyno." Bukan Reyno tidak tahu. Hanya ingin menjaili wajah Jennie yang terlihat merona malu.
"Bukan apa-apa," jawab Jennie cetus. Jantungnya berdetak sangat kecang.
Duh, malu banget. Kira-kira dia tau ngga, ya?
"Kok kenyal-kenyal kayak squishi?" tanya Reyno pura-pura polos.
Apaan sih, mulutnya? ngeselin banget.
"Bukan urusan kamu!" bentak Jennie sembari memalingkan wajah merahnya ke sisi lain.
"Makanya jangan suka jahatin suami sendiri, jadi jatuh-kan. Untung jatuhnya di muka Reyno, kalau di lantai kan sakit." Reyno bergeser sedikit. Tidak nyaman melihat Jennie seperti itu. Jiwa laki-lakinya bergejolak tidak karuan. Uhuyy.
"Bodo amat! aku mau ganti baju dulu." Jennie bangkit lalu berjalan ke arah ruang ganti kembali.
"Jennie,"panggil Reyno saat ia hendak menuju ruang ganti. Jennie menoleh.
"Yang tadi gede ... hahaha," kelakar Reyno sembari terbahak.
"Cih!" Jennie melengos setengah berdecih.
Sialan, dasar bencong tidak tahu diri, bintang laut, anak medusa, cowok culun, mesum, gila, anak manja, arggggg ... aku ingin pindah ke planet asgard.
***
Nota dari Ana: Untuk adegan itu. Eh, ya ampun aku malu mau ngomongnya gimana. Sabar ya, mereka kan masih 18 tahun belum tahu begitu-begituan. Tapi pasti ada saatnya nanti, mungkin di bab 30 atau berapa. Aku masih belum kepikiran, mau bikin mereka jatuh cinta dulu.
__ADS_1